Intifadha, Sebuah Perlawanan

9 Desember 1987. Dunia mengenangnya sebagai hari pertama meletusnya perlawanan kaum muslimin melawan tentara teroris di Palestina. Intifadha pertama ini didukung oleh ribuan mujahidin dari penjuru dunia. Seluruh elemen kekuatan di Palestina pun bergabung dalam satu barisan. Militer, ulama, intelektual, tua, muda, semua bergabung jadi satu dalam pertempuran terdahsyat Palestina sejak proklamasi negara Israel tahun 1948. Tujuannya satu: membebaskan al Aqsha dari cengkeraman para penjajah yang teramat sering mendustakan ayat-ayat-Nya.

Sehari sebelum pecahnya Intifadha pertama, sebuah truk militer Israel masuk ke wilayah pengungsi Palestina di Jabaliya, Gaza. Seperti semua hal yang berkaitan dengan nama Israel, tujuan masuknya truk ini pun amat jelas. Empat warga sipil terbunuh. Tak kalah dahsyatnya, bersamaan dengan peristiwa itu, Yahudi pun bersikeras merebut dan menodai kesucian Masjid al Aqsha dan Jerusalem Timur.

Karena pelecehan terhadap al Aqsha, pagi yang dingin itu kemudian bergemuruh oleh teriakan takbir dari para mujahidin. Sebuah perlawanan yang sebenarnya tak masuk akal, mengingat mayoritas pemuda dan anak-anak Palestina turun ke jalan hanya bermodalkan batu di tangan, sementara satuan militer teroris itu datang dengan persenjataan lengkap. Tak cukup sampai di situ, puluhan dokter dan perawat di RS asy Syifa’ pun turut menjadi korban keganasan para teroris hanya karena mereka menolong dan merawat korban luka pada peperangan tersebut.

19 Januari 1988, Menhan Rabin mengumumkan kebijakan ‘Tulang-Tulang Patah’ yang dalam waktu tiga hari, diikuti oleh berdatangannya 197 warga Palestina di beberapa rumah sakit karena fraktura parah. Total, hingga akhir 1993, serdadu teroris itu berhasil membunuh 1.283 rakyat Palestina, melukai 130.472 orang lainnya, dan mengempaskan puluhan ribu orator, ulama, jundi, dan intelektual ke dalam penyiksaan di tahanan tanpa proses pengadilan sama sekali.

Setelah 1993, tepatnya setelah Perjanjian Oslo antara PLO dengan pemerintah Israel, apakah konflik tersebut selesai? Sama sekali tidak! Perjuangan masih sangat panjang. Tapi dari sepenggal fragmen perjuangan kaum muslimin ini, ada satu hal yang patut kita jadikan pelajaran. Apa itu?

Dalam pertimbangan logika kita, masuk akalkah pihak yang hanya bersenjatakan batu, sedikit senapan, dan tak dipedulikan negara-negara tetangganya walau mereka berstatus negara muslim mampu bertahan menghadapi pasukan militer terbaik di dunia? Apakah wajar warga noncombatant yang hanya dibantu oleh pemuda belasan tahun dan anak-anak yang melempar batu ke arah tank dan senapan canggih di pihak musuh mampu bertahan? Sanggupkah?

Saudaraku, Allah memberikan jawabannya.

Sungguh Allah telah menolongmu dalam Perang Badar, padahal kamu (saat itu) adalah orang-orang yang lemah. Karena itu, bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya. (Ingatlah), ketika kamu berkata pada orang-orang mu’min, “Apakah tidak cukup bagimu bahwa Allah telah membantumu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?” (QS Ali Imron 123-124)

Idealnya, dengan persenjataan canggih dan tingkat pendidikan masyarakat yang sudah tinggi, sebuah negara dapat dengan mudah mengintervensi atau bahkan menjajah bangsa lain yang mereka kehendaki. Namun, ketika berhadapan dengan tentara-tentara Allah, semua itu akan tersia-sia. Ya. Semua akan tersia. Memang, saat ini mereka sudah merebut mayoritas tanah yang diwariskan para nabi bagi kaum yang beriman itu. Saat ini, bila ditimbang dengan ukuran duniawi, memang kaum muslimin tak mampu menampakkan tanda-tanda kemenangan yang membanggakan.

Dari segi kekuatan keilmuan dan militer, kaum muslimin masih tertinggal jauh dari kaum yang Allah anugerahkan pada mereka otak yang cemerlang. Terlebih lagi, dari segi ekonomi, kita terpaksa harus mengakui bahwa mereka memiliki kemapanan dibandingkan kaum muslimin secara keseluruhan.

Tapi ingatkah kita bahwa ukuran duniawi biasanya berbanding terbalik di hadapan Allah? Saya tak menggeneralisasi semuanya. Tapi, dari apa yang kita dapati di dunia akhir-akhir ini, kebahagiaan dunia memang tak selalu sejalan dengan kemenangan haqiqi.

Ada pertolongan Allah di sana. Ya. Pertolongan Allah yang akan mengeluarkan kita dari segala marabahaya yang senatiasa dihembuskan oleh para musuh-musuh-Nya. Maka Ia mengirimkan ribuan pasukan malaikatnya ke medan perang untuk membela kaum muslimin. Maka Ia meniupkan rasa takut pada musuh-musuh Allah, pada para pendusta dan pembunuh para nabi, dan para perusak kehormatan simbol-simbol suci kaum muslimin.

Ketika Rabbmu mewahyukan pada para malaikat, “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah orang-orang yang beriman.” Kelak akan aku jatuhkan rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka, dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka. (QS al Anfal 12)

Maka tak ada penjelasan logis dari ketahanan para mujahidin dan saudara-saudara kita yang lain di Palestina. Kiranya telah jelas sandaran mereka adalah Allah, penguasa semesta alam. Adakah di antara mereka yang berjuang demi perut mereka? Adakah di antara mereka yang berjuang demi kepuasan nafsu mereka? Tidak. Intifadha selalu meletus karena terinjak-injaknya kesucian tanah al Aqsha oleh para teroris. Intifadha selalu dikobarkan dengan penuh rasa perjuangan ketika kehormatan al Quds kembali dilecehkan, kembali dihinakan.

Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong (agama) Allah, Allah akan menolong kalian, dan akan meneguhkan kedudukan kalian. (QS Muhammad 7)

Mereka yang rela menukar harta dan darahnya demi kehormatan agama-Nya adalah penolong agama ini. Adalah para mujahid yang harusnya menempati posisi terhormat di hati kita. Bukan teroris yang senatiasa kita cemooh. Maka, pertolongan Allah datang pada mereka. Sekaligus menjadi sebuah pertanda bagi mereka yang hingga kini masih tak peduli pada perjuangan kaum muslimin di Palestina.

Saudaraku, tahukah kalian bahwa ketika kalian membaca catatan kecil ini, al Aqsha sedang berusaha untuk kembali dirobek kehormatannya, dan dicampakkan hak-haknya? Tahukah kalian bahwa Intifadha ketiga bisa saja meletus sewaktu-waktu, akhir-akhir ini. Tahukah kalian bahwa saat ini para mujahidin Palestina sekuat tenaga membendung keganasan militer teroris yang berusaha masuk dan mengklaim Jerusalem Timur sebagai wilayah dari kependudukan mereka? Tahukah kalian, di tengah keterbatasan mereka, semangat yang terpompa dari al Quran begitu meluap demi mempertahankan setiap jengkal tanah yang Allah berikan pada hamba-hamba-Nya yang beriman?

Apabila tersisa sepertiga dari malam hari Allah ‘Azza wajalla turun ke langit bumi dan berfirman, “Adakah orang yang berdo’a kepadaKu akan Kukabulkan? Adakah orang yang beristighfar kepada-Ku akan Kuampuni dosa- dosanya? Adakah orang yang mohon rezeki kepada-Ku akan Kuberinya rezeki? Adakah orang yang mohon dibebaskan dari kesulitan yang dialaminya akan Kuatasi kesulitan-kesulitannya?” Yang demikian (berlaku) sampai tiba waktu fajar (subuh). (HR. Ahmad)

Ali ra berkata, “Rasulullah Saw lewat ketika aku sedang mengucapkan do’a : “Ya Allah, rahmatilah aku”. Lalu beliau menepuk pundakku seraya berkata, “Berdoalah juga untuk umum (kaum muslimin) dan jangan khusus untuk pribadi. Sesungguhnya perbedaan antara doa untuk umum dan khusus adalah seperti bedanya langit dan bumi.” (HR. Ad-Dailami)

Perhatikan ini, saudaraku. Malam hari setelah kalian membaca catatan kecil ini, satu hari saja saya mohon pada antum untuk bangun di malam hari, dan kembali menegakkan sholat tahajjud. Di tiap rokaat, tolong sisihkan satu sujud untuk mendoakan ketabahan bagi mereka, kemenangan bagi mujahidinnya, ampunan bagi mereka yang telah mendahului kita, belai kasih sayang Allah bagi anak yang telah mengecap kehilangan sejak dini, dan tegaknya kalimat Allah di penjuru bumi ini.

Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? Dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong. (QS al Baqarah 107)

-RSP-

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: