(Sedikit) Menyentil Pluralisme

Apakah itu tukang sapu di kantor Muhammadiyah, apakah tukang pembawa surat di kantor Muhammadiyah, apakah profesor botak, sama saja. Kalau sudah tidak kerasan berbicara tauhid, mau dikemanakan Muhammadiyah?

Barusan, saya membuka situs hidayatullah.com, dan segera menuju kolom salah satu pemikir muslim favorit saya, Dr. Adian Husaini. Salah satu judul artikel menggelitik rasa ingin tahu saya. Artikel itu berjudul Amien Rais Mengkritik Pluralisme Kebablasan. Terkaget-kaget saya membaca pernyataan Amien Rais di situ. Mengapa? Karena selama ini saya sudah sedikit menutup mata terhadap opini beliau yang begitu kontroversial menurut kacamata tauhid, di samping beberapa alasan lain yang saya kira tak perlu diungkap di sini. Tapi, kali ini, ada hal berbeda yang ia ungkap.

Profesor kelahiran Solo itu, singkatnya, mengkritik pengaruh intelektual muda Muhammadiyah yang, seperti sudah jamak diketahui, kebablasan dalam menyuarakan pluralism agama. Bahkan, sebenarnya tak hanya yang muda-muda saja. Ada seorang profesor sejarah tua yang juga mantan ketua umum Muhammadiyah yang ikut mempromosikan buku Ilusi Negara Islam beberapa waktu lalu. Kita tahu bersama bahwa di internal Muhammadiyah sendiri saat ini terjadi tarik-menarik antara kelompok liberal dan golongan puritan. Antara mereka yang merenggangkan ikatan agamanya, dengan mereka yang berusaha teguh menjalani nilai-nilai yang diajarkan Rosululloh saw dan pendiri gerakan ini.

Anyway, ada tiga hal penting yang perlu kita cermati dari artikel tersebut.

Pertama, produk pemikiran penting yang harus sering-sering dipelajari dan dipahami setiap muslim adalah produk pemikiran Alloh. Dan kalam Alloh yang berkaitan sangat erat dengan hidup kita, seluruhnya, tertulis dalam al Quran. Maka, tak ada jalan lain. Interaksi dengan al Quran harus ditingkatkan.

Seperti pesan seorang intelektual al Ikhwan al Muslimun yang sempat ditemui Amien Rais saat ia belajar di al Azhar, “Hei kamu anak muda, kalau kamu kembali ke tanah airmu, kamu jangan merasa menjadi pejuang Muslim kalau kamu belum sanggup membaca Al-Quran satu juz satu hari.”

Saya sangat sependapat dengan pernyataan Amien Rais dalam artikel tersebut, bahwa ketika seseorang telah mempelajari al Quran, dengan segenap konsep ideologi, hukum, dan hikmah yang terkandung di dalamnya, ia akan menganggap rendah berbagai konsep ideologi, hukum, maupun kebijaksanaan buatan manusia.

Al Quran merupakan sumber kekuatan dan kemuliaan seorang muslim. Al Quran akan mempengaruhi kondisi intelektual dan psikisnya bila hubungannya dengan al Quran cukup intens. Al Quran adalah petunjuk, yang mana seorang muslim memperoleh pengetahuan tentang apa yang ia butuhkan di dunia maupun di akhirat melaluinya. Untuk poin ini, saya kira cukup sekian. Saya yakin pembaca sudah paham betul urgensi berinteraksi dengan al Quran secara rutin dan teratur.

Kedua, mengapa mempelajari hal ini sangat penting? Tak lain karena inilah jalan satu-satunya bagi kita untuk mengenal siapa Alloh, apa yang diinginkanNya dari hambaNya, maupun apa tujuan dari penciptaan manusia. Semua terangkum dalam satu tema: tauhid. Oh iya. Tauhid juga mengajarkan kita untuk memahami siapa kita sebagai manusia, dan siapa Alloh sebagai penguasa semesta alam.

Simpelnya begini. Kita paham bahwa Alloh adalah penguasa jagat raya. Kita mengakui bahwa Dialah yang mengatur segenap konstelasi alam semesta; dari planet, satelit, galaksi, hingga makhluk selular yang tak tampak mata kita. Kita pun sadar bahwa posisi kita di planet ini bagai setitik debu, tak terlihat, dan kalau kita mati pun, tak akan berpengaruh pada perputaran bumi terhadap matahari, dan benda langit lainnya.

Dari sini kita bisa menyadari betapa jauh perbedaan antara Alloh dengan diri kita. Kita sadar bahwa Ia mampu mengatur milyaran, atau bahkan triliunan, ciptaanNya, sedang kita tidak. Kita sadar bahwa Alloh berkuasa, dan kita tidak. Dan ketika ditanyakan pada khalayak pun, saya yakin akan ada jutaan suara sependapat dengan argumen ini.

Nah, kalau Alloh sanggup mengatur sistem perbintangan serta konstelasi kosmis lainnya, beserta segenap dinamika dalam tubuh kita hingga komponen terkecilnya, apa masuk akal kalau Alloh tak sanggup mengatur urusan manusia yang sebenarnya simpel ini?

Kali ini, saya akan mengutip pendapat Amien Rais yang dituliskan 26 tahun lalu dalam pengantar buku al Khilafah wal Mulk karya Abul A’la al Maududi.

Satu-satunya obat untuk memberantas penyakit berupa tiran yang berlagak memainkan fungsi ilahiyah dan rububiyah tersebut adalah penolakan dan penyangkalan secara mutlak terhadap setiap faktor dan gejala penuhanan kepada sesama manusia yang biasanya terselubung rapi dalam berbagai ideologi yang bersifat man-made untuk kemudian kembali kepada keyakinan yang benar, yaitu mengakui bahwa Alloh sajalah yang berhak atas penyembahan, kepasrahan, ketundukan, dan ketaatan manusia. Tidak ada jalan yang benar kecuali menuhankan Alloh sebagai ilah dan rabb. Bahwa manusia tidak akan dapat melepaskan diri dari ilah dan rabb, dapat kita ketahui dengan mengingat bahwa seorang ateis pun pada dasarnya membutuhkan “tuhan”, baik dalam bentuk partai meupun diktator.

Memang, agaknya pernyataan ini bertolak belakang dengan sepak terjangnya akhir-akhir ini. Tapi, saya mencoba untuk bersikap objektif, dengan menilai apa yang ia katakan, bukan siapa yang berkata.

Pernyataan beliau dalam pengantar buku tersebut mengingatkan saya pada nasihat Ust. Ihsan Tandjung dalam sebuah kolom yang ditulisnya beberapa waktu lalu di eramuslim.com. Bahwa ada perbedaan mendasar antara ideologi buatan manusia dengan arahan penguasa semesta alam. Untuk itu, ada pilihan bagi kita. Ikut aturan Alloh, atau hukum buatan manusia?

Berkaitan dengan pluralisme, paham ini sebenarnya memiliki sejarah panjang. Dan berbagai versi sejarah, baik mainstream maupun ‘underground’, ternyata bersepakat mengenai sosok di balik berkembangnya paham ini. Artawijaya, dalam buku Gerakan Theosofi di Indonesia, menyebut bahwa akar dari gerakan ini adalah gerakan Freemasonry beserta berbagai bentuk derivasinya. Motto yang diusung gerakan ini pun tak jauh beda dengan apa yang diusung tokoh-tokoh liberal di luar sana.

“There’s no religion higher than truth.” Merasa tak asing? Inilah slogan yang tertulis dalam logo internasional dari gerakan Theosofi.

Dr. Th Steven, seorang aktivis Freemasonry, pernah menulis fakta dalam buku yang dicetak terbatas di Indonesia, Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962. Ia berkata, misi organisasi yang memiliki symbol Bintang David dalam lingkaran ular ini adalah, “Setiap insan Mason Bebas mengemban tugas, di mana pun ia berada dan bekerja, untuk memajukan segala sesuatu yang mempersatukan dan menghapus pemisah antarmanusia.”

Apa arti dari kalimat, “menghapus pemisah antarmanusia”? Mari kita bertanya pada pelopor gerakan ini di Indonesia. Berikut ini adalah pernyataan salah satu ketua Theosofische Vereeniging Hindia Belanda, D. Van Hinloopen Labberton pada majalah Theosofi bulan Desember 1912, seperti yang dikutip Dr. Adian Husaini dalam pengantar buku Gerakan Theosofi di Indonesia.

Kemajuan manusia itu dengan atau tanpa agama? Saya kira, bila beragama tanpa alasan, dan bila beragama tidak dengan pengetahuan agama yang sejati, mustahil bisa maju batinnya. Tidak usah peduli agama apa yang dianutnya. Sebab, yang disebut agama itu sifatnya: cinta pada sesama, ringan memberi pertolongan, dan sopan budinya. Jadi, yang disebut agama yang sejati itu bukannya perkara lahir, tapi perkara dalam hati, batin.

Apa yang salah dengan pernyataan ini?

Keyakinan dari gerakan ini maupun yang sejenisnya terhadap ketuhanan adalah keyakinan pantheisme, di mana Alloh diyakini berwujud dalam setiap makhluk melalui proses emanasi. Apa itu emanasi? Singkatnya, emanasi adalah sebuah keyakinan yang menganggap manusia dan makhluk lain adalah percikan dari dzat Alloh yang terwujud melalui proses penciptaan. Singkatnya, ada Alloh dalam diri kita. Untuk itu, tak perlu lagi manusia mencari kebenaran berlandaskan kitab suci yang didapat dari wahyu. Toh, Alloh sudah ada dalam diri mereka.

Pembatasan pengertian agama, terutama Islam, pada kebaikan-kebaikan universal di atas menurut saya tidak tepat. Mengapa? Karena ada banyak perintah lain dalam al Quran yang sama-sama wajib dijalankan bersama kebaikan-kebaikan universal itu. Ada berbagai syariat unik yang hanya ada dalam al Quran, yang tak ditemui dalam kitab lain. Sekali lagi, umumnya, perintah unik tersebut adalah tauhid.

Mengapa hal-hal tersebut saya sebut sebagai kebaikan universal? Sebab, poin-poin akhlak tersebut sebenarnya terdapat dalam semua agama, baik yang berdasarkan wahyu maupun produk filsafat orang-orang yang dianggap suci. Dan semuanya mengajarkan hal yang sama, tidak membunuh, tidak meminum minuman keras, tidak berzina, tolong-menolong, saling memaafkan, menyantuni fakir miskin, dan sebagainya.

Masalahnya, ada hal-hal yang unik dari masing-masing agama. Dan umumnya, hal unik tersebut berkaitan dengan masalah yang sangat penting dalam keyakinan dari agama itu. Contohnya, pemeluk Kristen mainstream menganggap Yesus adalah salah satu dari tiga oknum ketuhanan, yang pada dasarnya adalah satu. Satu dalam tiga, tiga dalam satu. Namun, al Quran, secara tegas membantah hal ini. Al Quran menganggap hal ini adalah penghinaan pada Alloh dan segala sifat-sifat kemuliaanNya. Ditambah lagi, mereka yang meyakini hal ini dinyatakan telah keluar dari keislamannya.

Pernyataan Labberton di atas merupakan prinsip dasar dari pluralisme. Bahwa tak ada sekat sama sekali di antara agama-agama yang ada di dunia. Semua sama, asal prinsip kebaikan universal tersebut dipenuhi.

Dari sini, kita bisa menyadari lubang besar yang ada pada paham ini, bila dikaitkan dengan fakta tentang keunikan yang ada pada masing-masing agama itu tadi. Pernyataan kaum pluralis itu saya anggap telah mereduksi ajaran masing-masing agama. Sebab, setiap orang yang mengaku pluralis dipaksa untuk meyakini bahwa agama lain adalah sama statusnya dengan agamanya saat ini. Setiap orang yang mengaku pluralis dipaksa untuk meyakini nilai-nilai kebenaran yang sebenarnya tak sesuai dengan prinsip dasar dari keyakinannya saat ini.

Bagi saya, seorang muslim wajib meyakini Islam-lah agama yang paling benar. Tak ada diin lain yang diridhoi Alloh kecuali Islam. Begitu juga dengan pemeluk Kristen yang taat. Sewajarnya, ia meyakini bahwa agamanyalah yang paling benar. Juga, tak masalah bagi saya bila mereka menganggap saya sebagai domba tersesat. Karena memang itulah yang tertulis dalam kitab suci mereka.

Semua demi jelasnya kebenaran dan kebatilan. Demi jelasnya batas-batas pemisah antara keislaman dan kekafiran. Bukannya malah mengaburkan sekat di antara kebenaran dan kebatilan. Ini malah lebih berbahaya daripada sekedar membiarkan perbedaan terwujud apa adanya. Mengapa? Karena tidak jelasnya pembatas itu tadi. Akibatnya, akan ada makin banyak pemeluk agama, dalam hal ini Islam, yang tak sadar telah melakukan kesalahan.

Dan, seperti yang kita ketahui, kesalahan yang dilakukan secara berulang akan dianggap sebagai sebuah kebenaran.

Berbagai masalah ini sebenarnya mampu dicegah melalui studi mendalam kita tentang tauhid. Seperti pesan Amien Rais bagi segenap kader Muhammadiyah yang saya kutip di awal tulisan ini,  studi tentang tauhid adalah kewajiban setiap manusia. Tak peduli apa pun jabatan, pangkat, atau tingkat pendidikannya. Sebab, semua manusia sama di hadapan Alloh.

Ketiga, paham ini jelas tak menyebar dengan sendirinya. Seperti yang dikatakan Amien Rais, ada lembaga think tank yang berusaha untuk menyuburkan pluralisme. Seperti apa? Sungguh, sangat banyak. Bahkan, saya khawatir lembaga yang ada disekitar kita dan selama ini kita junjung tinggi merupakan institusi penebar paham liberal ini.

Dalam artikel tersebut Amien Rais berkata, “Saya yakin think tank itu ada di negara-negara maju yang punya dana berlebih, punya kemewahan untuk memikirkan bagaimana melakukan ghazwul fikri.”

Mari kita ambil salah satu contohnya. Rizki Ridyasmara, dalam Fakta dan Data Yahudi di Indonesia Era Reformasi banyak mengungkap sepak terjang organisasi-organisasi ini, khususnya LibForAll. Program LibForAll untuk Indonesia sebenarnya pernah ditampilkan di situs resmi organisasi ini. Dan sebelum halaman tersebut dihapus oleh pengelola, Rizki Ridyasmara sempat menyimpan file mengenai hal tersebut.

Berikut ini adlah salah satu contoh dari Fakta dan Data yahudi di Indonesia Era Reformasi yang mungkin bisa kita jadikan pegangan untuk selalu waspada.

The Wahid Institute, yang mottonya adalah “menyemai Islam plural dan damai” memiliki misi untuk mengembangkan pemikiran Islam moderat dan mempromosikan reformasi demokratik, pluralism, dan toleransi religius di kalangan muslim di Indonesia dan seluruh dunia. Aktivitasnya termasuk proaktif menawarkan solusi konflik dan membela hak-hak minoritas, memperkuat kemampuan organisasi Islam progresif nonpemerintah, dan program untuk mempromosikan Islam moderat di masjid dan komunitas lokal di seluruh Indonesia.

Sebenarnya ada lebih banyak kasus yang dapat kita bahas di sini. Namun, saya harap yang singkat ini mampu membangkitkan keingintahuan pembaca, untuk terus menggali apa yang hingga kini tersembunyi dan tak kita ketahui. Tujuannya, untuk selalu waspada terhadap apa yang datang, dan memperjelas garis pembatas antara yang haq dan yang batil.

Saya senatiasa berharap, hidayah tercurah pada segenap kaum muslimin. Saya berdoa, semoga Amien Rais, Dr. Adian Husaini, maupun segenap kaum muslimin di seluruh dunia, senatiasa mendapat pertolongan dari Alloh, agar tak terjerumus pada keyakinan kufur, yang akan menjerumuskan kita di akhirat kelak. Aamiin.

-RSP-

1 comment
  1. muslimpeduli said:

    link dari hidayatullah.com:

    http://www.hidayatullah.com/kolom/adian-husaini/11213-amien-rais-mengkritik-pluralisme-kebablasan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: