Ibnul Jauzi; tentang Cita-cita, Ilmu, dan Kehidupan Dunia

Rahasia Menggapai Kesuksesan

Suatu hari aku disudutkan oleh suatu perkara yang amat menyedihkan dan merepotkan. Aku lantas memikirkan berbagai alternatifnya dengan sepenuh hati. Namun, tak satu pun jalan keluar yang terlintas dalam benak.

Tiba-tiba saja ayat, “Barangsiapa yang bertaqwa pada Allah niscaya Ia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS 65:2) melintas di hadapanku. Aku pun langsung sadar bahwa taqwa adalah jalan keluar untuk semua persoalan. Aku pun lalu berniat mewujudkan taqwa. Dan ajaib! Jalan keluar langsung menghampiri.

Karena itu, seorang makhluq tak layak bersandar dan berpikir kecuali tentang menaati Allah ta’ala dan melaksanakan perintahNya karena ia adalah kunci yang membuka segala sesuatu yang tertutup. Dan hal yang lebih mencengangkan lagi adalah ternyata jalan keluar itu datang dari arah yang tidak disangka sama sekali oleh orang yang berpikir, berusaha, dan mengatur strategi. Allah berfirman,

Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. (QS ath Thalaq 3)

Kemudian, seorang yang bertaqwa hendaknya meyakini bahwa Allah akan mencukupinya. Oleh sebab itu, ia dilarang menggantungkan hatinya pada usaha pribadinya. Allah berfirman,

Dan barangsiapa bertawakal pada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. (QS ath Thalaq 3)

Cita-cita yang Tinggi

Aku telah dianugerahi sebuah cita-cita tinggi yang menginginkan perkara-perkara besar. Namun saat memasuki usia senja, aku belum juga berhasil mewujudkan apa yang kuinginkan itu. Karena itu, aku meminta Allah memanjangkan umurku, menguatkan tubuhku, dan menyampaikan cita-citaku.

Tiba-tiba saja kebiasaan yang berlaku memprotes permintaanku, “Kebiasaan yang berlaku bertentangan dengan apa yang kauminta.”

Maka aku langsung menjawab, “Aku meminta pada Dzat yang kuasa mengubah kebiasaan! Seseorang telah berkata pada rekannya, ‘Aku memerlukan sesuatu yang tidak seberapa darimu.’ Maka ia menjawab, ‘Carilah orang biasa yang sesuai dengan keperluanmu yang tak seberapa itu!’ Dan seorang pria lain berkata pada rekannya, ‘Aku datang kemari karena suatu keperluan yang tak membebanimu.’ Maka ia menjawab, ‘Mengapa kamu tak mencari orang rendahan yang lebih pas dengan permintaanmu itu?’ Apabila para pemilik dunia yang terhormat mengatakan hal yang seperti itu, mengapa kita tidak berharap pada karunia Dzat yang Mahapemurah dan Mahakuasa?”

Aku memanjatkan doaku itu pada tahun 575 Hijriyah, jika Allah memanjangkan umurku dan mewujudkan cita-citaku, aku akan memindah bahasan ini ke bagian lain dan menceritakan tercapainya cita-citaku. Namun jika yang terjadi adalah kebalikannya, rabbku lebih paham sesuatu yang lebih bermanfaat untukku. KeenggananNya untuk memberi bukan karena kekikiranNya, dan tak ada daya dan ekkuatan kecuali dariNya.

Cita-cita Ulama Teladan

Cita-cita ulama masa lalu sangat tinggi. Hal ini dibuktikan dengan karangan mereka yang merupakan saripati karya-karyanya. Tapi sayang, ternyata banyak karangan mereka hilang tak berbekas karena cita-cita generasi setelahnya sangat lemah. Orang-orang yang disebut terakhir ini lebih suka pada kitab-kitab ringkasan dan menjauhi kitab-kitab tebal. Tak hanya itu, mereka ternyata juga membatasi diri mereka hanya pada apa yang mereka pelajari saja. Karena itulah kitab-kitab karangan ulama masa lalu yang tebal-tebal itu punah dan tak ada pemeliharanya.

Seorang yang memburu kesempurnaan ilmu harus menelaah karangan-karangan yang sudah tak pernah dijamah orang. Bila ia melakukannya, pasti ia akan menyaksikan ilmu dan cita-cita ulama terdahulu yang bisa mengobarkan semangat dan menggerakkan tekadnya untuk lebih bersungguh-sungguh, dan tiap karangan pasti mengandung manfaat.

Kami berlindung pada Allah dari tertular penyakit orang-orang yang bergaul dengan kami. Kami tak menyaksikan dari mereka seseorang yang punya cita-cita tinggi hingga bisa menjadi teladan para pencari ilmu dan kami juga tak menyaksikan dari mereka seseorang yang punya sikap wara’ hingga bisa menjadi anutan bagi para sufi.

Rajin-rajinlah mempelajari kehidupan generasi salaf dan menelaah tulisan mereka. Karena menelaah tulisan mereka sama dengan melihat mereka secara langsung.

Aku sendiri tak pernah bosan menelaah kitab. Bila aku melihat sebuah kitab yang asing, aku seperti melihat sebuah perbendaharaan harta. Aku telah membaca kitab-kitab wakaf di Madrasah Nidhamiyah yang terdiri dari sekitar enam ribu jilid buku. Aku juga telah membaca kitab-kitab Abu Hanifah, al Humaidi, Abdul Wahab, Ibnu Nashir, dan Abu Muhammad bin al Khasyab yang terdiri dari sangat banyak jilid. Kalau aku mengaku telah membaca dua puluh ribu jilid kitab, maka kitab yang kubaca sebenarnya lebih banyak lagi, padahal ketika itu aku masih berstatus sebagai pencari ilmu.

Berdasarkan kehidupan, ketinggian cita-cita, hafalan, ibadah, dan keunikan ilmu ulama masa lalu itu aku pun mengetahui sesuatu yang tak diketahui orang yang tidak menelaah kitab mereka. Karena itu, aku pun meremehkan kondisi ummat sekarang dan menghina cita-cita para pencari ilmu di zaman ini.

Cita-cita yang Tinggi

Orang-orang yang punya cita-cita tinggi pasti akan tersiksa. Ringan-berat siksaan yang dialaminya berbanding lurus dengan tinggi-rendahnya cita-cita yang dimilikinya, seperti yang telah dikatakan seorang penyair,

Setiap tubuh kurus karena bencana yang menimpanya. Dan bencana tubuhku adalah tingginya cita-cita.

Penjelasan tentang masalah ini adalah orang yang punya cita-cita tinggi pasti akan mencari seluruh ilmu tanpa terkecuali. Dan ia tak puas hanya dengan sebagiannya. Ia juga memburu setiap bidang ilmu hingga ke puncaknya, dan ini adalah sesuatu yang tak tertanggungkan oleh tubuh.

Penjelasan tentang masalah ini adalah bahwa orang yang memiliki cita-cita tinggi pasti akan mencari seluruh ilmu—tanpa kecuali, dan ia tak puas hanya dengan sebagiannya. Ia juga memburu setiap bidang ilmu hingga ke puncaknya, dan ini adalah sesuatu yang tak tertanggungkan oleh tubuh.

Ia kemudian mengetahui bahwa tujuan mempelajari ilmu adalah mengamalkannya. Maka ia pun bersungguh-sungguh mengerjakan shalat malam dan berpuasa di waktu siang.

Menghimpun kesungguhan beribadah dan keseriusan mempelajari ilmu adalah sesuatu yang sulit.

Ia kemudian bermaksud meninggalkan dunia. Namun ia membutuhkan hal-hal yang menopang kehidupannya. Ia juga sangat suka berbagi pada orang lain dan tak bisa berlaku kikir, tetapi kehormatan diri yang selalu dipeliharanya tak mengizinkannya mengumpulkan harta. Karena itu, bila ia menuruti wataknya yang suka berderma ia akan menjadi miskin, tubuh dan keluarganya juga akan terkena dampaknya. Namun bila ia mencoba untuk kikir, ia ada dalam bencana karena kikir bukan sifat aslinya.

Pendek kata, orang ini harus menderita dan mengumpulkan hal-hal yang bertentangan. Selamanya ia ada dalam keletihan dan kepayahan yang permanen. Dan jika ia mencoba merealisasikan keikhlasan yang sungguh-sungguh dalam seluruh amalnya, ia akan makin letih dan payah.

Alangkah bedanya orang yang seperti itu dengan orang yang bercita-cita rendah. Bila ia seorang ahli hadis yang ditanya tentang sebuah hadis ia akan menjawab, “Saya tidak tahu,” dan jika ia seorang ahli fiqh yang ditanya tentang sebuah masalah fiqh ia akan menjawab, “Saya tidak paham.” Ia sama sekali tak merasa risih saat disebut sebagai orang yang lemah. Orang yang bercita-cita tinggi menganggap kelemahan dalam sebuah bidang keilmuan sebagai sebuah cela yang memperlihatkan kelemahannya. Sedangkan orang yang bercita-cita rendah tak peduli pada pemberian orang lain, tak menganggap hina pekerjaan meminta, serta tak malu saat permintaannya ditolak. Orang yang bercita-cita tinggi tak sanggup menanggung hal seperti ini.

Kendati demikian, keletihan orang yang berita-cita tinggi sebenarnya adalah kesenangan. Sedang kesenangan orang yang bercita-cita rendah adalah keletihan dan cela yang menghinakan jika saja ia mau merenungkannya.

Dunia adalah tempat perlombaan untuk mendapatkan hal tertinggi. Karena itu, seseorang yang punya cita-cita tinggi hendaknya tak bertindak sekehendak hatinya di medan laga: bila menang ia telah mendapatkan cita-citanya, tapi bila kalah—sekalipun sudah bersungguh-sungguh—ia tak akan dicela.

Bahaya Puas pada Diri Sendiri

Musibah terbesar adalah kepuasan seseorang pada diri dan ilmunya. Ini adalah musibah yang menimpa mayoritas manusia: orang Yahudi dan Nashrani misalnya. Mereka merasa dirinya ada di pihak yang benar, mereka menolak meneliti serta mempelajari bukti kenabian nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Bila mendengar sesuatu yang bisa melunakkan hatinya, seperti al Quran, mereka melarikan diri supaya tak mendengarnya.

Demikian pula setiap pemuja hawa nafsu yang memegang teguh keyakinannya; mungkin karena pendapatnya adlah madzhab bapaknya atau keluarganya, atau mungkin ia telah menelitinya sekali dan melihatnya sebagai sesuatu yang benar, lalu ia menolak menelaah sesuatu yang bertentangan dengannya. Ia juga tak mau mendiskusikannya dengan para ulama’ supaya mereka bisa menjelaskan kesalahan-kesalahannya. Termasuk jenis kesalahan ini adalah kesalahan kaum Khawarij yang menentang amirul mu’minin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Mereka menganggap benar keyakinan yang mereka pegang dan menolak bertanya pada orang yang ahli.

Ketika Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu menemui mereka dan menjelaskan kesalahan-kesalahan mereka, dua ribu orang di antara mereka kembali ke pangkuan Islam. Salah satu orang yang menuruti keinginan hawa nafsunya adalah Ibnu Muljam, ia menganggap keyakinannya sebagai keyakinan paling benar. Maka ia pun menganggap halal tindakan membunuh amirul mu’minin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Ia menganggap keyakinannya ini sebagai agama, bahkan ketika anggota-anggota tubuhnya telah dipotong satu persatu, ia tetap bergeming. Namun saat lidahnya disuruh dijulurkan keluar untuk dipotong, ia kaget dan langsung berseru, “Bagaimana aku menghabiskan waktu sesaat di dunia tanpa menyebut Allah?!”

Hal yang sama dilakukan oleh al Hajjaj. Ia pernah mengatakan, “Wallahi, aku hanya mengharapkan kebaikan sesudah mati nanti!” Itulah perkataannya, padahal ia telah membunuh orang yang tak berdosa yang tak terhitung lagi jumlahnya. Dan salah satunya adalah Sa’ad bin Jubair.

Qahdam menurutkan, Di penjara al Hajjaj terdapat tiga puluh tiga ribu tahanan. Padahal, tak satu pun orang dari mereka layak dicincang, dibunuh, atau disalib!”

Kebanyakan penguasa melakukan pembunuhan dan pencincangan karena menganggapnya sebagai tindakan yang diperbolehkan. Kalau saja mereka mau bertanya pada para ulama’, tentu mereka akan menjelaskan hukumnya pada para penguasa itu.

Mayoritas orang awam sangat berani melakukan berbagai macam dosa lantaran mengandalkan ampunan Allah dan melupakan siksaanNya.

Sebagian orang begitu percaya diri karena menganggap dirinya sebagai pengikut madzhab ahlus sunnah dan lantaran ia memiliki kebaikan yang bisa memberinya manfaat. Semua ini dikarenakan kebodohan yang sangat akut. Karena itu, seseorang harus bersungguh-sungguh menelaah dalil, mempertanyakan kerancuan berpikirnya, dan tak percaya pada ilmunya sendiri.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menganugerahi kita keselamatan dari seluruh petaka!

Pemilik Harta dan Pemilik Cita-cita

Aku mengetahui bahwa tipu daya dan makar terbesar syaithan adalah mempermainkan para pemilik harta dengan beragam angan-angan dan beraneka kesenangan yang melalaikannya dari akhirat dan amal-amalnya.

Setelah berhasil menyuruhnya mengumpulkan harta sebanyak mungkin, syaithan memerintahkannya untuk menyimpannya bagi dirinya sendiri karena dorongan keengganan untuk berinfaq. Hal semacam ini termasuk muslihat terkuat dan tipu daya terhebat syaithan.

Kemudian syaithan menyusupkan ke dalamnya tipu daya yang sangat samar, yakni melarang kaum beriman mengumpulkan harta, menjauhkan para pencari akhirat darinya, dan menyuruh orang yang bertaubat segera mengembalikan hasil kezhalimannya. Ia terus-menerus mengajaknya untuk zuhud, memerintahkannya meninggalkan dunia, dan menjauhkannya dari usaha yang mendatangkan uang demi memperlihatkan keshalihan dan agamanya.

Tipu daya syaithan yang sangat samar ini mengandung beberapa makar yang sangat samar pula. Kadang ia bicara lewat lisan seorang syaikh yang menjadi panutan orang yang bertaubat, yang berkata, “Tinggalkan hartamu yang haram dan masuklah ke kelompok kaum zuhud! Selama engkau masih punya makan pagi dan makan malam, engkau bukan termasuk kelompok kaum zuhud dan engkau tak akan sampai pada tingkatan yang tinggi.”

Kadang syaikh ini membacakan hadis-hadis yang jauh dari keshahihan dan nukilan yang tak dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya. Sesudah orang yang bertaubat ini melepaskan harta yang dimilikinya dan berhenti berusaha mencari uang, maka syaithan pun membuatnya berambisi menjalin kembali hubungan dengan rekan-rekannya terdahulu, atau menjadikannya menganggap baik persahabatan dengan penguasa.

Bagaimana pun juga, biasanya ia hanya mampu bertahan di jalan kezuhudan dan kemiskinan selama beberapa hari saja. Setelah itu, hawa nafsunya pun mendorongnya untuk memenuhi tuntutan-tuntutan hidupnya. Sebagai akibatnya, ia pun terjerumus ke dalam jurang yang lebih buruk dari jurang yang ditinggalkannya.

Hal pertama yang dijualnya untuk memperoleh harta adalah agama dan kehormatannya; ia menjadi orang yang mempermainkan agama dan berada di posisi orang yang meminta-minta.

Kalau saja ia menelaah kehidupan para tokoh dan merenungkan hadis-hadis shahih dari mereka, pasti ia mengetahui bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah orang yang kaya raya hingga negerinya tak bisa menampung binatang ternaknya. Demikian pula Nabi Luth ‘alaihissalam.

Sebagian besar nabi ‘alaihimussalam dan sejumlah besar sahabat Nabi Muhammad radhiyallahu ‘anhum bersabar saat tak punya harta. Namun, mereka tak menolak untuk mengusahakan sesuatu yang memberinya manfaat, atau memanfaatkan sesuatu yang mubah ketika ia memang ada.

Abu Bakr ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu bepergian untuk berdagang saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup. Sebagian besar sahabat menginfaqkan kelebihan jatah mereka dari baitil maal, dan mereka pun bebas dari kehinaan meminta-minta pada orang lain. Sementara itu, Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu tidak menolak pemberian namun juga tak mau meminta-minta.

Aku merenungkan sebagian besar ahli ilmu yang kondisinya memang memprihatinkan dalam kepemilikan harta. Ternyata penyebabnya adalah ilmu membuat mereka tak sempat mencari harta benda pada awal perjalanan mereka. Ketika mereka mulai memerlukannya untuk mencukupi kebutuhan hidup, mereka terpaksa menghinakan dirinya, padahal sebenarnya mereka adalah kelompok orang yang paling layak menjadi orang mulia.

Pada masa lalu kebutuhan ahli ilmu bisa terpenuhi hanya dari kelebihan jatah rekan-rekan mereka di baitil maal. namun ketika tak ada lagi perhatian pada kaum berilmu seperti saat ini, maka untuk memperoleh sedikit harta benda, mereka terpaksa menjual agamanya dengan harga murah. Kondisi mereka memang amat memilukan, dan kadang agama mereka terlanjur hancur, tapi tak ada satu pun yang mereka dapatkan.

Karena itu, orang berakal wajib memelihara harta yang dimilikinya dan berusaha menambahnya dengan sungguh-sungguh, hinga ia tak perlu menjual muka di hadapan orang zhalim, atau berpura-pura di depan orang bodoh. Ia dilarang menaruh perhatian pada omong kosong kaum sufi yang mengklaim banyak hal dalam kemiskinan. Karena, sejatinya kemiskinan adalah kelemahan orang-orang yang lemah.

Seseorang yang tak punya minat bekerja dan puas dengan harta yang sedikit bukanlah termasuk kelompok orang hebat. Melainkan kelompok para pengecut.

Sedangkan seorang pekerja yang bertujuan menjadi pemberi pada orang yang semestinya bukan orang yang pantas diberi; dan orang yang bershadaqah pada mereka yang seharusnya tidak pantas disedekahi; maka keduanya ini termasuk kelompok pemberani dan orang hebat.

Seseorang yang mau merenungkan masalah ini dengan serius pasti akan mengetahui kemuliaan kekayaan dan kehinaan kemiskinan.

Bahaya Puas dengan Sesuatu yang Ada

Aku heran pada orang yang tak mau terhina kala ia tak betah mengkonsumsi roti yang kasar dan saat ia tak mau menolak pemberian dari orang-orang hina. Apakah ia menyangka bahwa pemilik kehormatan diri sudah tak ada lagi, ataukah ia tak tahu bahwa seseorang yang meminta pada orang yang kikir tak akan diberi? Walaupun orang kikir memberinya dalam jumlah yang tak seberapa, mereka akan memperbudaknya seumur hidup.

Apakah ia tak tahu bahwa pemberian yang tak seberapa itu pun tak akan bertahan lama, padahal ia akan meninggalkan budi, rasa malu, dan kehinaan diri dalam waktu yang lama? Karena, bagaimanapun juga, ia telah menjadi peminta, ia juga akan memuliakan orang yang telah memberinya itu selama-lamanya, selain itu pemberian tersebut juga akan membuatnya tak berani mengungkapkan cela pemberinya dan mendorongnya bersegera mewujudkan keinginan-keinginannya.

Tapi, aku lebih heran lagi pada orang yang bisa memperbudak orang-orang merdeka hanya dengan sedikit pemberian yang cepat habis. Padahal, ia sendiri tahu bahwa mereka hanya bisa dibeli dengan kebaikan.

Ikhtiar versus Tawakal

Suatu kondisi mendorongku mengiba sepenuh hati hanya pada Allah, bukan pada yang lain. Karena aku tahu, yang bisa memberiku manfaat dan menjauhkan diriku dari madharat hanyalah Ia. Usai mengiba padaNya, aku lantas bangkit untuk berusaha, tiba-tiba keimananku memprotesku dan mengatakan, “Apa yang kaulakukan mencederai tawakal!”

“Tidak, tidak demikian!” jawabku. “Karena Allah telah membuat ketetapan, dan apa yang kuusahakan tak berarti apa-apa, dan keberadaannya pun sama dengan ketiadaannya bila dihadapkan pada ketetapanNya itu.”

Selain itu, usaha adalah sesuatu yang diakui oleh syariat, seperti dalam firman Allah ta’ala,

Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka, lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri besertamu dan menyandang senjata. (QS an Nisaa’ 102)

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pun memakai dua lapis baju besi, berkonsultasi pada tabib dan pascapergi ke Thaif, beliau tak bisa masuk ke Makkah kecuali sesudah meminta bantuan pada Muth’im bin Adi dengan mengatakan, “Saya akan masuk Makkah di bawah perlindunganmu.” Kalau usaha adalah sesuatu yang terlarang, tentu beliau bisa masuk dengan tawakal saja dan tanpa bantuan orang lain.

Bila agama telah mengaitkan keberhasilan beberapa hal pada usaha, maka keberpalinganku dari usaha yang terkait dengannya sama dengan upaya menentang ketetapan Allah. Karena itu, aku berpendapat, berobat hukumnya sunnah, berbeda dengan pendiri madzhab yang kuanut (Ahmad bin Hanbal), yang menyatakan, “Tidak berobat lebih afdhal!”

Aku tak mengikutinya dalam masalah ini karena sebuah dalil melarangku mengikutinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

Seluruh penyakit yang diturunkan oleh Allah selalu disertai obat yang bisa menyembuhkannya. Karena itu, berobatlah!”

Kata “berobatlah” adalah kata perintah. Dan kata perintah kadang diartikan sebagai kewajiban dan kadang sebagai sunnah. Kata perintah ini juga tak didahului oleh larangan, sehingga ia tak layak diartikan sebagai mubah.

Aisyah radhiyallahu ‘anha juga mengatakan, “Aku mempelajari ilmu kedokteran karena banyaknya penyakit yang diderita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan begitu banyaknya resep yang diberikan untuknya.” (HR Ahmad)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga telah bersabda pada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, “Makanlah makanan yang ini karena ia lebih cocok untukmu daripada makanan yang ini.”

Ulama yang menyatakan, “Tak berobat lebih afdhal daripada berobat” berhujjah dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

Surga akan dimasuki tujuh puluh ribu orang tanpa hisab. Mereka adalah orang-orang yang tidak berobat dengan kayy, tidak minta diruqyah, tidak merasa sial karena sesuatu, dan bertawakal pada rabbnya. (HR Bukhari)

Hadis di atas tak melarang seseorang berobat karena di zaman dahulu ada beberapa kelompok orang yang berobat dengan metode kayy (membakar sebagian tubuh dengan besi) supaya tidak jatuh sakit dan minta diruqyah agar tak terserang jin. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah mengobati tubuh Sa’ad bin Zararah dengan besi yang dibakar dan memberi keringanan ruqyah dalam sebuah hadis shahih (HR Bukhari). Dengan demikian, kita menjadi tahu bahwa usaha adalah sesuatu yang diperintahkan agama.

Jika aku tak minum sesuatu yang dibutuhkan tubuh lalu aku berdoa, “Yaa Allah, sembuhkanlah aku,” tentu ilmu akan menghardikku dengan mengatakan, “Tidakkah kamu telah mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘ikatlah untamu, lalu bertawakal-lah?’”

Minumlah apa yang dibutuhkan tubuhmu, lalu berdoalah, “Yaa Allah, sembuhkanlah aku.” Jangan seperti seseorang yang mengerjakan shalat istisqa untuk meminta hujan namun enggan menggerakkan tangannya padahal antara tanamannya dengan sungai hanya terhalang oleh satu tapak kaki saja. Kondisi orang ini sama dengan kondisi musafir yang tak membawa bekal dengan tujuan menguji rabbnya; apakah Ia akan memberinya rezeki atau tidak. Orang ini telah diperintah berbekal dalam firmanNya (QS 2:197), tapi ia tetap mengatakan, “Saya tak akan membawa bekal.” Ini adalah orang yang binasa sebelum ia dibinasakan. Jika waktu shalat tiba dan ia tak punya air, maka ia disalahkan atas keteledorannya, dan ia juga akan ditanya, “Mengapa engkau tak membawa air sebelum masuk padang pasir ini?”

Jangan sekali-kali meniru perbuatan orang-orang yang berlebihan, yang melanggar aturan-aturan baku agama sembari meyakini bahwa kesempurnaan agama terletak pada penolakan terhadap kebutuhan fitrah dan tuntutan situasi dan kondisi.

Kalau bukan karena kekuatan dan kedalaman ilmu, tentu aku tak akan mampu menjelaskan atau memahami masalah ini. Pahamilah apa yang telah kujelaskan secara ringkas ini, ia lebih bermanfaat untukmu daripada puluhan buku yang kaudengar. Apa yang kujelaskan ini hanya bisa dipahami oleh orang-orang ahli, bukan orang yang ikut-ikutan saja.

Ikhtiar Seorang yang Arif

Hati orang yang arif dicemburui oleh Allah bila ia puny akeinginan untuk berikhtiar walau ia tak sampai tertancap di dalamnya. Saat ia memastikan diri untuk hidup mandiri lantaran ma’rifatnya tentang Allah, Ia pasti akan mengurusi semua urusannya. Oleh karena itu, jika ia terkuasai oleh pemikiran tentang ikhtiar, ikhtiar justru tak bisa memberikan apa pun padanya.

Dan ingatlah peperangan Hunain, yaitu ketika kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu. Maka jumlah yang banyak itu tak memberi manfaat padamu sedikit pun. (QS at Taubah 25)

Renungkanlah kisah Nabi Ya’qub ‘alaihissalam dan kekhawatirannya akan nasib Nabi Yusuf ‘alaihissalam hingga membuatnya mengatakan, “Dan aku khawatir bila ia dimakan serigala.” (QS 12:13), kemudian saudara-saudaranya pun mengatakan, “Ia dimakan serigala” (QS 12:17), tapi saat berbahagia tiba. Yahuda pun pulang membawa baju Nabi Yusuf ‘alaihissalam dan ia didahului oleh baunya. “Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf” (QS 12:94)

Renungkanlah perkataan Nabi Yusuf ‘alaihissalam pada petugas pemberi minuman, “Terangkanlah keadaanku pada tuanmu” (QS 12:42), lalu ia pun dihukum penjara selama tujuh tahun. Walaupun Nabi Yusuf ‘alaihissalam mengetahui bahwa keselamatan dirinya ditentukan oleh Allah ta’ala dan melakukan ikhtiar adalah sesuatu yang disyariatkan, tetapi kecemburuan Allah berperan serta dalam menimpakan hukuman padanya.

Bukti lain untuk masalah ini adalah kisah Maryam ‘alaihimussalam saat Allah menjadikan Zakariyya ‘alaihissalam sebagai pemeliharanya (QS 3:37), lalu Ia pun memeliharanya sendiri (QS 3:37), karena Ia cemburu pada sebab selainNya.

Termasuk peristiwa yang sejenis dengan ini adalah sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,

Allah tak mau memberi rezeki pada seorang hamba yang beriman kecuali dari jalur yang tak disangka-sangkanya. (HR al Qudha’i)

Usaha-usaha lahir adalah jalan yang wajib ditempuh. Walau demikian, seorang arif tak akaan fokus padanya karena pengetahuannya tentang hakikatnya tak sama dengan pengetahuan yang dimiliki oleh orang lain. Mungkin sesekali Anda melihat orang arif cenderung pada usaha lahir, walaupun kecenderungannya itu tak sampai menguasainya, dan itu adalah kesalahan teringan yang mengharuskannya diberi sanksi.

Aku sendiri pernah menghadapi suatu peristiwa yang mengharuskanku berpikir ulang tentang cara menghadapi ikhtiar. Suatu hari, aku harus menemui seorang yang zhalim dan mesti berkata lembut padanya. Saat aku memikirkan sikap yang mesti kuambil, tiba-tiba seorang qari’ datang dan memulai pembicaraan.

Aku pun lantas memintanya membaca ayat al Quran, dan dia membaca,

Dan janganlah kamu cenderung pada orang-orang zhalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tidak memiliki seorang penolong pun selain Allah, kemudian kamu tak akan diberi pertolongan. (QS Huud 113)

Aku pun terperanjat mendengar jawaban untuk pertanyaan yang bergejolak di hatiku, lalu aku berkata pada jiwaku, “Dengarkanlah, aku mencari kemenangan pada kata-kata yang lembut, namun kemudian al Quran mengajariku; jika aku cenderung pada orang yang zhalim, kemenangan justru tak akan kuperoleh!”

Keberuntungan besar bagi orang yang telah mengetahui penyebab utama lalu bergantung padaNya karena Ialah tujuan tertinggi. Semoga Allah menganugerahkannya pada kita.

sumber: Shaidul Khathir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 657 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: