Islamisasi

Kata ini tiba-tiba saja terbersit dalam pikiran saya. Entah kenapa. Tapi, yang jelas, untuk menjadikannya lebih bermanfaat, saya ingin berbagi sedikit dengan pembaca.

Saya yakin masih ada yang ingat dengan protes yang mewarnai banyak wilayah di Indonesia ketika pembahasan tentang RUU Antipornografi sedang digodok oleh wakil rakyat di gedung parlemen Senayan. Beberapa argumen yang saya temui, seperti pembatasan atas kebebasan berekspresi pun muncul. Yang jelas, anggota masyarakat ini tak ingin adanya pembatasan ‘kebebasan’ mereka dalam melakukan segala hal yang mereka inginkan, dalam hal ini eksploitasi terhadap tubuh kaum hawa.

Hal serupa terjadi di Turki. Anggota parlemen dari Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) Edibe Sozen menggulirkan aspirasi mengenai pengaturan mengenai segala entitas yang berbau pornografi. Majalah, atau apa pun itu, harus dibungkus dengan rapi dan tak bisa diakses remaja dengan mudah. Pembelian atas barang-barang tersebut pun harus mendapat control dari pemerintah.

Termasuk dalam proposal yang ia ajukan adalah pembatasan tempat-tempat penjualan minuman beralkohol. Pembatasan usia penjualan minuman tersebut pun masuk dalam proposal anggota parlemen muda tersebut.

Sama seperti di Indonesia, usulan itu segera mendapat kecaman keras. Turki bagai menerima alarm tanda bahaya akan terjadinya Islamisasi. Seperti di Indonesia, seluruh pihak nasionalis-sekuler pun berdiri memprotes keras usulan tersebut. Mereka berlomba memberikan opini agar rencana-rencana tersebut tidak dilegalkan dengan mudah.

Lagi-lagi, sama seperti di Indonesia, langkah ini dicurigai sebagai pertanda akan usaha menuju negara syariah, menuju negara Islam. Ya, meski hingga saat ini belum terbukti, selalu muncul kecurigaan mendalam ketika sekelompok orang berencana menerapkan aturan yang membatasi ruang gerak warganya, meski sebenarnya tak ada kaitan langsung dengan Islam.

Lho? Apakah rancangan undang-undang itu, baik di Turki maupun di Indonesia, tidak ada kaitannya dengan Islam?

Jawabannya jelas: Ya! Mengapa? Untuk menjawabnya, mari sejenak kita merenunginya dari sudut pandang warga agama lain yang bukan Islam, atau bahkan sudut pandang kaum sekuler sekalipun.

Pertama, saya ingin bertanya. Apakah dalam sudut pandang mereka, baik secara medis, maupun sosial, alkohol itu benar-benar tidak memicu permasalahan yang lebih besar? Apakah dalam sudut pandang mereka pornografi itu tidak menyimpan bahaya laten?

Negara-negara sekuler seperti Denmark dan Swedia, seperti yang ditulis Ustadz Herry Nurdi dalam Sabili edisi 4 September 2008, adalah negara yang pertama kali melegalkan pornografi secara resmi. Namun, hari ini mereka mengakui bahwa hal tersebut hanya memberikan catatan buruk. Begitu banyak permasalahan yang harus mereka selesaikan saat mereka melegalkan sesuatu yang seharusnya dilarang, atau paling tidak, dikontrol secara ketat. Ironisnya, di Indonesia, Negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, untuk mendapatkan materi pornografi maupun minuman beralkohol, nyaris tak memerlukan upaya keras.

Tak percaya? Datanglah sesekali ke lapak-lapak penjual DVD bajakan. Tak sulit kita menemukan materi-materi pornografi di sana. Atau cobalah lebih teliti mengamati produk-produk yang dijual di berbagai minimarket di dekat tempat tinggal kita. Tak kalah mudah kita jumpai berbagai merk minuman keras yang menghiasi produknya dengan label ‘bebas alkohol’.

Kedua, jika hal itu dipandang sebagai Islamisasi, apakah agama lain tidak melarang pemeluknya untuk mengakses materi pornografi? Apakah agama lain tidak melarang pemeluknya untuk mengonsumsi minuman keras yang benar-benar berakibat buruk bagi perkembangan moral mapun kesehatan konsumennya?

Yah, saya harus mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh anggota parlemen dari AKP maupun beberapa anggota parlemen di Indonesia bukanlah demi menegakkan syariat Islam di muka bumi ini. Barangkali hal itu hanya dimaksudkan untuk memperbaiki kualitas hidup dan moralitas warga kedua negara ini. Tidak lebih.

Kenapa saya berkata seperti itu? Karena harusnya kita pahami bahwa hal-hal yang diperjuangkan dalam parlemen kedua negara tersebut bukanlah sebuah upaya penegakan syariah Islam. Hal-hal tersebut juga termaktub dalam kitab-kitab milik umat agama lain, bukan hanya tertulis dalam Islam. Titik penekanan al Quran adalah tauhid. Dan salah satu aspek tauhid, menurut Abul A’la al Maududi dalam al Khilafah wal Mulk, adalah haakimiyah Allah. Artinya, penuhanan Allah dalam bentuk pelaksanaan seluruh syariat-Nya secara kaffah. Bukan sebagian diambil, dan sebagian lainnya ditinggalkan begitu saja.

Dengan logika ini, saya pun merasa geli melihat orang-orang yang mengklaim diri mereka berasal dari Islam bersudut pandang liberal. Seolah mereka tak memahami permasalahan ushul dalam Islam sekaligus cabang-cabangnya. Saya merasa geli melihat protes mereka, seakan mereka menutup mata terhadap fakta-fakta yang teramat jelas yang terjadi di Denmark maupun Swedia, seperti yang saya sebutkan sebelumnya.

Nah, kalau memang maksud para pejuang undang-undang ini bertujuan untuk menegakkan syariah Islam di muka bumi, kenapa pula mereka tak mencontoh manhaj yang ditempuh Rasulullah saw? Padahal, saya yakin kita sama-sama mengimani sebuah sabda Rasulullah saw berikut.

Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk (melalui) Muhammad saw. (HR Nasa’i)

Islam adalah sistem yang rabbani. Cara penegakannya pun, harusnya juga rabbani. Faktanya, masih menurut Abul A’la al Maududi dalam al Khilafah wal Mulk, konsep-konsep lain selain dari konsep Islam yang integral tak mampu memberikan kebaikan, kesejahteraan, dan jaminan surga seperti yang diberikan Islam, melalui al Quran.

Daripada membela sebagian dari ayat Allah dan ingkat terhadap ayat Allah lainnya, bukankah lebih baik kita menerima seluruh ayat Allah, dan menjalankannya sesuai dengan manhaj Rasulullah saw? Daripada mengorbankan prinsip ke-Islaman kita, bukankah lebih baik kita meninggalkan segala hal yang mampu merusaknya, dan kembali pada jalan yang telah Rasulullah saw dan para pengikut jejaknya contohkan?

Tak bisa disangkal, realita sejarah menunjukkan hal tersebut. Bahwa Islam hanya mampu ditegakkan dengan cara yang se-manhaj dengannya.

Maka, daripada kita meributkan masalah Islamisasi yang utopi di tengah sistem yang jauh sekali dari nilai-nilai Islam, saya kira sudah saatnya kita menawarkan sebuah isu yang lebih maju dan konkrit, bahwa kita akan mendirikan nilai-nilai Islam di atas jalan yang kita bangun sendiri. Di atas manhaj yang telah ditempuh oleh Rasulullah saw dan generasi pendahulu dari  umat ini!

-RSP-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: