Menggugat Harkitnas

Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional. Saya tidak hendak menyatakan selamat. Justru, ada beberapa hal yang harus diperhatikan terkait perayaan ini. Dan ini berkaitan dengan masalah fundamental dalam memahami perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Hari pendirian Boedi Oetomo, 20 Mei 1908, saat ini diperingati sebagai hari kebangkitan nasional. Sebuah hari di mana tonggak perjuangan nasional Indonesia dimulai. Namun, ternyata ada beberapa fakta yang harus kita pertimbangkan dalam mencerna pernyataan ini. Apa saja?

Pertama, dalam Pasal 2 Anggaran Dasar BO tertulis, “Tujuan organisasi adalah untuk menggalang kerja sama guna memajukan tanah dan bangsa Jawa dan Madura secara harmonis.” Kaget? Wajar. Karena inilah gerakan yang diklaim sebagai gerakan kebangsaan, gerakan kebangkitan nasional, yang hanya memperjuangkan kemakmuran tanah dan bangsa Jawa dan Madura.

Dalam buku Gerakan Theosofi di Indonesia, Artawijaya mengutip Suhartono dalam Sejarah Pergerakan Nasional: Dari Budi Utomo Sampai Proklamasi 1908-1945 saat menampilkan pernyataan Ki Wiropoestoko, anggota Boedi Oetomo Surakarta.

“Berdirinya Boedi Oetomo semata-mata merupakan hasil elit Jawa yang telah memperoleh pendidikan barat.” – Ki Wiropoestoko

Seperti diketahui, ide lahirnya BO dilahirkan oleh para mahasiswa STOVIA, sekolah kedokteran binaan Belanda.

Kali ini, izinkan saya mempersilakan salah satu penulis muda yang cukup tajam dan produktif untuk menjelaskannya. Rizki Ridyasmara namanya. Mengutip KH Firdaus AN dalam Syarikat Islam Bukan Budi Utomo: Meluruskan Sejarah Pergerakan Bangsa, ia berkata,

“BO tidak memiliki andil sedikit pun untuk perjuangan kemerdekan, karena mereka para pegawai negeri yang digaji Belanda untuk mempertahankan penjajahan yang dilakukan tuannya atas Indonesia. Dan BO tidak pula turut serta mengantarkan bangsa ini ke pintu gerbang kemedekaan, karena telah bubar pada tahun 1935. BO adalah organisasi sempit, lokal dan etnis, di mana hanya orang Jawa dan Madura elit yang boleh menjadi anggotanya. Orang Betawi saja tidak boleh menjadi anggotanya,” – KH Firdaus AN

Tidak pernah sekali pun rapat BO membahas tentang kesadaran berbangsa dan bernegara yang merdeka. Mereka ini hanya membahas bagaimana memperbaiki taraf hidup orang-orang Jawa dan Madura di bawah pemerintahan Ratu Belanda, memperbaiki nasib golongannya sendiri, dan menjelek-jelekkan Islam yang dianggapnya sebagai batu sandungan bagi upaya mereka, ” – KH Firdaus AN.

Hal ini pula lah yang kemudian membuat pelaku dan pemerhati sejarah semacam H. Agus Salim, Ridwan Saidi, Ahmad Mansyur Suryanegara, hingga Rizki Ridyasmara menggugat keabsahan status Boedi Oetomo sebagai gerakan kebangsaan. Apa sebabnya? Sikap BO ini bertolak belakang dengan apa yang selalu diungkap oleh Sarekat Islam dalam publikasi-publikasinya. Sarekat Islam selalu mengklaim pendirian organisasi tersebut adalah demi terbentuknya negara Islam Raya dan Indonesia Raya. Selain itu, gerakan ini terbuka untuk seluruh masyarakat Indonesia. Buktinya, berbagai cabang SI pernah dibuka di banyak daerah, tak sebatas Jawa dan Madura.

Memang, SI pernah kecolongan dengan masuknya Semaun, Darsono, dan Alimin, yang kemudian menimbulkan friksi di tubuh SI karena ideology komunis yang mereka bawa. Namun, meski keterbukaan SI ini kemudian dimanfaatkan dengan masuknya kader-kader organisasi yang tidak menghendaki Islam tumbuh di negeri ini, peranan SI tetap harus dihitung dengan kadar yang proporsional, tak hanya sekedar cerita pengantar tidur.

Oya, ada satu fakta lagi yang perlu diperhatikan mengenai anggaran dasar BO dan SI. Anggaran dasar BO berbahasa Belanda, sedangkan anggaran dasar SI ditulis dengan bahasa Indonesia. Apa artinya? Saya yakin pembaca cukup cerdas untuk memahaminya.

Kedua, ditinjau dari peranannya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, jelas SI berperan lebih jauh. Mengapa? Sederhana saja. BO telah dibubarkan tahun 1935, sedangkan SI tetap eksis melewati tahun-tahun proklamasi kemerdekaan. Saya yakin pembaca paham bahwa salah satu syarat eksisnya sebuah negara adalah pengakuan dari negara lainnya. Di sinilah peran SI dalam kemerdekaan Indonesia. Salah satu tokoh SI, Haji Agus Salim, bersama beberapa tokoh Islam macam Prof. H.M. Rasjidi, pernah terbang ke Mesir menemui Hasan al Banna, pendiri sekaligus mursyid ‘aam pertama gerakan al Ikhwan al Muslimun untuk menerima dukungan berupa pengakuan kemerdekaan dari sang mursyid. Faktanya, negara pertama yang mengakui kedaulatan Indonesia adalah Mesir. Bukan China, yang merupakan kawan dekat Soekarno. Bukan pula Amerika, yang merupakan majikan dari Soeharto.

Ketiga, ditinjau dari kegiatan dan misinya, SI pun masih memegang peranan yang lebih penting dariapda BO bagi masyarakat Indonesia. Mengingat mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim, misi pendidikan dari Boedi Oetomo sangat tidak selaras dengan prinsip-prinsip keislaman. Berkali-kali, BO menyebut bahwa organisasi tersebut adalah organisasi yang netral agama. Seperti tertulis dalam Bangkitnya Nasionalisme Indonesia: Budi Utomo 1908-1918 karya Akira Nagazumi, Radjiman Widiodiningrat adalah tokoh yang gencar mengawal prinsip ini.

Usulan untuk memperbaiki kondisi sekuler di tubuh BO bukannya tidak pernah dilakukan. Tercatat, Mohammad Thohir pernah mengusulkan BO untuk membantu kesejahteraan masjid-masjid untuk merebut simpati umat Islam. Tak hanya Thohir, tokoh sekelas KH Ahmad Dahlan pun pernah mengajukan usulan serupa. Hasilnya bisa ditebak: tertolak. Maka, seperti kata Artawijaya dalam Gerakan Theosofi di Indonesia dan Herry Nurdi dalam Kebangkitan Freemason dan Zionis di Indonesia, inilah salah satu alasan berdirinya Muhammadiyah pada 1912.

Apa buktinya? Tertulis dalam salah Anggaran Dasar organisasi ini yang “melawan pikiran-pikiran keliru mengenai Islam dan mengembangkan hukum dan adat kebiasaan Islam”. Dan hingga kini, organisasi yang kerap dicap wahabi ini tetap menjadikan pendidikan sebagai basis gerakannya.

Pernyataan lebih gamblang dapat disimak dari buku karya Th. Stevens yang berjudul Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962.

…pengaruh Tarekat Mason Bebas atas emansipasi segmen penduduk Indo-Eropa telah mendapat perhatian , tidaklah terlupakan bahwa mereka juga mempunyai pengaruh dalam gerakan nasional Indonesia. Kaum Mason Bebas sudah pada tahap dini mengadakan hubungan dengan salah satu organisasi politik Indonesia yang pertama, yang bernama ‘Budi Utomo’.” – Th. Stevens

Sekedar info, Freemasonry, Vrijmetselarij, atau dalam bahasa Indonesia, Mason Bebas, merupakan salah satu cabang organisasi Yahudi yang berakar kuat. Di beberapa tempat, seperti di Amerika Serikat, organisasi ini menunjukkan dirinya secara terang-terangan. Bukti konkretnya adalah pendirian George Washington Masonic Memorial maupun The Kabbalah Centre di negara itu. Tak hanya di AS, Muhammad Fahim Amin pernah membahas pengaruh Freemasonry dan berbagai anak organisasinya, seperti Lions Club maupun Rotary Club, di Mesir dan beberapa negara Timur Tengah lainnya. Organisasi ini diriwayatkan telah banyak berbenturan dengan umat Islam karena berbagai masalah yang ditimbulkannya, seperti sekulerisasi, liberalisasi, pemalsuan hadis, pemecahan negara khilafah menjadi nation state, dan sebagainya.

Cipto Mangunkusumo, salah satu tokoh pendiri BO, seperti dikutip dalam Gerakan Theosofi di Indonesia, bahkan pernah mengirimkan surat pada Soekarno yang bernada sinis terhadap Pan-Islamisme. Surat itu bermaksud mengingatkan kaum muda untuk berhati-hati akan bahaya Pan-Islamisme yang menjadi agenda tersembunyi H. Agus Salim dan HOS Cokroaminoto.

Ditambah lagi, ada selentingan mengenai salah satu maksud pendirian BO. Apa itu? Untuk menandingi lembaga pendidikan Islam Jami’at Khair yang didirikan pada 1905 oleh Syaikh Ahmad Syurkati, sosok yang kemudian mendirikan organisasi al Irsyad. Dugaan ini bisa jadi benar, mengingat berbagai pernyataan yang menyerang Islam yang kerap dilontarkan petinggi dan pendiri BO.

Keempat, ditinjau dari sosok-sosok yang mengisi pos kepemimpinan di BO, terekam jelas bahwa organisasi ini sejatinya sangat jauh dari misi utama umat Islam. Ketua pertama BO adalah Raden Tirtokusumo, yang, seperti diungkap oleh Th. Stevens dalam Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962, merupakan anggota Freemasonry Indonesia. Situs swaramuslim.com mencatat bahwa ia adalah anggota dari Loge Mataram sejak tahun 1895.

Selain itu, sosok ini dikenal luas sangat dekat dengan pihak kolonial. Bahkan, Bupati Karanganyar ini kerap digaji oleh Belanda dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Jelaslah, seseorang yang digaji bekerja pada pihak yang menggajinya. Tak mengejutkan, mengingat sebenarnya KH Firdaus AN telah mengingatkan pada kita sebelumnya, seperti yang telah saya kutip di atas.

Fakta dari poin keempat itu membawa kita pada poin kelima. Bahwa perjuangan BO ternyata selaras dengan misi kolonialisme Belanda. Maka, kalau tidak berpihak pada tanah jajahan, bukankah ia harus berpihak pada penjajah? Masihkah kita mengagung-agungkan pihak yang menjual bangsa sendiri sebagai pahlawan?

Dari sini, saya kemudian teringat dengan kata-kata Pramoedya Ananta Toer dalam Anak Semua Bangsa.

“Jangan agungkan Eropa sebagai keseluruhan. Di mana pun ada yang mulia dan jahat. Kau sudah lupa kiranya, Nak, yang kolonial selalu iblis. Tak ada yang kolonial pernah mengindahkan kepentingan bangsamu.” – Pramoedya Ananta Toer

Lima poin ini setidaknya membawa konsekuensi korektif bagi diri kita. Apa kita telah mengkaji sejarah dengan proporsional? Apa kita telah berlaku adil bagi mereka yang dicap sebagai “santri” atau “orang masjid”? Karena mayoritas sejarah dan pemberitaan hari ini lebih memihak pihak yang berkuasa atau berkepentingan daripada memihak pada kebenaran.

Poin korektif selanjutnya adalah introspeksi. Apa kita ikut menyuburkan informasi sejarah yang salah ini? Lebih-lebih, kalau kita membawa identitas sebagai muslim. Saya teringat sebuah iklan politik sebuah partai politik yang mengklaim berasaskan Islam yang berjudul “Momentum 1 Abad Kebangkitan Nasional: Harapan Itu Masih Ada”. Agak ironis juga saya melihatnya, mengingat mereka mengklaim memiliki hubungan dengan al Ikhwan al Muslimun. Seperti yang telah kita simak tadi, al Ikhwan adalah organisasi pertama yang mendukung berdirinya Indonesia merdeka. Kok ya gak ada usaha untuk membuka tabir sejarah?

Anyway, ada baiknya kita menjadikan sejarah sebagai pelajaran. Seperti kata Soekarno, “Jangan sekali-sekali kalian melupakan sejarah!”. Begitu juga, bangsa yang tak pernah dari pengalaman dan sejarah yang benar selamanya tak akan menemukan pelajaran yang benar. Pelajaran yang tak benar tentu akan menghasilkan aksi yang tak benar pula.

-RSP-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: