Apa yang Salah dengan Jenggot Kami?

“Jika ada orang asing memakai sorban dan jubah serta berjenggot, laporkan saja ke pihak keamanan. Masyarakat harus lebih peka terhadap hal-hal seperti itu.”

Satu lagi statement yang begitu menyudutkan dunia Islam dilontarkan Mayjend Haryadhi Soetanto, Pangdam IV Diponegoro. Semua orang tahu bahwa jubah serta jenggot adalah beberapa di antara deretan identitas seorang muslim. Saya yakin, kita juga sama-sama tahu bahwa bukanlah hal yang salah bila kita berupaya memperkenalkan diri kita sebagai muslim, tak hanya dalam lisan, tapi juga dalam penampilan serta keseharian kita.

Membaca komentar ini, saya teringat dengan opini yang dilontarkan Dr. Adian Husaini, seperti yang termuat dalam situs swaramuslim, lima tahun lalu. Penjelasannya dimulai dengan paparan Samuel Huntington dalam The Clash of Civilization and The Remaking New World Order. Huntington memberi ‘nasihat’ pada para pembacanya untuk menempatkan dunia Islam sebagai potensi ancaman dan teror bagi masyarakat dunia. Ia menuliskan preemptive strike (serangan dini) dan defensive intervention (intervensi defensif) sebagai langkah menumpas ancaman serius bagi Dunia Barat, khususnya AS.

Tentu, preemptive strike maupun defensive intervention ini akan sepenuhnya diarahkan pada kaum muslimin. Mengingat, seluruh serangan dini maupun intervensi defensif yang dipraktekkan Barat dan mereka yang bersekutu dengannya memang diarahkan pada kaum muslimin.

Buktinya? Sudah jelas. Pernyataan Haryadhi Soetanto yang saya kutip di atas menjadi salah satu bukti yang sejatinya mirip dengan fenomena gunung es. Masyarakat disarankan untuk mengarahkan telunjuknya pada mereka yang konsisten pada al Quran dan as Sunnah. Hasilnya? Kita bicara fakta. Selang dua hari setelah peristiwa bom di JW Marriott dan Ritz Carlton, tiba-tiba polisi datang dan menyidik anggota Jamaah Tabligh di sekitar BSD Tangerang yang sedang mengoordinasi kegiatan da’wah mereka dan mendiskusikan perkembangan Islam di berbagai daerah.

Taufan Haji, seorang yang berjenggot, rajin shalat, dan berperangai santun, dilaporkan warga sebagai sosok yang mencurigakan ketika keluar untuk shalat hanya karena wajahnya mirip dengan Noordin M Top. Belum cukup, di Bekasi, para wanita bercadar dirazia polisi, disingkap cadarnya, dan dilihat identitasnya.

Saya yakin ada begitu banyak bukti di lapangan yang tak terbantahkan. Dari obrolan warung kopi, misalnya, kita sering mendengar cemoohan masyarakat bagi mereka yang aktif dalam mencari ilmu mengenai Islam, yang disertai pujian bagi mereka yang sukses tampil di panggung penuh maksiat di hadapan warga sekampung. Dari muamalah kita di lapangan, kita berkali-kali mendapatkan pandangan menghina dan ucapan bernada khawatir hanya karena jenggot tumbuh di dagu kita.

Saat ini, kita dipaksa untuk membenci simbol-simbol Islam. Kita digiring untuk memberikan stigma negatif pada mereka yang tidak mengabaikan sunnah-sunnah Rasulullah saw. Tidak hanya masyarakat awam, mereka yang berstatus sebagai tokoh Islam pun kini ikut dalam arus tuduhan stigmatisasi Islam. Saat ini, kita saksikan banyak ‘tokoh Islam’ yang mulai menghindari sunnah-sunnah Rasulullah saw tersebut. Jarang kita dapati mereka memelihara jenggot mereka. Jarang di antara mereka yang menghindari isbal. Jarang di antara mereka yang nyaman dengan status keislaman mereka.

Saat ini, kita sedang diberi ‘pelajaran’ dari media-media kafir untuk segera menggeledah pria berjenggot, mengintip cadar muslimah yang taat, atau membenci pria berjubah dan bersorban. Kita dipaksa untuk memberikan stigma negatif melalui obrolan santai kita, melalui media dengan hard and soft news mereka, dan melalui materi keislaman yang kerap kita baca.

Apa hambatan ini adalah suatu hal yang luar biasa? Sebenarnya tidak. Ingat usaha al Walid bin al Mughirah dalam menyatukan tuduhan terhadap Rasulullah saw menjelang musim haji? Seperti itulah kiranya pembunuhan karakter yang dilakukan oleh kaum kafirin saat ini. Nyaris tak ada bedanya. Dulu, kaum Quraisy dengan kekuatan birokrasinya hendak membentuk sebuah opini publik yang seragam di kalangan jamaah haji. Sekarang, kaum kafir, yang dipelopori kekuatan media Zionis, berusaha membentuk sebuah stigma negative bagi mereka yang memegang teguh sunnah-sunnah Rasulullah saw. Tujuannya sama. Guna menjauhkan umat Islam, terutama generasi mudanya, dari Islam, hingga suatu saat nanti kaum muslimin tak mengenal ajaran agamanya sendiri.

Apa salahnya menjaga dengan teguh sunnah-sunnah Rasulullah? Celana cingkrang, jenggot, cadar, jilbab; itu semua sebuah pilihan hidup yang tak mudah. Sebuah pertanda pengabdian seorang hamba kepada Rabb-nya. Sungguh sebuah keanehan bila tapak-tapak keimanan itu tak dicitrakan sebagai sebuah kebaikan, justru malah dikisahkan sebagai sinyal-sinyal terorisme.

Barangkali kita tak mampu mengubah opini masyarakat secara instan, supaya mereka kembali mencintai Islam. Mencintai syariat Allah dan sunnah Rasulullah saw. Atau supaya mereka bangga berkumpul di masyarakat umum dengan menunjukkan identitasnya sebagai seorang muslim. Tapi saya yakin satu pertanyaan awal harus ditujukan pada diri kita. Sudahkah kita dengan lantang mengucapkan, “isyhadu bi ana muslimun!”? Sudhakah kita dengan bangga meneriakkan, “saksikan bahwa aku seorang muslim!”?

-RSP-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: