Jujurlah pada Mimpimu!

Sesaat setelah dilantik sebagai pemimpin Hamas menggantikan Syaikh Ahmad Ismail Yassin, dr. Abdul Aziz al Rantisi berbicara di depan para wartawan dengan suara membara. Untaian kata yang menyuarakan kesiapannya menghadapi resiko terberat dari pilihannya menjadi pemimpin Hamas; kematian.

“Semua di antara kita menunggu akhir kehidupannya. Tak ada bedanya apakah dengan berhentinya detak jantung, atau dengan Apache. Saya lebih suka memilih Apache.”

Berselang beberapa bulan, pagi itu, 17 April 2004, sejarah kemudian mengenangnya sebagai salah satu pahlawan Islam saat beliau meninggal karena serbuan rudal Apache milik tentara Zionis, tak kurang dari ucapannya di hadapan jurnalis saat itu.

Dari sini, saya kemudian teringat sebuah kisah di masa Rasulullah saw yang terekam dalam goresan pena Imam Bukhari. Saat sebuah perang usai, Rasulullah memberikan bagian dari harta rampasan perang dan memberikan pernyataan yang sangat mengejutkan saya.
“Demi Allah! Bukan untuk ini (rampasan perang) saya berperang bersamamu. Saya berperang agar saya terkena anak panah di sini, lalu saya mendapati janji surga-Nya!” katanya sambil menunjuk lehernya. Setelah sahabat ini beranjak pergi, Rasulullah saw bersabda, “Jika dia jujur pada Allah, Allah akan memenuhi kata-katanya.”

Dan benar saja. Saat perang berikutnya usai, sahabat ini ditemukan syahid dengan luka panah tepat di tempat yang ia tunjuk dahulu. Sama persis dengan apa yang telah dikatakannya pada Rasulullah.

***

Dari dua kisah ini setidaknya kita belajar satu hal. Bahwa ketika kita jujur pada Allah atas cita-cita kita, maka Allah akan menggenapkannya pada kita. Tak kurang sedikit pun. Ketika kita telah mengikrarkan arah hidup dan perjuangan kita semata kepada-Nya, dan kita jujur, tanpa ada tendensi lain dalam mengikrarkannya, maka insya Allah, Dia akan mewujudkannya pada kita.

Saat ini, ada satu, dua, atau tiga mimpi besar kita yang ingin kita gapai. Barangkali langkah pertama yang perlu kita lakukan adalah meluruskan niat kita semata hanya pada Allah. Seluruh niatan kita dalam perwujudan cita-cita itu kita selaraskan dengan apa yang telah Allah gariskan. Jangan sampai ada rambu-rambu dalam al Quran dan as Sunnah yang terlanggar dalam mimpi kita itu. Misal, dalam merencanakan kehidupan, harusnya ada pertimbangan-pertimbangan Qurani yang dominan dalam hati kita. Hal serupa dapat kita terapkan dalam memilih bidang yang akan kita tekuni, dalam memilih profesi yang kita jalani, dan memilih pasangan hidup kita.

Langkah kedua adalah jujur dalam ucapan dan tindakan kita. Ketika kita telah menetapkan cita-cita yang sesuai dengan garis-garis batas yang telah Allah jelaskan dalam al Quran maupun as Sunnah, maka mohonlah pada Allah. Berdoalah dengan kata-kata yang jujur, yang benar-benar berasal dari hati kita. Tak ditambah untuk menyenangkan Allah, dan tak dikurangi untuk menyembunyikan keburukan niatan kita. Ketahuilah, Allah mengetahui apa yang tersembunyi dalam hati kita.

Bukankah sudah Ku katakan kepadamu bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi, dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan? (QS al Baqarah 33)

Saat kita mengikhlaskan mimpi itu pada Allah, kita jujur pada Allah, dan meluruskan niat semata karena Allah, maka insya Allah, Dia akan menggenapkan bagi kita. Tidak kurang. Barangkali tidak hari ini. Tapi Allah akan mewujudkannya esok, pekan depan, bulan depan, atau tahun depan. Itu semua hanya masalah waktu. Satu hal yang pasti. Allah sekali-kali tidak akan mengingkari janji-Nya.

Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji (QS Ali Imron 9)

-RSP-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: