menilai yang tersingkap

tak pantas kiranya seorang muslim membunuh harapan,
karena ia bukanlah tuhan
yang mampu melihat apa yang tersembunyi dalam benak hambaNya di segala medan.

juga, tak pantas kiranya seorang muslim memburu kemenangan dengan tergesa
hingga ia melalaikan fakta bahwa dirinya adalah manusia,
dan menghakimi apa yg lewat dari kesanggupannya.

maka, aku teringat sebuah kisah di padang pasir,
yg diceritakan seorang sahabat, seorang pemuda, putra dari seorang budak.

***

kisahnya bermula di huruqat Bani Juhainah.
ya, saat itu adl masa-masa berperang.

pemuda ini mengejar seorang kafir yg berlari ketakutan,
karena ujung pedang telah siap mengakhiri hidupnya.
kencang ia berlari, tapi manusia memang punya batasnya.
terengah, ia bersandar di sebatang pohon, coba menyembunyikan keberadaannya.

sang pemuda gagah, didampingi sahabat anshar, menemukannya dan segera mengacungkan mata pedangnya
si kafir tersudut, dan memejamkan mata.
tampak bayang kematian menari di pelupuknya,
di bawah kilatan pedang.

lalu.., “asyhadu anlaa ilaaha illallaah! asyhadu anlaa ilaaha illallaah! asyhadu anlaa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna muhammadan abduhu warasuluhu!”
berkomatkamit lisannya menyebut syahadat.

pemuda itu, usamah bin zaid, tertegun.
namun, ia, sebagaimana kita mungkin, yakin syahadat itu palsu.
terucap krn mengharap kehidupan yg semu.

tapi sudah tak ada jalan lain lagi.
panah masih beterbangan, denting pedang masih beradu.
diambilnyalah keputusan yg terekam pena ulama’ itu.
ujung pedang terayun, tercerabutlah nyawa si kafir tersebut.

***

di madinah, sang utusan menanti kabar dari sariyahnya.
diceritakanlah kemenangan perang dengan gemilang.
sampai pada giliran usamah, semua berubah.

wajah Rosul memerah,

“dia sudah mengucapkan laa ilaaha illallaah, dan kau tetap membunuhnya?”

usamah terdiam.

“dia sudah mengucapkan laa ilaaha illallaah, dan kau tetap membunuhnya?”

“ya Rosulalloh,” jawab usamah, “sesungguhnya ia mengucapkannya bukan dari hati. dia mengucapkannya untuk menghindari pedang.”

“mengapa tidak engkau belah saja dadanya,” sabda Rosul, “sehingga kau tahu bahwa ia mengucapkannya karena semata menghindari pedang?”

kembali, usamah terdiam.

kemudian, suatu hari, sahabat nabi yg mulia ini berkenan menceritakannya pada seroang sahabat.
ia berkata, ”nabi terus menerus mengulang-ulang kata-kata itu hingga aku berharap bahwa aku baru masuk Islam pada hari itu,” tuturnya penuh sesal.

***

mari kuceritakan hikmah kisah ini padamu kawan.

kuncinya terletak pada kesadaran diri,
bahwa kita adalah manusia, yg tentu tak paham apa yg terucap dlm hati.
maka, cukupkanlah dirimu dg yg zhahir,
karena itu jelas lebih pasti,
dan lebih dekat pada kebenaran manusiawi.

mengapa?
kawanku yg baik, esok, ada pengadilan yg teramat jeli,
hingga tersingkaplah apa yg selama ini hanya terungkap dlm hati.
bisik iri, gumam dengki, percayalah, semua akan tersingkap di pengadilan yg hakiki.

di sanalah tempat mengadili apa yg tersembunyi dalam qalbu.
bukan di dunia ini, saudaraku.

maka, kerjakanlah tugasmu sebagai manusia.
menjadi khalifah di muka bumi, demi tegaknya kalimatulloh.

nilailah peristiwa berdasarkan apa yg tersingkap,
bukan yg tak terungkap.

karena, sekali lagi, tak ada daya kita sebagai manusia untuk membedah qalbu.
tak ada daya kita sbg manusia utk membuka yg tertutup debu.

-RSP-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: