Pelajaran dari Yusuf as

Sekali lagi, renungan malam menggugah saya. Kali ini melalui perantara surat Yusuf. Namun, kali ini saya tidak bercerita tentang kisah Nabi Yusuf dengan seorang isteri dari pembesar kerajaan Mesir. Hal yang patut jadi pembelajaran bagi kita hari ini adalah fakta tentang jabatan nabi Allah yang mulia tersebut di kerajaan Mesir itu.

Beberapa di antara saudara kita berpendapat bahwa ada kemungkinan untuk masuk ke dalam struktur pemerintahan dalam memperjuangkan agama Allah ini melalui sebuah jalan yang biasa disebut demokrasi. Nah, salah satu hujjah dari beberapa saudara kita itu adalah berdasarkan kisah dari nabi Allah yang mulia ini. Dari kisah seorang manusia yang begitu takut pada Rabb-nya ini. Kisah apa yang sering dijadikan landasan hukum? Tepatnya, kisah Nabi Yusuf ketika beliau meminta jabatan kepada sang raja seperti tersebut di ayat berikut.

Yusuf berkata, “Jadikan aku bendahara dari negara. Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan. (QS Yusuf 55)

Apa rahasia di balik itu semua? Tak semua yang tampak bagi kita akan begitu adanya. Kadang, mata menipu pemiliknya. Yah, sebenarnya bukan mata yang menipu. Tapi sang pemilik mata lah yang salah menginterpretasikan apa yang ia saksikan.

Ayat tersebut tidak lantas menjadikan kita berhak untuk turut turun memperjuangkan Islam dengan sarana pemerintahan. Mengapa? Pertama, karena parlemen maupun lembaga eksekutif dari mayoritas negara sepanjang sejarah dunia ini tidak berasaskan Islam. Sedang asas Islam merupakan salah satu perwujudan dari keimanan. Karena din bukan hanya berarti ‘agama’ seperti yang kita pahami selama ini. Karena din juga berarti sistem hidup yang mencakup seluruh tata nilai dan perundang-undangan dalam hidup kita, termasuk dalam mengundang-undangkan hukum Allah di sana.

Kita saksikan Allah berkata,

Barangsiapa yang mencari din selain dinul Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima (din itu) darinya, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang merugi. (QS Ali Imron 85)

Saya kira saya tak perlu lagi berpanjang lebar menjelaskan pengertian din karena seluruh pengertian tersebut insya Allah telah cukup saya tuliskan dalam artikel-artikel sebelumnya.

Ah, tentu saja kita tak dapat mengatakan Yusuf, nabi Allah yang mulia ini menerapkan sistem jahil, melaksanakan hukum thaghut dalam jabatannya. Mengapa? Sederhana saja. Beranikah kita yang dhaif ini menuduh seorang nabi Allah yang amat istimewa hingga namanya tertulis dalam salah satu nama surat dalam al Quran ini sebagai orang yang menegakkan sistem lain, din lain, di luar din yang lurus ini? Sementara Allah berkata bahwa mereka yang menegakkan din di luar Islam adalah mereka yang merugi di akhiratnya. Ditambah lagi sebuah pernyataan singkat namun jelas yang dilontarkan Yusuf alaihissalaam ini.

Sesungguhnya aku telah meninggalkan millah orang-orang yang tidak beriman pada Allah, sedang mereka ingkar pada hari kemudian. Dan aku mengikuti millah bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub. Tidaklah patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu selain Allah (QS Yusuf 37-38)

Kedua, partisipasi kita dalam struktur kekuasaan legislatif membuat kita mengambil wewenang tasyri’ (membuat hukum) yang sejatinya hanyalah milik Allah semata.

Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan, maka mereka itulah orang-orang yang kafir (QS al Maidah 44)

Kita tahu bahwa hukum itu hanyalah milik Allah.

Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. (QS al An’am 57)

Maka, pengambilalihan wewenang tersebut juga berarti penyekutuan Allah terhadap sesuatu. Masih ingat kisah Adi bin Hatim ra ketika ia menggunakan kalung salib di hadapan Nabi saw? Nabi saw serta merta mengatakan kaum Nashrani sebagai kaum yang menyembah rahib dan orang alim di antara mereka karena rahib dan orang alim itu membuat hukum baru selain hukum Allah. Karena para rahib dan orang alim tersebut menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah. Ditambah lagi, umatnya membenarkan segala tindak-tanduk para rahib tersebut. Jadilah mereka terjebak dalam kesyirikan.

Sepertinya kembali kita harus merenung. Apakah kita mulai begitu berani mendongakkan kepala kita pada Allah hingga kita menyejajarkan diri dengan-Nya dalam pembuatan hukum yang mengatur kehidupan manusia? Undang-undang siapakah yang kita terapkan dalam penyusunan teks hukum dalam parlemen? Hukum Allah ataukah dustuur thaghut? Siapakah yang kita beri wala’ dan baro’ kita? Apakah kita tetap loyal pada Allah dengan segala konsekuensinya, ataukah kita berlepas diri dari Allah dan segenap firman-Nya? Lagipula, bukankah Nabi Yusuf as menjabat sebagai menteri yang merupakan jabatan eksekutif, bukan sebagai anggota parlemen yang merupakan lembaga penyusun undang-undang?

Dari sini, kita masuk ke pertanyaan ketiga. Apakah lantas masuk ke jabatan eksekutif diperkenankan jika menilik sejarah Nabi Yusuf tersebut? Bebeberapa ayat dari surat Yusuf berikut ini sepertinya menjawab pertanyaan kita.

Tidaklah patut bagi Yusuf menghukum saudaranya menurut din (undang-undang/aturan) raja (QS Yusuf 76)

Posisi eksekutif adalah posisi pelaksana dari produk hukum yang dihasilkan anggota parlemen. Di negara yang menganut sistem Trias Politica karya Montesqieu, tiga posisi tersebut, legislatif, yudikatif, dan eksekutif, saling berkaitan satu dengan lainnya. Dalam hal ini, eksekutif merupakan pelaksana hukum dari apa yang menjadi keputusan orang-orang yang memiliki kekuasaan legislatif.

Apa ini yang kita inginkan sebagai muslim? Sepertinya tidak.

Hukum itu hanyalah milik Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah din yang lurus. (QS Yusuf 40)

Mengenai QS Yusuf 40, Sayyid Quthb, dalam Fi Zhilalil Quran, menjelaskan bahwa ada gambaran ketundukan dan ketaatan dari seorang Yusuf as hingga ia hanya menujukan segenap ketundukannya kepada Allah semata. Maka, telah jelas pulalah kekuasaan Yusuf ketika berkuasa atas kendali semua urusan di negeri Mesir. Mengingat sebuah ayat berikut.

Maka ketika raja telah berbicara dengannya, dia berkata, “Sesungguhnya kamu hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya oleh kami. (QS Yusuf 54)

Sang raja memberikan kedudukannya kepada nabi Allah ini tanpa mengurangi dan mengusik sedikit pun tentang jabatannya.

Dan demikianlah kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri itu. (Dia berkuasa) menuju ke mana saja ia kehendaki di bumi ini. (QS Yusuf 56)

Dua ayat tersebut mencerminkan totalitas sang raja dalam menyerahkan tampuk kekuasaannya. Ia tak lagi mencampuri urusan Nabi Yusuf dalam memerintah. Apa artinya? Artinya, sang raja pun telah tunduk pada Islam dengan menyerahkan kekuasaannya kepada Nabi Yusuf sebagai utusan Allah.

Pendapat ini pun diperkuat oleh pernyataan Mujahid, seorang tabiin murid dari Abdullah bin Abbas ra, mengenai hal ini. Beliau, seperti yang dikutip dalam Tafsir al Quran al Azhim karya Ibnu Katsir, mengatakan bahwa sang raja telah tunduk, telah masuk Islam, dengan adanya pernyataan tersebut. Maka, secara otomatis, negara tersebut telah berubah menjadi negara Islam yang menjadikan hukum Allah sebagai undang-undangnya.

Kondisi berbeda terjadi di mayoritas negara di dunia saat ini. Adakah di antara mereka yang menyerahkan kekuasaannya pada Allah semata? Adakah di antara mereka yang tidak berhukum pada dustuur thaghut? Ketika syarat ini tercapai, maka sampailah kita pada kesimpulan status negara Islam. Kalau tidak? Status negara itu bisa dipastikan bukanlah negara Islam.

Maka, perjuangan kepada Islam melalui parlemen maupun bentuk pemerintahan lainnya sebenarnya tidak dipraktekkan oleh Nabi Yusuf. Saya masih belum berbicara sah atau tidaknya. Saat ini saya hanya ingin merespon pernyataan yang menyangkutpautkan nama Yusuf as dalam argument beberapa saudara kita.

Kembali ke permasalahan awal. Dalam ayat yang kita baca tadi, kita bisa sedikit mengambil isyarat bahwa beliau sekedar berda’wah pada mereka yang belum merasakan ni’mat iman dan Islam ini. Dan ternyata, sang penguasa Mesir berkenan atas da’wahnya, kemudian masuk Islam dan menyerahkan tampuk kepemimpinannya pada Nabi Yusuf.

Mengapa saya mengatakan Nabi Yusuf hanya berda’wah pada sang penguasa?

Dan raja berkata, “Bawalah Yusuf kepadaku agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat denganku.” Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengannya, dia berkata, “Sesungguhnya kamu hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya oleh kami. (QS Yusuf 54)

Apa yang diperbincangkan oleh Yusuf dan sang raja? Kita tak boleh melewatkan fakta bahwa Yusuf as adalah seorang nabi sekaligus rasul. Ia hanya diperintahkan untuk menda’wahkan tauhid. Untuk mengajak manusia kepada kebaikan, kepada penyembahan kepada Allah, dan pengingkaran pada thaghut.

Dan sungguh telah kami utus dalam setiap umat seorang rasul, bahwasanya (dia mengajak) menyembah Allah dan menjauhi thaghut. (QS an Nahl 36)

Jelaslah apa yang Yusuf as bicarakan adalah tentang millah bapak-bapaknya, tentang millah Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub. Nabi Yusuf as barangkali tidak berbicara masalah krisis pangan di negeri itu meski beliau memang pernah mena’wilkan mimpi sang raja tentang krisis pangan di daerah tersebut. Namun, mulanya raja berkenan berbincang dengan Nabi Yusuf dan mendengarkan da’wahnya bukanlah karena keterampilannya di bidang pertanian atau tafsir mimipi. Namun karena keindahan akhlaqnya terhadap isteri sang penguasa tersebut.

Lebih jauh, kembali pada awal kutipan surat Yusuf dalam tulisan ini, kita menyaksikan perkataan lantang Nabi Yusuf tentang pendiriannya.

Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, sedangkan mereka ingkar kepada hari kemudian. Dan aku mengikuti agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub. Tidaklah patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. (QS Yusuf 37-38)

Ditambah lagi dengan firman Allah berikut.

Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa ? Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya menyembah nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu. Keputusan (hukum) itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengerti. (QS Yusuf 39-40).

Maka, ada baiknya kita cermati komentar Sayyid Quthb mengenai hal ini. Dalam mengomentari pencalonan diri dalam suatu jabatan, Sayyid Quthb menjelaskan dengan amat jelas.

“Sesungguhnya Yusuf tidak lantas bersujud dengan penuh terima kasih sebagaimana dilakukan oleh orang-orang pinggiran yang menjilat pada thaghut. Dia tidak lantas memuji raja dengan berkata, ‘Semoga selamat sentosa wahai tuanku Maharaja. Aku seorang abdimu yang patuh dan tunduk. Aku seorang pelayanmu yang terpercaya’.”

Shadaqta, ya syaikh… Nabi Yusuf memang tidak pernah mengemis jabatan. Beliau tidak pernah meminta kekuasaan pada mereka yang tak mau mengenal Islam sama sekali, pada mereka yang enggan berkomitmen pada Islam. Nabi Yusuf meminta jabatan tepat saat sang raja telah menyatakan komitmennya pada Nabi Yusuf dan saat sang raja telah bersaksi bahwa hukum Allah lah yang harus ditegakkan di bumi Mesir tersebut.

Kita menjumpai fakta yang barangkali tak dapat dibantah lagi dalam kondisi real saat ini. Di mana, setiap partai yang akan maju mencalonkan dirinya dalam kekuasaan legislatif maupun eksekutif haruslah memiliki loyalitas pada dustuur negeri yang bersangkutan. Di mana pun itu. Mau tak mau, mereka harus berbicara kepada media. Dan pembicaraan itu haruslah dihiasi dengan kata-kata yang menyenangkan hati penguasa ataupun sistem yang dianutnya.

Harus kita akui, kita sulit keluar dari tradisi politik tersebut. Dalam sistem politik kontemporer dunia, media menjadi salah satu pilar tegaknya demokrasi. Artinya, mau tak mau, kita harus membuat pernyataan politis melalui media tersebut. Berkaitan dengan hal ini, mereka yang hendak berkecimpung di dunia politik praktis bernama demokrasi ini harus membuat pernyataan terbuka bahwa sistem yang dianut di negara tempat kita tinggal adalah sistem terbaik, bahwa sistem tersebut sudah final, bahwa tak ada sedikit pun niat untuk melakukan islamisasi.

Saudaraku, inilah yang tak dilakukan oleh Nabi Yusuf…

Terakhir, dahulu Rasulullah saw pernah berkata pada sahabatnya.

Sungguh akan datang kepada kalian para penguasa yang tidak baik, mereka mendekatkan orang-orang yang paling jahat dan mengakhirkan shalat dari waktu-waktunya, maka siapa saja yang mendapatkan keadaan itu, janganlah dia menjadi pejabat, janganlah menjadi aparat keamanan, janganlah menjadi petugas pengambil harta, dan janganlah menjadi penyimpan perbendarahaan. (HR Bukhari)

Dalam hadis tersebut, Rasulullah menggunakan kata ‘zhalim’ terhadap para penguasa yang tidak baik tersebut. Kita tahu bahwa kezhaliman tidak sampai mengenluarkan diri kita dari keislaman. Nah, logikanya, ketika Rasulullah melarang kita untuk menjadi staf dari penguasa zhalim, apa yang harus kita lakukan terhadap penguasa kafir?

-RSP-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: