Arsip

artikel reguler

Suatu hari, di sebuah kesempatan yang saya sudah lupa waktu dan tempatnya, seseorang berkata pada saya yang kira-kira begini isinya.

Saya tak habis pikir dengan orang-orang yang rajin berkampanye syariat dan jihad itu, seolah mereka ini benar sendiri. Padahal kan yang baik menurut mereka belum tentu baik menurut tuhan; jangan memaksakan kehendak dong…

Sekali lagi, karena saya lupa masalah detail mengenai pernyataan ini, saya hanya menampilkan poinnya. Ini bukan transkrip kata per kata. Tapi saya yakin poin yang hendak disampaikan orang ini adalah seperti yang saya tulis itu.

Apa yang menarik? Begini, kalimat terakhir orang itu sebenarnya merupakan sepenggal kutipan dari al Quran. Tepatnya di QS al Baqarah 216. Berikut kutipan lengkapnya.

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui. (QS al Baqarah 216)

Saya tak sedang membicarakan tafsirnya. Hanya menunjukkan bahwa penegakan syariat jihad yang dibenci kawan saya itu ternyata disebutkan oleh Allah dengan redaksi yang sama sekali berbeda.

Oya, perlu dicatat bahwa saya tidak sedang mengomentari pernyataan mengenai memaksakan kehendak. Sayyid Quthb, dalam Ma’alim fit Thariq, saya kira sudah memberikan penjelasan yang cukup mudah dimengerti mengenai batasan “pemaksaan di dalam diin“ yang diizinkan oleh Islam; selain karena saya sedang tidak bicara mengenai poin itu kali ini.

Nah, melihat pernyataan kawan saya itu, luar biasa ironis bila dibandingkan dengan hal yang tersebut dalam al Quran, kan?

Ada lagi kasus populer yang sering mencuat ketika masyarakat bimbang, harus menuruti pemerintah—atau pihak-pihak berkuasa lainnya—atau ikut pada ijtihad pribadi atau ulama yang dinilai lebih dekat pada kebenaran. Seorang teman—orang yang berbeda dengan yang saya ceritakan di awal tulisan ini—pernah mengirimkan pesan singkat pada saya. Intinya agar saya Read More

Rosihan Anwar, dalam Petite Histoire Indonesia, menuliskan perjalanannya bersama rombongan kecil Menteri Penerangan Muhammad Natsir suatu kali di bulan Juni 1946. Kunjungan ini terkait peristiwa pembantaian warga Tionghoa di Tangerang atas tuduhan agen NICA. Masa itu, sentimen warga pribumi, khususnya yang tinggal di sekitar ibukota, terhadap NICA dan antek-anteknya yang tersebar di berbagai struktur masyarakat meningkat. Tapi, sebagaimana ketakutan berlebih lainnya yang tak terjaga sesuai porsinya, sentimen ini membuahkan tuduhan-tuduhan yang kelewat batas.

Preman, aktivis pemuda, dan warga lain yang punya energi serta kuasa lebih mulai beraksi. Salah paham mengenai masalah “siapa memihak siapa” menyebabkan warga Tionghoa jadi korban. Mereka yang diduga antek NICA dibunuh. Tak ada catatan pasti mengenai cara dan jumlah warga yang tewas. Sebagian berkata, mereka ditusuk, kadang disembelih—yang punya amunisi ekstra memilih menggunakan bedil—tanpa ada usaha untuk membuktikan kesalahan, melalui cara apa pun. Sekali diduga, habislah nyawa dalam hitungan pekan bahkan hari.

Memang situasi sedang mencekam. Sulit mengetahui siapa kawan dan siapa lawan. Mochtar Lubis menuliskan kondisi psikologis penuh tekanan ini dalam novel berjudul Jalan Tak Ada Ujung. Rosihan Anwar bahkan menuliskan perjalanan mereka saat itu sesekali berhenti untuk melayani pertanyaan serdadu-serdadu bule NICA. “Bila NICA-NICA itu tak mau mendengar dan main tembak saja seperti kelakuan serdadu Ambon dan Indo dari Batalion Sepuluh di jalanan Jakarta,” tulisnya, “kami bisa habis.”

Sepintas, bisa dipahami bila paranoia seperti itu muncul di tengah masyarakat. Tapi sebelum tergesa mengambil kesimpulan, mari kita tengok catatan sejarah lainnya.

***

24 Maret 1946, Bandung berkobar. Tak rela Bandung Selatan berubah menjadi lokasi strategis tentara Sekutu dalam menjajah Indonesia, pejuang kemerdekaan memilih membumihanguskannya sambil meneruskan perang gerilya untuk merebut kembali Bandung dari serdadu Inggris.

Hari itu juga menjadi hari terakhir Read More

sembari berakhir pekan, mari belajar bersama mengenai beberapa hal tentang Sayyid #Quthb.

1. dunia Islam kontemporer mengenal nama Sayyid #Quthb sebagai salah satu pentolan gerakan al Ikhwan al Muslimun.

2. Sayyid #Quthb adalah salah 1 anak dari 3 bersaudara. saudaranya bernama Muhammad Quthb dan Aminah Quthb.

3. ketiga nama ini dekat dg sejarah perjuangan penegakan Islam kontemporer. Sayyid & Muhammad lebih dikenal dg karya ilmiahnya.#Quthb

4. sementara Aminah dikenal sbg istri Kamaluddin as Sananiri, muraqqib Maktab Irsyad tanzhim Ikhwanul Muslimin utk jihad Afghan.#Quthb

5. Kamaluddin sendiri masyhur sebagai pejuang Islam yang cukup dekat dengan Syaikh Abdullah Yusuf Azzam. #Quthb

6. beberapa karya Sayyid #Quthb yang terkenal di antaranya adalah Tashwirul Fanni fil Quran, Ma’alim fit Thariq, dan Fi Zhilalil Qur’an.

7. beliau juga dikenal sebagai pejuang da’wah tauhid di Mesir khususnya. ada statement terkenalnya yang membekas bagi saya. #Quthb

8. “telunjuk yang mempersaksikan keesaan Allah dalam shalat,” kata#Quthb, “menolak utk menuliskan 1 huruf pun penundukan pada thaghut.”

9. “ketahuilah, kami mati demi bela dan tinggikan kalimat laa ilaaha illallaah. sementara kau mencari makan dg laa ilaaha illallaah.” #Quthb

10. #Quthb juga menginspirasi banyak du’at dg dijadikannya Ma’alim fit Thariq sebagai salah 1 buku panduan utk pengajaran Islam masa itu.

11. Sayyid #Quthb, yang juga terkenal cerdas, sempat menerima beasiswa untuk melanjutkan studi di beberapa negara, salah satunya AS.

12. tapi beda dengan kebanyakan lulusan AS, Sayyid #Quthb lebih memilih perjuangkan Islam. tak seperti #mereka.

13. intima’nya di gerakan Ikhwan dimulai saat ia pulang dari AS. khususnya setelah Hasan al Banna dibunuh oleh orang2 tak dikenal.#Quthb

14. belasan tahun #Quthb dipenjara oleh rezim thaghut Mesir. salah satunya adalah karena buku Ma’alim fit Thariq.

15. hingga akhirnya beliau menghembuskan nafas terakhir di tiang gantungan sebab tak mengakui kuasa Abdul Nasser. #Quthb

16. ada kisah unik sebelum eksekusi dilaksanakan. konon, Abdul Nasser sempat menerima surat permohonan grasi dari Faishal, raja Saudi #Quthb

17. tapi Abdul Nasser malah melipat kembali surat itu dan berkata pada pengawalnya, “Serahkan lagi surat ini besok.” #Quthb

18. sehingga ada kesan keterlambatan datangnya surat itu dengan proses eksekusi Sayyid #Quthb

19. fyi, Faishal adalah raja Saudi yang begitu berani mengembargo minyak AS, meski kurang-lebih hanya selama 8 bulan. #Quthb

20. tapi perlu dicatat bahwa setelah ia meninggal, tak ada satu pun raja Saudi yang bersikap tegas pada AS. #Quthb

21. so what? apa wajib bersikap tegas pada AS? silakan baca dan cermati kriteria Hizbullah, partai Allah. #Quthb

22. kembali ke #Quthb. ia juga beberapa kali disalahpahami. serangkai twit berikut saya tuliskan utk luruskan beberapa salah paham tersebut.

23. pertama, yang sering dituduhkan pada Sayyid #Quthb adalah bahwa ia mengkafirkan seluruh masyarakat Islam; atau masyarakat muslim.

24. orang sering merujuk hal ini pada beberapa kalimat dalam Ma’alim fit Thariq. di sana Sayyid #Quthb pernah menulis hal2 sebagai berikut:

25. “kita sedang berada dalam kejahiliyahan seperti jahiliyah yang sekurun dengan Islam, atau bahkan lebih mengenaskan.” #Quthb

26. “semua yg ada di sekeliling kita adl jahiliyah: aqidah, adat, tradisi, kebudayaan, kesenian, sastra, hukum dan UU mereka.” #Quthb

27. sayangnya, saya kira mereka yg menuduhkan hal ini tak baca lengkap Ma’alim fit Thariq. atau plg tdk, dg semangat cari kebenaran. #Quthb

28. sebab di saat hampir bersamaan, di buku yg sama, #Quthb tuliskan kriteria jahiliyah yang ia maksudkan.

29. #Quthb menulis dalam Ma’alim fit Thariq bahwa masyarakat Islam adalah Read More


Tuhan, bisakah aku menerima hukumMu tanpa meragukannya lebih dahulu? Karena itu, Tuhan, maklumilah bila aku masih ragu akan kebenaran hukumMu. Jika Kau tak suka hal itu, berilah aku pengertian sehingga keraguan itu hilang. Tuhan, murkakah Kau bila aku bicara dengan hati dan otak yang bebas, hati dan otak sendiri yang telah Kau berikan padaku dengan kemampuan bebasnya sekali? –Ahmad Wahib

Manusia sering menghabiskan waktunya hanya untuk satu hal yang melelahkan: bertanya. Yang paling melekat dalam ingatan tentu kisah anak-anak Ya’qub ‘alaihissalam saat Musa memerintahkan mereka menyembelih sapi betina. Yang jamak terdengar adalah hikayat pencari tuhan yang letih mengajukan keberatan sebab enggan gunakan informasi dari para utusan. Mereka senatiasa bertanya, mencari jawaban atas hakikat segala yang ada: sebab, asal, dan hukumnya. Alat bantunya pun tak kalah canggih: logika, estetika, hingga epistemologi. Kamus Besar Bahasa Indonesia merangkumnya dengan satu kata: filsafat.

Sayangnya, ia—segala usaha memeras tenaga ini—biasanya tak kunjung menuai jawaban. Kalaupun ada, pasti tak jauh beda dengan mereka yang tersengal berdebat mengenai definisi kata “adil”. Para feminis berkata, “adil” adalah ketika wanita dan pria diperlakukan setara, tanpa diskriminasi yang mengekang. Yang mengaku anarkis berkata, “adil” adalah ketika kapitalisme dan penindasan manusia terhapus serta tumbuhnya kebebasan mutlak dan persamaan hak bagi tiap masyarakat. Sementara kalangan islamis berkata, “adil” adalah segala hal yang diturunkan Allah pada ummat manusia; tak peduli apakah ia berikan bagian yang sama besar bagi wanita dan pria, atau mengekang kebebasan dan arogansi manusia dengan seperangkat aturan.

Bila pembaca tanya sebabnya, saya hanya menjawab sambil mengangkat bahu, “Karena kita tak punya kaidah yang disepakati bersama.”

***

Kawan saya, Ikram Putra, belasan bulan lalu dengan santai mengungkapkan keheranannya pada mereka yang doyan bertanya, khususnya bila ia terkait dengan agamanya: Islam. Di blognya, ia menyoroti sekelompok muslim yang menjadikan akibat sebagai alasan. Sujud dalam shalat berguna membuat kepala lebih rendah dari hati; Sujud juga bermanfaat mengalirkan darah ke kepala; Babi dilarang sebab mengandung cacing pita.

Mungkin, bila dilihat secara sekilas, tak ada masalah. Toh ia bisa jadi dipahami sebagai dorongan untuk beramal. Atau, dimaknai sebagai salah satu tanda kebesaran Allah yang menurunkan syariat ini. Tapi Read More

Mungkin memang begitu hirarki para pembelajar. Mereka memungut data dari pelaku. Mereka menulis berita dari saksi mata. Serta mengambil pelajaran dari ahli ilmu. Semua terangkum jadi begini: para pembelajar meraup hikmah dari para pendahulu.

Kisah ini dimulai saat jahiliyah masih mencengkeram bumi. Paras jelita yang mengiringi akhlaq menawan dan kecerdasan di atas rata-rata membuat Malik bin Nadhar mempersunting wanita dari kaum Khazraj ini. Singkat cerita,dilaksanakanlah pernikahan. Dan dari rahim wanita shalihah ini, Ummu Sulaim binti Milhan, lahir seorang putera yang kelak mewarnai sejarah Islam: Anas bin Malik.

Pelajaran cinta kita dapati darinya. Kedatangan cahaya nubuwwah membuat mereka yang beriman harus memilih: iman atau kafir. Ummu Sulaim memilih yang pertama. Tapi tak begitu halnya dengan Malik.

Maka penuh murka ia berkata, “Benarkah kau telah murtad dari agamamu?”

“Tidak,” jawab Ummu Sulaim, dengan suara yang dikuat-kuatkan. “Bahkan aku telah
beriman..”

Maka berulang ia mengucap kalimat syahadat. Supaya teguh iman dalam hatinya. Mendengarnya, Malik bin Nadhar semakin panas. Sebab tak tahan, ia akhirnya bersumpah akan pergi dari rumah dan tak akan kembali sampai isterinya kembali pada agamanya yang dulu.

Tragisnya, dalam perjalanan-entah-ke-mananya itu, ia bertemu dengan musuh. Dan terbunuh dalam insiden itu. Ia meninggal tanpa menyisakan keimanan sedikit pun dalam dirinya.

Sungguh sakit meninggalkan mereka yang dicinta demi Read More

Krisis itu menemui puncaknya pada 14 Juli 1789. Perancis berkobar menuju revolusi. Penjara Bastille dijebol. Gubernur de Launay terbunuh. Simbol absolutisme kerajaan runtuh. Jargon-jargon kebebasan, persamaan derajat, dan persaudaraan dikobarkan. Senjata diangkat melawan serdadu Louis dan Antoinette. Sang raja dan ratu sendiri akhirnya harus merelakan kepalanya dipancung guillotine.

Ketidakpuasan sosial atas asas-asas feodal di Perancis masa itu jadi salah satu sebab. Pajak mencekik diterapkan pada kaum papa. Sementara di Versailles, raja dan ratu hidup mewah dengan sokongan belasan ribu pelayan. Dan pihak gereja pun secara mengejutkan—bagi saya, paling tidak—juga memiliki hak untuk menarik pajak dari rakyatnya.

Di tengah semua kisruh yang begitu riuh ini, kita bertanya, siapa orang-orang di baliknya?

Revolusi ini memang dilahirkan oleh pemikir sekelas Voltaire, Rousseau, atau Montesquieu. Juga mewarnai setting novel legendaris Les Miserables karya Victor Hugo. Tapi bukankah bisa kita saksikan bahwa penjebol Bastille yang jadi penanda besar revolusi ini adalah kaum buruh nan tertindas aturan-aturan aristokrasi? Bukankah arus utama dari perubahan ini adalah mereka yang relatif tak berpendidikan tinggi?

Mungkin ada benarnya kata Goenawan Mohamad dalam Catatan Pinggir bertanggal 11 Agustus 2002 itu. Bahwa sebuah negara tak pernah didirikan di atas Read More

Saya tak tahu. Kadang, saya merasa bahwa diri memiliki banyak kurang. Kurang memiliki kualifikasi untuk membawa agama ini di garda terdepan. Kurang syukur; kurang sabar. Aneh. Sekaligus mengkhawatirkan. Padahal rasul dahulu pernah berkata bahwa keduanya merupakan salah satu dari sedikit kendaraan menuju surga. Juga, mengingat para pendahulu kita yang dijamin surga, Umar bin Khaththab misalnya, memiliki dua sifat ini. Sampai-sampai ia tak peduli lagi dengan kendaraan apa ia akan masuk ke dalamnya.

Sering saya mengeluh. Mereka yang dekat dengan saya tahu ini. Ada saja yang dikeluhkan. Tugas yang menumpuk, tanggung jawab yang menanti, atau kurangnya ilmu yang dikuasai. Sebagai apologi, saya sering berkata dalam hati, “Ah, keluhanku ini untuk Allah. Untuk agama Allah.” Tapi jarang sekali ingat bahwa dulu, ketika para sahabat berada dalam tekanan dan mengadukannya pada rasul, bertanya kapan pertolongan Allah datang, wajah rasul memerah sembari berkata, “Sungguh kalian adalah orang yang terburu-buru.”

Karena telah tampak pengorbanan Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yahya, Musa, Zakariyya, Isa, dan sederet rasul lainnya, ‘alaihumussalam. Mereka menderita kepedihan yang parah. Tubuh yang digergaji, kepala yang dipenggal, ummat yang luar biasa bebal, sosok yang dicari dengan ancaman penuh siksa; semua berkejaran. Tapi adakah di antara mereka mengeluh?

“Ya Allah, aku mengadukan kepadaMu akan lemahnya kekuatanku dan sedikitnya daya upayaku pada pandangan manusia. Yaa arhamar rahimiin, Engkaulah rabbnya orang2 yang merasa lemah, dan Engkaulah rabbku, kepada siapakah Engkau serahkan diriku? Kepada musuh yang menghinaku ataukah kepada keluarga yang Engkau berikan kepadanya urusanku, tidak ada keberatan bagiku asal saja aku tetap dalam keridhaanMu? Dalam pada itu afiat-Mu lebih luas bagiku. Aku berlindung dengan cahaya wajahMu yang mulia yang menyinari seluruh langit dan menerangi semua yang gelap dan atasnyalah teratur segala urusan dunia dan akhirat, dari Engkau menimpakan atas diriku kemarahanMu atau dari Engkau turun atasku adzab-Mu. KepadaMu lah aku mengadukan urusanku sehingga Engkau ridha. Tidak ada daya dan upaya melainkan melalui Engkau.”

“rabbi, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang memusakai surga yang penuh kenikmatan…”

Atau ungkap penuh kesabaran Hajar di padang pasir tandus itu,

“Yaa Ibrahim, kalau itu adalah perintah rabbmu, maka tidak ada jalan lain selain mematuhinya. Allah tidak akan menyia-nyiakan kami. Dialah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong..”

Rabbi..

Mungkin tak ada lagi kata dalam lisanku untuk mengungkapkan kesabaran hamba-hambaMu yang mulia itu. Ah ya, cuma satu. Kalau memasuki jannahMu membutuhkan keduanya; sabar dan syukur; jadikan aku bagian dari orang yang sabar dan syukur itu..

Orang yang paling keras cobaannya adalah para nabi, kemudian yang semisal dengannya dan seterusnya; seseorang dicoba sesuai dengan kadar agamanya; apabila agamanya kuat maka cobaanya keras, dan apabila agamanya lemah maka ia mendapatkan cobaan sesuai dengan kadar agamanya. Cobaan terus menerus menimpa hamba Allah tak pernah lepas darinya sebelum ia berjalan di muka bumi tanpa mempunyai dosa lagi. (HR Bukhari)

*saat harapan memudar, hanya Kau sandarku..

Saudi, 20 November 1979. Sejarah mencatat nama Juhaiman al Utaibi sebagai orang pertama, atau mungkin satu-satunya, di wilayah jazirah Arab yang begitu berani berusaha membobol status quo pemerintahan kerajaan Ibnu Saud. Hari itu, bertepatan dengan tahun baru hijriyah, kucuran darah tumpah di wilayah Masjidil Haram. Kisah ini cukup fenomenal, mengingat, di tanah itu, saya merekam memori bahwa hanya darah Sa’ad bin Abi Waqqash, Abu Jahl, keluarga Yasir, Abdullah bin Zubair, dan darah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri—beserta kaum muslimin yang turut andil dalam konflik pelik di akhir pemerintahan khulafa’ur rasyidin—yang pernah memerahkan tanah Makkah. Itu empat belas abad yang lalu.

Tapi ada yang aneh. Gerakan ini sama sekali luput dari pengamatan intelijen kerajaan Saudi. Tiba-tiba saja, pagi itu, muncul ratusan orang bersejata lengkap yang kemudian berbuat huru-hara di sekitar kompleks Masjidil Haram.

Salahkah Juhaiman? Saya tak bisa memberikan jawaban absolut: ya atau tidak. Karena kalau kita tinjau dari ghirahnya dalam memurnikan tauhid dari syirik, menyucikan ibadah dari bid’ah, serta konsistensinya dalam menegakkan sunnah, jelas kita semua harus angkat topi. Harus menaruh hormat. Wajarlah, mengingat Juhaiman sendiri—seperti yang dikisahkan pada saya oleh seorang kawan dari buku yang ia baca: The Siege Of Mecca: The Forgotten Uprising in Islam’s Holiest Shrine and The Birth of Al Qaeda karya Yaroslav Trofimovadalah salah seorang ikhwah yang belajar banyak dari Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, serta menyatakan diri sebagai pengusung gerakan da’wah salafiyyah. Tapi di sisi lain, luput dalam memaknai “al Mahdi” ternyata membawa al Ikhwan, sebutan kelompok ini, pada kesalahan terbesarnya.

Mereka memaksakan kehadiran al Mahdi. Bukan menjadikannya Read More

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 549 pengikut lainnya.