Mualaf

Baru saja saya berwudhu. Di tengah wudhu itu, saya teringat sebuah kata dari seorang sahabat, “Bahkan seorang ‘Umar bin Khaththab pun adalah seorang mualaf!”

Saya kemudian jadi teringat kisah hidup Ustadzah Irena Handono. Beliau dulu adalah seorang biarawati. Ketua Legio Maria, malah. Bukan jabatan yang bisa dianggap remeh. Tapi setelah membaca satu surat dalam bagian akhir al Quran, yaitu surat al Ikhlas, berkat petunjuk dari Allah, beliau mengikrarkan Islam sebagai diin-nya.

Saya juga baru saja membaca perjalanan hidup Ustadz Insan Mokoginta. Betapa dulu aqidahnya terombang-ambing hingga ia sempat memilih Kristen sebagai pilihan hidup. Hingga ia sempat memilih untuk mengabarkan injil pada ‘domba-domba tersesat’ di kalangan umat manusia.

Beberapa hari yang lalu, Allah mengenalkan saya dengan seorang saudara baru. Namanya Stephanus Iqbal. Beliau mengajak saya untuk menimba ilmu dari seorang ustadz–yang secara kebetulan saya menjumpai banyak tulisannya di website ini–di daerah Blok M. Mmm.. sebenernya saya juga tidak tahu itu daerah mana. Tapi kalau dari tempat tinggal saya sekarang, di daerah Bintaro, untuk menuju rumah ustadz itu, saya harus lewat Blok M. Dari sana, tempat tinggalnya sudah tak jauh lagi.

Nah, akh Iqbal ini sempat nyeletuk, “Kalo dulu ane juga masih badung, akh. Badung, bener-bener badung. Kafir lah dulu itu..” Kafir? Mendengar kata ini, saya cuma cengengesan. Tidak saya anggap serius. Tapi mungkin ia menangkap apa yang saya pikirkan. Lantas ia berkata, “Beneran akh. Makanya nama ane jelek gini. Ane dulu Katolik.”

Saya cuma bilang, “Oh..” sambil manggut-manggut. Dan meminum teh botol yang ia belikan malam itu.

***

Kalau kita tarik jauh sekali ke belakang, ke zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, contoh yang kita dapatkan melimpah ruah. Begitu nyata. Muslim mana sih yang tidak mengenal ‘Umar bin al Khaththab? Muslim mana yang tidak mengenal Abu Bakr ash Shiddiq, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, dan sebaris as Sabiqun al Awwalun lainnya? Mereka semua mualaf! Ya, sejarah tidak mencatat mereka sebagai pemeluk millah Ibrahim sebelumnya. Sejarah tidak mencatat mereka sebagai manusia yang terlahir sebagai muslim. Orang tua mereka bukanlah muslim. Saudara-saudara mereka? Juga bukan.

Tapi kemudian saya menjumpai fakta bahwa partisipasi mereka sungguh jauh lebih dahsyat daripada mereka yang terlahir sebagai muslim. Tapi tolong dicatat: saya tak memungkiri jasa Imam Bukhari, Imam Ahmad, Ibnul Qayyim, Ibnu Taimiyah, al Hasan al Bashri, ‘Abdullah bin Abbas, dan sederet ulama’ lainnya bagi Islam dan kaum muslimin. Nama-nama yang baru saja saya sebut ini terlahir sebagai muslim. Artinya, ibu dan ayahnya adalah seorang muslim. Tapi bila kita melakukan riset kasar, dengan membandingkan persentase antara pejuang Islam dari kalangan mualaf dan muslim sejak lahir, saya memiliki hipotesis (sekali lagi, ini cuma hipotesis), mereka yang berstatus sebagai mualaf memiliki skor lebih tinggi.

Betapa tidak, negeri tempat saya berpijak saat ini, Indonesia, memiliki masyarakat yang mayoritas muslim. Sebagian besar di antara mereka berstatus muslim sejak lahir. Tapi hukum Islam tampaknya benar-benar doyong berderak-derak di negeri ini. Ke mana saja ratusan juta muslim yang katanya hidup di Indonesia itu? Bukankah Allah telah memerintahkan untuk menegakkan hukum-hukum-Nya untuk beribadah pada-Nya, semata karena memang itu tujuan penciptaan manusia dan segenap alam semesta ini?

Sejak awal, saya (mungkin) punya jawabannya. Apa itu? Ilmu. Ya, ilmu. Sesederhana itu. Lantas apa yang membuat ilmu begitu istimewa, hingga ia mampu menciptakan jurang pemisah antara pemiliknya dan mereka yang menyia-nyiakannya?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dahulu, sering menekankan arti penting dari ilmu. Sementara itu, saya memahami ilmu sebagai penerang jalan manusia. Ilmu menjadi alasan dari pilihan sikap seseorang. Dan faktanya, mereka yang berstatus mualaf memilih jalan ini dengan maksud, tujuan, dan alasan yang jelas. Bila kalian, para pembaca, tak percaya, carilah seorang mualaf di sekitar kalian. Tanyakanlah padanya, apa yang membuat mereka berpindah menuju cahaya Islam. Rata-rata, mereka akan menjawab dengan alasan-alasan ideologis. Dengan ilmu, singkatnya.

Tapi kemudian keadaan berubah drastis ketika kita menanyakan hal yang sama, kali ini kepada seorang muslim. Datanglah ke kampus-kampus, ke perumahan penduduk, ke pasar, atau ke tempat lain yang kalian sukai. Temuilah orang secara acak di sana. Tanyakanlah, apakah mereka adalah muslim. Bila jawabannya “ya”, kemudian tanyakan alasan mereka menjadi seorang muslim.

Sulit menemukan muslim yang menjawab dengan tinjauan ideologis, yang bersumber dari al Quran dan as Sunnah.

Bahkan, dulu, saat mata saya masih tertutup dari Islam, saya pun mengalami hal serupa. Saya tak tahu mengapa saya harus ber-Islam. Yang saya tahu adalah bahwa setiap muslim pasti akan mengecap manisnya surga. Amal setiap muslim pasti diterima. Sedangkan amal mereka yang kafir terhadap kebenaran dari Allah, jelas tidak diterima. Sudah. Itu saja.

Bandingkan dengan kisah hidup tiga orang yang saya tuliskan di awal artikel singkat ini. Irena Handono, seperti yang juga disebutkan dalam salah satu bukunya (saya lupa apa judulnya dan malas untuk membuka-buka buku itu saat ini), begitu tergetar dengan konsep tauhid yang begitu simpel, masuk akal, tapi sangat rabbani. Sangat terlihat bahwa konsep itu bukanlah rekayasa manusia. Betapa beliau memandang konsep trinitas yang dipahaminya selama waktu yang lama itu ternyata hanya menimbulkan kebingungan demi kebingungan. Dan memang, konsep trinitas sendiri sebenarnya baru diresmikan oleh imperium Romawi sebagai agama resmi negara setelah Konsili Nicea pada 365 M yang digagas Kaisar Konstantin diselenggarakan. Konsili ini sekaligus menyingkirkan Arius, yang sebenarnya memegang teguh ajaran Nabi Isa ‘alaihissalam, dengan tetap berpegang pada monoteisme.

Sementara Insan Mokoginta mulai mempelajari kembali Islam setelah hidup di tengah keluarga yang berusaha konsisten dengan ajaran syariat Islam. Singkatnya, ia harus belajar. Mencari ilmu tentang keislaman.

Akh Iqbal memiliki cerita yang cukup unik. Di pertemuan pertama saya dengannya, ia berkata, “Walaupun dulu ane badung, tapi ane ngerti kalo demokrasi itu nggak sama dengan Islam… Ane punya prinsip.” Nah, ucapan ini telah jelas membuktikan bahwa ada sebuah keyakinan yang dipegang teguh oleh saudara saya yang satu ini. Dan itu yang menjadikannya berbeda dengan manusia lainnya. Itu yang kemudian membimbingnya memilih Islam sebagai jalan hidupnya. Meski, sebelumnya, ia juga sempat berujar pada saya, “Ane baru belajar ngaji baru-baru ini aja, akh.”

Ah, saya jadi iri pada mereka yang punya alasan ideologis seperti ini.

Lebih jauh tentang mualaf, saya ingat apa yang disampaikan oleh Ustadz Ibnu Hasan Aththobari saat halaqah pekan lalu pada kami. Beliau bercerita sebuah hadis tentang jasassah, makhluk yang memperkenalkan seorang sahabat nabi pada dajjal. Kali ini, yang menarik, sang nabi meriwayatkan perjalanan Tamim ad Dari, nama sahabat nabi tersebut, saat ia terombang-ambing di lautan menjadi sebuah hadis. Dikatakan menarik karena biasanya sahabat lah yang menceritakan ucapan, gerak, atau pengalaman hidup nabi. Dan coba tebak, siapa Tamim ad Dari itu? Ya, dia seorang mualaf!

Oke, kita kembali pada topik awal kita. Jadi, inilah pembedanya. Dengan ilmu, seorang kafir pun bisa mendapat hidayah hingga ia berislam dengan sebaik-baik keislaman. Tapi tanpa ilmu, amal seorang muslim bisa jadi sia-sia. Karena Islam adalah diin yang menyediakan jalan keselamatan, bukan menjamin keselamatan, tugas seorang muslim berikutnya adalah mencari tahu apa yang ada dalam Islam ini untuk kemudian diimplementasikan dalam kehidupan nyata. Sekali lagi, hal ini hanya dapat dilakukan oleh orang yang berilmu, atau paling tidak orang yang berminat mendapatkan ilmu. Seorang muslim yang enggan menuntut ilmu jelas tak akan mampu meraih capaian ini.

***

Well, sebenarnya, tulisan ini adalah pembuka bagi tulisan berikutnya mengenai buku. Hanya saja, artikel yang rencananya juga akan diterbitkan di website lembaga pers mahasiswa kampus saya itu ternyata belum selesai melewati proses editing. Jadilah saya tuliskan dulu sebuah artikel ringan tentang ilmu, seperti yang telah kalian baca di atas, sebelum masuk dalam tulisan ringan lainnya, tentang buku.

Dan untuk menutup artikel ini, saya meminta maaf pada akh Iqbal karena saya memuat kisah hidupnya di sini tanpa seizinnya. Semoga keberkahan senatiasa tercurah pada antum, akh.

Serta, tentu, semoga keberkahan juga terlimpah pada kita semua.

-RSP-

About these ads
8 comments
  1. reza said:

    ah, dan ‘umar bin khaththab pun berislam setelah mendengarkan lantunan ayat di surat thaha. yg kemudian membuatnya menjadi salah satu pembela islam terbesar sepanjang sejarah..

  2. zan said:

    Sungguh Allah Maha Penyayang…Ia memberikan HidayahNya kepada orang2 yang di inginkanNya sehingga mereka dapat menikmati Manis nya Islam…banyak lagi contoh yang lain salah satunya Sunan Kali Jaga sebelum beliau menjadi salah satu Waliyullah.

    • muslimpeduli said:

      shadaqta, akh. masih begitu banyak contoh yang melimpah. semoga Allah berkenan mempertemukan kita dengan mereka, sehingga kita bisa mengambil manfaat dari mereka yang teguh memegang al quran dan as sunnah.

      terima kasih atas kunjungannya. :)

  3. ana said:

    halo..
    kamu mabeng jugakah?

    artikel yang panjang ya.. ditunggu artikel lanjutannya ya

  4. reza said:

    iya, mbak. mabeng 13. ok

  5. deady said:

    jadi ujung”nya balik ke hidayah gitu ya?
    mari kita berdoa
    yaa muqollibal quluub, tsabbit quluubana ‘alaa diinik

    • muslimpeduli said:

      aamiin..

      iya. baliknya nanti ke hidayah. tapi hidayah itu bisa dicari kok. asal kita mau berusaha aja. dan sebenernya dlm tulisan ini, yg jadi fokus bukan hidayahnya. tapi perbandingan antara kita, yg terlahir sbg muslim, dg mereka harus bersusah payah mendapatkan hidayah utk masuk islam.

      dan rata2 mereka menjadi pejuang islam. kenapa? menurutku dlm tulisan ini krn ilmu.

      nah, artikel ini dilanjutkan dg artikel berikutnya, “baca buku, ubah duniamu!”

  6. m.bong said:

    ibu irene yg brbahagia… sangat cerdas dan amalkanlah islam yg anda dptkan dr Allah swt,jangan takut dihujat dan dicaci maki dg kata kata cina dll percayalah yg biasa mghujat itu jika bukan yahudi maksimaal hanya pki saja

    !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 656 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: