Yang Terlupa dari al Quran: Apakah Kita Memperbanyak Tuhan Kita?

Seluruh materi dalam al Quran, dari surat al Fatihah hingga an Naas, mengandung sebuah pengajaran baku yang diajarkan sejak masa Rasulullah saw hingga saat ini. Materi tersebut seringkali disebut dengan nama tauhid. Namun, dari begitu banyak aspek tauhid yang terangkum dalam al Quran, sekiranya – dari pengamatan saya – kita, kaum muslimin, melewatkan lima istilah penting yang begitu berpengaruh terhadap produk pemahaman dan pemikiran kita tentang Islam.

Lantas, apa saja lima aspek penting dalam pemahaman kita terhadap tauhid itu? Tenang, sebelum menjelaskannya, terlebih dahulu saya ingin menceritakan betapa pentingnya lima poin istilah tersebut dalam aqidah kita.

Istilah-istilah ini berkenaan dengan pemahaman kita tentang pertanyaan sederhana, “Kenapa saya harus mengikuti aturan-aturan Allah?” atau,”Mengapa hukum-hukum Allah – yang sedemikian rumitnya –harus saya laksanakan demi tergapainya surga?” ditambah lagi,”Sejauh mana cakupan dari konsep dari kata ‘agama’, seperti yang sering kita dengar dan ucapan, dalam kehidupan sehari-hari?”

Tampaknya harus diakui bahwa pertanyaan itu, meski terdengar sepele, seringkali menggelayut dalam benak kita, dan mereduksi keimanan kita; keyakinan kita kepada Allah. Nah, berangkat dari fakta tersebut, bahwa faktor keimanan adalah penentu dari keyakinan kita pada Allah, seharusnya pertanyaan seperti ini mampu kita dapatkan jawabannya dengan lugas.

Lima istilah tersebut akan membawa dua konsekuensi sekaligus. Baik tujuan, maupun titik tolak. Ya, tujuan dari segala bentuk peribadatan kita, sekaligus titik tolak pemahaman kita terhadap alasan-alasan apa saja yang mendasari kita dalam melakukan hal-hal tertentu. Dan, mari kita berangkat pada petualangan dalam samudra al Quran yang begitu luas!

Oke, tampaknya akan jadi pembahasan panjang. Untuk itu, saya hanya menjelaskan pokok-pokok yang perlu saya jelaskan per poinnya. Selanjutnya, silakan tambahkan informasi atau tuliskan pertanyaan dalam kolom comment…
Lima istilah tersebut adalah ilah, rabb, ibadah, diin, dan thaghut. Nah, masalah yang sering kita temukan dalam penerjemahan al Quran adalah pemaknaan ilah sebagai Tuhan, pengartian rabb juga sebagai Tuhan, diin yang seringkali diterjemahkan dengan kata agama, thaghut sering dipahami sebagai syaithan, dan makna cakupan ibadah yang masih kabur dalam konsep penyembahan kita.

Sekilas, tidak terlihat penting. Namun, di sinilah kunci penting pemahaman Islam yang komprehensif.
Memang, kata ilah berasal dari bahasa Arab. Nah, karena kata ini sulit sekali dicari padanannya dalam bahasa Indonesia, maka sudah seharusnya kita kembalikan ia pada asal bahasa tersebut muncul. Ilah, dalam bahasa Arab, seringkali diartikan sebagai ‘yang berhak untuk disembah’. Atau, dalam al Quran, beberapa kali juga disebut dengan makna pelindung, atau penolong.

Dan mereka menjadikan selain dari Allah sebagai ilah-ilah selain Allah supaya mereka ditolong (QS Yaasin 74)

Sayyid Quthb, dalam Fi Zhilalil Qur’an menceritakan kisah bangsa Arab pada masa jahiliyah pada kita. Bahwa, mereka menjadikan patung, pohon besar, bintang, malaikat, atau jin sebagai tempat mereka untuk ‘meminta pertolongan’. Mengapa saya beri tanda petik di antara kata ‘meminta pertolongan’? Karena faktanya, mereka tidak meminta pertolongan pada berhala-berhala tersebut. Percaya atau tidak, ternyata mereka menjadikan benda-benda yang tak berkekuatan itu sebagai perantara kepada Allah, supaya mereka dapat mendekatkan dirinya.

Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata), “Kami tidak menyembah mereka (berhala-berhala itu) melainkan supaya mereka mendekatkan kami pada Allah dengan sedekat-dekatnya (QS az Zumar 3)

Orang-orang ini, lanjut Sayyid Quthb, tidak mengikhlaskan tauhid mereka. Kesalahan mereka dalam bertauhid terletak pada rekaan mereka terhadap kekuatan-kekuatan palsu yang bukan kekuatan Allah, dan dengan berpegang pada sandaran lain selain Allah.

Mereka menyekutukan sifat-sifat ketuhanan Allah dengan cara menempatkan sifat-sifat tersebut pada segala sesuatu selain Allah. Allah-lah penolong, tapi mereka, orang-orang kafir, menjadikan matahari sebagai penolong mereka. Allah-lah pelindung, tapi mereka menjadikan gunung sebagai pelindung. Allah-lah pemberi rezeki, tapi mereka menjadikan jin dan makhluk halus lainnya sebagai pemberi rezeki.

Ketika tauhid yang murni tergoncang, hadirlah paganisme yang memiliki bentuk seperti ini. Oleh karena itu, ada kewajiban bagi kita untuk menjaganya dengan berpegang teguh dengan pengesaan Allah, sebagai tempat berlindung, berpegang, dan tempat berpalingnya wajah kita saat memohon.

Makna kata rabb memiliki cakupan yang luas. Tak sekedar ‘Tuhan’, seperti yang sering kita dengar saat ini. Rabb, menurut Abul A’la al Maududi, memiliki kedekatan makna dengan kata ‘tarbiyah’. Kata itu merupakan predikat bagi kata keagungan, kebesaran, kepemimpinan, kerajaan, kepenguasaan, dan pemeliharaan.

Berkata (Yusuf), ‘Aku berlindung pada Allah, sesungguhnya rabb-ku memeliharaku dengan baik (QS Yusuf 23)
Katakanlah, ‘Apakah aku menghendaki rabb selain Allah, sedangkan Ia adalah rabb dari segala sesuatu?
(QS al An’aam 164)

Dua ayat itu menunjukkan makna Allah sebagai pemelihara, juga sebagai penguasa. Otomatis, yang disebut pemelihara dan penguasa adalah raja dari semesta alam ini. Dia lah yang menguasai segenap hukum kosmos yang ada di alam semesta. Dia lah pengatur yang memiliki seluruh rumusan mengenai keselarasan kehidupan dan sistem antariksa yang bersicepat satu dengan lainnya.

Kita, manusia, adalah bagian dari alam semesta. Oleh karena itu, kita tak dapat mengelak dari fakta bahwa kita adalah objek pengaturan Allah, bahwa manusia adalah objek kepenguasaan Allah. Kita tak dapat membantah bahwa kita adalah abdi, adalah hamba dari pengatur alam ini. Maka, pengabdian itu haruslah terwujud dalam satu tatanan yang baku. Bukan sebuah tatanan yang bisa tereduksi sekaligus teramandemen sesuai dengan hawa nafsu manusia.
Berkaitan dengan hukum yang dengan mudah teramandemen, Allah telah mengisyaratkan peristiwa yang mampu mengubah persepsi kita tentang ketuhanan. Kisah ini berawal dari Adi bin Hatim, yang masih mengenakan kalung salib di lehernya. Setelah melihatnya, Rasulullah mengutip sebuah ayat yang berasal dari surat at Taubah.

Mereka (orang-orang Nashrani) menjadikan rahib-rahib dan pendeta-pendeta mereka sebagai rabb-rabb selain dari Allah (QS at Taubah 31)

Mendengar ayat tersebut, Adi bin Hatim ra merespon dengan lugas. “Wahai Rasulallah, mereka tidak bersujud pada rahib dan pendeta mereka.” Namun, Rasulullah seketika menjawabnya tak kalah lugas. “Mereka memang tak bersujud pada rahib dan pendeta mereka. Namun mereka menghalalkan apa yang rahib-rahib tersebut halalkan, dan mengharamkan segala sesuatu yang rahib-rahib tersebut haramkan.”

Poin penting yang ingin Rasulullah sampaikan mengenai secuil fragmen sejarah ini adalah makna rabb tidak berarti ‘Tuhan’ dalam pengertian umum. Tuhan, selama ini dikenal sebagai tempat bersujud. Tuhan, selama ini dipahami sebagai tempat memohon, tempat berlindung, dan tempat kita menujukan peribadatan ritual kita. Singkatnya, Tuhan sekedar dimaknai dalam lingkup ibadah-ibadah ritual.

Pengertian itu tak salah, tapi tak lengkap. Peristiwa tersebut mengabarkan pada kita bahwa bentuk penyembahan bisa berarti pengakuan kita terhadap segala hukum dalam bentuk halal-haram, dan sebagainya, dan pelaksanaan hukum-hukum tersebut dengan penuh ketaatan.

Ya. Kali ini, kita dikenalkan mengenai tauhid rububiyah. Tauhid rububiyah tak hanya pengakuan kita bahwa hanya Allah-lah yang mampu mengatur segenap alam semesta berikut konstelasi rumitnya. Namun, tauhid rububiyah juga mengajarkan pada kita tentang pengakuan kita terhadap sifat-sifat pemeliharaan dan ketinggian Allah, yang dengan ketinggian itu, Dia mampu dan berhak mengatur kita dalam sebuah sistem yang memiliki keteraturan.

Dalam bahasa yang lebih sederhana, Abul A’la al Maududi mengatakan rabb selain dari Allah adalah seluruh pimpinan organisasi masyarakat, organisasi politik, sistem kenegaraan, dan sebagainya, yang menciptakan aturan ataupun sistem hidup yang diakui, dan ditaati oleh segenap pengikut dari organisasi-organisasi tersebut, sekalipun bertentangan dengan ketentuan yang telah digariskan oleh Allah. Bukannya mengingkari, peraturan yang jelas-jelas bertentangan itu malah dianggap adil.

Pemahaman kita tentang rabb dan ilah ini membawa kita pada tuntutan untuk memahami makna ibadah. Karena, pemahaman tersebut akan berimplikasi langsung terhadap konsep penyembahan kita. Ibadah, menurut Ibnu Taimiyah dalam al Ubudiyah, berarti segala sesuatu yang dicintai dan diridhoi oleh Allah, meliputi perkataan, perbuatan, dan ucapan hati. Ibadah merupakan realisasi dari perintah Allah. Ibadah merupakan pelaksanaan terhadap hukum-hukum Allah yang telah Ia gariskan bagi kita. Shalat, zakat, haji, puasa, menyambung silaturrahim, amar ma’ruf nahi munkar, jihad di jalan Allah, lemah lembut terhadap anak yatim, menyantuni orang miskin, ibnu sabil, dan hamba sahaya, berdoa, berzikir, dan sebagainya, merupakan wujud dari ketaatan kita terhadap Allah sebagai rabb dan ilah.

Mengapa? Karena, perintah tentang perbuatan-perbuatan tersebut memang datang dari Allah. Ketaatan kita berarti merealisasikan makna rabb sebagai pengatur, sebagai penguasa. Dan keikhlasan kita dalam beramal, hanya kepada Allah, membawa kita pada keridhoan Allah, membawa kita pada penerimaan Allah terhadap amal shalih yang kita lakukan tersebut.

Ibadah merupakan segala sesuatu yang dicintai Allah, itu bermakna pelaksanaan kita terhadap segala perintah Allah, dan penghindaran kita terhadap larangan Allah. Dari mana definisi mengenai konsekuensi ini berasal? Untuk menjawabnya, mari kita duduk sejenak, dan membuka mushaf al Quran kita.

Dan orang-orang yang beriman dan beramal shalih, mereka itu penghuni surga, mereka kekal di dalamnya (QS al Baqarah 82)

Adapun orang-orang yang kafir dari ayat-ayat kami, mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya (QS al Baqarah 39)

Dua ayat ini menunjukkan satu poin penting pada kita. Bahwa mereka yang beramal shalih, dalam arti mereka melaksanakan segala perintah-Nya, akan ada bagi mereka sebuah balasan yang sungguh menakjubkan, yaitu surga. Sedang bagi mereka yang ingkar, Allah menyiapkan tempat yang teramat buruk, neraka. Tentu, Allah tidak ingin menyengsarakan dan menyiksa hamba-hamba-Nya yang beriman. Dan Allah jelas tidak ingin membahagiakan mereka yang ingkar pada-Nya. Tentu tak adil bagi mereka yang berakal.

Ayat itu menjelaskan balasan yang berbeda bagi dua sikap yang berbeda. Ada balasan yang baik bagi mereka yang melaksanakan perintah-Nya, dan ada balasan yang berbeda bagi mereka yang ingkar pada-Nya.

Ibadah sebatas hal-hal yang diperintahkan atau dilarang oleh Allah. Di luar itu, kita tak bisa menyebutnya sebagai ibadah. Mengapa? Karena tak jelas apa balasan bagi pelakunya. Kita tahu bahwa ibadah adalah segala hal yang dicintai oleh Allah. Dan Allah pasti memberikan sinyal-sinyal mengenai perbuatan apa saja yang bisa bermakna ibadah, mengingat Allah telah menyatakan bahwa Islam adalah diin yang sempurna, seperti yang termaktub dalam al Maidah 3. Sementara itu, amal yang tidak disebutkan oleh Allah secara spesifik sebagai ibadah memiliki dua kemungkinan konsekuensi hukum. Di satu waktu, bisa jadi kita menghukuminya sebagai perkara yang mubah. Namun, di lain waktu, bisa jadi kita menghukuminya sebagai perkara bid’ah.

Sedangkan diin tidak cukup diartikan sebagai ‘agama’. Agama selama ini diasosiasikan sebagai sistem kepercayaan. Ketika kita berbicara mengenai sistem kepercayaan atau keimanan, maka contoh dari permasalahan tersebut bisa kita amati dari Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, maupun agama lainnya. Namun, tidak demikian halnya dengan Islam.
Islam memiliki berbagai aturan yang komprehensif yang mengatur kehidupan umat manusia. Islam menggariskan ibadah yang berkaitan dengan penggunaan kamar kecil hingga perbaikan dari sistem ekonomi ribawi, menuju pada sistem ekonomi islami yang diwarnai dengan prinsip-prinsip keadilan ilahiyah. Dalam penegakannya, Islam membutuhkan segenap perangkat yang begitu kompleks hingga ia tak bisa sekedar disebut sebagai sistem kepercayaan.

Seorang muslim sejati bukanlah ia yang sepanjang hidupnya berkutat dengan zikir di dalam masjid. Tidak. Di samping ibadah-ibadah ritual yang memang Allah wajibkan, penegakan hukum Allah merupakan sarana mutlak guna tercapainya tujuan hidup kita.

Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah, maka mereka itulah orang-orang yang kafir (QS al Maidah 44)

Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah, maka mereka itulah orang-orang yang zalim (QS al Maidah 45)

Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah, maka mereka itulah orang-orang yang fasiq (QS al Maidah 47)

Sudah jelas, kekafiran, kezaliman, dan kefasiqan sangat jauh dari kriteria manusia beriman yang dijanjikan surga oleh Allah. Malah, ketiga sifat tersebut telah nyata jaminannya dengan neraka.

Peliharalah dirimu dari neraka, yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang yang kafir (QS al Baqarah 24)

Allah menghendaki hukum-hukum Islam tegak di muka bumi. Bagaimana tidak? Pengingkaran terhadap kewajiban berhukum dengan hukum tersebut akan membawa konsekuensi buruk bagi kita. Neraka. Ya, neraka. Jauh sekali jarak kita dari harumnya aroma surga ketika kita lebih memilih hukum-hukum yang tidak ditegakkan dengan dasar yang haq, yaitu hukum Allah, dibandingkan dengan Islam, yang menawarkan keselamatan dunia dan akhirat.
Tuntutan inilah yang tidak kita jumpai dalam syariat agama lain. Inilah yang membuat Islam berbeda dengan agama lain. Cakupan Islam lebih luas. Tak sekedar manajemen qalbu yang sekedar menjadi penyejuk hati, atau wisata hati, ketika ia sedang gundah. Bukan. Memang, dalam beberapa hal, bisa bermakna seperti itu. Namun, sekali lagi, Islam memiliki cakupan yang lebih luas.

Cakupan itulah yang kemudian disebut sebagai diin. Dalam bahasa Arab, diin bermakna ideologi, jalan atau cara hidup, tata aturan, undang-undang dan sebagainya. Maka, perwujudan dari penegakan diin adalah pelaksanaan segala undang-undang buatan Allah, bukan buatan manusia. Dan segala undang-undang buatan Allah itu, seluruhya, telah tercantum dalam al Quran dan as Sunnah. Tak lebih dan tak kurang.

Mengapa harus pelaksanaan hukum-hukum Allah yang jadi fokus dalam tulisan ini? Kita lihat, begitu banyak perintah dalam al Quran yang tak mampu kita lakukan tanpa ditegakkannya hukum-hukum Allah dalam bentuk formal. Amar ma’ruf nahi munkar, misalnya. Kata ‘amar’ bermakna perintah. Dan perintah memiliki konsekuensi yang memaksa. Bukanlah perintah namanya kalau tidak disertai dengan paksaan, atau ancaman ketika kita mengabaikan perintah tersebut. Hal itu hanya cocok dinamai sebagai anjuran saja, bukan perintah.

Nah sekarang, silakan masuki alam imajinasi antum. Bayangkan ketika antum mencoba menutup tempat-tempat maksiat, sedangkan tempat tersebut memiliki ijin usaha dari pemerintah setempat. Tentu, saya yakin, antum tak akan sanggup melaksanakan hal tersebut. Mengapa? Karena aturan Allah tak ditegakkan secara formal. Sehingga, kita tak memiliki dasar hukum yang mengikat dalam tata urutan perundang-undangan yang mampu mengakomodasi niatan kita tersebut, sekalipun niat tersebut mulia.

Kita lihat, dalam cakupan masalah yang sederhana, kita sudah tak mampu melaksanakan salah satu pokok keimanan dalam kehidupan kita. Ketika pokok keimanan tidak terpenuhi, tentu kita tak dapat menyandang sifat-sifat keimanan tersebut. Mengingat surga hanya diperuntukkan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman, sungguh merugi mereka yang menetapkan diinnya di luar diinul Islam.

Baik. Kita beranjak pada istilah lainnya. Yang kelima, thaghut.

Thaghut adalah tiap tokoh, pimpinan, atau penguasa yang melanggar ketentuan yang telah digariskan oleh Allah sehingga mereka mengambil alih sifat-sifat ketuhanan Allah dengan tidak mengindahkan norma-norma alamiah dan insaniyah. Begitu Abul A’la al Maududi menjelaskan pada kita melalui tarian penanya yang tetap abadi hingga saat ini.

Barangsiapa yang ingkar pada thaghut dan beriman pada Allah, maka sesungguhnya ia berpegang pada tali yang kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS al Baqarah 256)

Menanggapi ayat ini, Sayyid Quthb dalam Fi Zhilalil Quran mengatakan bahwa thaghut adalah segala sesuatu yang melampaui kesadaran, melanggar kebenaran, dan melampaui batas yang telah ditetapkan Allah bagi hamba-hamba-Nya, tidak berpedoman pada aqidah Allah, tidak berpedoman pada syariat Allah. Dan, yang termasuk dalam kategori thaghut adalah setiap manhaj, atau tatanan, atau sistem yang tidak berpijak pada peraturan Allah. Oleh karena itu, lanjut beliau, barangsiapa yang mengingkari semua ini dalam segala bentuk dan modelnya, dan beriman kepada Allah dan berpijak pada peraturan Allah saja, niscaya ia akan selamat, seperti yang tergambar dalam ayat tersebut, ia bagai berpegang pada tali yang amat kuat, yang tidak akan terputus.

Senada dengan Sayyid Quthb, Ibnu Katsir pun menggoreskan pengertian yang nyaris sama dalam Tafsir al Quran al Azhim. Beliau berkata bahwa istilah thaghut itu mencakup segala kejahatan yang dilakukan kaum jahiliyah, seperti menyembah, berhakim, dan meminta tolong kepada selain Allah.

Hanya saja, Ibnu Katsir memberikan satu catatan menarik pada kita. Dalam catatan itu, Ibnu Katsir berkata bahwa kekafiran kepada thaghut itu harus didahulukan daripada keimanan kepada Allah. Perbutan itu mengandung isyarat yang halus bahwa yang pertama kali yang harus dilakukan adalah membersihkan hati, dan membuang kepercayaan kepada thaghut. Setelah itu, barulah kita isi dengan keimanan yang sebenar-benarnya kepada Allah. Makna ini pun nyaris seragam dengan pemaknaan nafyu dan itsbat dalam pernyataan syahadat kita.

Nah, tentunya, lima istilah ini akan berpengaruh pada konsep peribadatan kita nantinya. Kenapa? Karena lima istilah ini memegang peranan penting terhadap betapa pentingnya kita mentaati Allah yang terwujud dalam pelaksanaan syariat-syariat-Nya. Islam tak bisa dimaknai sebagai sekedar agama. Tapi ia pun juga mencakup sebuah sistem kehidupan yang integral dan menyeluruh, sehingga terciptalah sebuah tatanan madani yang berujung pada keridhoan Allah.

-RSP-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: