Masuk Surga? Usaha!

Telah kita ketahui bersama bahwa kehidupan kita di dunia ini bukanlah tanpa tujuan yang jelas. Kita tahu bahwa selalu ada alasan bagi Allah, mengapa Allah menciptakan kita. Mengapa Allah menciptakan kaum yang berseteru, dan menumpahkan darah. Padahal, Allah memiliki makhluk lain yang selalu memuji-Nya, selalu bertasbih pada-Nya, selalu menyembah semata hanya pada-Nya, yaitu malaikat.

Namun, ternyata di antara alasan-alasan yang Allah rahasiakan itu, Allah memberitahukan pada kita satu hal. Hal itu adalah adanya kepastian bahwa Allah menciptakan makhluk yang disebut manusia ini dengan maksud tertentu, yaitu ibadah.

Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah pada-Ku (QS adz Dzariyat 56)

Ibadah adalah satu alasan yang Allah ungkapkan pada umat manusia, mengapa manusia diciptakan. Ibadah, menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam al Ubudiyah, disebut sebagai segala perbuatan yang kita lakukan untuk meraih ridha dari Allah, dan untuk ber-taqarrub pada-Nya. Maka, segala sesuatu yang Allah perintahkan pada umat manusia bisa disebut sebagai ibadah. Segala tindakan yang kita jauhi karena adanya larangan dari Allah, itu pun disebut ibadah. Sebaliknya, segala sesuatu yang tidak diperintahkan oleh Allah, atau malah dilarang-Nya, tidak dapat disebut sebagai ibadah.

Pertanyaan berikutnya adalah : mengapa Allah mewajibkan, atau memerintahkan kita untuk beribadah? al Quran telah menjawabnya melalui ayat di atas. Bahwa kita adalah makhluk Allah, yang Allah ciptakan dengan maksud untuk beribadah pada-Nya. Manusia adalah hamba Allah. Allah adalah pencipta segala sesuatu di alam semesta ini. Segala sesuatu di muka bumi ini adalah milik-Nya, dan berada dalam kekuasaan-Nya. Maka, Allah berhak untuk mewajibkan apa pun pada makhluk-Nya.

Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. (QS al Baqarah 284)

Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS Ali Imron 189)

Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan adalah (pengetahuan) Allah Maha Meliputi segala sesuatu. (QS an Nisaa’ 126)

Sudah sepantasnya, manusia, yang bagaikan debu di alam semesta, merasa kecil di hadapan Allah. Sudah seharusnya manusia sadar mengenai posisinya sebagai hamba. Sebagai makhluk yang tidak memiliki kekuatan sama sekali di hadapan Allah. Manusia seharusnya memahami bahwa ada dzat yang menciptakan mereka, yang kekuasaan-Nya melebihi alam semesta ini. Ketahuilah, saudaraku, manusia tidak memiliki satu pun alasan untuk melanggar perintah dari Allah, pemilik langit dan bumi ini. Maka, manusia sepantasnyalah berada dalam ketaatan pada Allah, yaitu dengan ber-Islam dengan penuh keikhlasan.

Allah telah menjanjikan surga bagi para hamba-Nya yang taat pada-Nya. Allah menjanjikan balasan yang baik bagi makhluk-Nya yang senatiasa berada dalam jalan keimanan. Sebaliknya, Allah mengancam dengan siksa yang teramat pedih bagi mereka yang mengingkari kekuasaan Allah. Inilah alasan kedua, mengapa kita harus beribadah pada Allah.

Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya (QS Ali Imron 28)

Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: “Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu”. (QS al Anfaal 38)

Hanya kepada-Nya-lah kamu semuanya akan kembali; sebagai janji yang benar daripada Allah, sesungguhnya Allah menciptakan makhluk pada permulaannya kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali (sesudah berbangkit), agar Dia memberi pembalasan kepada orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan amal shaleh dengan adil. Dan untuk orang-orang kafir disediakan minuman air yang panas dan adzab yang pedih disebabkan kekafiran mereka. (QS Yunus 4)

Ampunan dosa, balasan yang baik, dan keselamatan dari neraka merupakan hal yang ditawarkan oleh Allah pada hamba-Nya yang beriman. Sedangkan bagi hamba-Nya yang ingkar, Allah menjanjikan minuman yang sangat panas, dan azab yang pedih.

Ibadah merupakan bukti keikutsertaan kita di dalam kompetisi menggapai surga yang menjadikan dunia ini sebagai panggungnya. Ibadah adalah sebuah tanda dari diri kita bahwa kitalah hamba-Nya yang setia dalam menjalankan segenap perintah-Nya. Sampai suatu ketika, Allah meminta kita untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan kita. Saat itulah, kita telah siap dengan segenap bekal yang telah kita usahakan di dunia ini.

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (QS al Mulk 2)

Di antara berbagai makna hidup yang kita kenal, saya lebih memilih memaknai hidup sebagai kompetisi. Kompetisi untuk meraih suatu tujuan yang lebih kekal dan lebih baik daripada sekedar dunia yang fana ini. Kompetisi yang selalu menghiasi dada umat dari generasi paling mulia, generasi sahabat. Generasi inilah yang melukiskan ibrah bagi kita tentang makna kompetisi itu sendiri.

Tentu masih segar dalam ingatan kita bagaimana Umar bin Khaththab ra berjuang sekuat tenaga ketika beliau bersaing dengan Abu Bakr ash Shiddiq dalam beramal shalih. Bagaimana Umar bin Khaththab, yang menyerahkan separuh dari kekayaannya untuk perjuangan di jalan Allah, kemudian tertegun mendengar jawaban Abu Bakr ash Shiddiq, “Cukuplah Allah dan Rasul-Nya bagi keluargaku.”

Mungkin ada beberapa manusia dari generasi-generasi kita ini yang mampu menorehkan amal shalih yang lebih banyak jumlahnya dibandingkan para sahabat. Banyak pula yang mampu menghafal al Quran dengan jumlah hafalan yang lebih banyak daripada yang dihafal oleh Khalid bin Walid ra. Namun, siapa yang mampu melukiskan kembali warna perjuangan ksatria di medan perang seperti seorang Khalid di kehidupan masa kini? Siapa yang mampu memberikan teladan bagi segenap pengikut Rasulullah saw untuk menggerakkan semangat ber-Islam seperti yang telah ada di masa mereka?

Demikian Allah menetapkan warna-warni persaingan dalam amal shalih. Dengan tujuan, supaya Allah mengetahui mana muslim yang sesungguhnya, dan mana orang yang ingkar. Supaya Allah mengetahui mana mukmin sejati, dan mana yang termasuk dalam golongan munafik.

Di bagian lain dalam al Quran, Allah pun menyebutkan dorongan untuk menjaga diri dan orang-orang terdekat kita dari api neraka. Allah memerintahkan pada manusia untuk senatiasa menjauh, menyelamatkan diri dari siksa yang Allah janjikan bagi mereka yang ingkar terhadap perintah Allah.

Jagalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari neraka (QS at Tahrim 7)

Maka, satu-satunya jalan kita untuk menyelamatkan diri kita dari siksa neraka tidak lain adalah kembali kepada Islam. Kembali pada peribadatan yang benar. Mengingat definisi ibadah menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di atas, maka dapat kita simpulkan bahwa Islam, adalah satu-satunya solusi bagi kita untuk beribadah dengan benar, untuk mendapatkan janji Allah di akhirat kelak.

Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji. (QS Ali Imron 9)

Namun, di antara semua hasungan dari Allah pada kita untuk kembali pada Islam, Allah menetapkan persyaratan yang cukup berat bagi kaum muslimin. Jika kita tekuni kembali al Quran, kita bisa temukan fakta bahwa kembali pada Islam, tidak semudah yang kita bayangkan. Tidak cukup dengan syahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji, ternyata Allah menuntut kepatuhan total kita pada Allah.

Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga? Padahal Allah belum mengetahui orang-orang yang berjihad di antara kalian, dan Allah belum mengetahui orang-orang yang sabar (QS Ali Imron 142)

Allah membutuhkan pembuktian kita, bahwa kita memang hamba-Nya yang bertaqwa. Hamba-Nya yang tidak hanya beriman dalam hati dan lisannya, namun iman itu juga harus diwujudkan dalam perbuatan nyata. Bukannya Allah tidak mengetahui isi hati kita, tetapi, sekali lagi, Allah membutuhkan bukti bahwa kita pernah melaksanakan perintah-Nya dengan cara menegakkan kalimat-kalimat Allah.

Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk”. (QS al A’raaf 158)

Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang dzalim. (QS al Baqarah 193)

Allah menghendaki perjuangan kita dengan penuh kesungguhan dalam menegakkan Islam. Kita tahu bahwa iman, adalah susunan dari perkataan dan perbuatan. Tanpa salah satu di antaranya, bisa dikatakan iman kita tidak lagi sempurna. Begitu pula dalam masalah keislaman. Berislam merupakan ibadah. Dan mengajak saudara-saudara kita untuk berislam pun adalah ibadah. Dengan cara apa pun, termasuk satu cara, yang sebenarnya tidak begitu kita sukai, yaitu berperang.

Ketahuilah, surga terletak di bawah bayang-bayang pedang. (HR. Bukhari)

Saya tidak sedang membahas masalah jihad dan peperangan. Jihad saya jadikan contoh untuk menegaskan betapa pentingnya permasalahan yang kita hadapi. Bahwa jaminan masuk surga tidak akan kita peroleh dengan mudah. Saya ingin menegaskan bahwa jaminan masuk surga tidak akan kita dapati melainkan dengan perjuangan yang penuh dengan kesungguhan.

Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang shaleh?” (QS al Maidah 84)

Ibadah yang Allah syariatkan bukan hanya perang. Bukan hanya jihad. Jihad merupakan sarana untuk menegakkan ketaatan semata-mata hanya bagi Allah, seperti yang tertulis dalam al Quran surat al Baqarah 193. Ketaatan sesungguhnya adalah penyerahan diri kita pada Allah, yang berwujud kepatuhan kita pada segala perintah Allah.

(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (adzab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS az Zumaar 9)

Rahmat Allah adalah kecintaan-Nya pada makhluk yang beramal shalih. Pada hamba yang taat dalam menjalankan segala perintah Allah, dan menjauhi larangan-Nya. Inilah kebajikan sebenarnya.

Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan (QS al Maidah 93)

Saudara-saudaraku, sekali lagi saya mengingatkan bahwa ternyata ada tuntutan yang harus kita penuhi untuk mampu membeli sepetak tempat tinggal di surga. Surga tidak diraih dengan mudah. Surga diraih dengan pengorbanan yang tidak sedikit. Pengorbanan harta, tenaga, waktu, sumber daya, bahkan nyawa, seperti yang telah dilakukan para syuhada’ pembela Islam. Saya ingin mengingatkan bahwa Allah telah memberikan sarana berupa al Quran dan as Sunnah, untuk kita pelajari dan amalkan. Saya ingin mengingatkan bahwa kewajiban kita untuk taat pada Allah akan senatiasa hidup hingga pada akhirnya, Allah berkata pada kita:

Wahai jiwa-jiwa yang tenang. Kembalilah pada Rabb-mu dengan ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-Ku. Maka masuklah ke dalam surga-Ku (QS al Fajr 27-30)

-RSP-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: