<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>muslim peduli..</title>
	<atom:link href="http://muslimpeduli.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muslimpeduli.wordpress.com</link>
	<description>my thought, my opinion</description>
	<lastBuildDate>Sun, 29 Jan 2012 08:19:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='muslimpeduli.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>muslim peduli..</title>
		<link>http://muslimpeduli.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://muslimpeduli.wordpress.com/osd.xml" title="muslim peduli.." />
	<atom:link rel='hub' href='http://muslimpeduli.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>2,5 Tahun, 125 Posts, 10.000 Hits</title>
		<link>http://muslimpeduli.wordpress.com/2012/01/28/25-tahun-125-posts-10-000-hits/</link>
		<comments>http://muslimpeduli.wordpress.com/2012/01/28/25-tahun-125-posts-10-000-hits/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Jan 2012 21:11:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>reza</dc:creator>
				<category><![CDATA[catatan ringan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslimpeduli.wordpress.com/?p=591</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah data (kira-kira) statistik blog saya. Sulit menemukan apa yang harus dibanggakan dari angka-angka ini, memang. Tapi paling tidak milestone ini sedikit banyak memberi harapan buat saya. Semoga dari 10.000 klik di blog ini pada 125 artikel selama 1,5 tahun ini lebih banyak menghasilkan manfaat ketimbang mudharatnya. Saya masih lumayan ingat bagaimana blog ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muslimpeduli.wordpress.com&amp;blog=8802475&amp;post=591&amp;subd=muslimpeduli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini adalah data (kira-kira) statistik blog saya. Sulit menemukan apa yang harus dibanggakan dari angka-angka ini, memang. Tapi paling tidak <em>milestone</em> ini sedikit banyak memberi harapan buat saya. Semoga dari 10.000 klik di blog ini pada 125 artikel selama 1,5 tahun ini lebih banyak menghasilkan manfaat ketimbang mudharatnya.</p>
<div id="attachment_594" class="wp-caption aligncenter" style="width: 490px"><a href="http://muslimpeduli.files.wordpress.com/2012/01/blogstats25jan.jpg"><img class="size-full wp-image-594" title="blogstats25jan" src="http://muslimpeduli.files.wordpress.com/2012/01/blogstats25jan.jpg?w=480&#038;h=259" alt="" width="480" height="259" /></a><p class="wp-caption-text">statistik blog per-29 januari 2011</p></div>
<p style="text-align:center;">
<p>Saya masih lumayan ingat bagaimana blog ini terbentuk. Seperti yang saya ceritakan di <a href="http://muslimpeduli.wordpress.com/2010/07/04/mengapa-muslim-peduli/">sini</a>, kebiasaan menulis saya berawal dari kekhawatiran saya akan terhentinya ilmu sampai di saya saja. Adanya tekanan dari guru sekolah untuk melaporkan materi ta’lim membuat saya kemudian belajar menulis. Kebiasaan menulis ini membawa saya pada gagasan: mengapa nggak bikin blog saja?</p>
<p>Saya kemudian membuka akun blogspot. Nama blognya juga muslimpeduli. Isinya kebanyakan rangkuman materi ta’lim di rohis saya itu. Semakin lama, saya merasa bahwa blog itu kurang menarik tampilannya. Masalahnya, saya nggak melek teknologi.</p>
<p>Tak lama kemudian, menjumpai ketua rohis saya, <a href="http://bukancumadokter.wordpress.com/">Indra</a>, yang punya tampilan blog lebih bagus dari milik saya dulu, saya kemudian beralih ke wordpress. Ternyata <em>dashboard</em> wordpress lebih <em>user-friendly</em>. Segeralah blog ini terbentuk. Isinya juga makin lama makin beragam. Akun blogspot itu pun saya tutup.</p>
<p>Selama ini, saya juga sering mengalami kebuntuan menulis. Kemalasan faktor utamanya. Malah pernah sekali waktu saya baru mem-<em>post</em> artikel baru setelah tiga bulan lamanya blog ini terbengkalai. Terlalu banyak artikel yang berbentuk <em>draft</em> daripada yang sudah benar-benar terselesaikan. Dibanding pengampu blog lain semisal <a href="http://pagi2buta.wordpress.com/">Amel</a>, atau <a href="http://faraziyya.wordpress.com/">Mbak Ziy</a> yang cukup rajin menulis, ini sepertinya bukan catatan yang begitu bagus.</p>
<p>Positifnya, sejak beberapa bulan lalu, ada lebih banyak pengunjung yang terdampar di blog ini melalui <em>search engine</em>. Bukan lagi melalui link yang saya tampilkan di twitter atau facebook. Mungkin bisa diartikan bahwa yang saya tuliskan memang benar dicari oleh mereka yang memerlukan jawaban. Semoga memang demikian yang terjadi.</p>
<p>Bicara tentang <em>milestone</em>, saya senang adik bungsu saya sudah bisa bersikap dewasa seiring usianya. Kebetulan, menurut kalender Gregorian, kemarin dia genap berusia 16 tahun. Tak berselang lama dari hari itu, ia membagi rencana hidupnya, target-targetnya, pada saya. Syukurlah, masukan saya saat liburan kemarin ia pertimbangkan. Tak sia-sia saya terjebak di bus selama 25 jam hanya untuk lima hari tinggal di rumah bersama dia.</p>
<p>Lepas dari itu, saya agak terganggu dengan dugaan bahwa sekolahnya, Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah, tak menyediakan jam konseling bagi siswa-siswanya. Berbagai bentuk pengaduan yang sifatnya pribadi dan tak terkait kurikulum diserahkan pada musrif asrama. Sebab mungkin inilah salah satu faktor adik saya sempat galau. Sudah duduk di pesantren, tapi masih saja tak fokus dalam belajar. Ia rupanya masih memikirkan kemungkinan lain selain melanjutkan jalur pendidikannya saat ini. Ini kira-kira sama dengan siswa STM bidang mesin yang bercita-cita jadi dokter. Tak mustahil, tapi tentu tak baik dalam sudut pandang perencanaan pendidikan.</p>
<p>Dari obrolan saya dengannya, ia kelihatan belum punya sosok ideal untuk dijadikan <em>benchmark</em> dalam menempuh pendidikan. Saya tahu ada banyak lulusan berkualitas dari sana. Tapi mungkin karena interaksi mereka dengan siswa Mu’allimin masih kurang, jadilah kisah hidup para asatidz itu kurang mengena bagi para siswa.</p>
<p>Tapi sudahlah, saya hanya berharap jalan terbaik baginya. Semoga Allah tetap membimbingnya dalam jalan yang Ia berkahi, dengan segala kemudahan dalam memfaqihkan diri terhadap diin ini.</p>
<p>-RSP-</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muslimpeduli.wordpress.com/591/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muslimpeduli.wordpress.com/591/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muslimpeduli.wordpress.com/591/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muslimpeduli.wordpress.com/591/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muslimpeduli.wordpress.com/591/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muslimpeduli.wordpress.com/591/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muslimpeduli.wordpress.com/591/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muslimpeduli.wordpress.com/591/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muslimpeduli.wordpress.com/591/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muslimpeduli.wordpress.com/591/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muslimpeduli.wordpress.com/591/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muslimpeduli.wordpress.com/591/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muslimpeduli.wordpress.com/591/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muslimpeduli.wordpress.com/591/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muslimpeduli.wordpress.com&amp;blog=8802475&amp;post=591&amp;subd=muslimpeduli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslimpeduli.wordpress.com/2012/01/28/25-tahun-125-posts-10-000-hits/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3a1d46a502aad50934cf5ba5b21fe039?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">muslimpeduli</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://muslimpeduli.files.wordpress.com/2012/01/blogstats25jan.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">blogstats25jan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tafsir al Ma’aarij 29-31</title>
		<link>http://muslimpeduli.wordpress.com/2012/01/27/tafsir-al-maaarij-29-31/</link>
		<comments>http://muslimpeduli.wordpress.com/2012/01/27/tafsir-al-maaarij-29-31/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 17:33:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>reza</dc:creator>
				<category><![CDATA[tafsir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslimpeduli.wordpress.com/?p=586</guid>
		<description><![CDATA[Sepekan yang lalu, teman saya bertanya tentang ayat tersebut. Saya tak tahu apa tepatnya yang ingin ditanyakan. Maka saya tuliskan saja tafsir dari ayat ini. Semoga hal ini bisa lebih jelas untuk dipahami melalui tanya jawab. Saya juga minta maaf karena baru bisa menuliskannya hari ini. Saya agak kesulitan mengatur waktu akhir-akhir ini. Dan orang-orang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muslimpeduli.wordpress.com&amp;blog=8802475&amp;post=586&amp;subd=muslimpeduli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sepekan yang lalu, teman saya bertanya tentang ayat tersebut. Saya tak tahu apa tepatnya yang ingin ditanyakan. Maka saya tuliskan saja tafsir dari ayat ini. Semoga hal ini bisa lebih jelas untuk dipahami melalui tanya jawab.</p>
<p>Saya juga minta maaf karena baru bisa menuliskannya hari ini. Saya agak kesulitan mengatur waktu akhir-akhir ini.</p>
<p><em>Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki. Maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidaklah tercela. Barangsiapa mencari yang selain itu, maka mereka itulah orang yang melampaui batas.</em> (QS al Ma’aarij 29-31)</p>
<p>Sayyid Quthb dalam <em>Zhilal</em> menulis hal berikut.</p>
<blockquote><p>Yang dimaksudkan oleh ayat ini adalah kesucian pribadi dan masyarakat. Karena Islam menghendaki masyarakat yang suci, bersih, indah, dan transparan. Masyarakat yang siap menunaikan tugas hidupnya dan memenuhi panggilan fitrahnya. Akan tetapi, (hal ini dilakukan) tanpa melakukan demoralisasi yang menghilangkan rasa malu yang indah dan tanpa kebandelan yang mematikan transparansi yang bersih. Masyarakat yang ditegakkan di atas sendi kekeluargaan syar’iyyah yang kuat dan tegak, dan rumah tangga yang transparan dan jelas tanda-tandanya. Masyarakat yang setiap anak mengetahui siapa bapaknya, dan kelahirannya tidak memalukan. Bukan masyarakat yang perasaan malunya telah sirna dari wajah dan jiwanya. Namun, hubungan biologis itu harus dilakukan berdasarkan prinsip yang suci dan transparan untuk jangka panjang dengan sasaran yang jelas, yang membangkitkan semangat untuk menunaikan tugas kemanusiaan dan tugas sosial, bukan hanya memenuhi naluri kehidupan dan hasrat biologis.</p>
<p>Karena itulah, di sini al Quran menyebutkan sifat orang yang beriman, “Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki. Maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidaklah tercela. Barangsiapa mencari yang selain itu, maka mereka itulah orang yang melampaui batas.”</p>
<p>Al Quran menetapkan kesucian hubungan biologis dengan istri dan budak, yang diperoleh dengan jalan yang dibenarkan syara’ dan diakui Islam. Yaitu, budak yang diperoleh sebagai tawanan di dalam perang fii sabiilillah. Hanya jalan inilah satu-satunya yang diakui oleh Islam, dan sebagai dasar hukum tawanan ini adalah ayat al Quran yang tersebut dalam surat Muhammad,</p>
<p>Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang), maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga, apabila kamu telah mengalahkan mereka, maka tawanlah mereka. Sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berhenti. (QS Muhammad 4)</p>
<p>Tetapi ada kalanya terdapat tawanan yang tidak dibebaskan dan tidak ditebus karena kondisi tertentu. Dengan demikian, ia menjadi budak apabila si tentara memperbudak tawanan kaum muslimin dalam bentuk perbudakan apa pun, walaupun disebut dengan istilah lain. Nah, ketika itulah Islam memperbolehkan bagi pemiliknya saja untuk menggauli budak tersebut. Sedangkan masalah pembebasannya diserahkan pada yang bersangkutan dengan berbagai cara yang disyariatkan oleh Islam untuk mengalirkan sumber ini.</p>
<p>Islam menegakkan prinsipnya dengan jelas dan bersih. Ia tidak memberi peluang pada tawanan wanita itu untuk melakukan hubungan seks yang kotor sebagaimana yang biasa terjadi dalam peperangan zaman dahulu maupun sekarang. Ia tidak pula memanipulasi dengan menyebut mereka sebagai orang merdeka padahal hakikatnya adalah budak.</p>
<p>Dengan demikian, tertutuplah semua pintu hubungan seks yang kotor. Yaitu, hubungan seks yang tidak melalui dua pintu yang jelas dan terang ini. Islam tidak memperbolehkan manusia memenuhi fungsi naluriahnya dengan cara yang kotor, melalui penyimpangan-penyimpangan. Islam itu bersih, jelas, dan lurus.</p></blockquote>
<p>Sementara Muhammad Nasib ar Rifai dalam <em>Taisirul Aliyyul Qadir</em> menyebutkan bahwa ayat ini memerintahkan pada kita untuk menahan kemaluan kita dari perbuatan-perbuatan haram, kecuali terhadap istri atau budak yang dimiliki. Barangsiapa yang mencari selain itu, maka mereka adalah orang yang melampaui batas. Beliau juga mengungkapkan bahwa penjelasan tambahan mengenai ayat ini bisa dijumpai dalam surat al Mu’minuun.</p>
<p>Penjelasan yang ada di surat al Mu’minuun juga kira-kira sama.</p>
<p>Demikian, kalau ada yang kurang jelas, tanyakan saja.</p>
<p>-RSP-</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muslimpeduli.wordpress.com/586/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muslimpeduli.wordpress.com/586/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muslimpeduli.wordpress.com/586/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muslimpeduli.wordpress.com/586/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muslimpeduli.wordpress.com/586/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muslimpeduli.wordpress.com/586/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muslimpeduli.wordpress.com/586/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muslimpeduli.wordpress.com/586/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muslimpeduli.wordpress.com/586/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muslimpeduli.wordpress.com/586/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muslimpeduli.wordpress.com/586/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muslimpeduli.wordpress.com/586/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muslimpeduli.wordpress.com/586/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muslimpeduli.wordpress.com/586/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muslimpeduli.wordpress.com&amp;blog=8802475&amp;post=586&amp;subd=muslimpeduli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslimpeduli.wordpress.com/2012/01/27/tafsir-al-maaarij-29-31/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3a1d46a502aad50934cf5ba5b21fe039?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">muslimpeduli</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Makruh &amp; Sunnah</title>
		<link>http://muslimpeduli.wordpress.com/2012/01/13/makruh-sunnah/</link>
		<comments>http://muslimpeduli.wordpress.com/2012/01/13/makruh-sunnah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jan 2012 05:59:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>reza</dc:creator>
				<category><![CDATA[selasar tadzkirah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslimpeduli.wordpress.com/?p=577</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu lalu, ustadz Ibnu Hasan bilang begini, Hari ini, banyak orang yang tak melakukan sesuatu dengan alasan, &#8220;Ah, sunnah doangan,&#8221; dan bersikeras melakukan hal lainnya dengan argumen, &#8220;Ah, makruh doangan.&#8221; Kalau mereka tahu apa yang dimaksud makruh (sesuatu yang dibenci), tentu tahu siapa yang membenci perbuatan itu. Mungkin itu terkait mereka yang memudah-mudahkan urusan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muslimpeduli.wordpress.com&amp;blog=8802475&amp;post=577&amp;subd=muslimpeduli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu lalu, ustadz <a href="http://www.facebook.com/ibnuhasan.aththobari">Ibnu Hasan </a>bilang begini,</p>
<blockquote><p>Hari ini, banyak orang yang tak melakukan sesuatu dengan alasan, &#8220;Ah, sunnah doangan,&#8221; dan bersikeras melakukan hal lainnya dengan argumen, &#8220;Ah, makruh doangan.&#8221; Kalau mereka tahu apa yang dimaksud makruh (sesuatu yang dibenci), tentu tahu siapa yang membenci perbuatan itu.</p></blockquote>
<p>Mungkin itu terkait mereka yang memudah-mudahkan urusan shalat sunnah, dan <em>ngotot</em> ingin tetap merokok.</p>
<p>&#8211;Megamendung, Puncak.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muslimpeduli.wordpress.com/577/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muslimpeduli.wordpress.com/577/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muslimpeduli.wordpress.com/577/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muslimpeduli.wordpress.com/577/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muslimpeduli.wordpress.com/577/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muslimpeduli.wordpress.com/577/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muslimpeduli.wordpress.com/577/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muslimpeduli.wordpress.com/577/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muslimpeduli.wordpress.com/577/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muslimpeduli.wordpress.com/577/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muslimpeduli.wordpress.com/577/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muslimpeduli.wordpress.com/577/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muslimpeduli.wordpress.com/577/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muslimpeduli.wordpress.com/577/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muslimpeduli.wordpress.com&amp;blog=8802475&amp;post=577&amp;subd=muslimpeduli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslimpeduli.wordpress.com/2012/01/13/makruh-sunnah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3a1d46a502aad50934cf5ba5b21fe039?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">muslimpeduli</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kick off 2011 with Project 365</title>
		<link>http://muslimpeduli.wordpress.com/2012/01/10/kick-off-2011-with-project-365/</link>
		<comments>http://muslimpeduli.wordpress.com/2012/01/10/kick-off-2011-with-project-365/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jan 2012 21:07:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>reza</dc:creator>
				<category><![CDATA[catatan ringan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslimpeduli.wordpress.com/?p=569</guid>
		<description><![CDATA[Saat masuk ke halaman utama wordpress, saya melihat ada judul menarik. Kick off 2011 with Project 365. Mirip dengan tantangan baca yang ada di Goodreads, tulisan itu menantang pemilik akun wordpress untuk posting 365 artikel dalam setahun untuk satu tema tertentu. Contoh yang disebut sih, tentang fotografi. Jadi mereka yang punya ketertarikan di bidang fotografi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muslimpeduli.wordpress.com&amp;blog=8802475&amp;post=569&amp;subd=muslimpeduli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saat masuk ke halaman utama wordpress, saya melihat ada judul menarik. <a href="http://en.blog.wordpress.com/2011/12/27/project-365/">Kick off 2011 with Project 365</a>. Mirip dengan tantangan baca yang ada di Goodreads, tulisan itu menantang pemilik akun wordpress untuk posting 365 artikel dalam setahun untuk satu tema tertentu.</p>
<p>Contoh yang disebut sih, tentang fotografi.</p>
<p>Jadi mereka yang punya ketertarikan di bidang fotografi ditantang untuk meng-upload 365 paket gambar selama setahun di blog mereka.</p>
<p>Ini menarik, pikir saya. Di tengah buntunya produktivitas saya dalam menulis, tantangan seperti ini perlu untuk mengembalikan semangat saya dalam menulis. Tentu tak sampai 365 artikel. Tapi jumlah yang pasti seperti ini akan menjadikan langkah kita fokus. Bukankah target yang jelas akan membuat langkah-langkah yang dilakukan juga semakin jelas?</p>
<p>Saya sendiri samar-samar sudah punya target. Target berupa tulisan, tentu. Dan memang jumlahnya tidak banyak-banyak, mengingat saya ingin lebih banyak baca terlebih dahulu. Bukan banyak menulis.</p>
<p>Jadi, bagaimana target menulis kalian di tahun ini?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muslimpeduli.wordpress.com/569/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muslimpeduli.wordpress.com/569/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muslimpeduli.wordpress.com/569/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muslimpeduli.wordpress.com/569/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muslimpeduli.wordpress.com/569/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muslimpeduli.wordpress.com/569/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muslimpeduli.wordpress.com/569/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muslimpeduli.wordpress.com/569/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muslimpeduli.wordpress.com/569/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muslimpeduli.wordpress.com/569/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muslimpeduli.wordpress.com/569/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muslimpeduli.wordpress.com/569/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muslimpeduli.wordpress.com/569/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muslimpeduli.wordpress.com/569/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muslimpeduli.wordpress.com&amp;blog=8802475&amp;post=569&amp;subd=muslimpeduli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslimpeduli.wordpress.com/2012/01/10/kick-off-2011-with-project-365/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3a1d46a502aad50934cf5ba5b21fe039?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">muslimpeduli</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Keseimbangan Informasi: Tentang Arrahmah</title>
		<link>http://muslimpeduli.wordpress.com/2012/01/10/keseimbangan-informasi-tentang-arrahmah/</link>
		<comments>http://muslimpeduli.wordpress.com/2012/01/10/keseimbangan-informasi-tentang-arrahmah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jan 2012 20:51:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>reza</dc:creator>
				<category><![CDATA[berita tentang dunia]]></category>
		<category><![CDATA[catatan ringan]]></category>
		<category><![CDATA[media]]></category>
		<category><![CDATA[arrahmah]]></category>
		<category><![CDATA[harry poter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslimpeduli.wordpress.com/?p=564</guid>
		<description><![CDATA[Malam tadi saya baca sebuah berita di facebook yang katanya di-post oleh administrator situs Arrahmah.com. Berita itu menyebut bahwa sejak Selasa (10/1) siang, situs Arrahmah.com diretas oleh pihak yang disebut memusuhi da’wah Islam yang dibawa oleh situs itu. Meski tak bertahan 24 jam (dini hari tadi, 11/1, situs ini sudah dapat diakses lagi), ada beberapa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muslimpeduli.wordpress.com&amp;blog=8802475&amp;post=564&amp;subd=muslimpeduli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Malam tadi saya baca sebuah berita di <em>facebook</em> yang katanya di-<em>post</em> oleh administrator situs Arrahmah.com. <a href="http://www.facebook.com/notes/arrahmahcom/arrahmahcom-kembali-dihack-mohon-doanya/10150682014592892">Berita itu</a> menyebut bahwa sejak Selasa (10/1) siang, situs Arrahmah.com diretas oleh pihak yang disebut memusuhi da’wah Islam yang dibawa oleh situs itu.</p>
<p>Meski tak bertahan 24 jam (dini hari tadi, 11/1, situs ini sudah dapat diakses lagi), ada beberapa hal yang perlu saya tulis terkait media di Indonesia secara umum.</p>
<p><a href="http://muslimpeduli.files.wordpress.com/2012/01/arrahmah.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-565" title="arrahmah; 11/1, 2.38 WIB" src="http://muslimpeduli.files.wordpress.com/2012/01/arrahmah.jpg?w=300&#038;h=241" alt="" width="300" height="241" /></a></p>
<p>Ini terkait tuduhan yang sejak beberapa tahun lalu hinggap di tim redaksi Arrahmah. Saya memang tak sempat mencatat data pastinya, tapi umumnya orang yang saya temui memberikan catatan negatif atas situs ini. Biasanya ya terkait kedekatan tim redaksi dengan asatidz semisal ustadz Abu Bakar Ba’asyir atau ustadz Aman Abdurrahman.</p>
<p>Yang paling punya kesan, seingat saya, adalah sebuah bincang-bincang di TV One yang saya lupa kapan tepatnya. Entah setelah terjadi baku tembak sekian jam di Temanggung, paskameledaknya bom di JW Marriott, ataukah terkait surat pernyataan di sebuah blog yang rumornya berasal dari Noordin M. Top. Salah satu narasumber—yang lagi-lagi saya lupa namanya; ingatan saya cukup parah rupanya terkait hal ini—berkata bahwa teror bom ini juga terkait dengan konten internet yang menyajikan berita dan ideologi radikal semacam Arrahmah.</p>
<p>Iya, narasumber acara itu menyebut nama Arrahmah dengan jelas.</p>
<p>Narasumber itu kemudian memberi saran pada pemerintah untuk memperketat aturan dalam penggunaan internet. Jangan sampai, katanya, ideologi radikal mudah menyebar melalui internet.</p>
<p>Ah, maksudnya jelas bagi saya: ujung-ujungnya ini adalah tekanan halus pada pemerintah untuk memblokir situs ini.</p>
<p>Mari melihatnya dari kacamata media; dari sudut pandang keseimbangan informasi. Dan mari ambil dari contoh yang sangat sederhana, yang mungkin tidak terduga: <span id="more-564"></span><em>Harry Potter and the Order of the Phoenix</em>.</p>
<p>Jujur saja, ide ini saya ambil dari Ikram Putra, yang bertahun lalu pernah juga menulis tentang hal ini di <a href="http://kramput.blogspot.com/2007/07/banyak-media-itu-bagus.html">sin</a>i. Tulisan itu dimulai dengan “kritik” Ikram tentang minimnya konflik media antara <em>The Quibbler</em> dengan <em>The Daily Prophet</em> di film <em>Harry Potter and the Order of the Phoenix</em>.</p>
<p>Padahal, di bukunya, konflik keduanya cukup panas. Terkait isu kembalinya Voldemort, <em>Prophet</em> menyajikan berita <em>mainstream</em> yang di-<em>back up</em> penuh oleh orang-orang <em>Ministry of Magic</em>. Isinya ya sesuai dengan keinginan Kementerian. Sementara <em>The Quibbler</em> punya pandangan berseberangan. Sejak awal, Xenophilius Lovegood, editor majalah nyentrik ini, memang sudah punya kecenderungan untuk mempercayai hal-hal irrasional.</p>
<p>Belakangan, melalui Rita Skeeter—yang menulis atas tekanan Hermione, <em>The Quibbler</em> menurunkan laporan yang mendukung kesaksian Harry, Dumbledore, dan Orde Phoenix-nya.</p>
<p>Singkat cerita, informasi tandingan dari media konspiratif itulah ternyata yang benar. Kementerian sudah terlalu banyak disusupi <em>Death Eater</em>—loyalis Voldemort—dan Cornelius Fudge—Menteri Sihir saat itu—terlalu takut untuk mengakui kembalinya Dia-yang-Namanya-Tak-Boleh-Disebut.</p>
<p>Inilah hal yang ingin saya tuliskan: menutup Arrahmah, atau situs lain yang punya argumen dan ideologi khusus di dalamnya bukan sesuatu yang layak dilakukan. Ini membuat kita tak lagi mampu belajar pendapat pihak lain. Ini membuat kita sulit memahami mengapa pembaca Arrahmah punya pandangan radikal tentang Islam.</p>
<p>Yang parah, ini bisa jadi menutup pintu perbaikan dalam diri kita.</p>
<p>Kok bisa? Kita gunakan logika konflik <em>The Quibbler</em>-<em>The Daily Prophet</em> itu saja. Asumsikan <em>The Daily Prophet</em> serupa media <em>mainstream</em> yang ada di Indonesia, sementara <em>The Quibbler</em> adalah media semisal Arrahmah.</p>
<p>Menutup telinga terhadap apa yang tertulis di Arrahmah akan membuat kita semakin kehilangan arah. Kita tak tahu apa yang jadi tuntutan kaum islamis, sementara kita dengan sok tahu berkata bahwa mereka “sudah dicuci otak”, “mikir pakai <em>dengkul</em> (lutut)”, atau “berorientasi kekerasan karena kecewa pada kehidupan”.</p>
<p>Padahal, saya yakin betul, mereka yang membaca Arrahmah harus berkerut-kerut dahi dan berkali-kali buka berbagai referensi dalam memahami berbagai tulisan terkait tauhid. Tentu hal ini tak layak disebut sebagai “cuci otak”. Apalagi “mikir pakai <em>dengkul</em>”. Dan jawaban atas orientasi kekerasan yang timbul karena kekecewaan terhadap kehidupan akan didapati ketika kita sudah mempelajari apa yang ada di sana dengan tenang.</p>
<p>Oya, satu lagi tambahan dari sisi media. Menghadapi kemungkinan terjadinya bias informasi, Tom Rosenstiel dan Bill Kovach menawarkan solusi dengan cara memperbanyak ragam latar belakang wartawannya. Ini dilakukan supaya sebuah isu yang sedang diliput mendapatkan banyak masukan dari beragam sudut pandang. Dengan cara ini, akhirnya, bias informasi yang muncul dari <em>interest</em> wartawan tersebut bisa dihindari.</p>
<p>Jadi begitulah; karena tak suka mendengar dan memperhatikan, terjadilah misinterpretasi.</p>
<p>Saya tak hendak menjadikan diri sendiri sebagai dalil, sebagai standar kebenaran. Tapi saya selalu, sebisa mungkin, bersikap sebebas mungkin dalam membaca hal-hal yang masuk pada saya. Bila ia termasuk argumen tentang kebenaran filosofis, sesuaikah ia dengan al Quran dan as Sunnah? Bila ia tergolong berita tentang kebenaran fungsional, sesuaikah ia dengan kaidah pemberitaan yang masuk akal?</p>
<p>Maka dengan “filter” inilah kita layak untuk mendengar pihak lain, selama mereka punya argumen untuk disimak. Sebab selama seseorang punya argumen yang rapi dan terstruktur, selama itu pula ia punya kapasitas untuk didengarkan.</p>
<p>Saya ingin bicara hal yang sama dengan Ikram. Bayangkanlah bila masyarakat Indonesia hanya punya media semisal <em>Kompas</em> atau <em>Tempo</em>. Bayangkanlah bila masyarakat Indonesia hanya punya media semisal MetroTV<em> </em>atau TV One. Dari mana kita akan memahami orang-orang yang dituduh teroris itu? Sementara wartawan media yang saya sebut tadi <em>umumnya</em> tak memahami betul latar belakang dan argumen-argumen para tertuduh teroris itu.</p>
<p>Atau, bagaimana kita bisa tahu bahwa ada seorang pimpinan organisasi muslim besar di Indonesia yang gemar melempar tuduhan dusta pada beberapa pesantren dan yayasan, khususnya di kota asalnya, Cirebon?</p>
<p>Ketika kita mengandalkan berita dari <em>The New York Times</em>, <em>The New Yorker</em>, <em>The Guardian</em>, <em>Times</em>, atau <em>Newsweek</em> saja, bagaimana caranya kita kenal siapa Syaikh Anwar al Awlaki, Syaikh Abu Muhammad al Maqdisy, atau Mullah Muhammad Omar dari sumber pertama? Bagaimana bisa kita memahami tujuan perjuangan mereka dengan sumber yang terpercaya?</p>
<p>Pegiat pers tentu tahu, semakin panjang jalur periwayatan sebuah informasi, semakin besar pula kemungkinan terjadi biasnya.</p>
<p>Jadi memang, banyak media itu baik. Tentu, selama mereka punya standar jurnalistik yang tinggi. Selama mereka tidak menyusupkan kebohongan dalam artikel-artikelnya. Selama kepentingan tertinggi yang ingin dicapai adalah meningkatkan kapasitas keilmuan pembacanya.</p>
<p>Terakhir, dengan segala hormat, saya tak hendak menyamakan bulat-bulat <em>The Daily Prophet</em> dengan media <em>mainstream</em> Indonesia maupun <em>The Quibbler</em> dengan Arrahmah dan sebagainya. Saya hanya ingin bilang bahwa ketika kita menutup mata atas sumber yang berasal dari pihak lain, bisa dipastikan kita akan kehilangan arah dalam memahami pihak lain itu.</p>
<p>Dan bisa jadi pula, kita akan melewatkan kebenaran di momen-momen yang sebenarnya sangat penting, di hidup kita yang hanya sekali ini.</p>
<p>-RSP-</p>
<blockquote><p><em>Ngomong-ngomong, menurut <a href="http://www.fimadani.com/inilah-daftar-puncak-35-situs-islami-di-indonesia-akhir-tahun-2011/">situs fimadani</a>, Arrahmah menduduki peringkat kelima dalam daftar situs islami yang paling sering dikunjungi di pergantian tahun kemarin.</em></p>
<p><em>Meski bertema media, tulisan ini tak ada kaitannya dengan jabatan saya sebagai Pemimpin Redaksi Media Center STAN dan bukan sikap tim redaksi Media Center STAN.</em></p></blockquote>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muslimpeduli.wordpress.com/564/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muslimpeduli.wordpress.com/564/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muslimpeduli.wordpress.com/564/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muslimpeduli.wordpress.com/564/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muslimpeduli.wordpress.com/564/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muslimpeduli.wordpress.com/564/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muslimpeduli.wordpress.com/564/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muslimpeduli.wordpress.com/564/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muslimpeduli.wordpress.com/564/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muslimpeduli.wordpress.com/564/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muslimpeduli.wordpress.com/564/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muslimpeduli.wordpress.com/564/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muslimpeduli.wordpress.com/564/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muslimpeduli.wordpress.com/564/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muslimpeduli.wordpress.com&amp;blog=8802475&amp;post=564&amp;subd=muslimpeduli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslimpeduli.wordpress.com/2012/01/10/keseimbangan-informasi-tentang-arrahmah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3a1d46a502aad50934cf5ba5b21fe039?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">muslimpeduli</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://muslimpeduli.files.wordpress.com/2012/01/arrahmah.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">arrahmah; 11/1, 2.38 WIB</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sedikit tentang Ashobiyah</title>
		<link>http://muslimpeduli.wordpress.com/2012/01/09/sedikit-tentang-ashobiyah/</link>
		<comments>http://muslimpeduli.wordpress.com/2012/01/09/sedikit-tentang-ashobiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Jan 2012 18:25:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>reza</dc:creator>
				<category><![CDATA[catatan ringan]]></category>
		<category><![CDATA[ashobiyah]]></category>
		<category><![CDATA[ibnu khaldun]]></category>
		<category><![CDATA[muqaddimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslimpeduli.wordpress.com/?p=560</guid>
		<description><![CDATA[Di artikel sebelumnya, saya bercerita tentang rencana saya menulis buku (yang qadarullah, hingga kini belum terlaksana). Salah satu fokus bahasan di buku itu adalah tentang persatuan ummat. Nah, sore-menjelang-malam tadi saya menjumpai sebuah tulisan yang bertema ashobiyah—fanatisme golongan. Dan tulisan itu mengingatkan saya pada draft buku saya itu. Tiba-tiba saja saya ingin sedikit menulis hal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muslimpeduli.wordpress.com&amp;blog=8802475&amp;post=560&amp;subd=muslimpeduli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di <a href="http://muslimpeduli.wordpress.com/2012/01/06/bikin-buku/">artikel sebelumnya</a>, saya bercerita tentang rencana saya menulis buku (yang <em>qadarullah</em>, hingga kini belum terlaksana). Salah satu fokus bahasan di buku itu adalah tentang persatuan ummat. Nah, sore-menjelang-malam tadi saya menjumpai <a href="http://pejalanjauh.com/2011/05/ashabiyah/">sebuah tulisan</a> yang bertema <em>ashobiyah</em>—fanatisme golongan. Dan tulisan itu mengingatkan saya pada <em>draft</em> buku saya itu.</p>
<p>Tiba-tiba saja saya ingin sedikit menulis hal ini. Meski mungkin sudah tak lagi aktual—sebab di lingkungan saya, topik ini sepertinya hangat beberapa bulan yang lalu—, semoga bermanfaat.</p>
<p>***</p>
<p>Tulisan yang saya temui itu, katanya mengutip <em>Muqaddimah</em> karya Ibnu Khaldun. Saya tak mengecek kebenarannya. <em>Pertama</em>, saya tak punya bukunya. Maka saya akan sangat berterima kasih bila ada di antara pembaca yang mau memberikan buku itu baik berupa <em>ebook</em> maupun buku cetak. <em>Kedua</em>, andaikan punya pun, saya ragu bisa dengan cepat menemukan letak referensi itu mengingat penulis artikel tersebut tidak menyebutkan letaknya secara tepat.</p>
<p>Dalam hal saya tak ingin mengkritiknya lebih lanjut; mengingat hingga kini pun hal kedua yang saya tuliskan itu juga masih sering saya lakukan.</p>
<p>Penulis artikel itu menyebut, bagi Ibnu Khaldun, <em>ashobiyah</em> merupakan inti dari sebuah organisasi sosial. <em>Ashobiyah</em>, lanjutnya, mengikat kelompok-kelompok menjadi satu melalui sebuah bahasa, budaya, dan peraturan yang disepakati secara berangsur-angsur oleh segenap anggota politik.</p>
<p>Berikutnya adalah bagian yang menarik. Pengampu blog tersebut menulis bahwa Ibnu Khaldun menyebut faktor <em>ashobiyah</em> sebagai kunci bagi lahirnya suatu peradaban dan juga kekuasaan politik. Kehancuran <em>ashobiyah</em> dengan sendirinya menjadi titik balik kehancuran peradaban dan kekuatan politik tersebut.</p>
<p>Kehancuran <em>ashobiyah</em> kemudian dikaitkan dengan “ambruknya ide tradisional mengenai keadilan, kebajikan, kebaikan, dan keseimbangan.”</p>
<p>Kali ini saya hanya ingin mengomentari bagian yang saya tulis di atas. Bukan bagian yang menyebut bahwa hilangnya nilai tradisional Islam menimbulkan generasi muslim yang mudah goyah, gampang tersinggung, dan bersikap defensif—sebagai bagian dari dampak adanya sifat <em>ashobiyah</em> dalam diri muslim tersebut.</p>
<p>Sebelumnya, menurut saya kita perlu memahami terlebih dahulu apa yang disebut dengan <em>ashobiyah</em>. Memang kita bisa menggunakan pendekatan bahasa dalam memahami istilah syariat. Tapi ternyata para sahabat yang bahasa ibunya adalah bahasa Arab pun terkadang meminta penjelasan lanjutan mengenai terminologi Islam yang disampaikan Rasul dengan bahasa Arab. Seperti ketika Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> memberikan penjelasan tentang definisi <span id="more-560"></span>ihsan, misalnya.</p>
<p>Maka, karena ternyata Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> sudah memberikan penjelasan tentang hal tersebut, saya kira langkah terbaik adalah mengembalikannya pada pengertian yang diberikan oleh pembawa risalah itu.</p>
<p>Tentang <em>ashobiyah</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> pernah ditanya, “Yaa Rasulallah, apakah <em>ashobiyah</em> itu?” Rasul menjawab, “Engkau menolong kaummu dalam kezhaliman.” (HR Abu Dawud)</p>
<p>Karena saya hanya menyelesaikan mata kuliah Pengantar Mushthalah Hadis di ma’had tempat saya belajar dulu—dan hingga kini belum menemukan semangat untuk belajar ulang tentang hadis, maka izinkan saya mengambil penjelasan mengenai derajat keshahihan hadis ini dari <a href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2011/10/definisi-ashabiyyah.html">ustadz Abul Jauzaa’</a>. Saya tak bisa bicara banyak mengenai hal ini.</p>
<p>Ringkasnya, karena hadis tersebut dinyatkaan sebagai hadis <em>hasan li ghairihi</em>, ada kebolehan untuk menjadikannya referensi—meski tidak untuk semua keperluan, seperti untuk masalah <em>ahkam</em> (hukum-hukum).</p>
<p>Dari pengamatan singkat saja, kita sudah bisa memahami bahwa definisi yang diungkapkan pengampu blog yang saya kutip dengan definisi yang diberikan Rasul cukup jauh berbeda. Definisi versi Rasul sepertinya lebih dekat bila dikaitkan dengan kisah <a href="http://muslimpeduli.wordpress.com/2010/05/08/kumbakarna/">Kumbakarna</a> daripada penjelasan penulis artikel tersebut yang katanya diambil dari kutipan Ibnu Khaldun dalam <em>Muqaddimah</em>.</p>
<p>Entahlah, mengingat saya juga tak punya referensi langsung untuk merujuk pernyataan ini pada Ibnu Khaldun secara langsung.</p>
<p>Mungkin benar bila <em>ashobiyah</em> bisa membangun sebuah peradaban. Sebagaimana Aus dan Khazraj membangun pertahanan dirinya selama Perang Bu’ats, atau seperti mereka yang bangga menyatakan, “benar atau salah, ini tetap negaraku!”</p>
<p>Tapi benarkah runtuhnya <em>ashobiyah</em> menyebabkan runtuhnya sebuah peradaban?</p>
<p>Menurut saya, ini simpulan yang terlalu dini. Mari ambil contoh daulah Utsmani yang berpusat di Turki. Saya yakin ada faktor tingginya utang Turki Utsmani di masa itu. Hal yang jadi poin tambahan ketika komplotan Theodore Herzl datang pada Sultan Abdul Hamid II dengan iming-iming pelunasan utang jika dan hanya jika Turki mau melepas Palestina pada mereka. Belum lagi faktor berpecahnya dunia Islam ketika itu, khususnya di jazirah Arab. Dan yang jelas masuk hitungan adalah ulah Mushthafa Kemal Pasha meniupkan slogan-slogan nasionalisme Turki sambil memimpin revolusi Turki yang mengakhiri pemerintahan Islam di tahun 1924.</p>
<p>Kalau dibilang tegak atau runtuhnya keadilan dan sistem sosial itu berbanding lurus dengan sikap <em>ashobiyah</em>, tentu tak masuk akal sama sekali. Bukankah ketika <em>ta’ashub</em>—sikap <em>ashobiyah</em>—itu hancur, harusnya muncullah keadilan (bila kita mengacu pada definisi versi Rasul)?</p>
<p>Saya tak hendak menihilkan kebenaran dalam artikel itu. Tapi, bisakah istilah “ashobiyah” itu diganti saja menjadi “identitas keislaman” atau kalau mau lebih umum, “identitas komunal” saja? Ini lebih aman, menurut saya, untuk menghindari rancunya pemahaman masyarakat terhadap istilah-istilah syariat.</p>
<p>Berikutnya, seberapa parah <em>inhiraf</em> (penyimpangan) mereka yang punya sifat ini dalam dirinya? Saya tak akan menjelaskan dengan rinci. Saya kira Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> sudah menjelaskannya dengan cukup gamblang.</p>
<p>Pertama adalah hadis yang sangat masyhur untuk tema ini.</p>
<p><em>Barangsiapa berperang karena ashobiyah, barangsiapa marah karena ashobiyah, atau menyeru pada ashobiyah, atau menolong berdasarkan ashobiyah, maka matinya mati jahiliyah</em>. (HR Muslim)</p>
<p>Ada hadis lain yang serupa dengan beberapa perbedaan redaksional.</p>
<p><em>Bukan bagian dari kami barangsiapa yang menyeru pada ashobiyah, bukan bagian dari kami barangsiapa yang berperang karena ashobiyah, bukan bagian dari kami barangsiapa yang mati karena ashobiyah</em>. (saya lupa hadis ini di-<em>takhrij</em> oleh siapa)</p>
<p>Celakanya, berperang atas nama ashobiyah ini termasuk ciri perbuatan orang-orang musyrik.</p>
<p><em>Dan janganlah kamu termasuk orang yang mempersekutukan Allah. Yaitu orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka</em>. (QS ar Ruum 31-32)</p>
<p>Lantas, apakah pelakunya bisa dihukumi sebagai kafir?</p>
<p>Bisa jadi. Melihat dalil yang tersebut di atas, perbuatan ini bisa jadi membatalkan keislaman. Tapi <em>takfir mu’ayyan</em> selalu tergantung pada kondisi yang kasuistik. Saya tidak bisa memberikan jawaban yang bernada generalisasi di sini. Sebab ada kaidah takfir yang harus dicermati sebelum menjatuhkan vonis kafir.</p>
<p>Jadi demikian catatan ringkas saya terkait <em>ashobiyah</em>. Semoga bermanfaat.</p>
<p>-RSP-</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muslimpeduli.wordpress.com/560/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muslimpeduli.wordpress.com/560/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muslimpeduli.wordpress.com/560/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muslimpeduli.wordpress.com/560/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muslimpeduli.wordpress.com/560/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muslimpeduli.wordpress.com/560/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muslimpeduli.wordpress.com/560/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muslimpeduli.wordpress.com/560/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muslimpeduli.wordpress.com/560/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muslimpeduli.wordpress.com/560/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muslimpeduli.wordpress.com/560/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muslimpeduli.wordpress.com/560/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muslimpeduli.wordpress.com/560/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muslimpeduli.wordpress.com/560/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muslimpeduli.wordpress.com&amp;blog=8802475&amp;post=560&amp;subd=muslimpeduli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslimpeduli.wordpress.com/2012/01/09/sedikit-tentang-ashobiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3a1d46a502aad50934cf5ba5b21fe039?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">muslimpeduli</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bikin Buku</title>
		<link>http://muslimpeduli.wordpress.com/2012/01/06/bikin-buku/</link>
		<comments>http://muslimpeduli.wordpress.com/2012/01/06/bikin-buku/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jan 2012 14:06:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>reza</dc:creator>
				<category><![CDATA[catatan ringan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslimpeduli.wordpress.com/?p=557</guid>
		<description><![CDATA[Tahun kemarin, ada beberapa anjuran buat saya untuk menulis buku. Beberapa berbentuk ajakan untuk menjadi co-author sebuah buku. Yang lainnya biasanya berupa pertanyaan, “Kapan nulis buku?” Anjuran pertama datang dari beberapa teman di kampus. Ada yang menyarankan mengumpulkan tulisan saya dan dipublikasikan dalam ebook. Berikutnya datang dari akh Iqbal. Beliau beberapa kali mengajak saya menulis [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muslimpeduli.wordpress.com&amp;blog=8802475&amp;post=557&amp;subd=muslimpeduli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tahun kemarin, ada beberapa anjuran buat saya untuk menulis buku. Beberapa berbentuk ajakan untuk menjadi <em>co-author</em> sebuah buku. Yang lainnya biasanya berupa pertanyaan, “Kapan nulis buku?”</p>
<p>Anjuran pertama datang dari beberapa teman di kampus. Ada yang menyarankan mengumpulkan tulisan saya dan dipublikasikan dalam <em>ebook</em>. Berikutnya datang dari <a href="http://tajarrud.wordpress.com/">akh Iqbal</a>. Beliau beberapa kali mengajak saya menulis buku. Tema bukunya jelas: Islam. Tak lain karena saya sudah sekitar tiga tahun cukup rutin menulis dengan tema ini.</p>
<p>Mendengar pertanyaan ini, saya biasanya tersenyum dan bilang, “Nggak tau. Belum waktunya,” atau kata-kata sejenis.</p>
<p>Ah ya. Ada lagi ajakan untuk menulis kumpulan cerpen bertema tertentu (saya rahasiakan ya temanya J) dari beberapa anggota komunitas baca di sekitar Bintaro. Tapi karena koneksi internet saya yang buruk, komunikasi di saat penting itu terputus. Tahu-tahu, saya sudah lihat sampul buku beserta rencana terbitnya di akun twitter orang yang mengajak saya itu.</p>
<p>Sebenarnya, saya sudah punya rancangan tulisan sebanyak dua ratusan halaman yang saya tulis sejak SMA dulu. Struktur tulisannya juga sudah jelas. Sumbernya juga kira-kira valid. Tapi setelah dibaca-baca lagi, saya merasa belum punya kecukupan literasi untuk bikin sebuah kumpulan tulisan yang bermanfaat.</p>
<p>Terasa perfeksionis? Mungkin. Tapi bagi saya, menulis dengan tema keislaman punya dua tanggung jawab yang harus dipenuhi bersamaan: tanggung jawab ilmiah dan tanggung jawab pada pemilik <em>diin</em> ini. Yang pertama mengharuskan saya menulis buku yang membuat pembacanya berpikir kritis, tak hanya menerima—atau sebaliknya, menolak mentah-mentah—semua yang saya tuliskan.</p>
<p>Sementara yang kedua mewajibkan saya berhati-hati terhadap apa yang saya tulis. Jangan sampai yang tertulis di situ bertentangan dengan apa yang terdapat dalam al Quran dan as Sunnah. <em>Lha wong</em> para shahabat saja ringan berkata, “<em>Allahu wa Rasuluhu a’lam</em>,” atas hal-hal yang tidak mereka ketahui. Siapakah saya yang menulis semena-mena terhadap apa yang saya jahil tentangnya?</p>
<p>Kalau begitu masalahnya, bukankah solusinya tinggal memperbanyak bahan bacaan?</p>
<p>Yap. Harusnya begitu. Tapi entah kenapa, hingga kini saya merasa belum menemukan <span id="more-557"></span>waktu yang cukup luang untuk menelaah beberapa referensi penting yang ingin saya baca. Siklus hidup saya di STAN memang terasa cepat. Pekan ini ujian, rehat sejenak, kemudian disibukkan dengan kegiatan sebagai pemimpin redaksi di pers kampus plus kegiatan-luar-kampus yang harus saya penuhi. Diiringi dengan daftar bacaan yang saya wajibkan diri saya untuk penuhi.</p>
<p>Dan tiba-tiba saja, ujian sudah ada di depan mata lagi.</p>
<p>Masalah kesulitan mengatur waktu dan fokus ini juga yang membuat saya merasa kurang dalam mengembangkan diri. Contoh mudahnya bisa dilihat melalui jumlah post di blog ini. Tahun 2011, hanya ada 25 <em>blogpost</em> baru di sini. Artinya, kira-kira hanya dua tulisan perbulan. Itu juga sudah termasuk artikel yang saya copy-paste dari sumber yang saya baca.</p>
<p>Ini ironis kalau mengingat penghargaan <em>Penulis Paling Produktif</em> yang diberikan Masjid Baitul Maal pada saya tahun lalu. Mirip dengan Fernando Torres yang baru mencetak lima gol sejak didatangkan ke Chelsea dengan harga 50 juta Poundsterling—rekor transfer termahal <em>Premier League</em>.</p>
<p>Saking parahnya saya dalam mengatur waktu, sampai-sampai saya melewatkan beberapa kompetisi menulis yang saya rasa saya punya potensi di dalamnya. Padahal, semasa SMA, tiap ada pengumuman yang saya temui di papan pengumuman sekolah atau di internet, sesegera mungkin saya buka-buka buku dan buru-buru menyelesaikan tulisan.</p>
<p>Tapi, seperti kata bapak saya, itulah risiko punya kesibukan di kampus. Akan selalu ada hal lain yang tertinggal. Pokoknya, selama kita tetap sibuk mengerjakan sesuatu dan fokus di sana, akan ada hasil yang terasa meski itu sama sekali tak terkait dengan pendidikan mayor atau profesi kita. Berikutnya, setelah bicara hal semisal itu, biasanya bapak akan bercerita tentang kawan-kawan sekampusnya dulu; dari Ifdhal Kasim sampai Mahfud MD. Yang ini tak terlalu saya perhatikan.</p>
<p>Nah, kalau dipikir-pikir, saya memang mendapatkan sesuatu yang penting di Media Center, meski mungkin tak banyak. Paling tidak, ada skeptisisme dalam melihat berita. Apalagi di masa ketika akun twitter anonim bermunculan ini.</p>
<p>Mungkin sikap ini berguna bila saya bekerja sebagai auditor kelak. Atau sebagai kolumnis. Atau sebagai profesi-yang-saya-tak-cukup-punya-nyali-untuk-menuliskannya-di-blog-ini-meski-saya-benar-benar-berharap-keinginan-itu-bisa-saya-raih.</p>
<p>Jadi, bagi mereka yang ajakan untuk menyusun sebuah bukunya saya tolak, saya mohon maaf. Sekaligus menyampaikan terima kasih atas kepercayaan kalian atas ilmu yang Allah berikan pada saya. Kira-kira, dua alasan itu yang hingga kini belum mampu saya selesaikan. Mungkin ini buruknya saya: kurang mampu mengatur waktu. Tapi bila memang Allah mengizinkan saya menulis buku, saya akan menulis. Dan untuk sementara, silakan ambil yang bermanfaat dari blog ini saja.</p>
<p>-RSP-</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muslimpeduli.wordpress.com/557/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muslimpeduli.wordpress.com/557/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muslimpeduli.wordpress.com/557/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muslimpeduli.wordpress.com/557/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muslimpeduli.wordpress.com/557/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muslimpeduli.wordpress.com/557/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muslimpeduli.wordpress.com/557/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muslimpeduli.wordpress.com/557/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muslimpeduli.wordpress.com/557/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muslimpeduli.wordpress.com/557/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muslimpeduli.wordpress.com/557/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muslimpeduli.wordpress.com/557/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muslimpeduli.wordpress.com/557/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muslimpeduli.wordpress.com/557/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muslimpeduli.wordpress.com&amp;blog=8802475&amp;post=557&amp;subd=muslimpeduli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslimpeduli.wordpress.com/2012/01/06/bikin-buku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3a1d46a502aad50934cf5ba5b21fe039?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">muslimpeduli</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Satu Kemiripan Tak Membuat Seluruh Bagian Menjadi Sama</title>
		<link>http://muslimpeduli.wordpress.com/2012/01/05/satu-kemiripan-tak-membuat-seluruh-bagian-menjadi-sama/</link>
		<comments>http://muslimpeduli.wordpress.com/2012/01/05/satu-kemiripan-tak-membuat-seluruh-bagian-menjadi-sama/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jan 2012 17:35:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>reza</dc:creator>
				<category><![CDATA[catatan ringan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslimpeduli.wordpress.com/?p=554</guid>
		<description><![CDATA[Lama tak rutin berkunjung ke blog Ustadz Waskito—karena setahun yang lalu beliau sempat mengumumkan rencana pembekuan blognya—baru beberapa waktu belakangan ini saya kembali buka-buka blog tersebut. Ternyata sudah banyak artikel baru yang muncul, kali ini yang menarik terutama tulisan-tulisan terkait Syiah dan kedustaan beberapa oknum kaum muslimin dalam kutip-kutip kitab karya ulama’. Ada satu artikel [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muslimpeduli.wordpress.com&amp;blog=8802475&amp;post=554&amp;subd=muslimpeduli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lama tak rutin berkunjung ke blog Ustadz Waskito—karena setahun yang lalu beliau sempat mengumumkan rencana <a href="http://abisyakir.wordpress.com/2010/11/25/maklumat-blog/">pembekuan blognya</a>—baru beberapa waktu belakangan ini saya kembali buka-buka blog tersebut. Ternyata sudah banyak artikel baru yang muncul, kali ini yang menarik terutama tulisan-tulisan terkait Syiah dan kedustaan beberapa oknum kaum muslimin dalam kutip-kutip kitab karya ulama’.</p>
<p>Ada satu artikel yang ditulis untuk menjawab komentar yang masuk di artikel sebelumnya. Bisa di baca <a href="http://abisyakir.wordpress.com/2011/12/20/antara-tauhid-dan-iman-kristiani/">di sini</a>. Intinya, beliau membantah komentator yang menyamakan iman Kristen dengan aqidah “Wahhabi”, yang meyakini bahwa Allah <em>istiwa’</em> di atas <em>‘arsy</em> plus menolak takwil atas sifat-sifat Allah yang tertera dalam al Quran.</p>
<p>Dalilnya bermacam-macam, tapi berujung pada satu argumen yang sama. Di antara kesamaan itu, ada perbedaan-perbedaan yang menjadi pembatas, dan beda itu punya intensitas lebih besar daripada persamaannya.</p>
<p>Contohnya, meski sama-sama mengklaim bahwa Allah bersemayam di “atas”, tapi persepsi antara aqidah Islam dengan Kristen berbeda tentang hal ini. Pemeluk Kristen menyebut bahwa Allah bertahta di surga, sementara kaum muslimin meyakini bahwa Allah bersemayam di atas <em>‘arsy</em>. <em>‘Arsy</em> dan jannah jelas merupakan dua entitas yang berbeda.</p>
<p>Dalam al Quran, <em>‘arsy</em> selalu diidentikkan dengan “singgasana” Allah. Sementara jannah adalah tempat yang Allah sediakan bagi hambaNya yang beriman kelak. Tidak ada informasi apa pun, dalam al Quran, yang menunjukkan bahwa keduanya adalah entitas yang sama.</p>
<p>Kemudian, keyakinan Kristiani mengajarkan bahwa dari tiga-dalam-satu oknum ketuhanan itu, Allah Bapa-lah yang berada di langit. Sementara Islam jelas tidak mengajarkan demikian. Bahkan, al Quran menafikan sisa keimanan orang-orang yang mengklaim bahwa ada tiga oknum ketuhanan itu (QS 5:17)</p>
<p>Masih banyak bantahan yang ditulis Ustadz Waskito dalam artikel tersebut. Silakan baca artikelnya bila ingin memahami lebih lengkap sebab yang ingin saya tulis di sini memang bukan mengenai masalah perbandingan khusus antara aqidah Islam dengan doktrin Kristen. Di samping itu, penjelasan Ustadz Waskito di situ menurut saya sudah sangat lengkap dan mudah dipahami.</p>
<p>Artikel ini secara kebetulan mengingatkan saya pada berbagai diskusi yang saya ikuti di <em>facebook</em>—di mana saya juga cukup sering jadi bagian aktif dalam diskusi tersebut—beberapa bulan lalu. Di salah satu forum, waktu itu, dilemparlah sebuah gagasan bahwa Islam <span id="more-554"></span>tak ada bedanya, atau minimal serupa walau beda sedikit, dengan <em>diin</em> yang hari ini dianut oleh banyak orang: demokrasi. Argumennya biasanya juga seragam; bahwa demokrasi menyediakan kebebasan berpendapat, membuka ruang musyawarah, dan pokok penyusunnya (Pancasila dan sebagainya) tidak bertentangan dengan satu pun dalil dalam al Quran maupun as Sunnah.</p>
<p>Pertanyaannya, apakah benar Islam menyediakan kebebasan berpendapat dan membuka ruang musyawarah seperti halnya demokrasi? Bisa iya, bisa tidak. Benar bila dibilang Islam menyediakan kebebasan berpendapat bila kita mencermati kisah seorang wanita yang memprotes <em>amirul mu’minin</em> Umar bin Khaththab <em>radhiyallahu ‘anhu</em> dalam hal mahar. Benar bila dibilang Islam membuka ruang musyawarah bila kita melihat perundingan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersama para shahabatnya menjelang Perang Uhud.</p>
<p>Tapi sebatas bingkai inikah kita menilai Islam, menggeneralisasinya, kemudian membandingkannya dengan <em>diin</em> lain?</p>
<p>Mari cermati argumen Ustadz Waskito di atas dan gunakan logika dasarnya untuk menilai sehat atau tidaknya pola pikir kita. Di artikel tersebut, beliau menjawab argumen bahwa di antara kesamaan yang ditemukan, terdapat perbedaan yang punya penekanan lebih. Contohnya seperti yang sudah saya sebutkan. Islam menolak mentah-mentah klaim kaum Nashrani atas Isa <em>‘alaihissalam</em> ketika ia dinobatkan sebagai salah satu oknum ketuhanan; bahkan menganggap mereka yang berpendapat seperti itu sebagai orang kafir, orang yang keluar dari keimanan.</p>
<p>Jadi meski terdapat kemiripan dalam pernyataan ketuhanan antara Islam dengan Kristen, keduanya tetap memiliki klaim kebenaran absolut masing-masing. Al Quran menafikan segala <em>diin</em> selain Islam (QS 3:85), sementara ummat Katolik abad pertengahan memiliki idiom, “<em>extra ecclesian nulla sallus</em>”. Al Quran menyebut Allah bersemayam di atas <em>‘arsy</em>, sementara Injil mengajarkan bahwa Ia bertempat di surga. Daftar perbedaan ini akan semakin panjang bila kita memang berkehendak meneruskan.</p>
<p>Begitu halnya dengan cara berpikir kita saat membandingkan Islam dengan demokrasi. Tak setiap kemiripan membuat seluruh bagian dari objek penelitian jadi bersifat serupa. Memang ada beberapa kemiripan antara ajaran Islam dengan poin-poin demokrasi. Tapi bedanya juga banyak dan substansial.</p>
<p>Beda yang bersifat substansial itu misalnya begini. Demokrasi menempatkan kedaulatan tertinggi di tangan rakyat. Akibatnya, tiap hukum yang hendak diberlakukan harus mendapat persetujuan dari wakil rakyat di parlemen. Jadilah wakil-wakil rakyat ini sebagai <em>musyari’</em> atau pembuat hukum.</p>
<p>Masalahnya, al Quran tak sejalan dengan pola kedaulatan seperti ini. Al Quran menyebut bahwa kewenangan menetapkan hukum hanyalah milik Allah (QS 6:57). Bila mau berfokus pada penelaahan tema ini (rencananya saya tuliskan di artikel lain yang sudah saya siapkan <em>draft</em>-nya), kita akan bertemu dengan pembahasan mengenai kandungan syahadatain yang bisa dinukil, misalnya, dari <em>al Islam</em>-nya Said Hawwa atau <em>Ma’alim fit Thariq</em> plus <em>Fii Zhilalil Quran</em>-nya Sayyid Quthb.</p>
<p>Mengapa saya sebut substansial? Ini karena masalah kedaulatan adalah salah satu bagian dari makna syahadat yang dijelaskan oleh para ulama’ yang baru saja saya sebutkan itu. Bila aturan dalam masalah syahadat itu terlanggar, bisa jadi syahadat seseorang jadi batal. Syahadat yang batal otomatis mengeluarkan pelakunya dari keislaman.</p>
<p>Singkatnya, para ulama itu berargumen bahwa karena definisi “ibadah” menurut bahasa Arab kira-kira berarti penyembahan, ketundukan total, dan kecintaan, maka menyembah dengan cara tunduk dan cinta pada syariat lain selain syariat Allah bisa disebut sebagai salah satu perbuatan kekufuran. Penegas berupa nash yang terdapat dalam al Quran pun bertebaran. Salah satunya, yang cukup sering dikutip, bisa kita jumpai di QS 5:47.</p>
<p>Pemikiran <em>gothak-gathuk</em> (mencari-cari kesesuaian; biasanya cenderung memaksa) seperti ini akan membawa kita menyamakan hal-hal yang digariskan dalam Islam dengan kemaksiatan yang bercampur-baur dengan maslahat, apalagi yang punya kedekatan dengan <em>sebagian</em> ajaran Islam.</p>
<p>Misalnya, revolusi nabawiyah, melalui hijrah dan jihad, yang dipimpin Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> demi menegakkan hukum Allah kemudian disamakan dengan revolusi Prancis atau semaraknya Musim Semi Arab yang ditandai dengan penggulingan kuasa diktator yang telah bersemayam sejak puluhan tahun lalu. Atau pembandingan <em>amaliyah isytisyhadiyah</em> yang dilakukan di medan peperangan oleh para mujahidin dengan mereka yang putus asa mengakhiri hidupnya.</p>
<p>Tapi untuk yang terakhir ini, tak perlu dipikir dalam-dalam. Mereka yang belajar fiqh jihad jelas akan menganggap ini benar-benar lucu.</p>
<p>Memang benar, mereka meruntuhkan rezim yang zhalim lagi korup. Tapi penegakan <em>diin</em> lain selain <em>diin</em> Islam pun tak dibenarkan. Penegakan syariat lain selain syariat Allah juga bukan hal yang selaras dengan semangat Islam. Ini seperti meruntuhkan kandang babi untuk mendirikan rumah judi. Sebab memakan babi adalah haram—dan makanan haram menyebabkan berbagai dampak negatif seperti terbukanya peluang tiap daging yang tumbuh darinya terjilat api neraka serta terhalangnya doa-doa—dan nilai manfaatnya bagi kemashlahatan ummat dinilai kecil, maka didirikanlah rumah judi dengan alasan, misalnya, judi punya peran penting dalam mempercepat pertumbuhan perekonomian nasional.</p>
<p>Kalau konsisten dengan pola pikir seperti ini, sebenarnya akan lebih banyak lagi kita temui kemiripan ajaran Islam dengan <em>diin</em> yang lain. Dengan sosialisme, fasisme, atau bahkan ajaran-ajaran Yahudi.</p>
<p>Mereka yang vokal menyuarakan perjuangan kelas buruh, misalnya, tentu melihat adanya kesamaan dengan kisah Bilal, bekas budak yang dibebaskan Abu Bakr <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>. Mereka yang punya kebanggaan berlebih terhadap golongannya—negara, suku, apa pun itu—mungkin akan melihat kemiripan dengan QS 3:139, serta sikap Rub’i bin Amir <em>radhiyallahu ‘anhu</em> di hadapan Rustum saat Perang Qadisiya. Dan akan ada sangat banyak kemiripan antara Islam dengan Yahudi; mulai dari bahasa kitab sucinya sampai syariat dari beberapa kaifiyat ibadah.</p>
<p>Lho? Bukankah yang tak bisa mensyukuri nikmat yang kecil, tak mampu mensyukuri yang besar? Bukankah di antara nikmat yang kecil itu adalah terbukanya ruang untuk musyawarah—baik itu melalui institusi formal semisal dewan syuro atau majelis permusyawaratan maupun kebebasan untuk berpendapat, seperti yang di antaranya dicontohkan oleh Umar bin Khaththab <em>radhiyallahu ‘anhu</em> saat menjabat sebagai <em>amirul mu’minin</em>?</p>
<p>Saya kira ini bukan masalah bersyukur atau tidak. Tapi lebih pada validitas pernyataan kawan-kawan diskusi saya bahwa Islam serupa dengan demokrasi, dan karenanya (menurut kawan saya itu) kita perlu menerimanya bulat-bulat dan memutlakkan klaim urgensinya..</p>
<p>Saya ingin menunjukkan bahwa adanya kesamaan di beberapa hal itu tak lantas membuat kita bisa menggeneralisasinya. Ada hal-hal <em>ushul</em> (pokok) yang unik dalam tiap <em>diin</em>, khususnya Islam, yang tak ditemui pada <em>diin </em>lain. Maka, usaha-usaha untuk menganggapnya sama akan lebih terlihat sebagai wujud dari pola pikir yang rancu.</p>
<p>-RSP-</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muslimpeduli.wordpress.com/554/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muslimpeduli.wordpress.com/554/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muslimpeduli.wordpress.com/554/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muslimpeduli.wordpress.com/554/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muslimpeduli.wordpress.com/554/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muslimpeduli.wordpress.com/554/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muslimpeduli.wordpress.com/554/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muslimpeduli.wordpress.com/554/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muslimpeduli.wordpress.com/554/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muslimpeduli.wordpress.com/554/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muslimpeduli.wordpress.com/554/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muslimpeduli.wordpress.com/554/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muslimpeduli.wordpress.com/554/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muslimpeduli.wordpress.com/554/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muslimpeduli.wordpress.com&amp;blog=8802475&amp;post=554&amp;subd=muslimpeduli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslimpeduli.wordpress.com/2012/01/05/satu-kemiripan-tak-membuat-seluruh-bagian-menjadi-sama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3a1d46a502aad50934cf5ba5b21fe039?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">muslimpeduli</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>2011 in Review</title>
		<link>http://muslimpeduli.wordpress.com/2012/01/04/2011-in-review/</link>
		<comments>http://muslimpeduli.wordpress.com/2012/01/04/2011-in-review/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Jan 2012 14:17:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>reza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslimpeduli.wordpress.com/?p=550</guid>
		<description><![CDATA[Ada &#8220;bingkisan tahun baru&#8221; dari wordpress&#8211;meski sebagian penggunanya tak merayakan tahun baru. Isinya resume statistik blog ini selama setahun. Saya juga, dengan ini, mengucap jazakallahu khairan pada mereka yang sudah memberikan kritik, saran, semangat, dan komentar yang membangun pikiran saya. Semoga nilai besar catatan statistik ini tak hanya kuantitasnya saja, tapi juga kualitasnya. The WordPress.com [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muslimpeduli.wordpress.com&amp;blog=8802475&amp;post=550&amp;subd=muslimpeduli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada &#8220;bingkisan tahun baru&#8221; dari wordpress&#8211;meski sebagian penggunanya tak merayakan tahun baru. Isinya resume statistik blog ini selama setahun. Saya juga, dengan ini, mengucap jazakallahu khairan pada mereka yang sudah memberikan kritik, saran, semangat, dan komentar yang membangun pikiran saya. Semoga nilai besar catatan statistik ini tak hanya kuantitasnya saja, tapi juga kualitasnya.</p>
<p>The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2011 annual report for this blog.</p>
<p><a href="/2011/annual-report/"><img src="http://www.wordpress.com/wp-content/mu-plugins/annual-reports/img/emailteaser.jpg" alt="" width="100%" /></a></p>
<p>Here&#8217;s an excerpt:</p>
<blockquote><p>A New York City subway train holds 1,200 people. This blog was viewed about <strong>5.600</strong> times in 2011. If it were a NYC subway train, it would take about 5 trips to carry that many people.</p></blockquote>
<p><a href="/2011/annual-report/">Click here to see the complete report.</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muslimpeduli.wordpress.com/550/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muslimpeduli.wordpress.com/550/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muslimpeduli.wordpress.com/550/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muslimpeduli.wordpress.com/550/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muslimpeduli.wordpress.com/550/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muslimpeduli.wordpress.com/550/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muslimpeduli.wordpress.com/550/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muslimpeduli.wordpress.com/550/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muslimpeduli.wordpress.com/550/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muslimpeduli.wordpress.com/550/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muslimpeduli.wordpress.com/550/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muslimpeduli.wordpress.com/550/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muslimpeduli.wordpress.com/550/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muslimpeduli.wordpress.com/550/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muslimpeduli.wordpress.com&amp;blog=8802475&amp;post=550&amp;subd=muslimpeduli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslimpeduli.wordpress.com/2012/01/04/2011-in-review/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3a1d46a502aad50934cf5ba5b21fe039?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">muslimpeduli</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.wordpress.com/wp-content/mu-plugins/annual-reports/img/emailteaser.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Mengapa Saya Berbeda Pendapat dengan Syaikh Qardhawi</title>
		<link>http://muslimpeduli.wordpress.com/2011/12/24/mengapa-saya-berbeda-pendapat-dengan-syaikh-qardhawi/</link>
		<comments>http://muslimpeduli.wordpress.com/2011/12/24/mengapa-saya-berbeda-pendapat-dengan-syaikh-qardhawi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Dec 2011 09:29:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>reza</dc:creator>
				<category><![CDATA[tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[fiqh maqashid syariah]]></category>
		<category><![CDATA[hari raya kafir]]></category>
		<category><![CDATA[ibnu taimiyah]]></category>
		<category><![CDATA[iqtidha'ush shiraatal mustaqim]]></category>
		<category><![CDATA[natal]]></category>
		<category><![CDATA[syaikh yusuf qardhawi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslimpeduli.wordpress.com/?p=546</guid>
		<description><![CDATA[Judul di atas mungkin akan terkesan mislead. Saya memang agak susah menemukan judul ringkas yang pas untuk tulisan ini. Maka ini penjelasan saya: dalam beberapa hal, ada perbedaan pendapat antara saya dengan beliau, kali ini dalam masalah mengucapkan selamat pada hari raya orang kafir. Mengingat momennya, tentu yang akan saya bahas kali ini adalah perayaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muslimpeduli.wordpress.com&amp;blog=8802475&amp;post=546&amp;subd=muslimpeduli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Judul di atas mungkin akan terkesan <em>mislead</em>. Saya memang agak susah menemukan judul ringkas yang pas untuk tulisan ini. Maka ini penjelasan saya: dalam beberapa hal, ada perbedaan pendapat antara saya dengan beliau, kali ini dalam masalah mengucapkan selamat pada hari raya orang kafir. Mengingat momennya, tentu yang akan saya bahas kali ini adalah perayaan Natal.</p>
<p>Sebagai catatan tambahan, tulisan ini tidak membuat saya terpikir berada dalam posisi merendahkan atau bahkan men-<em>tahdzir</em> pribadi Syaikh Yusuf Qardhawi mengingat kadar ilmu dan amal saya yang masih jauh di bawah beliau. Ini adalah kritik yang saya ambil dari al Quran dan as Sunnah dan penjelasan beberapa ulama yang berada dalam jangkauan bacaan saya. Insya Allah, sama sekali tak ada tendensi negatif yang bersifat pribadi saat saya menulis artikel ini.</p>
<p>Dalam <em>Fiqh Maqashid Syariah</em>, yang edisi terjemahnya sudah diterbitkan oleh Pustaka Kautsar, Syaikh Qardhawi menjawab pertanyaan terkait mengucapkan selamat Natal pada kaum Nashrani. Berikut kutipan pertanyaan sekaligus jawaban Syaikh Qardhawi yang saya ambil dari buku terjemahan tersebut. Bila dirasa terlalu panjang, silakan baca ringkasannya saja di bawah kutipan ini.</p>
<blockquote><p><strong><em>Pertanyaan:</em></strong></p>
<p>Apa hal yang dihalalkan ataukah diharamkan bagi kita untuk mengucapkan hari raya seperti hari raya negara dan agama? Terutama yang paling terkenal adalah hari raya kelahiran al Masih atau yang biasa disebut Natal dan sering dirayakan oleh orang-orang dengan perayaan besar?</p>
<p>Apakah kita boleh mengucapkan selamat pada teman sekampus, pembimbing disertasi (penanya adalah mahasiswa doktoral bidang atom di Jerman), rekan sekantor, atau tetangga rumah dengan kata-kata sopan dan yang telah menjadi kebiasaan?</p>
<p>Saya pernah mendengar dari sebagian teman, bahwa hal tersebut adalah haram, bahkan termasuk salah satu dosa besar kepada Allah. Sebab hal tersebut adalah termasuk mengakui dan membenarkan kebatilan dan kekufuran serta mendukung agama mereka.</p>
<p>Padahal, saat saya mengucapkan selamat dengan kata-kata atau dengan memberikan hadiah, saya tidak pernah membayangkan bahwa saya membenarkan kebatilan atau mendukung kekufuran mereka. Ia tidak lain adalah semata bentuk pergaulan dan berinteraksi dengan baik antarsesama manusia yang diperintahkan oleh Islam. Terutama, mereka pun selalu mengucapkan selamat pada hari raya kita. Bahkan, mereka kadan gjuga memberikan hadiah pada kita. Justru, saya merasakan kekasaran dan kekerasan jika kasih sayang tersebut dibalas dengan wajah masam dan kening berkerut. Ia akan menyebabkan seorang muslim terasingkan dari keadaan, lari dari masyarakat, dan menjelekkan citra Islam itu sendiri. Terutama di zaman sekarang, di mana banyak musuh Islam sering menyerang dan menyebut Islam dengan kekerasan dan teroris. Dengan interaksi yang kasar seperti itu, berarti kita telah memberikan senjata pada mereka untuk menyerang agama dan ummat Islam.</p>
<p><strong><em>Jawaban Syaikh Qardhawi:</em></strong></p>
<p>Al Quran telah menjelaskan hubungan antara ummat Islam dengan yang lainnya dalam dua ayat surat al Mumtahanah. Surat tersebut diturunkan tentang orang musyrik.<span id="more-546"></span></p>
<p><em>Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena diin dan tidak mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena diin dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, mereka itulah orang-orang yang zhalim.</em> (QS al Mumtahanah 8-9)</p>
<p>Dua ayat tersebut membedakan antara orang kafir yang memiliki sikap damai dengan yang memiliki sikap memusuhi.</p>
<p>Kepada yang berbuat damai, al Quran mengajarkan agar kita berbuat baik dan berlaku adil pada mereka. Kebaikan (<em>al birru</em>) itu melebihi keadilan itu sendiri. Adil adalah Anda mengambil hak Anda, sedangkan kebaikan adalah Anda memberikan sebagian hak Anda. Adil adalah memberikan hak pada orang lain tanpa dikurangi sedikit pun, sedangkan kebaikan adalah menambah kebaikan terhadap orang lain.</p>
<p>Adapun ayat yang melarang untuk berbuat baik pada nonmuslim adalah dari mereka yang memusuhi, memerangi, dan mengusir ummat Islam dari negeri mereka dengan tanpa alasan yang benar—hanya karena ummat Islam berkata, “Rabb kami adalah Allah.” Seperti yang telah dilakukan oleh suku Quraisy dan orang musyrik Makkah kepada Rasulillah dan para shahabat.</p>
<p>Tentang perlakuan pada nonmuslim yang berbuat damai, al Quran menggunakan kata “<em>al birr</em>” (kebaikan). Kata tersebut digunakan untuk hak paling besar setelah hak Allah, yaitu berbakti pada orang tua.</p>
<p>Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadis dari Asma’ binti Abi Bakr, dia datang pada Nabi dan bertanya, “Yaa Rasulallah, ibuku datang padaku sedangkan ia adalah seorang musyrik. Saya senang sekali menjaga silaturrahim dengannya, apakah saya boleh bersilaturrahim dengannya?” Beliau menjawab, “Bersilaturrahimlah dengan ibumu.”</p>
<p>Ibu Asma’ adalah seorang musyrik. Sebagaimana diketahui, sikap Islam terhadap ahli kitab lebih ringan daripada sikap Islam terhadap orang musyrik.</p>
<p>Bahkan, al Quran membolehkan untuk memakan makanannya dan menjadikan mereka kerabat. Dengan kata lain, boleh memakan sembelihan dan menikahi perempuan mereka. Hal tersebut sebagaimana yang dijelaskan oleh surat al Maa’idah,</p>
<p><em>Makanan orang yang diberikan al kitab (atau ahli kitab) halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka, dan wanita yang menjaga kehormatan di antara orang yang diberi al kitab sebelum kamu.</em> (QS al Maa’idah 5)</p>
<p>Salah satu hasil dari pernikahan yang dibolehkan tersebut adalah kasih sayang di antara suami istri. Allah ta’ala berfirman,</p>
<p><em>Dan di antara tanda kekuasaanNya adalah, Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram padanya, dan dijadikanNya di antaramu rasa kasih sayang</em> (QS ar Ruum 21)</p>
<p>Bagaimana mungkin seorang suami tidak mencintai istrinya, seorang pengurus rumahnya, teman seumurnya, dan ibu bagi anak-anaknya? Tentang hubungan suami-istri ini, Allah ta’ala telah berfirman,</p>
<p><em>Mereka itu adalah pakaian, dan kamu pun pakaian bagi mereka.</em> (QS al Baqarah 187)</p>
<p>Salah satu hasil dari pernikahan adalah dengan adanya keibuan dan hak-hak Islam terhadap anak. Apakah termasuk ke dalam kebaikan hari raya besar seperti ini lewat begitu saja tanpa ada ucapan selamat sedikit pun? Bagaimana sikap kepada saudara dari pihak ibu seperti kakek, nenek, paman, bibi, dan saudara sepupu? Padahal, mereka semua memiliki hak-hak kerabat? Allah ta’ala berfirman,</p>
<p><em>Orang-orang yang memiliki hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya di dalam kitab Allah.</em> (QS al Anfaal 75)</p>
<p><em>Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi pada kaum kerabat.</em> (QS an Nahl 90)</p>
<p>Jika hak keibuan dan kekerabatan akan menyebabkan seorang muslim dan muslimah memiliki hubungan ibu dan kerabat yang tercermin dari akhlaq baik, toleransi, serta memenuhi janji, maka hak-hak yang lain pun mengharuskan seorang muslim untuk tampil dengan akhlaq baik. Rasulullah pernah memberikan wasiat pada Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu dengan mengatakan,</p>
<p><em>Bertaqwalah di mana pun kamu berada, ikutilah kejelekan dengan kebaikan, ia pasti akan menghapusnya. Serta bergaullah dengan manusia dengan akhlaq yang baik.</em> (HR Ahmad)</p>
<p>Dalam bergaul dengan nonmuslim, Nabi pun mendorong untuk berlaku lemah lembut, bukan keras.</p>
<p>Ketika beberapa orang Yahudi yang masuk ke rumah Nabi mengucapkan, “as Sam ‘alaika yaa Muhammad.” Kata “as sam” adalah kebinasaan dan kematian. Ketika Aisyah mendengar hal tersebut, ia berkata, “Wa’alaikumus sam wal la’nah, yaa a’da’allaah” (kebinasaan dan la’nat juga atas kalian, wahai musuh Allah).</p>
<p>Namun Rasulullah menegur Aisyah. Aisyah pun berkata, “Apakah engkau tidak mendengar yang mereka katakan?” Beliau menjawab, “Aku mendengar dan menjawab ‘wa’alaikum’. Yaa Aisyah, sesungguhnya Allah menyukai kelembutan dalam seluruh hal. (HR Bukhari)</p>
<p>Bolehnya mengucapkan salam dalam acara seperti ini adalah jika mereka yang memulai mengucapkan selamat terhadap hari-hari Islam. Kita diperintah untuk membalas kebaikan dengan kebaikan, menjawab salam dengan slaam lebih baik, atau paling sedikit dengan salam yang sama. Seperti firman Allah ta’ala,</p>
<p><em>Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa).</em> (QS an Nisaa’ 86)</p>
<p>Seorang muslim tidak layak memiliki rasa hormat dan akhlaq yang rendah. Sebab seorang muslim haruslah orang yang lebih bisa menghargai dan memiliki akhlaq mulia. Sebagaimana ada dalam sebuah hadis,</p>
<p><em>Orang mu’min yang memiliki keimanan paling sempurna adalah yang memiliki akhlaq paling baik.</em> (HR Ahmad)</p>
<p><em>Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang baik.</em> (HR Ahmad)</p>
<p>Diriwayatkan bahwa seorang Majusi pernah berkata pada Ibn Abbas, “Assalamu’alaikum”. Ibn Abbas menjawab, “Wa’alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh”. Sebagian shahabat bertanya, “Engkau berkata padanya ‘wa barakatuh’? Ibn Abbas menjawab, “Bukankah dalam rahmat Allah dia hidup?”</p>
<p>Hal tersebut lebih dikuatkan jika kita ingin mengajak dan mendekatkan mereka pada Islam, serta dicintai oleh ummat Islam. Hal tersebut tidak akan berhasil jika kita dan mereka saling menghindar.</p>
<p>Sepanjang periode Makkah, Nabi adalah orang yang memiliki akhlaq dan pergaulan baik pada orang-orang musyrik Quraisy. Meskipun mereka selalu menyakiti dan memusuhi beliau serta para shahabat. Bahkan, karena sangat percaya pada beliau, mereka menitipkan barang-barang pada beliau. Hingga saat hijrah ke Madinah, beliau menitipkan barang-barang tersebut pada Ali dan menyuruhnya untuk mengembalikannya pada pemiliknya.</p>
<p>Dengan demikian, tidak ada salahnya seorang muslim atau lembaga Islam untuk memberikan ucapan selamat hari raya pada mereka. Baik dengan lisan atau kartu ucapan yang tidak mengandung simbol agama yang bertentangan dengan prinsip Islam, seperti salib yang dilaran goleh Islam, sebagaimana dalam firmanNya,</p>
<p><em>Mereka tidak membunuhnya, dan tidak menyalibnya, tetapi orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka.</em> (QS an Nisaa’ 157)</p>
<p>Ucapan selamat tidak mengandung pengakuan atau ridha terhadap agama mereka. Namun, ia adalah sekadar kata hormat yang biasa dikenal oleh manusia.</p>
<p>Serta, tidak ada salahnya untuk menerima hadiah dari mereka dan membalasnya. Nabi pun pernah menerima hadiah dari nonmuslim, seperti Mauqis, pembesar Koptik. Dengan syarat, hadiah tersebut bukanlah yang diharamkan oleh Islam, seperti khamr dan daging babi.</p>
<p>Saya mengetahui, bahwa Syaikhul Islam Ibn Taimiyah telah berlaku keras terhadap hari raya orang musyrik, ahli kitab, dan orang yang mendukungnya. Hal tersebut dia tulis dalam bukunya yang brilian, <em>Iqtidha’ush Shiraathal Mustaqim</em>.</p>
<p>Saya bersama Ibnu Taimiyah untuk tidak menyetujui ummat Islam yang merayakan hari raya orang musyrik dan ahli kitab. Sebagaimana kita sering melihat sebagian ummat Islam yang merayakan Natal, Idul Fitri, dan Idul Adha. Inilah yang tidak boleh dilakukan. Kita memiliki hari raya, mereka pun memiliki hari raya. Namun, saya berpendapat, bahwa mengucapkan selamat hari raya pada kerabat, tetangga, rekan, atau hubungan sosial lainnya yang mengharuskan adanya kasih sayang dan hubungan baik serta dibenarkan oleh tradisi yang benar adalah tidak mengapa.</p>
<p>Syaikhul Islam memfatwakan hal itu sesuai dengan kondisi zamannya. Jika hidup di zaman kita sekarang, melihat kompleksitas hubungan antarmanusia, dunia yan gmendekat hingga menjadi desa kecil, kebutuhan ummat Islam untuk berinteraksi dengan nonmuslim, nonmuslim menjadi pengajar bagi ummat Islam, kebutuhan da’wah untuk mengajak mereka pada Islam, menampilkan gambaran muslim dengan gambaran ramah bukan keras, dan kabar gembira bukan ketakutan, mengucapkan hari raya pada tetangga, kawan, atau dosen bukan berarti keridhaan terhadap aqidah dan kekufuran, melihat orang Kristen sendiri tidak menganggap hari rayanya sebagai aktivitas agama yang bisa mendekatkan diri pada tuhan tetapi menjadi tradisi negara yang dihabiskan untuk menikmati hari libur, makanan, minuman, dan hadiah antarsahabat, Ibnu Taimiyah pasti akan mengubah atau meringankan pendapatnya. Dia adalah orang yang selalu mempertimbangkan waktu, tempat, dan kondisi untuk mengeluarkan sebuah fatwa.</p>
<p>Semua hal di atas adalah hari raya agama. Adapun hari raya negara—seperti hari proklamasi dan hari persatuan—hari raya sosial—seperti hari ibu, hari anak, hari buruh, hari pemuda, dan lain-lain—dalam kapasitas sebagai warga negara, tidak ada salahnya bagi seorang muslim untuk mengucapkan selamat hari raya atau berpartisipasi dalam hari raya tersebut. Dengan syarat, dia tetap menjauhi hal-hal haram yang terkadang terjadi dalam acara seperti itu.</p></blockquote>
<p>Ringkasnya, beberapa argumen yang dibawakan oleh Syaikh Qardhawi dalam hal ini adalah sebagai berikut.</p>
<p><em>Pertama</em>, berbuat baik pada orang kafir yang tidak memerangi kita dan mengusir kita dari negeri kita adalah diperbolehkan (QS 60:8-9). Ini juga termasuk dalam memberi selamat pada peringatan hari raya mereka, apalagi bila mereka yang terlebih dahulu memberi selamat pada Idul Fitri atau Idul Adha (QS 4:86).</p>
<p><em>Kedua</em>, ucapan selamat itu adalah sebatas ramah-tamah, tidak disertai dengan keridhaan kita terhadap aqidah-aqidah Kristen.</p>
<p><em>Ketiga</em>, diperbolehkan mengucapkan selamat baik lisan maupun tulisan selama tidak menampilkan simbol-simbol keagamaan mereka, seperti salib. Hal ini karena Islam tidak berpandangan bahwa yang disalib itu adalah Isa <em>‘alaihissalam</em>, seperti keyakinan kebanyakan kaum Kristen saat ini (QS 4:157).</p>
<p>Untuk menjawabnya, mari simak beberapa uraian berikut.</p>
<p>Bagaimana Islam memandang teologi Kristen—terutama tentang trinitas dan posisi Isa <em>‘alaihissalam</em>? Samakah cara pandang mereka dengan cara pandang al Quran?</p>
<p><em>Dan ingatlah ketika Allah berfirman, “Wahai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan pada manusia, ‘Jadikanlah aku dan ibuku dua orang ilaah selain Allah’?” Isa menjawab, “Maha suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakan, maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada diriMu. Sesungguhnya Engkau maha mengetahui perkara yang ghaib. Aku tidak pernah mengatakan pada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan padaku, yaitu, ‘Sembahlah Allah, rabbku dan rabbmu,’ dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka, dan Engkau maha menyaksikan atas segala sesuatu.”</em> (QS al Maa’idah 116-117)</p>
<p><em>Al Masih putra Maryam itu hanyalah seorang rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya adalah seorang yang benar. Keduanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan pada mereka (ahli kitab) tanda-tanda kekuasaan, kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling.</em> (QS L Maa’idah 75)</p>
<p>Tentang anggapan mereka yang meyakini bahwa al Masih <em>‘alaihissalam</em> adalah salah satu dari oknum ketuhanan, al Quran berkomentar,</p>
<p><em>Sungguh telah kafir orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah itu satu dari yang tiga.” Padahal sekali-kali tidak ada ilaah selain ilaah yang esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.</em> (QS al Maa’idah 73)</p>
<p>Setelah membahas mengenai posisi Isa <em>‘alaihissalam</em> di sisi Islam, mari berpindah pada bahasan tentang Natal, terutama mengenai masalah waktu. Ada pertanyaan yang cukup penting untuk dijawab. Apakah kelahiran Nabi Isa menurut al Quran benar di bulan Desember?</p>
<p><em>Maka dia (Maryam) mengandung, lalu ia mengasingkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. Kemudian rasa sakit akan melahirkan memaksanya (bersandar) pada pohon kurma, ia berkata, “Duhai, betapa baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan.” Maka dia (Jibril) berseru padanya dari tempat yang rendah, “Janganlah engkau bersedih hati, sesungguhnya rabbmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan ruthab (kurma basah) padamu.”</em> (QS Maryam 23-25)</p>
<p>Ayat ini menunjukkan bahwa Isa <em>‘alaihissalam</em> dilahirkan saat kurma masak di pohonnya, atau di sekitar musim panas. Sementara, bumi bagian utara sudah masuk ke musim dingin di bulan Desember.</p>
<p>Lagipula, ketika tersebut bahwa kelahiran Isa <em>‘alaihissalam</em> adalah 25 Desember, terus yang 1 Januari itu apa? Bukankah kalender Masehi ditetapkan berdasarkan kelahiran al Masih? Apakah ini efek dari beberapa kali perubahan kalender Gregorian? Adakah perhitungan pasti mengenai dampak pergeseran kalender ini?</p>
<p>Penelusuran lebih jauh tentang hal ini tentu akan membawa kita pada isu-isu semisal peranan Konstantin saat konsili Nicea, kelahiran dewa matahari, dan perayaan pagan lainnya. Tapi bila ini dianggap cukup konspiratif, izinkan saya cukupkan sampai sini. Toh kita tidak sedang membahas validitas informasi kelahiran Isa <em>‘alaihissalam</em>. Kita hanya sedang mencari tahu apa pandangan Islam tentang hal ini.</p>
<p>Jadi, dari pandangan Islam tentang Isa <em>‘alaihissalam</em> plus waktu kelahiran beliau di atas, mari ambil sedikit simpulan. Bahwa pandangan Islam tentang Isa <em>‘alaihissalam</em> adalah sebatas hamba Allah yang diberi keistimewaan berupa wahyu, dan kelahirannya yang serupa Adam <em>‘alaihissalam</em> (QS 3:59). Lantas bila kelahiran Isa <em>‘alaihissalam</em> itu terkait dengan anggapan <strong><em>bahwa di hari tersebut anak Allah telah lahir</em></strong>, maka memberi selamat pun juga terlarang sebab secara implisit itu berarti pembenaran kita terhadap waktu kelahiran dan status Isa <em>‘alaihissalam</em> yang diakui dalam al Quran.</p>
<p>Mengikuti logika berpikir Syaikh Qardhawi yang mengharamkan menyertakan simbol-simbol keagamaan dalam pengucapan selamat hari raya seperti salib karena al Quran menyatakan bahwa yang disalib itu bukan Nabi Isa, tentu pengucapan selamat Natal harusnya tidak di tanggal 25 Desember, sekaligus memastikan apakah orang yang diberi ucapan selamat itu tidak meyakini bahwa Natal adalah hari kelahiran anak Allah—atau salah satu dari tiga oknum ketuhanan (yang mana, sangat mustahil dianut oleh sebagian besar kaum Nashrani hari ini).</p>
<p>Lantas, bagaimana bila kita mengucapkan selamat Natal tanpa i’tiqad untuk meridhai, atau tanpa disertai pengakuan terhadap diin mereka?</p>
<p>Dalam argumennya, Syaikh Qardhawi membawakan nash-nash yang bersifat umum. Namun, saya menjumpai nash yang bersifat lebih khusus yang mengatur mengenai hal ini.</p>
<p><em>Pertama</em>, sebuah hadis yang di-<em>takhrij</em> oleh Imam Abu Dawud berkisah bahwa suatu ketika Anas bin Malik <em>rahdiyallahu ‘anhu</em> mengatakan bahwa ketika Rasulullah tiba di kota Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya yang mereka isi dengan berbagai kegiatan. Nabi bertanya, “Dua hari apa ini?” Mereka menjawab, “Kami biasa bermain pada dua hari ini di masa jahiliyah.”</p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mengganti dua hari tersebut dengan dua hari yang lebih baik, yaitu Idul Adha dan Idul Fitri.”</p>
<p>Hadis ini menghapus seluruh bentuk hari-hari khusus, atau hari raya, dan menggantinya dengan Idul Adha serta Idul Fitri saja. Hadis tersebut tidak merinci apakah itu hari raya yang sifatnya ritual atau sosial. Yang jelas, setiap hari yang secara khusus kaum muslimin memperingati sesuatu, statusnya sudah terhapus oleh Islam dan diganti dengan dua hari raya yang lebih baik daripada hari itu.</p>
<p>Kata “menggantikan” di sini bermakna kita harus meninggalkan salah satu dan beralih mengerjakan yang lainnya. Seperti yang Allah firmankan,</p>
<p><em>Lalu orang zhalim itu menggantinya dengan sesuatu yang tidak diperintahkan pada mereka.</em> (QS al Baqarah 59)</p>
<p><em>Kedua</em>, Rasulullah bersabda,</p>
<p><em>Barangsiapa menetap di negeri kaum musyrik dan ia mengikuti hari raya dan hari besar mereka, serta meniru perilaku mereka sampai mati, maka kelak ia akan dikumpulkan bersama mereka di hari kiamat.</em> (HR Baihaqi)</p>
<p>Namun dalam hal ini, Imam Ahmad, seperti dikutip oleh Ibn Taimiyah, memberikan keringanan bagi mereka yang menghadiri festival yang diadakan di hari raya kaum musyrik hanya untuk membeli keperluan mereka, dan tidak turut masuk ke tempat pemujaan mereka.</p>
<p><em>Ketiga</em>, Allah berfirman,</p>
<p><em>Dan orang-orang yang tidak menyaksikan az zuur. Dan apabila mereka bertemu dengan orang yang mengerjakan perbuatan yang tidak bermanfaat, maka mereka lewati saja dengan menjaga kehormatan dirinya.</em> (QS al Furqaan 72)</p>
<p>Ibnu Katsir, dalam menjelaskan ayat ini, menyebut bahwa <em>az zuur</em> memiliki banyak makna yang diungkapkan oleh para ulama’, di antaranya syirik, penyembahan terhadap berhala, berdusta, berbuat fasiq, khamr, kebatilan, pertemuan dalam keburukan, kesaksian palsu, dan hari raya kaum musyrik. Pendapat yang menafsirkan kata <em>az zuur</em> sebagai hari-hari besar orang musyrik dikemukakan oleh Rabi’ bin Anas, ‘Amir bin Murrah, dan Atha’ bin Yasar. Pendapat inilah yang dikuatkan oleh Ibn Taimiyah.</p>
<p>Seperti yang telah dibahas sebelumnya, Natal merupakan hari raya kaum musyrik mengingat kaum Nashrani telah mendakwa bahwa Allah adalah bagian dari tiga oknum ketuhanan (QS 5: 73) serta mengatakan bahwa al Masih itu adalah anak Allah (QS 5:72).</p>
<p>Mengapa hari raya kaum musyrik itu disebut sebagai kedustaan? Ini tak lain karena berkumpulnya perkara syubhat, kebatilan, dan kesaksian palsu—mengingat sejarah Natal yang juga perlu dipertanyakan—sehingga, kata Ibn Taimiyah, menghadiri acara tersebut tidak ada manfaatnya baik bagi diin maupun bagi kehidupan dunia, sedangkan akibat buruknya jelas merugikan.</p>
<p>Contoh aplikasi dari ayat ini adalah seperti yang dilakukan Ibn Mas’ud <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, seperti diriwayatkan oleh Ibrahim bin Maisarah.</p>
<p>Ibnu Mas’ud melewati pertunjukan musik, namun dia tidak berhenti. Lalu Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda, “Pagi dan petang hari Ibnu Mas’ud menjadi orang yang mulia.”</p>
<p>Maka ketika melihat <em>az zuur</em>, langkah terbaik adalah melewatinya begitu saja, tidak berhenti sama sekali, apalagi mengucap selamat pada hari raya orang kafir.</p>
<p>Lebih jauh, mengenai <em>az zuur</em>, yang juga terkait dengan syiar agama orang-orang kafir, Syaikh Abdul Qadir Abdul Aziz dalam <em>al Jami’ li Thalabi ‘Ilmisy Syarif</em>, dan Ibnu Taimiyah dalam <em>Iqtidha’ush Shiratal Mustaqim</em> menjelaskan, berdasarkan surat yang dikirimkan oleh Abdirrahman bin Ghonam, Umar bin Khaththab <em>radhiyallahu ‘anhu</em> menetapkan syarat perjanjian dengan ahli dzimmah yang demikian ketat, di antaranya menyembunyikan simbol agama mereka; membedakan penampilan mereka dengan kaum muslimin; larangan membunyikan lonceng gereja, memperbaiki gereja, dan menyebarkan syiar agama mereka; dan sebagainya.</p>
<p>Dari perjanjian dengan ahli dzimmah tersebut, maka menjadi mafhum bagi kita bahwa menyuarakan syiar agama mereka, termasuk dalam hari raya dan menampakkan simbol-simbol khusus keagamaan mereka, menjadi bertentangan dengan apa yang telah ditetapkan oleh Umar bin Khaththab <em>radhiyallahu ‘anhu</em>.</p>
<p>Secara retoris Ibnu Taimiyah menambahkan, “Lalu bagaimana jika justru kaum muslimin sendiri yang melakukannya atau memperlihatkannya? Misalnya menghormati hari-hari besar mereka dan lain sebagainya. Padahal perbuatan semacam ini menunjukkan sikap menghormati mereka yang membuat mereka merasa senang, sebagaimana mereka akan merasa sedih bila ajaran agama mereka yang batil ini dipinggirkan.”</p>
<p>Lantas bagaimana dengan hadis yang menunjukkan bahwa salah satu tugas nabi adalah menyempurnakan akhlaq? Bukankah melewatkan begitu saja hari raya kaum musyrik tanpa memberi ucapan selamat dianggap cukup kasar atau intoleran?</p>
<p>Justru karena tugas nabi adalah penyempurna akhlaq, sekaligus bahwa beliau adalah pemilik qudwah hasanah, kita perlu meneladani beliau dalam tiap bagian kehidupan. Terkait dengan misi da’wah dan interaksi kehidupan yang memerlukan sikap hikmah, tentu ini tak bisa hanya diartikan dengan bersikap lemah lembut. Berikut ini contohnya.</p>
<p><em>Sesungguhnya telah ada teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang yang bersama dengannya; ketika mereka berkata pada kaumnya, “Sesungguhnya kami berlepas diri darimu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah. Kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata  di antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian untuk selamanya sampai kamu beriman pada Allah saja.” Kecuali perkataan Ibrahim pada ayahnya, “Sesungguhnya aku akan mohonkan ampunan bagimu dan aku tidak dapat menolak sesuatu pun darimu (siksaan) Allah.” Yaa rabb kami, hanya padaMulah kami bertawakkal dan hanya padaMulah kami bertaubat, dan hanya padaMulah kami kembali.</em> (QS al Mumtahanah 4)</p>
<p><em>Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang yang menentang Allah dan rasulNya, sekalipun orang-orang itu adlaah bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara, ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka, dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dariNya. Dan dimasukkanNya mereka ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan mereka pun ridho terhadapNya. Mereka itulah hizbullah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itulah golongan yang beruntung.</em> (QS al Mujadilah 22)</p>
<p>Ayat ini menunjukkan bahwa bersikap hikmah bisa jadi dimaknai bersikap tegas terhadap prinsip, tapi juga tak meninggalkan kelembutan dalam bersikap.</p>
<p>Bila kekhawatiran masih muncul akibat keengganan kita mengucap selamat dalam hari raya orang kafir itu, izinkan saya berbagi cerita tentang diri saya sendiri. Selama dua tahun berturut-turut, di bangku SMA, saya duduk bersebelahan dengan seorang penganut Protestan. Tak pernah sekali pun saya mengikuti, atau sekadar memberi selamat, pada upacara-upacara keagamaan mereka. Merayakan ulang tahun mereka saja tidak. Tapi hingga kini komunikasi masih <em>nyambung</em>. Asal mengkomunikasikan dengan baik alasan kita tidak memberi ucapan selamat, saya kira hal-hal seperti ini dapat diatasi dengan baik.</p>
<p>Oya, amal saya bukanlah dalil. Tujuan saya bercerita pengalaman pribadi saya memang hanya untuk menunjukkan bahwa menjaga diin tanpa merusak hubungan dengan orang kafir yang tidak memusuhi kita karena diin kita adalah hal yang mungkin diamalkan, walau kadang memang sulit.</p>
<p>Ustadz Fathuddin Ja’far pernah berkata, kita kadang terlalu takut pada hal-hal yang sebenarnya tak terjadi. Misalnya, kita takut mengajarkan tauhid pada anak-anak kita yang masih kecil karena takut mereka tak bisa hidup bersosialisasi dengan normal, takut mental mereka belum kuat dalam menerima hal berat, dan sebagainya. Padahal, contoh dari Luqman sudah jelas terekam dalam al Quran.</p>
<p>Tema yang disinggung dalam tulisan ini mungkin juga masuk hitungan. Kadang kita terlalu takut bila tidak mengucapkan kata selamat pada hari raya orang kafir. Takut  dikucilkan, takut dianggap ekstrimis, dan sebagainya. Padahal, bila kita mengikuti tuntunan bermuamalah dalam al Quran, terutama dengan orang kafir, sesungguhnya kecil kemungkinan hal-hal seperti itu akan terjadi.</p>
<p>-RSP-</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muslimpeduli.wordpress.com/546/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muslimpeduli.wordpress.com/546/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muslimpeduli.wordpress.com/546/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muslimpeduli.wordpress.com/546/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muslimpeduli.wordpress.com/546/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muslimpeduli.wordpress.com/546/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muslimpeduli.wordpress.com/546/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muslimpeduli.wordpress.com/546/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muslimpeduli.wordpress.com/546/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muslimpeduli.wordpress.com/546/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muslimpeduli.wordpress.com/546/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muslimpeduli.wordpress.com/546/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muslimpeduli.wordpress.com/546/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muslimpeduli.wordpress.com/546/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muslimpeduli.wordpress.com&amp;blog=8802475&amp;post=546&amp;subd=muslimpeduli&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslimpeduli.wordpress.com/2011/12/24/mengapa-saya-berbeda-pendapat-dengan-syaikh-qardhawi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3a1d46a502aad50934cf5ba5b21fe039?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">muslimpeduli</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
