Sebuah Fragmen Sejarah: Bila Negara Melanggar Konstitusi, Bisakah Ia Dituntut?

Hari itu, enam tahun lalu. Seorang lelaki tua berwajah bersih duduk menghadap majelis hakim dengan tatapan tenang. Dihadirkanlah Profesor Loebby Lukman sebagai saksi ahli atas dakwaan makar terhadap lelaki tua itu, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Setelah saksi ahli memberikan keterangan, hakim memberikan kesempatan bagi terdakwa untuk mengajukan pertanyaan. Dua pertanyaan yang berkesan, menurut saya.

“Profesor Loebby, berdasarkan UUD 1945 pasal 29 ayat 2, bukankah negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk pemeluk agama untuk menjalankan ibadah sesuai dengan agamanya?

“Ya, benar!”

“Apakah dalam UUD 1945 ataupun penjelasannya, terdapat definisi dari kata ‘ibadah’?”

“Emm…, setahu saya tidak ada.”

“Kalau begitu, bukankah seharusnya makna kata ibadah dikembalikan pada dari mana ia diambil?”

“Ya.”

“Nah, sesungguhnya, kata ‘ibadah’ berasal dari bahasa Arab, dan tentu berasal dari apa yang diperintahkan Allah di dalam al Quran. Maka, definisinya harus dikembalikan kepada al Quran. Menurut al Quran, ibadah adalah segala aktivitas yang ditujukan untuk mencari keridhaan Allah dan dilaksanakan sesuai dengan apa yang dituntunkan oleh Rasulullah. Dan, ibadah tertinggi dalam Islam adalah menegakkan syariat Allah di muka bumi. Dengan demikian, apakah yang saya lakukan selama ini, mengupayakan tegaknya syariat Islam di Indonesia, bertentangan dengan UUD 1945 yang menjamin kemerdekaan penduduk untuk menjalankan ibadah?”

“Kalau logikanya begitu, tidak..”

“Baik. Pertanyaan terakhir. Jika negara melanggar UUD 1945, dengan merampas kemerdekaan beribadah, apakah negara bisa dituntut?”

Subhanallah. Saya sendiri tak bisa membayangkan jawaban apa yang akan diberikan oleh Profesor Loebby.

***

Ya. Pertama, memang kita harus mendefinisikan makna ibadah terlebih dahulu. Sebab, dari pemaknaan itulah segala sesuatu yang kita lakukan dengan niatan ibadah itu bisa terwujud. Tak sekedar pemaknaan. Namun, pemahaman kita akan ibadah akan mengantarkan kita pada fakta berikutnya, seperti yang telah Ustadz Abu Bakar Ba’asyir jelaskan melalui dua retorikanya tersebut.

Ibadah, seperti yang Ibnu Taimiyah tuliskan dalam al Ubudiyah, adalah sebuah kata yang bermakna menyeluruh, meliputi apa saja yang dicintai dan diridhoi oleh Allah, menyangkut seluruh ucapan dan perbuatan, yang tidak tampak maupun yang tampak.

Seringkali kita memaknai ibadah sebatas shalat, zakat, puasa, haji, dan bermuamalah dengan sikap yang baik dengan manusia. Itu memang benar. Tetapi, saya yakin kita tak akan pernah mendapatkan pemahaman menyeluruh mengenai ibadah tersebut jika kita menyandarkan pengertiannya pada hal itu saja.

Seperti yang Ibnu Taimiyah ungkapkan, ibadah memiliki makna yang luas dan menyeluruh. Maka, tak bisa kita sederhanakan menjadi kegiatan ritual secara parsial. Tidak. Ibadah itu harus diartikan secara utuh. Maka, dengan demikian, ada sebuah gambaran yang jelas dan benar mengenai apa yang Allah kehendaki dari diri kita seperti yang telah tertulis dalam al Quran.

Segala yang Allah perintahkan dalam al Quran adalah ibadah. Begitu pula kepatuhan kita pada segenap larangan Allah terhadap sesuatu yang telah Ia gariskan. Karena semua yang Allah perintahkan pada kita sebagai makhluk-Nya merupakan sebuah implementasi dari pernyataan syahadat kita. Tentu kita ingat bahwa kita telah berikrar untuk benar-benar meniadakan segala ketaatan yang kita hadapi di dunia ini, dan menetapkan satu tempat bernama Allah sebagai ilah, sebagai sesembahan kita.

Ibadah yang diperintahkan Allah akan menjadi sempurna bila hukum-hukum Allah tegak di muka bumi ini. Mengapa? Tak lain adalah karena itulah tugas manusia sebagai hamba Allah. Tugas hamba adalah mengabdi pada tuannya. Dan kehendak Allah adalah penegakan hukum-hukum-Nya, serta pengingkaran manusia terhadap perbudakan manusia terhadap manusia yang diwujudkan dalam pemaksaan ketaatan setiap manusia terhadap undang-undang atau produk hukum manusia.

Sayyid Quthb, dalam Ma’aalim fi ath-Thariiq, mengatakan bahwa Islam adalah sebuah proklamasi pembebasan manusia dari perbudakan. Perbudakan yang dimaksud tak selalu perbudakan model Romawi yang selama ini kita pahami. Ya, pihak Romawi memang melakukan perlakuan tak manusiawi pada budak-budaknya. Tapi, perlu kita ingat bahwa harkat dan martabat manusia tak selalu terletak pada fisiknya saja.

Apakah mereka mempunyai syuraka’ (sekutu-sekutu) sesembahan dari selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka din yang tidak diizinkan oleh Allah? (QS asy Syuura 21)

Untuk memahami ayat ini, terlebih dahulu kita berkelana menuju empat belas abad yang lalu, sebuah masa di mana ayat ini turun. Ayat ini, menurut Sayyid Quthb dalam Fi Zhilalil Quran, merupakan ayat Makkiyyah, yang, seperti ayat Makkiyyah lainnya, banyak berbicara mengenai pembentukan aqidah masyarakat muslim. Pokok-pokok aqidah yang ditekankan tersebut adalah bahwa tidak ada satu pun makhluk di dunia ini yang berhak menentukan hukum, atau mensyariatkan din. Tidak ada satu pun.

Diin, atau yang diterjemahkan secara bebas menjadi ‘agama’, sebenarnya malah tidak dapat disederhanakan seperti itu. Maknanya luas. Tak sekedar agama dalam bingkai pemahaman sistem kepercayaan atau sistem keyakinan. Bila agama dimaknai seperti itu, maka asosiasi kita bisa beralih pada Kristen, Hindu, Budha, atau agama-agama lainnya.
Sedangkan di sisi lain, kita mengenal sebuah istilah yang biasa disebut dengan ideologi atau falsafah dasar. Ketika kita mendengar istilah ini, maka umumnya, pikiran kita langsung melompat pada kapitalisme, pluralisme, marxisme, komunisme, dan berbagai variasi pemahaman ideologi lainnya.

Dua hal tersebut, baik definisi tentang sistem kepercayaan, maupun tentang falsafah dasar tidaklah salah. Saya kira, kita sepakat dalam hal ini. Yang jadi masalah adalah pemaknaan kita mengenai din. Sebab, seperti kata ibadah yang telah dijelaskan oleh Ibnu Taimiyah, kata ‘diin’ ternyata tak sesempit yang kita sangka sebelumnya.

Diin bermakna luas. Artinya adalah sebuah jalan hidup, atau sebuah sistem kehidupan. Tak sekedar ibadah-ibadah ritual semata, tapi din sudah menjadi sebuah sistem hidup yang diharapkan bisa mendarahdaging di tubuh kaum muslimin.

Islam ternyata memiliki aturan-aturan yang terstruktur rapi dalam implementasi makna dari kedua pengertian tersebut. Islam bisa dipandang dari sudut agama, tapi tak utuh bila dipahami juga dari sisi ideologi. Islam merupakan syariat yang mengatur segenap kehidupan ritual ibadah kita. Namun, tak ketinggalan, Islam juga memiliki tuntutan untuk ditegakkan dalam bentuk yang kaffah. Dan nyaris seluruh syariat Islam, tak dapat ditegakkan tanpa tegaknya pula hukum-hukum Allah di dunia.

Allah telah mengirimkan sinyal-sinyal kebesarannya pada kita. Tak terhitung betapa dalam samudra sains dalam al Quran, baik yang belum maupun telah terungkap. Allah pun telah menampakkan tanda-tanda kekuasaannya pada kita. Betapa kecil manusia, hingga untuk mencapai satelit dari planetnya sendiri harus disertai berbagai kontroversi hingga saat ini.

Allah telah menyatakan semua pada kita. Bahwa keteraturan alam semesta ini adalah disebabkan sebuah kekuatan besar yang berkuasa di semesta alam. Ya, bukan cuma di bumi. Allah adalah penguasa, pemilik, dan pemelihara semesta alam.

Berangkat dari fakta tersebut, Sayyid Quthb pun merasa heran. Dalam tafsir asy Syuura 21, ia menyayangkan sikap para pendurhaka kekuasaan Allah. Ia menyebut logika kekuasaan Allah ini adalah logika sederhana yang mampu dicerna oleh banyak manusia. Namun, sejumlah besar manusia di bumi ini, entah karena kesombongannya atau karena kebodohannya, menolak kedaulatan Allah di muka bumi.

Manusia, dengan segala keterbatasannya, lebih memilih mengatur dunianya dengan hukum-hukum yang mereka buat sendiri. Dan, ironisnya, mereka patuh pada segala undang-undang maupun konvensi yang mereka susun. Mengapa ironis? Karena di saat yang bersamaan, mereka pun mengakui kelemahan mereka. Mereka mengakui bahwa manusia bukanlah makhluk yang sempurna. Terkadang, atau sering, manusia tak luput dari kesalahan.

Nah, kalau pembuatnya saja tak luput dari kesalahan, bagaimana dengan hukum-hukum ciptaannya?

Islam menawarkan sebuah konsep yang sempurna. Mengapa sempurna? Karena perumus konsep tersebut adalah Dia yang terbebas dari kesalahan. Segala sifat yang ada pada-Nya adalah kesempurnaan. Maka, pengabdian kita pada sebuah kesempurnaan itu otomatis akan mengangkat derajat kita, dari semula sebagai penyembah berhala, dalam bentuk apa pun, menjadi seorang hamba yang hanya mengabdi pada Dia yang memiliki kesempurnaan tersebut.
Manusia tak layak memiliki kewenangan yang serupa dengan Allah. Karena hanya Allah-lah yang memiliki kesempurnaan itu. Oleh karena itu, pernyataan syahadat yang kita ikrarkan pun merupakan sebuah nafyu, sebuah peniadaan segala sesembahan, dan sebuah itsbat, penetapan terhadap satu-satunya yang berhak untuk diberikan wala’ (loyalitas) kita. Inilah kemudian, yang Sayyid Quthb maksudkan sebagai Islam yang merupakan proklamasi pembebasan manusia dari perbudakan antarmanusia.

Berkaitan dengan hal tersebut, kita menemui batu sandungan. Batu sandungan itu merupakan standar ganda negeri tempat kita berpijak ini terhadap Islam. Seperti perkataan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, kita memiliki kewajiban menegakkan hukum-hukum Allah sebagai wujud dari ibadah kita. Sebagai wujud dari penyembahan kita pada satu sesembahan, yaitu Allah. Namun, seringkali apa yang beliau perjuangkan dianggap sebagai perbuatan inkonstitusional. Padahal, penghalangan pemerintah terhadap kebebasan beragama kaum muslimin dengan cara penegakan syariah Islam adalah perbuatan inkonstitusional itu sendiri. Resistensi berbagai pihak terhadap perjuangan penegakan syariah Islam sebenarnya adalah sebuah pelanggaran terhadap konvensi yang telah disepakati oleh para pembuat undang-undang tersebut.

Maka, kita kembali pada pertanyaan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, yang barangkali tak akan pernah mampu terjawab.

“Apabila negara melanggar UUD 1945 dengan merampas kemerdekaan beribadah, apakah negara bisa dituntut?”

-RSP-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: