Hijrah bukan sesuatu yang remeh; bukan sesuatu yang mudah. Ia, seperti ibadah lainnya, sarat dengan warna pengorbanan. Dan selalu mahal. Selalu menimbulkan enggan pada diri manusia. Ya. Percayalah, beban berat itu tak hanya dirasakan oleh mereka yang belum menyematkan ikhlas dan keislaman yang kokoh dalam dada. Mereka yang sudah memiliki Islam dan ikhlas yang demikian tinggi pun tak luput dari ujian. Malah, ujiannya semakin berat.
Diriwayatkan bahwa seorang sahabat pernah bertanya pada sang nabi, siapa orang yang mendapat ujian paling berat? Lantas nabi menjawab dengan hadis berikut,
Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa. (HR Ahmad)
Hal senada diungkap Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Syaikhul Islam berkata, “Cobaan yang semakin berat akan senantiasa menimpa seorang mukmin yang sholih untuk meninggikan derajatnya dan agar ia semakin mendapatkan ganjaran yang besar,” seperti dikutip dari kitab al Istiqomah.
Kita ambil contoh yang sangat ekstrim: kisah para nabi. Mari lukiskan dalam benak kita rona-rona ketakutan hawariyyun saat mereka berusaha menghindar dari kejaran tentara Pilatus. Mari rasakan perih tumit Rasulullah akibat lemparan batu dari penduduk Thaif. Atau ngilu di rahang beliau saat hujan batu menimpa wajahnya di Uhud.
Itu jelas bukan ujian yang mudah. Penuh kesakitan. Penuh umpat dan caci hina. Ya. Inilah jalan yang ditempuh para nabi untuk meluruskan ummat-ummatnya. Memang sulit; karena selamanya, kebaikan dan kebatilan tak akan pernah bisa bersatu. Keduanya saling berperang memperebutkan Read More