untuk kenangan yang mewarnai hari kita

aku ingat setiap tetes hujan yang menyatukan kenangan kita
dan bahkan saat itu aku telah bangkit dari sekedar angan
bahwa suatu saat pasti ada yang berubah jadi selembar foto tua.

bukan apa-apa,
hanya saja, aku kembali ingat pada hari-hari indah kebersamaan kita.

***

sering kita berusaha menyamakan langkah
tertatih menyudutkan ruang untuk amarah
nyatanya, masih ada saja yang tak terungkap,
dan tak menyisakan celah guna sedikit kata cinta

entah mengapa, aku ingat hari sabtu yang hangat itu
kalian mencariku, bertanya di mana aku
hey, keras sekali suara di seberang sana!
saling bertanya dengan kalut, di mana makhluk bernama reza

terbata, kujelaskan semua
aku berada di bawah naungan sayap malaikat
mendaras kalimat sembari memandangi wajah-wajah penuh hikmat
semua terselubung rahmat

tapi aku ingat, kalian sudah memaklumkan maafku
maka, takkan kuusik lagi kalian dengan hal itu

***

aku ingin kalian mengingat titik hujan yang berlomba mencium bumi
saat kita semua duduk di serambi kelas
menikmati gemerisik hujan siang hari
menanti pemberi materi yang selalu datang tak pasti

***

aku ingin kalian mengingat jejak juang kita
membenamkan muka ke kitab-kitab bersahaja
yang mengantarkan diri pada cita-cita
semua berharga
karena ia diraih dengan malam yang diisi rindu
karena ia diraih dengan terik yang dihias peluh
dan saat engkau bersorak, begitu juga aku

***

aku ingin kalian mengingat puisi kita,
berupa angka-angka yang terhitung mundur
hari demi hari,
dan seiring bulan berganti,
tetap rutin kalian isi selembar papan di sudut kelas ini

benar, ia adalah puisi
karena indah benar angka-angkanya menari
menghitung kebersamaan kita yang tak terganti

***

aku ingin kalian mengingat kubang-kubang yang kita kuras bersama
letihnya kita rasakan bersama
lembut dagingnya kita nikmati bersama
dan jejak-jejak perekamnya kita pandangi bersama

***

aku ingin kalian mengingat belai angin di sebuah masjid
di sebuah rehat saat kita berkelana dari sekolah kita dulu
demi selembar pernyataan yang datang dari jauh
jauh, dari cambridge sana.

***

aku ingin kalian mengingat setahun penuh masa suram kita
saat-saat di mana kalian mendapukku sebagai ketua
ah, yang ini, harus senatiasa kuulangi kata maafku
sebab sungguh tak pantas sosok ini menjadi pelayanmu
semata karena memimpin berarti melayani

***

hingga, dalam sebuah narasi yang berjalan mundur,
sampailah kita pada pertemuan pertama
aku lupa tanggal berapa
yang jelas, aku duduk di muka kelas
menoleh kesana kemari,
tak kunjung pula kudapati perasaan yang sama

andai bisa kulukis wajahku dulu,
kawan seatapku akan menyebut, “ngapain lu? bengong aja..”

***

kalau aku boleh bercerita padamu kawan,
jujur saja, tak ada bersitan niat sedikit pun kita akan berjumpa,
bersama selama dua masa
sebuah kecelakaanlah yang menyatukan kita
ah, tidak. mungkin bukan insiden semata
barangkali ia telah tertulis, telah terencana

dan untuk semua itu, jelas untaian syukur harus terhatur

***

semua yang disebut kenangan tak bisa diulang lagi
persis seperti ricik air yang membasahi bumi
jejak yang ia tinggalkan memang membekas,
tapi tak mungkin kita menata lagi tanah yang terhanyut
tak mungkin kita membawa air yang tumpah kembali ke awan

tapi, izinkan aku memelihara masa lalu
mengait kembali yang terserak dahulu
merestorasinya, bila mungkin
memakluminya, bila memang begitu adanya

-RSP-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: