Nek Minah..

Mungkin belum hilang dari ingatan kita sosok Nek Minah, 55, terpidana penjara empat puluh lima hari dengan masa percobaan tiga bulan atas tindakannya yang memungut biji kakao senilai dua ribu rupiah  yang tercecer di hutan. Dan belum pula hilang dari ingatan kita bagaimana pengadilan mendakwa Nek Minah, yang hadir tanpa didampingi pengacara, dengan menghukumnya karena biji-biji yang akan ia jadikan bibit itu.

Saat tertangkap basah, Nek Minah seketika menerima ceramah dari mandor perkebunan PT RSA. Ia diminta untuk mengembalikan biji kakao tersebut dan diminta untuk tak mengulangi perbuatannya lagi. Biji kakao dikembalikan, Nek Minah pergi, dan dirasanya segala masalah telah terselesaikan.

Tapi ternyata Nek Minah salah. Sebulan kemudian, ia mendapati dirinya terduduk di depan meja hijau. Di pengadilan, ia dengan jujur dan pasrah berkata, “Inggih, dibeto mawon, inyong ora ngerti, nyuwun ngapuro..” Tapi tetap saja, polisi telah membuat BAP, jaksa telah mengirimkan tuntutan, Nek Minah tanpa advokat yang memadai, dan hakim telah menjatuhkan vonisnya.

Ah, Nek Minah, yang tak mampu berbahasa Indonesia, tak mampu membaca papan peringatan larangan mengambil buah di perkebunan, terang saja tak mampu berbuat apa-apa. Begitu wajar, mengingat ia sendiri buta huruf, miskin hingga tak mampu menyewa jasa seorang pengacara, sampai tak mampu berbuat apa-apa di pengadilan.

Kembali, di pengadilan, dengan pasrah ia berkata, “…inyong ora ngerti, nyuwun ngapuro..”

***

Mengingat Nek Minah, kembali ingatan saya terbang ke belasan abad yang lalu, saat-saat di mana sebuah peradaban besar berdiri di tengah keterasingan yang semula menyelimutinya. Tsabit bin Ibrahim, nama pemuda itu, berdiri di puncak gelisahnya. Ia timang buah apel yang telah ia gigit separuhnya, bimbang karena telah mengambil yang bukan haknya.

Tadi siang, begitu laparnya Tsabit bin Ibrahim, sampai tak diperhatikannya hak milik dari apel ranum tersebut. Harusnya tak ia gigit apel ranum tersebut! Ah, nasi sudah jadi bubur. Sungguh tak mungkin mengembalikan apel tersebut jadi utuh seperti semula. Apa boleh buat, ia harus mencari pemilik apel itu dan mempertanggungjawabkan tindakannya!

Akhirnya, perjalanan panjang membawa Tsabit bin Ibrahim di rumah sang pemilik kebun.

“Tidak! Aku tidak menerima permohonan maafmu, kecuali dengan satu syarat!”

Tsabit terperangah. Ia tak menyangka sebutir apel bisa berbuntut begitu panjang.

“Apa syaratnya, Wahai Tuan?”

“Sebagai hukuman atas perbuatanmu, engkau harus menikahi putriku!”

Sejenak lega..

“Tapi, harap kau tahu, putriku adalah wanita yang buta, tuli, bisu, dan lumpuh!” lanjut sang pemilik kebun.

Seolah tubuhnya lumpuh, kehilangan keseimbangan. Ya Alloh, begitu beratkah hukuman-Mu terhadap pencuri apel yang memakannya karena lapar, dan karena ketidaksengajaan?

Bagaimanapun, hukum Alloh harus ditegakkan. Itu komitmen seorang Tsabit bin Ibrahim. Setiap pelanggaran harus mendapat ganjaran yang memenuhi rasa keadilan. Bila sang pemilik kebun hanya dapat merelakan apelnya dengan menikahi putrinya, apa boleh buat. Itulah yang harus dilakukan.

Tapi betapa terkejut Tsabit ketika mendapati isterinya kali pertama. Tak tergambar gemuruh di dadanya memandang wajah rupawan isterinya itu. Dengan mata yang sempurna, pendengaran yang baik, lisan yang memesona, dan tubuh yang lengkap. Tak kurang satu apa pun. Lho, lantas, di mana letak buta, tuli, bisu, dan lumpuhnya?

“Aku dikatakan buta karena aku tidak pernah melihat hal yang diharamkan oleh Alloh. Aku disebut bisu karena jarang aku menggunakan lisanku kecuali untuk mengingat Alloh semata. Aku dikatakan tuli karena aku tidak menggunakan telingaku untuk hal-hal yang tak diperkenankan oleh-Nya. Dan aku dikatakan lumpuh karena aku tak pernah pergi ke tempat-tempat yang menimbulkan murka Alloh,” jawab sang isteri sambil tersenyum.

***

Ah, Nek Minah.. Mengingatmu, ingin rasanya aku berkata padamu, “Maaf, Nek. Sayang sekali Anda hidup di Indonesia hari ini.” Karena tindakanmu serupa Tsabit bin Ibrahim. Karena pengakuanmu tak beda dengan Tsabit bin Ibrahim. Karena tutur katamu mengingatkanku pada Tsabit bin Ibrahim.

Tapi Nek Minah hidup di sebuah zaman di mana hukum menjadi kabur, tak pasti. Hukuman yang diterima pun bermakna denotasi, bukan kiasan seperti yang dirasakan Tsabit bin Ibrahim. Hukuman yang diterima benar-benar berwujud hukuman. Bukan ganjaran atas perlakuan jujur Nek Minah dalam hidupnya.

Sayang sekali, supremasi manusia lah yang berkuasa di muka bumi ini, bukan supremasi Alloh. Akibatnya, seperti yang Anda alami, Nek, keadilan tak jua menyapa wajah rentamu. Karena Nek Minah hidup di sebuah zaman yang begitu jauh dari penciptanya.

Lantas, apakah ketika kita benar-benar mewujudkan supremasi Alloh hal ini tak akan terjadi? Saya yakin tidak. Memang, mungkin akan terjadi penyimpangan dan berbagai keberatan dari berbagai pihak, seperti yang kita pelajari dari sejarah para pendahulu kita. Tapi tidak untuk hal sekecil ini. Karena, paling tidak, saat itu kita sudah menuju keadilan sejati milik Rabbal ‘alamin. Karena saat itu kita sudah berada di tengah-tengah manusia yang sadar akan pengawasan Rabb-nya.

Masyarakat yang mengesakan Alloh adalah masyarakat yang bernurani. Mereka menegakkan hukum Alloh, dan di sisi lain, mereka menghargai kejujuran. Sementara itu, Alloh berjanji untuk memperlihatkan setiap amal baik dan buruk kita di akhirat, tapi Alloh pun telah berkata bahwa Ia pemaaf, bahwa masih ada sembilan puluh sembilan bagian dari kasih sayang-Nya yang Ia simpan untuk hamba-Nya di akhirat. Alloh pun pernah berkata bahwa siksa-Nya sangat berat. Tapi adakah dosa yang tak diampuni selain dosa syirik?

Satu lagi. Nek Minah harusnya belajar membaca. Belajar membaca berbagai fenomena kemanusiaan di dunia ini. Mungkin ia salah memilih masa hidupnya. Masa hidup di mana pencuri biji kakao seharga dua ribu rupiah harus mengeluarkan biaya lebih dari jumlah yang ia curi untuk proses persidangannya, sementara bila nilainya mencapai angka milyar atau triliun, ia bisa bebas melenggang ke luar negeri tanpa proses ekstradisi yang mengkhawatirkan.

Tapi, ada hal penting yang harus kita catat. Amati lingkungan di sekitar kita. Apa kedekatan kita pada Alloh mulai berkurang? Apa kita sudah mulai kehilangan nilai-nilai kemanusiaan sekaligus nilai-nilai keislaman kita? Bila jawabannya tidak, bersyukurlah. Bersyukurlah karena kita telah mampu membumikan sebagian dari perintah-Nya dalam kehidupan nyata kita. Jika jawabannya ya, mari kita beristighfar, mohon ampun atas segala kelalaian kita. Atas sikap pongah kita menantang Alloh hari ini. Muhasabah, saudaraku..

-RSP-

Iklan
1 comment
  1. kasian nenek itu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: