Butterfly Effect

Efek kupu-kupu. Istilah ini, menurut situs Wikipedia, diperuntukkan bagi sebuah fenomena dalam teori Chaos. Istilah ini, dalam sebuah film yang berjudul sama dengan judul tulisan ini, merujuk pada sebuah pemikiran bahwa kepakan sayap kupu-kupu di hutan belantara Brazil dapat menghasilkan tornado di Texas beberapa bulan kemudian.

Kosakata ini bermula ketika seorang ahli matematika dan meteorologi dari Massachussets Institute of Technology, Edward Norton Lorenz, berupaya menyelesaikan tugasnya di bidang penelitian meteorologi. Dalam usahanya melakukan peramalan cuaca, dia menyelesaikan 12 persamaan diferensial nonlinear dengan komputer. Awalnya, dia mencetak hasil perhitungannya di atas sehelai kertas dengan format enam angka di belakang koma. Untuk mengefisienkan pekerjaannya, dia lantas menjadikan penghitungannya dengan format tiga angka di belakang koma.

Dengan sistem penghitungan yang sama, tetapi disertai perbedaan format penghitungan yang berbeda, dia menemukan hasil penghitungan yang sama sekali berbeda. Padahal, pembulatan itu dilakukan dengan ketelitian tak lebih dari 0,01 poin. Kurva yang terbentuk, yang pada awalnya berimpitan, sama seperti hasil penghitungan awal, ternyata akhirnya sedikit demi sedikit bergeser hingga membentuk sebuah pola yang menyerupai kupu-kupu. Jadilah Edward Lorenz menyebut fenomena ini dengan nama ‘butterfly effect’.

Dari fenomena ini kita belajar untuk menghargai setiap permasalahan. Betapa pun kecilnya, setiap permasalahan yang menyangkut prinsip-prinsip kehidupan kita harusnya mendapat perhatian. Dari butterfly effect, kita tahu bahwa setiap prinsip yang kita korbankan, sekecil apa pun itu, pasti akan berpengaruh pada kehidupan kita di masa yang akan datang.

Tapi, mohon diingat, menghargai permasalahan bukan berarti membesar-besarkan masalah. Perhatianlah yang harus kita berikan di sini. Perhatian terhadap masalah berarti kita menempatkan masalah tersebut dalam proporsi yang tepat. Tidak lebih dan tidak kurang. Sedang membesar-besarkan masalah kecil barangkali bisa dimaknai sebagai percekcokan kita, dengan siapa pun, termasuk dengan diri kita sendiri, tentang masalah yang bukan merupakan hal penting, bukan merupakan hal pokok dalam hidup kita. Dari definisi ini, kiranya kita sudah mampu membedakan dengan jelas antara keduanya.

Penghargaan kita terhadap masalah bisa tercermin dalam tindakan kita. Sebaliknya, pandangan sebelah mata kita terhadap masalah akan memberikan sinyal diam. Diamnya kita juga bisa memiliki dampak bagi saudara kita, di tempat yang teramat jauh sekali pun. Kita mulai dari contoh yang kecil-kecil terlebih dahulu. Membuang sampah dan limbah beracun di sungai, misalnya. Barangkali ini contoh yang sering diungkapkan pada anak-anak usia balita. Tapi tak apa. Kita cukup mengambil pelajaran darinya. Seberapa sering kita membiarkan hal-hal kecil itu terjadi? Dan seberapa parah dampak yang ditimbulkannya? Pertanyaan ini tak berhak untuk saya jawab. Yang berhak adalah pembaca sekalian.

Lantas apa kaitannya dengan butterfly effect? Di sinilah peranan kita. Ketika kita membiarkan sebuah keburukan terjadi, ada dampak yang ditimbulkan dari tindakan itu yang barangkali tidak kita rasakan. Banjir misalnya. Mungkin kita hidup di wilayah yang ketinggiannya cukup untuk menyelamatkan kita dari banjir tersebut. Namun, efek dari ke-diam-an kita itu tentu dirasakan oleh saudara kita yang tidak cukup beruntung; mereka yang tinggal di tepi sungai.

Lebih jauh, sebagai tokoh masyarakat, atau sebagai teladan bagi orang-orang di sekitar kita, efek itu tentu lebih besar. Satu kesalahan dalam kepakan sayap kita mampu menghasilkan badai di hati saudara kita. Satu kesalahan dalam lisan dan tindakan kita bisa jadi mampu mengubah sudut pandang orang lain terhadap subjek-subjek tertentu.

Kenapa bisa begitu? Karena sebagai insan yang memiliki pengaruh terhadap orang-orang di sekitar kita, segala tindakan dan ucapan mereka yang memiliki pengaruh itu tentu mendapat perhatian lebih. Reaksinya pun bisa jadi berlebih pula.

Namun, ketika kita tidak berstatus sebagai tokoh, panutan, atau pihak yang memiliki pengaruh di masyarakat, bukan berarti efek tersebut akan menghilang begitu saja. Siapa pun kita, sekecil apa pun kita memandang diri kita, setiap ucapan, tindakan, dan sikap kita selalu memiliki dampak bagi orang lain. Mungkin kita tak sadar. Atau mungkin kita menganggap rendah diri kita di mata masyarakat. Tapi, bukankah penilaian itu subyektif? Ada faktor-faktor lain yang saat ini tidak kita ketahui, yang mempengaruhi penilaian masyarakat terhadap ucapan, tindakan, dan sikap kita itu.

Pelajaran ini sekaligus memberikan penyadaran bagi saya untuk menuliskan hal-hal yang positif, yang mampu memberikan manfaat bagi kita dalam setiap tulisan saya. Termasuk, dalam memberikan perhatian di setiap kata yang saya tuliskan dalam blog ini. Karena kata-kata seringkali saya anggap sepele. Seringkali kita bahkan mengutip Shakespeare untuk untuk mencari pembenaran terhadap ucapan-ucapan kita.

“What is in a name?” Inilah kata yang sering muncul ketika kita menyadari kesalahan kita, tetapi enggan untuk mengakuinya.

Terlepas dari itu semua, sekali lagi saya katakan. Edward Lorenz telah memberikan pelajaran berharga bagi kita. Bahwa akan selalu ada konsekuensi, besar atau kecil, atas segala tindakan kita. Bahwa akan selalu ada pertanggungjawaban atas perilaku kita. Interaksi kita, bahkan diamnya kita, pada siapa pun itu rupanya akan memberikan perubahan pada kondisi saudara kita di belahan lain dari bumi ini, mempengaruhi sikap masyarakat atas pribadi kita, atau mengaburkan makna pada hal-hal yang ingin kita ungkapkan.

-RSP-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: