Antara Gamelion, Lupercalia, dan Valentine

“Misi utama kita bukanlah menjadikan kaum muslimin beralih agama menjadi Kristen atau Yahudi. Tapi cukuplah dengan menjauhkan mereka dari Islam.” –Samuel Zweimer

Alkisah, di zaman Yunani kuno, dua dewa sedang dimabuk cinta. Zeus dan Hera namanya. Yap. Bagi penggemar kisah-kisah Yunani kuno, dua nama ini tentu tak asing lagi. Orang tua Hercules ini memiliki posisi tersendiri dalam mitos dewa-dewa Yunani kuno.

Dunia lebih mengenalnya dengan nama ‘Gamelion’. Istilah ini selalu mengacu pada perayaan pernikahan Zeus dan Hera yang dilakukan selama satu bulan penuh, sejak pertengahan Januari hingga Februari. Rutin dirayakan berdasarkan sistem penanggalan yang berlaku saat itu, saya memandang ini adalah sebuah bentuk apresiasi cinta dua dewa yang teramat tinggi.

***

Sejarah mendeskripsikan Lupercus sebagai lelaki gagah setengah telanjang, dan berpakaian kulit domba. Mungkin karena alasan inilah, ia juga sering digambarkan dalam wujud domba berkepala manusia. Setiap 15 Februari, Lupercus memimpin kawula muda untuk mengorbankan seekor domba sebagai persembahan. Tak lupa, mereka meminum wine, berlari sepanjang jalan, sambil membawa potongan kulit domba tersebut.

Ritual pagan Romawi kuno yang dikenal dengan nama Lupercalia ini diakhiri dengan usapan kulit domba pada para wanita. Harapannya sederhana. Supaya wanita tersebut menjadi tersucikan dari kutukan kemalangan dan kemandulan.

Dari Roma, perayaan ini kemudian menyebar ke Inggris dan Perancis. Saat itulah, Lupercalia menemukan masa keemasannya. Namun, inti acara berganti ke ‘lotre pasangan’. Tiap wanita memasukkan namanya ke kotak undian. Sekelompok pria pun mengambil nama wanita tersebut secara acak. Nama yang muncul adalah jodoh mereka sepanjang festival itu. Muda-mudi ini bebas melakukan apa pun. Apa pun, karena pada dasarnya mereka menganggap itulah jodoh yang ditetapkan oleh Dewa Lupercus bagi mereka.

***

Waktu berputar, hingga akhirnya wilayah Yunani ini berada dalam cengkraman Romawi. Dan di bawah kekuasaan Romawi inilah, Kristen menempuh masa kejayaannya. Saat Konstantin bertahta, Kristen ditetapkan sebagai agama resmi negara. Tentu, dengan bermacam konsekuensi. Bagi mereka yang memegang teguh ajaran Kristen awal semisal Arius, jelas ini adalah titik balik keruntuhan pilar-pilar keimanan mereka. Namun, bagi mereka yang terbutakan oleh kekuasaan, Konstantin misalnya, langkah-langkah asimilasi ini dipandang sebagai tindakan politik yang revolusioner. Tak jauh berbeda dengan mereka yang dibekap gelapnya sejarah.

Momen terpenting dalam masa kejayaan Kristen ini berupa asimilasi keyakinan, termasuk dalam hal berhari raya. Perpaduan antara kebudayaan pagan dengan prinsip-prinsip dasar keimanan Kristen yang dibawa Isa ‘alaihissalaam. Atas nama kestabilan dan keamanan nasional, Konstantin lebih memilih suara mayoritas dalam Konsili Nicea I pada 325 M dalam penetapan Kristen sebagai agama resmi negara Romawi saat itu. Dan atas nama da’wah demi meriahnya gereja, Paus Gelasius, yang sejatinya menganggap perayaan tersebut paganis dan amoral, menjadikan Santo Valentino sebagai pengganti tokoh Lupercus.

Kisah Valentino, sang pastur Italia, tak bisa dilepaskan dari peranan Claudius II, Raja Romawi yang memerintah Imperium Romawi pada 265-270 M. Saat itu, Claudius memberlakukan wajib militer bagi kaum lelaki di negerinya. Namun, kebijakan itu tak sepenuhnya ditaati oleh para pemuda. Sebagian di antara mereka menghindar, bersembunyi, dan minta perlindungan di kediaman Valentino.

Tak lama berselang, semua terbongkar. Tertangkap tangan dengan tuduhan makar melawan kebijakan pemerintah, Valentino akhirnya dijatuhi hukuman mati. Di saat menanti eksekusi matinya dalam jeruji besi, ia dirawat oleh seorang gadis berparas jelita. Elok menawan. Sayang, cahaya tak mampu menembus mata indahnya.

Malam hari menjelang eksekusi, Valentino menulis sepucuk surat cinta pada sang gadis. Tanpa malu-malu, ia mengaku jatuh cinta pada gadis ayu itu. Tak ketinggalan pula simbol hati ia lukiskan dalam suratnya. Toh, pikirnya, dia buta, tak mampu melihat pernyataan cinta membara Valentino.

Pagi hari, ia serahkan surat itu pada gadis yang dicintainya. Selanjutnya, menurut dongeng, terjadi sebuah keajaiban atas diri gadis itu. Pagi itu, 14 Februari 269 M, tepat saat Santo Valentino menerima hukuman matinya, mendadak cacat sang gadis lenyap. Cahaya memasuki matanya. Dan benda pertama yang dilihatnya adalah pernyataan cinta dan goresan hati yang dilukis Valentino malam harinya.

Kisahnya memang terlihat manis. Tapi, yang namanya dongeng jelas punya beragam bumbu.

Di sisi lain, fakta bahwa kisah tersebut hanya berupa dongeng dengan beragam bumbu ternyata tak menyurutkan niat Gelasius untuk menjadikan tanggal meninggalnya Valentino sebagai salah satu hari raya Kristen sedunia. Tak diragukan lagi, faktor indahnya kekuatan cinta dan pengorbanan yang dipadu dengan kemeriahan ala festival menjadi pertimbangan utama sang paus dalam mengambil keputusan penting ini.

***

Setelah menyimak untaian kisah menyejarah ini, saya yakin kita sepakat bahwa Gamelion, Lupercalia, hingga Valentine merupakan hari raya, hari besar, bagi kaum pagan, meski dalam perkembangannya, perayaan ini diadopsi oleh pihak Katolik Roma yang diwakili oleh Paus Gelasius. Menyikapinya, mungkin terselip perbedaan di antara kita. Maka, bukankah langkah terbaik adalah mengembalikannya pada al Quran dan as Sunnah?

Dan orang-orang yang tidak menyaksikan az zuur. Dan apabila mereka bertemu dengan orang yang mengerjakan perbuatan yang tak bermanfaat, maka mereka melewati saja dengan menjaga kehormatan dirinya. (QS al Furqon 72)

Ibnu Katsir, seperti tertulis dalam Tafsir al Qur’an al ‘Adzim, mendaraskan penjelasan yang cukup bermakna bagi kita. Beliau menuliskan beberapa pengertian yang dikemukakan oleh para ulama terdahulu mengenai az zuur, yang antara lain berupa syirik, penyembahan terhadap berhala, berdusta, fasiq, kafir, minum khamr, pertemuan dengan keburukan, hari raya kaum musyrik, dan kesaksian palsu.

Nah, mengingat hari raya kaum musyrik adalah salah satu pengertian dari az zuur–yang mana seluruh pengertiannya selalu bernada negatif–bukankah ini saatnya bagi kita untuk meninggalkan perbuatan tersebut? Simaklah sejenak bagian akhir dari ayat tersebut.

Dan apabila mereka bertemu dengan orang yang mengerjakan perbuatan yang tidak bermanfaat, maka mereka melewati saja dengan menjaga kehormatan dirinya. (QS al Furqon 73)

Senada dengan yang diungkapkan dalam al Furqon 73, Allah memberikan tambahan petunjuk bagi kita di ayat berikut.

Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang (Yahudi dan Nashrani) yang diberi Alkitab (Taurat dan Injil), semua ayat, mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamu pun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebagian mereka tidak akan mengikuti kiblat sebagian yang lain. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu padamu, sesungguhnya kamu termasuk golongan orang yang zholim. (QS al Baqoroh 145)

Sayyid Quthb, dalam Fi Zhilalil Qur’an mengaitkan rangkaian ayat ini dan ayat sebelumnya dengan permasalahan tasyabbuh. Apa itu tasyabbuh? Sederhananya, ulama bersepakat bahwa makna tasyabbuh adalah penyerupaan seorang muslim dengan kaum dengan selain kaum muslimin.

Lho, memang kenapa kalau kita menyerupakan diri mereka dengan kaum-kaum di luar kaum muslimin? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjawabnya dengan jelas.

Barangsiapa menyerupai sebuah kaum, maka ia menjadi bagian dari kaum tersebut. (HR Abu Dawud)

Sederhana saja. Gamelion dan Lupercalia adalah hari raya kaum pagan. Sedang Valentine adalah perayaan yang secara resmi diinstruksikan oleh Paus Gelasius–sebagai pemimpin tertinggi pihak Gereja–yang terinspirasi kemeriahan dua festival tersebut. Singkatnya, perayaan ini adalah hari raya yang jadi ciri khas dari kaum tertentu. Dan, menurut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ikut sertanya seorang muslim dalam perayaan ini, adalah tanda masuknya ia ke dalam kaum tersebut. Na’udzubillahi min dzaalik..

Saya rasa, tak perlu adanya pembahasan lebih lanjut mengenai hadis ini. Sudah teramat jelas nash yang Rasul sebutkan dalam hadis tersebut.

Yang kemudian menjadi perhatian saya adalah pidato Samuel Zweimer saat Konferensi Misi Yahudi di Yerusalem tahun 1935, seperti yang saya tuliskan di awal catatan kecil ini. Pidato ini seolah menjadi konfirmasi atas peringatan Allah dan nubuwah Rasul yang disampaikan empat belas abad yang lalu.

Orang Yahudi dan Nashrani tidak akan pernah ridho padamu sehingga kalian mengikuti millah-millah mereka. (al Baqoroh 120)

Rasul bersabda, “Kalian akan mengikuti perilaku orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, hingga bila mereka masuk ke lubang biawak pun kalian akan ikut memasukinya.” Sahabat bertanya, “Siapa ‘mereka’ yang Anda maksudkan itu, ya Rasulallah?” Beliau menjawab, “Orang-orang Yahudi dan Nashrani.” (HR Bukhori)

Terlebih, pernyataan Zweimer ini segera dikonfirmasi bab kesembilan dalam The Protocols of the Meetings of the Elders of Zion, atau yang lebih dikenal dengan nama Protocol of Zion, sebuah buku panduan bagi gerakan Zionisme Internasional.

Kita telah menyesatkan, mempesona, dan mendemoralisasi kaum muda non-Yahudi dengan cara memberikan pendidikan dalam hal prinsip dan teori yang jelas-jelas salah bagi kita, namun kita tanamkan pada benak mereka. –Protokol IX

Hal ini penting dicatat mengingat Henry Ford, seorang pengusaha produk otomotif terkenal, sampai rela menghabiskan bertahun dalam hidupnya hanya demi melakukan riset komprehensif mengenai gerakan internasional ini, seperti yang tertuang dalam buku The International Jew. Kepada New York World, 17 Februari 1921, ia meyakinkan publik bahwa,

Satu-satunya pernyataan penting saya mengenai protokol-protokol tersebut adalah bahwa protokol-protokol itu sesuai dengan apa yang terjadi. Protokol tersebut sudah berusia enam belas tahun. Dan masih sesuai dengan situasi dunia sampai saat ini. –Henry Ford

Samuel Zweimer nampaknya sadar bahwa salah satu cara merontokkan aqidah kaum muslimin adalah dengan cara mempromosikan nilai-nilai kebudayaan apa pun, meski pagan dan merusak moral, dengan cara sebaik mungkin. Ia pun sadar bahwa dengan rontoknya aqidah, berakhir pulalah riwayat keislaman seseorang tanpa perlu memaksanya mendeklarasikan dirinya sebagai Yahudi, Nashrani, atau bahkan agnostik. Mengapa? Pernyataan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadis pertama yang saya lampirkan dalam catatan ini menjadi jawaban.

Dan Samuel Zweimer tak hanya bicara. Bersama Theodore Herzl dan kawan-kawan ideologisnya, mereka bahu-membahu menjauhkan kaum muslimin dari Islam serta mempromosikan nilai-nilai Zionisme Internasional melalui berbagai organisasi bawah tanahnya.

Hadis yang dibukukan oleh Imam Abu Dawud tersebut harusnya jadi perhatian generasi muda muslim. Karena paling tidak, ada satu hikmah yang dapat kita petik tentang pentingnya identitas keislaman kita. Apa itu? Identitas menjadi pembeda, menjadi ciri khas, selain sebagai penentu keislaman seorang insan. Karena, tak dapat dipungkiri, serupanya kita pada sesuatu akan menyebabkan timbulnya kekaguman. Dan itu baru langkah awal. Yang paling parah, akan timbul rasa cinta dalam dada hingga membuncah jadi pembelaan.

Seperti kata Sayyid Quthb dalam Fi Zhilalil Qur’an,

Islam melarang bertasyabbuh, atau menyerupakan diri, dengan nonmuslim dalam penampilan maupun pakaian. Sebab, di belakang perilaku, perbuatan, dan pakaian itu terdapat rasa batin yang membedakan penampilan, manhaj, dan perilaku kelompok kaum tersebut. –Sayyid Quthb

Padahal, cinta manusia harusnya dilandasi dengan cintanya pada Rabb semesta alam. Juga, kesetiaan dan loyalitas seorang manusia sejatinya diarahkan pada penguasa semesta alam ini. Tak ketinggalan, identitas keislaman seorang muslim harusnya ditampakkan, bukan untuk riya’, dengan bersandarkan pada sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Maka, masihkah kita nyaman berada di atas jalan Yahudi atau Nashrani? Masihkah kita merasa aman mengikuti millah mereka sejengkal, sehasta, hingga  terjerumus ke dalam bahaya, terutama bahaya kekafiran? Enggankah kita untuk kembali pada millah Ibrahim yang hanif? Saudaraku, kita—masing-masing dari kita—lah yang berhak menjawab. Semoga kita mampu membuka mata dan telinga kita terhadap ayat-ayat Allah yang telah sampai pada kita.

Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Rabb mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta. (QS al Furqon 73)

-RSP-


1 comment
  1. like this za…🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: