Asal Kata Tu(h)an

Beberapa waktu lalu, di Malaysia, terjadi sengketa penggunaan kata “Allah”. Sedikit tergelitik juga saya jadinya. Bahwa penelusuran sejarah mutlak diperlukan guna membuktikan argumen masing-masing pihak. Tapi, kali ini, saya tak berminat mengomentari polemik yang terjadi di sana. Saya lebih tertarik membahas asal kata tuhan, dan komparasinya dengan kata yang sering digunakan al Quran untuk menjelaskan “jabatan” Alloh: ilah dan rabb.

Dalam buku Bahasa Menunjukkan Bangsa, Alif Danya Munsyi menyorot beberapa kesalahan berbahasa Indonesia masyarakat negeri ini, baik lisan dan tulisan. Salah satu yang ia tulis adalah kata tuhan.  Menurutnya, kata tuhan hanyalah kesalahan ejaan dari kata tuan, dan ini terjadi karena kesalahan seorang Belanda bernama Leijdecker, pada 1678. Dalam bukunya, ia menyebutkan peristiwa itu terjadi sebagai salah satu gejala paramasuai, yaitu penambahan bunyi “h” yang sebenarnya nirguna pada kata-kata tertentu, seperti hembus, hempas, hasut, dan tuhan.

Alif berkata bahwa gejala itu timbul karena pengaruh lafal daerah, rasa tak percaya diri, dan yang sangat penting adalah yang berkaitan dengan penjajahan bangsa-bangsa Eropa terhadap bangsa Indonesia. Lebih lanjut, Alif mengatakan peralihan tuan menjadi tuhan sepenuhnya bersumber dari kepercayaan mereka atas Yesus.

Sebenarnya, di akhir surat-surat Paulus yang berbahasa Yunani, selalu dituliskan kata-kata, “Semoga rahmat Yesus Kristus Tu(h)an kita menyertai ruh kita.” Tuan, dalam bahasa Yunani adalah “kyrios”, dalam bahasa Portugis, “senor”, dalam bahasa Belanda, “here”, dalam bahasa Perancis, “seigneur”, dan dalam bahasa Inggris, “lord”. Perhatikan kutipan dalam buku tersebut berikut ini.

Kalimat “Semoga rahmat Yesus Kristus Tuan kita menyertai ruh kita,” dalam bahasa Portugis berarti, “A grace de mosso senhor Jesus Cristo seja com ovosso espiritu.”

Dalam bahasa Belanda kalimat ini berbunyi, “De genade van onzen here Jezus Christus zij met uw geest.”

Dalam bahasa Perancis berbunyi, “Que la grace de notre seigneur Jesus Christ soit avec votre esprit.”

Dan dalam bahasa Inggris berbunyi, “The grace of our lord Jesus Christ be whit your spirit.”

Misi zending, yang membawa risalah Kristen masuk ke Indonesia di masa penjajahan, pada mulanya masih menerjemahkan kata tersebut dengan kata “tuan”. Hal ini dilakukan oleh Browerius, saat Indonesia masih dijajah oleh Portugis, pada 1663. Namun, saat Leijdecker, warga Belanda, pada 1678, menerjemahkan surat-surat Paulus itu, sebutan “tuan” telah berubah menjadi “tuhan”. Dengan kata lain, Leijdecker yang pertama kali menulis kata “tuhan” untuk penerjemahan dalam kitab suci Kristen.

Dari penjelasan historis tersebut, kiranya sudah bisa kita tarik kesimpulan bahwa kata “tuhan” masuk ke dalam bahasa Indonesia sebagai pengaruh teologi Kristen. Meski pada mulanya hanya sebagai kesalahan tulis, kata ini akhirnya menjadi padanan bagi kata “ilah” dan “rabb” dalam bahasa Arab, meski arti sesungguhnya sangat berbeda.

***

Sedangkan A.D. El Marzdedeq dalam Parasit Aqidah, memiliki perspektif dan data lain dalam menjelaskan asal kata “tuhan”. Kata ini diduga berasal dari sebuah ajaran penyembahan pada Tu dan Yang yang berpangkal di Asia Tengah, dan mungkin dianut beberapa suku Mongoloid purba. Pada 200 SM, sebagian suku-suku proto-Melayu yang telah menganut keyakinan ini tersebar ke arah Selatan memasuki kepulauan Indonesia dan Filipina.

Ajaran Lao Tzu, yang mengajarkan filsafat Tao; Kong Fu Tzu atau Kong Hu Cu, yang terkenal dengan pepatah taatilah ayah bunda dan pemerintahan-nya; ajaran Mon; ajaran Melayu Purba; Ajaran Kaharingan; ajaran Pendeta Polinesia; ajaran Tahiti; ajaran Saminola; ajaran Guatemala; Sinto; ajaran Huna; hingga ajaran Beun; semuanya berpijak pada satu prinsip aqidah yang sama: pantheisme.

Contoh, menurut Kong Fu Tzu, yang menjadikan Tao sebagai sesembahan tertinggi,

Tao itu boleh dipikir dengan mengkaji alam dan kehidupan.

Sedang ajaran Mon menggariskan bahwa Tu, atau Tuh, ada dan eksis secara menyeluruh. Ia jauh tapi dekat, dan ia bersatu tapi berpisah.

Serupa dengan ajaran Mon, ajaran Melayu Purba juga menjadikan Tu sebagai sesembahan tertinggi. Tu dinamakan pula Sangyang Tunggal yang hidup bersekutu dalam alam, tapi ia sendiri bukan alam.

Dalam ajaran Kaharingan, Tuh, atau Toh, adalah roh alam, penguasa terbenam dan terbitnya matahari.

Sementara itu, dalam ajaran Pendeta Polinesia, Toh adalah zat yang tersusun dari Ora, yang tersebar dalam benda-benda. Dengan catatan, benda tersebut bukan Toh.

Hal yang sama berlaku pada ajaran Tahiti, Saminola, dan Guatemala. Para pemeluknya meyakini bahwa Toa, Toaroa, Esang Etuh Emiso, Tou, To, Dy Thi, dan Po Teuh adalah wujud-wujud pencipta semesta ala mini yang kemudian menjelma, dengan prinsip emanasi, ke dalam segenap makhluk di dunia ini.

Berbagai bentuk kepercayaan yang berbeda-beda ini ternyata bersepakat terhadap aqidahnya: pantheisme. Selain itu, penamaan mereka terhadap sesembahan mereka pun seragam. Asal katanya sama. Proses pemindahan nama “tuhan” ini sangat mungkin terjadi melalui akulturasi budaya. Indikasinya, kepercayaan Kejawen juga memiliki prinsip-prinsip aqidah yang serupa dengan berbagai bentuk kepercayaan yang telah saya sebutkan satu persatu, seperti di atas.

Contoh yang paling tampak ialah konsep manunggaling kawula gusti. Adagium ini sangat terkenal di lingkungan masyarakat Jawa tulen. Bahkan, kalau ada di antara pembaca yang sempat berkunjung ke pelosok Jawa, saya yakin masih ada sekelompok masyarakat yang meyakini kepercayaan ini. Konsep ini merupakan salah satu bagian dari bingkai besar filsafat pantheisme. Nah, sampai sini, saya kira sudah jelas.

Proses akulturasi tersebut, selain menularkan kepercayaan masyarakatnya, juga akan berdampak pada bahasanya. Itu jelas. Dan salah satu produk akulturasi bahasa yang bisa kita temui saat ini adalah kata “tuhan” ini.

Sementara itu, arti dari kata “ilah” dan “rabb” sangat jauh berbeda dengan “tuhan”. Secara singkat, menurut Abul A’la al Maududi dalam al Mushthalahatul Arba’ah fil Qur’an, “ilah” berarti sesembahan, dan “rabb” artinya pemelihara atau pengatur. Bila dibandingkan dengan kata “tuhan” yang berkaitan erat dengan filsafat pantheisme, tentu kita tak dapat menemukan korelasinya.

Di satu sisi, “tuhan” dilukiskan sebagai pencipta yang ikut masuk ke dalam masing-masing diri dari makhluk yang diciptakannya. Sementara itu, dalam Islam, Alloh dinyatakan bersemayam di atas Arsy, terpisah dan tidak serupa dengan satu pun makhlukNya. Selain itu, Islam menyatakan bahwa Alloh adalah satu-satunya pemelihara, pengatur, dan yang berhak disembah. Sementara itu, dalam kepercayaan-kepercayaan kuno yang telah saya tuliskan di atas, “tuhan” hanyalah berperan sebagai tempat menghadap seseorang saat ia bersujud. Tak lebih dari itu. Pembuat syariat, dalam sistem kepercayaan di luar Islam, bukanlah Alloh. Pemelihara dan pengatur segala aktivitas kita, menurut Islam, adalah Alloh.

Dari uraian di atas, kiranya bisa kita tarik beberapa kesimpulan. Pertama, kata “tuhan” ternyata berasal dari kepercayaan selain Islam. Dan hal ini membawa kita pada kesimpulan kedua. Bahwa ideologi maupun aqidah yang dibawa oleh masyarakat yang membawa kata “tuhan” itu ternyata berbeda jauh, berseberangan, dengan Islam. Maka, sebagai seorang muslim yang telah memiliki definisi tersendiri mengenai Alloh dan “jabatan-jabatannya” sudah sepantasnya kita kembali merujuk pada al Quran untuk menyegarkan lagi pemahaman kita mengenai diin ini.

-RSP-

Iklan
8 comments
  1. You have done it again! Superb article!

    • muslimpeduli said:

      ow, thanks. i just wrote it and.. yeah, u know.

      but, do you know what i’ve written? do you know that “God” or “Lord” in your language means something inappropriate in bahasa indonesia? what do u think about this case?

  2. If I had a greenback for each time I came here.. Great post!

  3. If I had a nickel for every time I came to muslimpeduli.wordpress.com… Great writing.

  4. Really interesting writing. Honestly..

  5. rizky said:

    kata TuHan bukan brasal dari kata tuan ditambah h.itu bisa2nya si remi sylado aka munsyi aja.Tu yg dimaksud dia lain dikenal dlm bahasa arab sebagai Huwa Dia Yang Maha Kuasa.hanya saja karena pemahaman org2 dahulu ttg Huwa tdk sama dgn kita,maka Dia dipersepsikan dgn kekuatan alam yg maha tinggi,kuasa,dsb.sedang umat Islam mengenal Tu sebagai Dia Allah Yang Maha Tungal (Qul Hu Allahu Ahad-katakanlah,Dia Allah Yang Maha Esa).sedang Han lbh mendekati makna Ada,nyata,exist,tunggal.sehingga TuHan bermakna Dia Yang Maha Ada,Maha Tunggal

    • reza said:

      pertama, argumen anda mengenai kata “Tu” yg dikaitkan dengan bahasa Arab sangat jauh. kata “Allah”, menurut Ibnul Qayyim dan beberapa ulama yg sepakat dengannya, punya kedekatan akar kata dengan ilaah, dan kata itu dianggap mewakili asma’ul husna. dan tidak ada kaitannya sama sekali dengan “Tu”. penjelasan (agak) lengkapnya bisa dirujuk ke Fathil Majid di bab2 awal.

      kedua, kata “huwa” (bukan “hu” seperti yang anda tuliskan–mungkin kita berbeda dalam hal transliterasi; tapi saya lihat anda agak salah sejak kalimat ketiga) dalam bahasa Arab juga artinya umum: kata ganti orang ketiga mudzakkar. tidak spesifik diidentifikasikan pada kata “Allah” saja. lagi-lagi, tidak ada hubungannya dengan kata “Tu”.

      ketiga, anda belum menuliskan argumen anda tentang kata “han”. bagaimana sejarahnya kok kata tersebut lebih mendekati makna ada, nyata, eksis, tunggal?

      keempat, ketika anda belum bisa menjelaskan kesamaan akar kata yang mendasari pembentukan kata “tuhan”, sayangnya, Alif Danya Munsyi sudah menjelaskannya dengan lebih lengkap. anda perlu menyajikan referensi lebih jauh untuk bisa meyakinkan saya lebih dari apa yang Alif berhasil lakukan pada saya.

      terakhir, poin penting yang ingin saya sampaikan adalah bahwa bahasa indonesia ternyata belum mewakili banyak kata dalam bahasa arab. sebab terjemahan kata “rabb” dan “ilaah” (yg punya akar kata berbeda) tentu tidak bisa disandingkan begitu saja dengan kata yang sama dalam bahasa indonesia. argumennya saya tuliskan di atas. contoh lain adalah kata “ihsan”, “ikhlas”, dsb. jangankan orang indonesia. para shahabat yg bahasa ibunya adalah bahasa arab saja tidak memahami kata tersebut sebelum Rasul menjelaskan pada mereka.

      begitu, mas Rizky. 🙂

  6. Assalamualaikum WR WB,

    Salam Akh Reza, ini kunjungan pertama saya ke rumah media daring Antum, salam kenal 🙂

    Telaah linguistik yang menarik, tentang genealogi idiom Tu(h)an. Sebagai saran, mohon satukan dalam rumpun yang lebih dekat dahulu, yaitu Austronesia. Manusia berbahasa oral basisnya dari persepsi terhadap tantangan hidup sehari- hari, dari cara mereka mencari makan, menghadapi lawan ( manusia lain), bencana ( alam), beranak pinak ( reproduksi), dan dari bahasa oral, mereka berusaha mulai melakukan transfer ide lewat bahasa literal ( teks). Bahasa literal ( teks) mengandung persepsi manusia yang menuangkannya, oleh karena itu, observasi ( pembacaan ) budaya dan tantangan lingkungan saat teks diproduksi, mutlak dilakukan, agar kita mendapatkan referensi kontekstual atas teks yang sedang kita baca ( observasi).

    Distribusi informasi manusia yang awalnya oral, cenderung menggunakan kekuatan memori terhadap persepsi, untuk kemudian disampaikan antar generasi. Sejarah versi manusia dimulai ketika manusia mulai melakukan migrasi komunikasi dari oral ke literal ( teks), dari situ ledakan pengetahuan mulai bisa direproduksi secara massal. Kelemahan teks adalah, tafsirnya dipengaruhi oleh persepsi penafsir, dan persepsi tidak pernah netral. Setiap manusia dibekali pengetahuan disiplin tafsir, namun selalu akan ada muatan pengalaman penafsir dalam membaca teks dari generasi sebelumnya, kalau dalam bahasa penyair, setiap “Zaman” ( atau Zeigeist) itu punya “Anak- anak Zaman”, yang hidup dengan cara mereka masing- masing.

    Riset empiris dimulai dari kedekatan ras dan posisi geografis. Arab dan Yahudi masuk ke Semitik, yang masuk ke Afro-Asiatik, Indonesia masuk ke Austronesia, dan Eropa Barat- Amerika Utara masuk ke Indo Eropa. Kenapa persepsi linguistik bahasa mereka berbeda ? Karena tantangan untuk bertahan hidup ( survival for life) juga berlainan. Apakah ada kesamaan ? Pastinya begitu. Nilai irisan antar bahasa manusia lebih besar daripada perbedaannya, apalagi jika merujuk pada genealogi keturunan manusia dan distribusi spesies manusia di Planet Bumi.

    Genealogi linguistik harus dimulai dari distribusi manusia, kalau memang manusia yang beriman bahwa Adam adalah manusia pertama di Planet Bumi, maka observasi distribusi migrasi anak keturunan Adam, setelah dia bereproduksi dengan Hawa. Yang paling menarik untuk dikaji adalah posisi geografis Timur Tengah, yang menjadi titik kedua perpecahan turunan Adam. Kalau dari referensi tekstual manusia yang mengimani Adam manusia pertama, maka banyak pembawa informasi, yang disebutnya nabi atau rasul, lahir dan dibesarkan di area Timur Tengah.

    Dari Timur Tengah pasca Nuh, disebarkan keturunan Adam yang akan melakukan migrasi ke benua- benua lain, dari situ, pahami bahwa populasi manusia masih dalam jumlah belum sebanyak saat ini. Bisa dipastikan, bahwa manusia melakukan migrasi juga menyesuaikan dengan sumber daya penunjang kehidupan, manusia butuh makan dan keadaan aman, untuk mau bertahan hidup di sebuah daerah.

    Riset linguistik berbasis artefak tekstual semacam kitab suci dan pustaka lain, jika tidak diimbangi dengan eksperimen empiris, langsung menuju pusat kebudayaan manusia, yang memproduksi teks atau menjadi kaum ( komunitas) pertama, yang bersentuhan dengan produsen teks, akan meniru pola redefinisi “Tuhan”, yang dilakukan saat Konsili Nicea, oleh komunitas Katolik. Bagaimanapun, teks mengandung “rasa bahasa”, yang didalamnya dipengaruhi oleh persepsi manusia yang hidup saat teks itu diproduksi.

    Observasi berikutnya, yang sangat saya sarankan, adalah observasi semesta. Lingkungan yang mengelilingi manusia dan manusianya sendiri. Membaca semesta adalah upaya terbaik untuk mencari tahu, siapa sebenarnya manusia, bagaimana manusia bisa ada dan bisa punah, serta peran manusia terhadap entitas kehidupan lain, baik itu yang memiliki materi atau tidak dalam format materi.

    Semesta ini punya “sejarah” sendiri, dan manusia juga membuat “sejarah” versi manusia. Meneliti artefak tekstual kemudian bisa dengan gagah menghakimi manusia lain, sebenarnya adalah sebuah bentuk kesombongan atau arogansi, saya pernah menuliskannya di sini : http://politikana.com/blog/2010/04/arogansi-antroposentris.html

    Konstruksi peradaban muslim pasca era Muhammad SAW, dipenuhi dengan manusia- manusia yang memiliki keingintahuan tinggi terhadap alam semesta, mereka tidak takut keimanannya goyah, gara- gara menghadapi argumen atas semesta, dan tentunya konstruksi atas Tuhan, versi kaum lain. Mereka dikagumi oleh manusia lain, yang belum diberikan iman oleh Allah, karena produk- produk hasil kajian mereka yang memang memberikan manfaat nyata di berbagai bidang, mulai dari teknologi pertahanan, militer, tata kelola air, bangunan, pengobatan, garmen, dan banyak hal lain. Mereka disukai, dan juga punya manfaat nyata, bagi manusia lain yang belum diberikan hidayah.

    Mereka petualang sejati, petarung tangguh, periset alam, dan sekaligus mampu menyatukan ilmu dengan iman, sebagai sebuah hidayah yang hanya Allah sendiri, yang berhak untuk memberikan kepada manusia lain. Nilai yang dikagumi dari ajaran yang dibawa oleh Muhammad SAW, sesungguhnya adalah pada pembolehan kepada manusia, untuk membaca ayat- ayat semesta, untuk kemudian berusaha menemukan modelnya. Yang mekanisme itu sangat dilarang oleh otoritas kepercayaan kaum lain, saat itu. Tafsir atas teks memang mungkin ada otoritasnya, otoritas atas benar atau tidaknya sebuah kata/ kalimat diartikan. Tetapi tafsir atas semesta, disini kerja keras penelitian, besarnya kapital pendukung penelitian, dan fungsi dari hasil membaca ( Iqra) atas semesta tadi.

    “A great civilization is not conquered from without until it has destroyed itself from within” http://politikana.com/blog/2011/02/apocalypto.html

    Wassalamualaikum WR WB,

    Jazakumullah khair, Akh Reza, keep the spirit of yours

    Regards,

    Max

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: