Arsip

Arsip Bulanan: Desember 2011

Judul di atas mungkin akan terkesan mislead. Saya memang agak susah menemukan judul ringkas yang pas untuk tulisan ini. Maka ini penjelasan saya: dalam beberapa hal, ada perbedaan pendapat antara saya dengan beliau, kali ini dalam masalah mengucapkan selamat pada hari raya orang kafir. Mengingat momennya, tentu yang akan saya bahas kali ini adalah perayaan Natal.

Sebagai catatan tambahan, tulisan ini tidak membuat saya terpikir berada dalam posisi merendahkan atau bahkan men-tahdzir pribadi Syaikh Yusuf Qardhawi mengingat kadar ilmu dan amal saya yang masih jauh di bawah beliau. Ini adalah kritik yang saya ambil dari al Quran dan as Sunnah dan penjelasan beberapa ulama yang berada dalam jangkauan bacaan saya. Insya Allah, sama sekali tak ada tendensi negatif yang bersifat pribadi saat saya menulis artikel ini.

Dalam Fiqh Maqashid Syariah, yang edisi terjemahnya sudah diterbitkan oleh Pustaka Kautsar, Syaikh Qardhawi menjawab pertanyaan terkait mengucapkan selamat Natal pada kaum Nashrani. Berikut kutipan pertanyaan sekaligus jawaban Syaikh Qardhawi yang saya ambil dari buku terjemahan tersebut. Bila dirasa terlalu panjang, silakan baca ringkasannya saja di bawah kutipan ini.

Pertanyaan:

Apa hal yang dihalalkan ataukah diharamkan bagi kita untuk mengucapkan hari raya seperti hari raya negara dan agama? Terutama yang paling terkenal adalah hari raya kelahiran al Masih atau yang biasa disebut Natal dan sering dirayakan oleh orang-orang dengan perayaan besar?

Apakah kita boleh mengucapkan selamat pada teman sekampus, pembimbing disertasi (penanya adalah mahasiswa doktoral bidang atom di Jerman), rekan sekantor, atau tetangga rumah dengan kata-kata sopan dan yang telah menjadi kebiasaan?

Saya pernah mendengar dari sebagian teman, bahwa hal tersebut adalah haram, bahkan termasuk salah satu dosa besar kepada Allah. Sebab hal tersebut adalah termasuk mengakui dan membenarkan kebatilan dan kekufuran serta mendukung agama mereka.

Padahal, saat saya mengucapkan selamat dengan kata-kata atau dengan memberikan hadiah, saya tidak pernah membayangkan bahwa saya membenarkan kebatilan atau mendukung kekufuran mereka. Ia tidak lain adalah semata bentuk pergaulan dan berinteraksi dengan baik antarsesama manusia yang diperintahkan oleh Islam. Terutama, mereka pun selalu mengucapkan selamat pada hari raya kita. Bahkan, mereka kadan gjuga memberikan hadiah pada kita. Justru, saya merasakan kekasaran dan kekerasan jika kasih sayang tersebut dibalas dengan wajah masam dan kening berkerut. Ia akan menyebabkan seorang muslim terasingkan dari keadaan, lari dari masyarakat, dan menjelekkan citra Islam itu sendiri. Terutama di zaman sekarang, di mana banyak musuh Islam sering menyerang dan menyebut Islam dengan kekerasan dan teroris. Dengan interaksi yang kasar seperti itu, berarti kita telah memberikan senjata pada mereka untuk menyerang agama dan ummat Islam.

Jawaban Syaikh Qardhawi:

Al Quran telah menjelaskan hubungan antara ummat Islam dengan yang lainnya dalam dua ayat surat al Mumtahanah. Surat tersebut diturunkan tentang orang musyrik. Read More

Ini mungkin akan jadi post yang sangat pendek mengingat tulisan ini tadinya ditujukan sebagai komentar atas artikel yang ditulis oleh seseorang di suatu tempat. Tulisan ini mungkin juga akan jadi pembuka rangkaian tulisan saya, insya Allah, mengenai alasan saya memilih Islam, bukan diin yang lain.

Pertanyaan pertama adalah: apa yang dimaksud ma’shum itu?

Secara bahasa, ma’shum berarti “yang terjaga” atau “yang terkawal”. Umumnya, kata ini digunakan untuk menjelaskan keterjagaan para rasul terkait perannya dalam lingkup keislaman. Untuk mempermudah bahasan ini, ma’shum bisa kita kelompokkan jadi dua: terjaga dari penyimpangan dalam menyampaikan wahyu, dan terjaga dari kealpaan atau kelalaian.

Pembahasan mengenai keterjagaan para malaikat dan rasul menjadi penting karena hal ini secara langsung terkait dengan validitas risalah; mengingat perantara kita dengan Allah dalam hal wahyu adalah malaikat dan para rasul.

Sebelum memasuki bahasan lebih lanjut, saya ingin menyampaikan sedikit catatan: mengingat malaikat dan turunnya wahyu yang juga melibatkan rasul adalah hal gaib yang otomatis tidak bisa ditangkap dan diolah oleh indra dan akal manusia biasa—manusia yang tidak berstatus sebagai rasul atau orang-orang yang secara istimewa diberi pengecualian atas hal ini—maka cara paling fair untuk memahaminya, menurut saya, adalah mengembalikannya pada pemilik sesuatu yang gaib itu.

Allah maha mengetahui hal yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan hal gaib pada siapa pun, kecuali pada rasul yang Ia ridhai. (QS al Jin 26)

Mengenai kema’shuman malaikat, al Quran mencatat,

Dan mereka berkata, “Rabb yang maha pemurah telah mengambil (memiliki) anak,” Maha suci Allah, sesungguhnya mereka (para malaikat) itu adalah hamba-hamba yang dimuliakan yang tidak mendahuluiNya dengan ucapan dan mereka melaksanakan perintah-perintahNya. (QS al Anbiyaa’ 26-27)

Sesungguhnya mereka (malaikat) tidak berma’shiyat pada Allah terhadap apa yang diperintahkan pada mereka dan mereka senatiasa melaksanakan apa yang diperintahkan. (QS at Tahrim 6)

Rangkaian ayat pertama berkorelasi dengan malaikat sebab, meski tidak disebut Read More

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 549 pengikut lainnya.