Aku Benci Birokrat

Saya benci birokrat. Juga, saya benci jadi birokrat. Mengapa? Kawan, akan kuberikan jawabnya setelah kau simak kisah ini terlebih dahulu.

***

Malam itu, gelisah mewarnai rupa ibu ini. Di depan tungku, berkali-kali diaduknya seonggok panci dengan sendok kayunya yang panjang. Berkali-kali pula ditengoknya, tak kunjung jelas apa maksudnya. Sementara, putrinya menangis meraung-raung, kelaparan. Wajar saja. Sebab, sedari pagi, sang putri berpuasa karena tiadanya makanan di rumahnya, dan tak ada makanan berbuka untuk mengganjal perutnya.

Tak sengaja, sosok berperawakan tinggi besar itu lewat di depan rumah sang ibu. Bersama budaknya, ia merasa keheranan. Apa gerangan yang menjadi penyebab seseorang menangis di larut malam begini?

“Assalamu’alaikum,” kata sosok itu, memberi salam.

“Wa’alaikumussalaam,” balas sang ibu.

“Wahai ibu, siapakah yang menangis di dalam situ?”

Sedikit enggan, sang ibu menjawab, “Anakku…”

“Apakah ia sakit?”

“Tidak,” jawabnya. “Ia lapar.”

Sosok tinggi besar itu, Umar bin Khaththab, tak bisa berkata. Ia memutuskan mendirikan tenda persinggahan di sekitar rumah tersebut bersama Aslam, budaknya.  Satu jam ia menunggu, tangis si anak tak kunjung berhenti.

Hatinya teriris-iris mendengar suara tangis yang tak henti memenuhi telinganya. Ia tak tahan lagi. Apa sih yang dimasak ibu tua itu hingga satu jam tak cukup untuk mematangkan makanan buat putrinya?

“Wahai ibu, apa yang sedang kau masak? Mengapa tidak segera matang makananmu itu?” tanya Umar.

“Lihatlah sendiri.”

Terbelalak tak percaya, Umar bertanya setengah berteriak. “Apakah kau memasak batu?”

Ibu itu hanya mengangguk.

“Untuk apa?”

“Aku memasak batu-batu ini untuk menghibur anakku. Inilah kejahatan Khalifah Umar bin Khaththab. Ia tidak mau melihat ke bawah, apakah kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi belum. Lihatlah aku. Aku seorang janda. Sejak dari pagi tadi, aku dan anakku belum makan apa-apa. Jadi anakku pun kusuruh berpuasa, dengan harapan ketika waktu berbuka kami mendapat rejeki. Namun ternyata tidak. Sesudah maghrib tiba, makanan belum ada juga. Anakku terpaksa tidur dengan perut yang kosong. Aku mengumpulkan batu-batu kecil, memasukkannya ke dalam panci dan kuisi air. Lalu batu-batu itu kumasak untuk membohongi anakku, dengan harapan ia akan tertidur lelap sampai pagi. Ternyata tidak. Mungkin karena lapar, sebentar-sebentar ia bangun dan menangis minta makan.”

Sejenak ia terdiam. Lantas berkata, “Namun apa dayaku? Sungguh Umar bin Khaththab tidak pantas jadi pemimpin. Ia tidak mampu menjamin kebutuhan rakyatnya.”

Segera saja, Aslam membuka mulut untuk menegur wanita yang dianggapnya tak sopan ini. Tapi, Umar segera mencegahnya. Seketika ia mengajak Aslam untuk kembali ke Madinah, menuju Baitul Maal.

Tak perlu menunggu matahari terbit, segera saja dipanggulnya sendirian karung gandum itu. Ya, dipanggulnya karung itu seorang diri. Saat wajahnya menyiratkan kelelahan, Aslam, sang budak, segera menawarkan diri.

“Wahai Amiral Mu’minin, biarkan saya yang memanggul beban itu,” katanya.

Diarahkanlah pandangan Umar pada sang budak. Dengan sedikit ketus, ia menjawab, “Aslam, jangan jerumuskan aku ke dalam neraka. Engkau akan menggantikan aku memikul beban ini, apakah kau kira engkau akan mau memikul beban di pundakku ini di hari pembalasan kelak?”

Dan Aslam, sebagaimana saya saat membaca kisah ini pertama kali, cuma bisa tertegun.

***

Kalau antum menganggap kisah ini terlalu jauh, baiklah, akan kutampilkan padamu kisah yang lebih dekat dengan masa kita hidup saat ini. Dan Ustad Ibnu Hasan Aththobari berkenan sedikit berbagi cerita dengan kita mengenai Islamnya negeri Samarkand.

Alkisah, negeri pagan ini dahulu mendapat serangan serta merta dari pasukan kaum muslimin. Tanpa peringatan sama sekali. Padahal, Islam mensyaratkan adanya tawaran atau da’wah keIslaman, kemudian tawaran jizyah, sebelum melancarkan peperangan fisik. Tapi, lelaki gagah perkasa itu, Pangilma Qutaibah, sama sekali tak menghiraukannya. Sebagian Samarkand porak poranda diserbu pasukan kaum muslimin.

Seorang pemuda Samarkand kemudian diutus untuk menyuarakan protes pada amiril mu’minin. Setelah menguatkan hati, pemuda ini menyatakan kesiapannya untuk berangkat menuju pusat pemerintahan kaum muslimin saat itu. Di tengah perjalanan di negeri kaum muslimin, ia tertakjub. Betapa orang-orang ini menjaga kebersihan lingkungannya, sambil saling berkirim salam dan bertegur sapa di antara mereka. Tak lupa, jabat tangan dan senyum manis mewarnai keseharian mereka.

Sesampainya di pusat kota, tak sengaja ia memasuki sebuah bangunan besar dan indah. “Ah, pasti ini istana sang khalifah,” pikirnya. Tapi, ditengoknya ke kanan dan kiri, tak ia temukan penjaga bertombak atau berpedang, layaknya istana seorang raja.

Tiba-tiba, seorang pria tua menyapanya. Lantas, seperti tak tertahan lagi, berbaris-baris tanya ia curahkan pada bapak tua ini. Dan dengan sabar dan teratur, pria ini menjawab pertanyaan-pertanyaan sang pemuda. Dan dari bapak inilah, ia baru tahu bahwa bangunan ini bernama masjid. Tak tertahankan ketertarikannya pada Islam. Hingga, saat itu juga, ia mengikrarkan kalimat syahadat.

Ia lantas ditunjukkan jalan menuju kediaman sang amirul mu’minin. Ia masih ingat tugasnya rupanya. Berangkatlah si pemuda menuju rumah itu. Tak percaya, bahwa yang dijumpainya adalah rumah yang benar-benar sederhana dibanding rumah lainnya. Dilihatnya seorang bapak yang tengah mengecat tembok rumahnya. Tentu, ia membayangkan rumah pemimpin kaum muslimin serupa dengan rumah pemimpin kaumnya: besar, mewah, bercahaya di sana-sini.

Karena tak yakin, pemuda itu kembali menemui bapak tua yang tadi ia temui. Si bapak tua itu meyakinkannya bahwa rumah sederhana itu adalah kediaman amirul mu’minin, dan yang sedang mengecat rumah itu adalah sang amirul mu’minin.

Dengan mudah, ia langsung menemui khalifah ini, dan menceritakan maksud kedatangannya. Singkat cerita, permohonan sang pemuda dikabulkan. Pengadilan diselenggarakan, dan akhirnya, pesona Islam mampu mewarnai penduduk Samarkand.

***

Selalu, rasa yang sama mewarnai diri saya saat membaca kisah-kisah seperti ini. Selalu terbit kerinduan pada sosok gagah Umar. Selalu muncul sisi kosong dalam hati, yang harusnya diisi oleh kehadiran wajah teduh nan zuhud Umar bin Abdul Aziz. Dan tak lupa, rasa cinta saya sematkan pada rupa bercahaya yang senatiasa terbuka menyambut tamunya di masjid itu, yang sering mengganjal perutnya dengan dua buah batu.

Tapi, paling tidak, ada satu yang bisa kita ambil hikmahnya kali ini. Mereka, para pemimpin kaum muslimin itu, bersedia menemui rakyatnya, kapan pun mereka mau. Begitu mudah rakyatnya mengadukan masalahnya. Tak perlu menghubungi sekretaris untuk mengecek jadwal yang ternyata tak tentu. Tak perlu lewat lembaga legislatif yang terkadang kebenaran pun mereka saru. Tak perlu melalui LSM yang sarat kepentingan. Tak usah menemui makelar, yang mempercepat diterimanya aspirasi kita. Semua itu tak perlu, mengingat sekarung penuh gandum sudah pernah diantarkan guna meredam lapar dalam waktu semalam saja.

Para khalifah ini menempatkan dirinya benar-benar sebagai pelayan masyarakat. Sungguh, bukan kemewahan yang mereka dapat, kecuali hanya sedikit yang bisa dimasukkan ke perut mereka, untuk mengganjal lambung yang lapar. Tak pernah ada pakaian dinas yang dianggarkan membebani porsi kesejahteraan rakyat. Tak ada subsidi listrik, air, dan telepon di rumah petak sederhana mereka. Tak pernah ada Royal Crown mewah menghiasi garasi mereka, mengingat seorang Umar bin Abdul Aziz pun telah menyerahkan hampir semua kekayaannya pada Baitul Maal. Mungkin Umar merasa malu, karena salah seorang pendahulunya bahkan pernah menginfaqkan separuh hartanya di jalan Alloh, yang kemudian tertunduk rendah hati karena saudaranya yang lain hanya menyisakan Alloh dan Rosul-Nya untuk keluarganya.

Intinya sederhana: saya benci birokrat.

Juga, saya benci jadi birokrat, meski saya, karena beberapa insiden yang tak disengaja, terpaksa masuk sebuah kampus berplat merah yang dikhususkan mencetak kader-kader sebuah kementerian yang akhir-akhir ini banyak diperbincangkan karena seorang menterinya pindah ke sebuah lembaga keuangan yang sebenarnya sudah ditolak di berbagai penjuru dunia.

Saya cenderung tak mempercayai diri saya. Ada sifat-sifat ceroboh yang hingga kini masih sulit diatasi. Maka, saya khawatir kemudian menggunakan fasilitas negara, yang didapat dari iuran paksa yang ditarik dari masyarakat, untuk kepentingan pribadi saya. Saya khawatir tak bisa meneladani jejak seorang khalifah yang tadi saya ceritakan, Umar bin Khaththab, yang sampai mematikan penerangan satu-satunya di ruang kerjanya ketika seseorang datang hendak membicarakan masalah pribadi dengannya. Semata, ia tak mau menggunakan fasilitas negara tersebut demi kepentingan pribadinya.

Saya khawatir tak bisa menjaga diri saya terhadap godaan dunia, mengingat sang utusan terakhir telah memperingatkan bahwa fitnah ummatnya adalah fitnah harta. Saya khawatir akan menyuapkan nasi dan lauk-pauk yang haram bagi isteri dan anak-anak saya kelak. Dan seperti yang telah kuceritakan padamu sebelumnya, makanan itu kelak akan mempengaruhi akhlaq dari mereka yang memakannya.

Saya khawatir terhinggapi perasaan ‘ujub, kibr, dan silau pada jabatan hingga, seperti para birokrat itu, pertemuan dengan rakyatnya harus melalui mekanisme bertele-tele. Lebih-lebih, saya pun khawatir akan terhinggapi Fir’aun syndrome, yang saking sombongnya, hingga ia mengaku-aku sebagai rabb, sebagai penguasa, pengatur, atau sebagai polisi dunia.

Dan tak ketinggalan, memimpin adalah memikul tanggung jawab. Memimpin adalah mengemban amanah. Tentu, tanggung jawab, atau amanah, itu harus dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Yang ini, saya sendiri merasa tak sanggup. Saya merasa tak sanggup memikul beban yang bahkan para manusia mulia pendahulu saya itu begitu takut, gemetaran, ketika menerima jabatan ini.

Tentu, saya tak benci birokrat dan benci menjadi birokrat karena sosok personal yang sifatnya subjektif. Saya menilai berdasarkan apa yang terjadi. Tapi, meneladani kisah salaf yang telah saya sebutkan tadi, sepertinya memimpin, saat ini, adalah salah satu cara untuk menjauh dari surga.

-RSP-

Iklan
1 comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: