Hikayat Tiga Teladan

Sebuah kisah, jauh sebelum masa Rosululloh saw diutus, kembali diceritakan oleh sang nabi terakhir. Kisahnya tentang seorang musafir. Kakinya tersaruk, matanya nyalang, dengan rambut kusut dan kotor. Tenaganya nyaris habis tak berbekas, dan langkahnya terhuyung. Dengan serpih harapan tersisa, ditengadahkanlah kedua tangannya, “Ya Robb.., Ya Robb.., Ya Robb…”

Menurut antum, adakah doa sang musafir ini diterima? Sebagai penjelas, musafir ini adalah manusia yang mengangkat tangannya, hanya memohon pada Alloh, dan Alloh malu pada hambaNya yang tidak menerima balasan atas doa yang dipanjatkannya.

Tiga macam do’a dikabulkan tanpa diragukan lagi, yaitu doa orang yang dizalimi, doa kedua orang tua, dan do’a seorang musafir. (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Alloh. Maka, janganlah kamu berdoa kepada siapa pun di di sisi Alloh. (QS al Jiin 18)

Sesungguhnya Robb kalian yang Mahapenuh berkah dan Mahatinggi itu pemalu lagi pemurah. Dia malu kepada hambaNya apabila ia mengangkat kedua tangannya kepadaNya, lalu Dia menolaknya dengan hampa. (HR Abu Dawud, Ibnu Majah, Tirmidzi, Hakim)

Maka, dari penjelasan melalui dalil-dalil tersebut, ada sebuah jaminan dari Alloh terhadap terkabulnya doa sang musafir itu. “Namun,” jawab Rosululloh, “bagaimana Alloh akan mengabulkan doanya sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dia diberi makan dari yang haram pula?”

Kisah Rosululloh saw yang terekam oleh tinta emas Imam Muslim ini mengingatkan saya pada sebuah pesan Rosululloh saw yang membuat saya benar-benar menanyakan asal makanan yang saya dapat, menanyakan perihal halal-haramnya, sejak pertama kali membacanya.

Wahai Sa’ad, perbaikilah makananmu, niscaya kamu menjadi orang yang terkabul doanya. Demi yang jiwa Muhammad dalam genggamanNya. Sesungguhnya seorang hamba melontarkan sesuap makanan yang haram ke dalam perutnya maka tidak akan diterima amal kebaikannya selama empat puluh hari. Siapapun yang dagingnya tumbuh dari yang haram maka api neraka lebih layak membakarnya. (HR. Ath-Thabrani)

Perintah untuk menjaga kehalalan makanan ini sungguh menjadi salah satu perhatian utama dalam al Quran. Tak tanggung-tanggung, seruan menjaga makanan ini Alloh tujukan pada para rosulNya, pada orang yang beriman, dan juga pada segenap umat manusia. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya permasalahan ini, mengingat perintah dalam satu saja ayat dalam al Quran mestinya sudah cukup menegaskan arti penting dari perintah tersebut.

Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan-makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal yang sholih. (QS al Mu’minun 51)

Hai orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Alloh, jika benar-benar hanya kepadaNya kamu menyembah. (QS al Baqarah 172)

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithan karena sesungguhnya syaithan itu adalah musuh yang nyata bagimu. (QS al Baqarah 168)

Antara  Mubarak dan Tsabit bin Zuthi’

Jalinan kisah ini membawa kita terbang ke belasan abad sebelum masa hidup kita ini. Tersebut nama Mubarak, seorang budak penjaga kebun delima yang diminta sang majikan untuk memilihkan delima yang manis bagi tuannya. Sayangnya, berkali-kali diperintah, hanyalah delima masam yang didapat tuannya.

“Lagi-lagi masam! Tak bisakah kau membedakan yang manis dan yang masam padahal sudah berbulan-bulan kau jaga kebunku?!”

“Tidak, tuan,” jawab Mubarak.

“Mengapa tidak?”

“Karena saya hanya diperintahkan untuk menjaganya, bukan mencicipinya.”

Kekaguman sang majikan membuncah. Kekaguman akan akhlaq mulia dan kejujuran yang terpancar jauh, meski ia datang dari seorang budak. Lantas, sang majikan mulai bertanya mengenai putrinya yang dilamar banyak pemuda.

“Wahai Mubarak, menurutmu siapakah yang pantas menikahi putriku ini?”

Jawabannya sederhana, tapi bermakna. “Dahulu, orang jahiliyah menikahkan putrinya atas dasar keturunan. Orang Yahudi menikahkan atas dasar harta. Dan orang Nashrani menikahkan atas dasar eloknya paras. Sudah selayaknya seorang mu’min hanya menikahkan atas dasar diin-nya.”

Tentu, jawaban sang budak ini didasari sabda Rosululloh,

Wanita dinikahi karena empat hal: karena kecantikannya, kedudukannya, hartanya, dan karena agamanya. Maka pilihlah yang beragama agar berkah kedua tanganmu. (HR Muslim)

Jawaban ini membuat Mubarak lah yang dipilih sang tuan untuk menjadi menantunya. Kelak, dari pernikahan ini lahirlah seorang ‘alim yang juga seorang zuhud, mujahid, dan dermawan. Namanya Abdulloh bin Mubarak.

***

Hikayat serupa turut mewarnai kisah hidup Tsabit bin Zuthi’. Maka, izinkanlah saya menampilkan kembali kata-kata yang telah tertulis sebelumnya. Meski membuatmu bosan, kumohon perhatikanlah jalinan ceritanya, guna kita ambil ibrohnya.

Tadi siang, begitu laparnya Tsabit bin Zuthi’, sampai tak diperhatikannya hak milik dari apel ranum tersebut. Harusnya tak ia gigit apel ranum tersebut! Ah, nasi sudah jadi bubur. Sungguh tak mungkin mengembalikan apel tersebut jadi utuh seperti semula. Apa boleh buat, ia harus mencari pemilik apel itu dan mempertanggungjawabkan tindakannya!

Akhirnya, perjalanan panjang membawa Tsabit bin Zuthi’ di rumah sang pemilik kebun.

“Tidak! Aku tidak menerima permohonan maafmu, kecuali dengan satu syarat!”

Tsabit terperangah. Ia tak menyangka sebutir apel bisa berbuntut begitu panjang.

“Apa syaratnya, Wahai Tuan?”

“Sebagai hukuman atas perbuatanmu, engkau harus menikahi putriku!”

Sejenak lega..

“Tapi, harap kau tahu, putriku adalah wanita yang buta, tuli, bisu, dan lumpuh!” lanjut sang pemilik kebun.

Seolah tubuhnya lumpuh, kehilangan keseimbangan. Ya Alloh, begitu beratkah hukuman-Mu terhadap pencuri apel yang memakannya karena lapar, dan karena ketidaksengajaan?

Bagaimanapun, hukum Alloh harus ditegakkan. Itu komitmen seorang Tsabit bin Zuthi’. Setiap pelanggaran harus mendapat ganjaran yang memenuhi rasa keadilan. Bila sang pemilik kebun hanya dapat merelakan apelnya dengan menikahi putrinya, apa boleh buat. Itulah yang harus dilakukan.

Tapi betapa terkejut Tsabit ketika mendapati isterinya kali pertama. Tak tergambar gemuruh di dadanya memandang wajah rupawan isterinya itu. Dengan mata yang sempurna, pendengaran yang baik, lisan yang memesona, dan tubuh yang lengkap. Tak kurang satu apa pun. Lho, lantas, di mana letak buta, tuli, bisu, dan lumpuhnya?

“Aku dikatakan buta karena aku tidak pernah melihat hal yang diharamkan oleh Alloh. Aku disebut bisu karena jarang aku menggunakan lisanku kecuali untuk mengingat Alloh semata. Aku dikatakan tuli karena aku tidak menggunakan telingaku untuk hal-hal yang tak diperkenankan oleh-Nya. Dan aku dikatakan lumpuh karena aku tak pernah pergi ke tempat-tempat yang menimbulkan murka Alloh,” jawab sang isteri sambil tersenyum.

Sekali lagi, serupa dengan kisah Mubarak, dari benih Tsabit bin Zuthi’ lahirlah seorang ‘alim lagi dermawan bernama Nu’man bin Tsabit. Dunia lebih mengenalnya dengan nama Abu Hanifah.

***

Dari nasihat Rosululloh saw pada Sa’ad bin Abi Waqqash dan kisah dua teladan kita di masa terdahulu itu, insya Alloh, dapat kita ambil beberapa kesimpulan. Pertama, bahwa salah satu syarat penting diterimanya doa adalah kehalalan makanan kita. Sementara persyaratan lain merupakan sunnah, tidak wajib, yang dapat kita lakukan guna menguatkan alasan bagi Alloh untuk mengabulkan doa kita, perihal makanan ini merupakan persyaratan wajib. Sekali kerongkongan menelan makanan yang haram, tak diterimalah doa-doa kita.

Kedua, apa yang kita makan ternyata berdampak pada aspek akhlaq kita. Kedua teladan kita, Tsabit bin Zuthi’ dan Mubarak, adalah muslim yang teguh menjaga amanah yang dipercayakan pada mereka. Mereka yang memuliakan tubuhnya dengan hanya mengizinkan makanan yang halal yang masuk ke sistem pencernaannya. Dan mereka yang menjaga makanannya tentu akan menjaga makanan yang ia berikan pada keluarganya. Hasilnya? Abdulloh bin Mubarak dan Imam Abu Hanifah menjadi bukti shohih. Maka, bisa kita katakan makanan tidak hanya akan berdampak pada doa-doa kita, tapi juga pada akhlaq yang lahir dari diri kita.

Min Aina Laka Haadzaa?

Al Quran dan as Sunnah benar-benar memperhatikan aspek halal-haram makanan. Salah satu unsur dari kehalalan makanan adalah dari mana ia didapatkan. Di sisi lain, Islam benar-benar menghargai hak individu atas benda yang dimilikinya. Tak heran, hukuman bagi pencuri yang memenuhi syarat dan kondisi adalah potong tangan.

Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS al Maidah 38)

Tak hanya dari jalan pencurian, ternyata makanan haram juga bisa masuk ke dalam tubuh kita dengan cara yang lain.

Sesungguhnya Alloh hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang diseru dengan selain Alloh. Tetapi, barangsiapa dalam keadaan terpaksa sedang ia tidak menginginkannya dan tidak melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Alloh Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS al Baqarah 173)

Mengenai surat al Baqarah 173 ini, Imam Ibnu Katsir, dalam Tafsir al Quran al Adzim, menampilkan sebuah riwayat dari Aisyah ra yang dinukilnya dari penjelasan Imam Qurthubi.

Suatu hari, beliau ra ditanya mengenai binatang yang disembelih oleh orang asing (nonmuslim) untuk perayaan mereka, kemudian memberikan sebagiannya kepada kaum muslimin. Jawaban Ummul Mu’minin sangat jelas, “Binatang yang disembelih untuk menyambut hari itu tidak boleh kamu makan.”

Sedangkan Sayyid Quthb, dalam menafsirkan ayat yang sama dalam Fi Zhilalil Quran, berkata, “Adapun keharaman suatu yang disembelih sambil menyebutkan suatu nama selain Alloh, tidaklah ini diharamkan karena zatnya. Tapi, disebabkan ketidaktulusan jiwa dan tidak adanya kebulatan tujuan. Maka zat tersebut tergolong kepada yang najis, karena adanya kaitan aqidah dengan segala yang diharamkan seperti pada penjelasan yang lalu.”

Beliau melanjutkan, “Sungguh Alloh telah mendorong kepada manusia agar hanya bertawajjuh kepada Alloh semata-mata tanpa ada kesyirikan.”

Dua penafsiran dari para mufassirin ini serta pendapat para fuqaha’ menunjukkan keharaman segala makanan, walaupun zatnya halal, yang didapat dari perbuatan ma’shiyat atau segala perayaan atau acara yang tidak diridhoi oleh Alloh. Termasuk dari perbuatan ma’shiyat ini adalah syirik, bid’ah, perayaan hari besar agama lain, pencurian, perampokan, korupsi, dan berbagai bentuk ma’shiyat yang lain yang bermacam bentuk dan sifatnya.

Meski secara qath’i tak ada dalil yang melarang kita untuk menerima pemberian dari pihak lain, tentu patut kita teliti dulu tingkat kehalalan dari makanan atau harta tersebut. Jangan sampai hanya karena tak ada ayat al Quran maupun al Hadis yang secara tekstual mengabarkan hal tersebut, kita mengabaikan penafsiran dari para ahli tafsir yang telah kita saksikan bersama.

Maka, cara termudah untuk memastikan kehalalan makanan adalah dengan tidak malu-malu menanyakan asal dari makanan atau harta yang akan dibelikan makanan, kepada mereka yang memberikannya pada kita. Pertanyaan sederhana, “Min aina laka haadzaa? Dari mana engkau dapat itu semua?” saya kira mudah untuk diimplementasikan. Yang penting, jangan sampai karena malu atau sungkan, kita menjadi ragu atas status kehalalan dari makanan atau harta tersebut.

Terakhir, kawanku, sebagai pengingat, ingin saya sampaikan sebuah hadis yang begitu menusuk ini,

Jika seseorang memakai baju seharga sepuluh dirham, sedangkan satu dirham di antaranya dia peroleh dengan cara tidak halal, maka shalat yang dia kerjakan tidak akan diterima Allah. (HR.Tirmidzi).

-RSP-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: