Kumbakarna

Wonten malih tuladan prayogi,

Satriya gung nagari Ngalengka,

Sang Kumbakarna namane,

Tur iku warna diyu,

Suprandene nggayuh utami,

Duk awit prang Ngalengka,

Dennya darbe atur,

Mring raka amrih raharja,

Dasamuka tan keguh ing atur yekti,

De mung mungsuh wanara.

Hari itu, suasana Alengka tak seperti biasa. Wajah warga Alengka memang cukup tenang menghadapi harinya. Tapi aura ketegangan jelas telah menyebar di seluruh negeri. Penyebabnya? Sri Rama beserta pasukan keranya sedang bergerak menuju Alengka, menuntut pembebasan Sinta, yang diculik Rahwana. Sadar kondisi kritis negaranya yang hendak diserang wanara perkasa semacam Anggodo, Sugriwa, dan Nila, Rahwana tak punya pilihan lain. Kumbakarna harus dibangkitkan.

Kumbakarna, yang tertidur panjang karena menerima ‘anugerah’ dari Dewi Saraswati, dibangunkan secara paksa dengan sesaji yang diletakkan di depan wajahnya. Terkantuk karena aroma makanan yang menguar dari piring-piring raksasa, Kumbakarna dengan segera melahap gunungan penganan yang disiapkan Rahwana, sang kakak.

Makanan tandas, kini Kumbakarna terjaga sepenuhnya.

Dengan segera, ia kembali ke Alengka, negeri yang telah beberapa bulan ia tinggalkan dalam tidur panjangnya di pelosok hutan. Di pendapa kerajaan, Kumbakarna tetap memberikan nasihat yang sama pada Rahwana, seperti yang telah ia katakana berbulan yang lalu: kembalikan Sinta, selenggarakan perjanjian damai dengan Ayodya.

Rahwana tak sependapat. “Wahai adikku, sungguh tak bisa aku melepaskannya. Tegakah kau melihat kakakmu ini menderita seumur hidupnya? Atau relakah dirimu rakyat negeri ini menderita di bawah kuasa Sri Rama?” katanya memelas.

Kumbakarna tak kuasa menolak. Bagaimanapun, rakyat menempati posisi tinggi dalam benaknya. Rasa jengkel pasti tertuju pada Rahwana. Tapi ia ingat, perangnya bukanlah untuk Rahwana. Perangnya semata untuk tanah tumpah darahnya.

Berbaliklah ia dari keraton, bergabung dengan pasukan Alengka di medan perang. Cepat ia berlari. Dalam hitungan menit, sampailah Kumbakarna di garis depan pertempuran. Tangannya berayun ke segala arah, ditebasnya sekompi kera, dan tak luput pula sang abdi Sri Rama. Satu ayunan, Nila tersungkur. Kali kedua, dengan ceceran darah, Anggodo mundur. Kali ketiga, giliran Sugriwa.

Rama tentu tak ingin mengalami kekalahan dalam perang kali ini. Sebab, misinya hanya satu: membawa pulang Sinta, sang isteri tercinta. Meski nyawa taruhannya. Dengan segera, Sri Rama menarik anak panah pada busurnya. Diarahkannya pada kedua tangan Kumbakarna. Panah dilepaskan, terputus kedua tangan Kumbakarna. Namun, inilah pembelaan anak bangsa. Tanpa tangan, Kumbakarna tetap mampu menginjak-injak sekawanan kera. Rama menarik anak panah kedua. Kali ini, diarahkannya ke kedua kaki Kumbakarna. Hingga, terpisahlah kedua kaki Kumbakarna dari tubuhnya.

Namun kagum mewarnai hati Sri Rama. Tanpa tangan dan kaki, Kumbakarna masih dapat mengguling-gulingkan tubuhnya untuk menindih kawanan kera abdi Sri Rama. Sri Rama tahu, Kumbakarna berada dalam kesakitan luar biasa. Maka, untuk mengakhiri penderitaannya, ditariknya panah terakhir, diarahkan ke leher Kumbakarna.

***

Kisah ini mewarnai khazanah kita tentang nasionalisme. Bahwa wujud cinta terhadap sebuah negeri mutlak diberikan bagi para warga negaranya. Bahwa patriot sejati adalah mereka yang aktif membela tanah tumpah darahnya, tanpa peduli apa yang telah dilakukan negara atau oknum pemerintahan tersebut. Maka, pantaslah bila kisahnya kemudian diabadikan dalam wujud tembang dhandhanggula seperti yang telah saya tuliskan di atas.

Sekilas memang terlihat indah, tampak heroik. Tapi, saya harap kita sudah bersepakat bahwa standar kebenaran masing-masing manusia sangat relatif. Maka, harusnya standar kebenaran tersebut kita tujukan pada penguasa semesta alam.

***

Nasionalisme adalah bahasa serapan dari nationalism, yang terkadang juga diindonesiakan dengan ‘paham kebangsaan’. Nation berarti bangsa. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1994), kata ‘bangsa’ memiliki arti: kesatuan orang yang bersamaan asal keturunan, adat, bahasa, dan sejarahnya, serta berpemerintahan sendiri; golongan manusia, binatang, atau tumbuhan yang memiliki asal dan sifat khas yang sama; dan kumpulan manusia yang terikat karena kesatuan bahasa dan kebudayaan.

Dalam bahasa Indonesia, istilah nasionalisme memiliki dua pengertian: paham untuk mencintai bangsa dan negara sendiri dan kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau actual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa itu. Dengan demikian, nasionalisme berarti menyatakan keunggulan suatu afinitas kelompok yang didasarkan atas kesamaan bahasa, budaya, dan wilayah.

Namun, terkadang nasionalisme itu berubah jadi tak terkendali, tanpa memandang benar atau salah, seperti yang telah ditunjukkan Kumbakarna. Sang nabi akhir zaman itu menyebutnya dengan nama ashobiyah. Sebuah tindakan di mana seseorang menempatkan kelompok, golongan, atau negara tertentu sebagai lembaga tertinggi yang patut dibela, baik benar atau salah.

Ka’ab bin ‘Iyadh bertanya, “Ya Rasulalloh, apabila seseorang mencintai kaumnya, apakah itu termasuk ashobiyah?” Nabi saw menjawab, “Tidak. ashobiyah adalah ketika seseorang mendukung kaumnya di atas sebuah ma’shiyat.” (HR Ahmad)

Apakah salah kita memiliki sifat ini? Kembali, sang utusan menjawabnya dengan gamblang.

Bukan termasuk ummatku orang yang mengajak pada ashobiyah, dan bukan termasuk ummatku orang yang berperang atas dasar ashobiyah, dan bukan termasuk ummatku orang yang mati atas dasar ashobiyah. (HR Abu Dawud)

Sudah jelas kan? Nah, pertanyaan berikutnya, apakah salah bila kita memiliki rasa cinta pada tanah air? Mengapa kita lantas tak boleh lagi terikat secara batin terhadap tanah kelahiran kita itu?

Tentu tidak salah. Saya yakin ada di antara pembaca yang masih ingat kegundahan hati Rosululloh saw saat Ushail menyenandungkan syair tentang lembah-lembah indah di tanah Makkah. Ada kerinduan terpancar di situ. Dan ini manusiawi sekali. Hanya saja, jangan sampai kecintaan ataupun kerinduan ini kita campur adukkan ke dalam urusan diin ini.

Kemudian, saya teringat dengan sebuah nasihat Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin. “Kewajiban perang sebagai muslim di negeri Islam adalah karena Islam itu sendiri,” kata sang syaikh. “Bila kita hanya berperang karena membela negara, sungguh tak ada bedanya dengan orang kafir, yang juga berperang membela tanah air mereka.”

Ustadz A. Hassan, salah satu ‘alim terkenal dari Persatuan Islam, juga berkata senada dengan Syaikh al Utsaimin. Sosok yang pernah berdebat sengit dengan Soekarno mengenai nasionalisme ini berkata, “Ada beberapa kesalahan yang dilakukan oleh kaum muslimin dalam mencintai tanah air dengan sebab kebangsaan,” katanya.

“Yang pertama, ia menjalankan hukum-hukum yang bukan berasal dari Alloh maupun Rosul-Nya.”

“Kedua, ia memandang muslim di negeri lain bukan saudara sebangsa-setanah air dengannya hanya karena mereka tinggal di wilayah geografis yang berbeda dengannya.”

“Ketiga, memutuskan hubungan dengan kaum muslimin di negeri lain dengan alasan teritorial, meski Alloh dan Rosul-Nya telah menyatakan bahwa kita semua adalah saudara yang mesti bersatu.”

Ada satu ayat dalam al Quran yang senada dengan apa yang diucapkan sang ustadz.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara. (QS al Hujurat 10)

Sama sekali tak pernah, Alloh maupun Rosul-Nya membeda-bedakan manusia menurut lingkup teritori di mana ia tinggal. Kalau tak percaya, antum bisa saja membuka-buka al Quran, mengacak-acak kitab hadis, mencari dalil mengenai hal itu. Saya jamin, tak akan antum temukan.

Malah, Alloh telah berkata bahwa Ia hanya memandang ketaqwaan seseorang dalam menilai kualitas diri hamba tersebut, tak peduli ia berasal dari suku yang dipandang rendah manusia, atau berasal dari negara yang selama ini berada dalam penindasan para tiran.

Wahai manusia, sesungguhnya Kami ciptakan kalian laki-laki dan perempuan, Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa, bersuku-suku, supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya, yang paling mulia di antara kalian di sisi Alloh adalah mereka yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Alloh Mahamengetahui, Mahamengenal. (QS al Hujurat 13)

Nah, bila sikap Alloh pada manusia saja seperti itu, bukankah akan sangat kelewatan bila kita malah memandang seseorang dari jenis kelamin, suku, atau warna kebangsaannya?

Tunggu. Bukankah ada hadis yang berkata, “cinta tanah air adalah sebagian dari iman”? Lantas mengapa kita tak boleh berperang atas nama negara kita? Mengapa kita tak diizinkan mengangkat senjata, membela tanah air tercinta?

Kalau yang ini, izinkan saya mempersilakan para pakar hadis menjelaskannya pada antum.

Mereka, para ulama hadis, bersepakat mengenai hal ini. Imam as Sakhawi, dalam al Maqashid al Hasanah; Imam as Suyuthi dalam ad Durar Mutanatsirah; Imam ash Shaghani dalam al Maudhu’at; serta tak ketinggalan, Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani dalam Silsilah adh Dhaifah; berkata bahwa ini adalah hadis maudhu’. Artinya, para ulama hadis ini menilai hadis tersebut bukanlah sabda Nabi, melainkan hanyalah perkataan manusia yang dianggap sebagai perkataan Nabi saw.

Tentu, pertanyaan berikutnya adalah, “kalau bukan perkataan Nabi, lantas siapa yang mengucapkan kata-kata itu?”

A.D. El Marzdedeq, dalam Parasit Aqidah, berkata bahwa kalimat tersebut merupakan kata-kata dari Burthus al Busthani, seorang anggota Freemason Turki. Ucapan ini, tak lain, dilontarkan guna melemahkan persatuan di kawasan Turki Utsmani pada masa itu. Satu yang saya ingat, sosok ini punya hubungan sangat erat dengan Mushthafa Kemal Pasha, Giuseppe Mazzini, Giuseppe Garibaldi, dan Count di Cavour.

Siapa mereka?

Giuseppe Mazzini, Giuseppe Garibaldi, dan Count di Cavour, bisa jadi adalah inisiator utama perlawanan terhadap pengaruh agama dalam kehidupan social masyarakat. Ketiganya, pada 1870, mendirikan Gerakan Persatuan Italia, dan berbekal konsep ‘nation state’ yang berulang kali didengungkan, dengan tegas mereka menarik perbatasan-perbatasan ruang lingkup kepausan di Roma. Akhirnya, berdirilah negara Vatikan, yang amat terpisah dengan pemerintahan Italia, meski ia berada di tengah-tengah ibukota Negeri Pizza itu.

Gagasan ini pulalah yang kemudian mengilhami pemberontakan multietnis kerajaan Austo-Hungaria beberapa tahun kemudian. Dan tak lupa, melalui jaringan rahasia Persaudaraan Freemason-nya, disusupkanlah Mushthafa Kemal Pasha, atau lebih dikenal dengan nama Mushthafa kemal Attatturk, guna meruntuhkan kesultanan Utsmani, pada 1924, dan mendirikan negara yang sepenuhnya sekular.

Tak ketinggalan, Harun Yahya, dalam Ancaman Global Freemasonry, menyebut dua gerakan tersebut sebagai “kesombongan jahiliyah, seperti yang diungkapkan surat al Fath 26”.

***

Entah mengapa, mencermati fakta-fakta di atas, saya kembali teringat sosok berjenggot lebat itu. Dulu, dia, dalam Majmu’atur Rosaail, pernah berkata, “Bagi kami, setiap jengkal tanah yang dihuni muslim yang mengucapkan laa ilaaha illallah, adalah tanah air kami yang berhak mendapatkan penghormatan, penghargaan, kecintaan, ketulusan, dan jihad demi kebaikannya.”

“Semua muslim di semua wilayah geografis ini,” tambahnya, “adalah keluarga dan saudara kami.”

Lelaki berjenggot lebat yang usianya bahkan lebih muda dari ayah saya itu, Hasan al Banna, tak hanya berucap. Dialah inisiator jihad pemuda Mesir dalam membebaskan Palestina, meski akhirnya harus terhenti karena hadangan Gamal Abdul Nasser. Tak ketinggalan, Indonesia turut dibantu dalam pengakuan kemerdekaannya, saat ia mengundang M. Rasjidi dan H. Agus Salim terbang ke Mesir untuk menyatakan dukungannya.

Seperti yang telah diungkapkan Ustadz Hasan al Banna, setiap muslim itu bersaudara. Tak ada sekat geografis di antara mereka. Maka, sudah seharusnya, kita hanya dipersatukan dengan ikatan aqidah, bukan yang lain.

Masalah ashobiyah ini ternyata tak terhenti pada lingkup nasional saja. Pada komunitas lebih kecil, suku atau partai, misalnya, sifat jahiliyah ini masih terasa kental. Berulang kali saya temui mereka yang memberi perlakuan berbeda, atau dengan kata lain, tak adil, pada saudara-saudara sesukunya. Dan tak kalah kerap kita temui, kader partai saling membela atas apa yang dilakukan atau diucapkan rekan separtainya.

Kalau ashobiyah adalah saling bantu dalam kema’shiyatan yang dilakukan oleh rekan sekaumnya, bukankah ini semua adalah amal ashobiyah? Dan kalau Rosul berkata bahwa ia adalah perbuatan jahiliyah, bukankah pelakunya serupa dengan masyarakat Arab pra-Islam?

Langkah konkretnya kira-kira begini: pertama, kita pelajari apa yang seharusnya terjadi. Kedua, wujudkan ia menjadi amal nyata. Ketiga, saat terbit sebuah ma’shiyat, nilailah ia berdasarkan timbangan al Quran dan as Sunnah. Keempat, saat kita sadar bahwa pelaku ma’shiyat tersebut adalah rekan kita, adalah saudara kita, ingatlah kembali sabda Rosululloh saw berikut.

Bukan termasuk ummatku orang yang mengajak pada ashobiyah, dan bukan termasuk ummatku orang yang berperang atas dasar ashobiyah, dan bukan termasuk ummatku orang yang mati atas dasar ashobiyah. (HR Abu Dawud)

Maka, inilah saatnya. Mari menggali kebenaran, bukan mencari pembenaran. Mari membela kebenaran, bukan memihak kawan.

-RSP-

Iklan
1 comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: