Uhud, Konstantinopel, dan Gaza

Hari itu, sesosok mulia memberikan arahan pada pasukan pemanahnya. “Jangan kalian tinggalkan posisi kalian di Uhud dalam keadaan apa pun juga.” Pasukannya mengangguk siap. Segeralah mereka melangkahkan kaki ke pos masing-masing di perbukitan itu. Sebuah celah sempit di antara kedua bukit jadi fokus. Sudah pasti, Khalid bin Walid dan pasukannya akan melalui jalan sempit itu.

Degup-degup khawatir mungkin merayapi hati mereka. Mengingat, jumlah mereka kali ini hanya tiga ribu pasukan. Itu pun dikurangi oleh para pembangkang munafiq yang dipimpin Abdullah bin Ubay. Di sisi lain, siapa pemuda tanah Arab yang tak mengenal Khalid bin Walid? Peperangan mana yang ia pernah kalah di dalamnya?

Pasukan musyrikin pun datang, berbondong-bondong. Derap langkah kuda dan manusia menghentak bumi Uhud. Para pemanah menatap cermat. Dan tepat saat pasukan musyrikin itu memasuki celah Uhud, hujan anak panah memberondong dari segala penjuru. Segeralah terpecah barisannya. Mereka terpukul mundur. Tapi, karena celah yang sempit, banyak di antara mereka tertimpa anak-anak panah sebelum sempat melarikan diri.

Sesaat, kaum muslimin merasa telah mendapat kemenangan telak. Di tengah euforia kemenangan, tanpa sadar, barisan pemanah yang jadi ujung tombak kaum muslimin turun, berlomba guna mengambil ghanimah, harta rampasan perang. Mungkin mereka lupa pada instruksi Nabi di awal perang ini.

Khalid bin Walid, yang terusik hatinya menoleh ke belakang. Seperti tak rela menerima kekalahan, ia menatap ke balik perbukitan Uhud. Tak dinyana, ia menyaksikan pemandangan yang menguntungkannya. Kaum muslimin dalam kondisi lengah. Barisan terdepannya tak berada di posisinya.

Ia memacu kudanya kembali ke posisi musyrikin. Ditatanya pasukannya, dan dengan teratur tapi sigap dibawanya menuju medan pertempuran. Cepat gelombang serangan itu datang. Hantaman bagi kaum muslimin yang telah tercecer. Dalam perang ini, kaum muslimin mengalami kekalahan. Tercatat, tujuh puluh sahabat Nabi saw syahid, termasuk paman Nabi sendiri, Hamzah bin Abdul Muthallib. Nabi pun harus merelakan gigi depannya rompal tertimpa batu. Di tempat ini pulalah sosok tampan pembuka Madinah, Mush’ab bin Umair, gugur, dalam kondisi kehilangan kedua tangannya. Dengan wajah serupa Nabi, tentu saja syahidnya Mush’ab bin Umair membuat musyrikin Makkah kegirangan. Dikiranya, Nabi telah tewas. Segera saja, kabar kematian Nabi tersebar. Di saat tugas kenabian yang belum tuntas, kabar ini benar-benar menghancurkan semangat juang para sahabat.

Di tengah isak tangis blokade Gaza, aku membaca kisah ini.

***

Sultan muda berusia 23 tahun itu berdiri menghadap pasukannya di sepertiga malam terakhir, menjelang pembebasan bersejarah atas Konstantinopel. “Ikhwah fillah,” katanya, “Amanah yang dipikulkan ke pundak kita menuntut hanya yang terbaik yang layak mendapatkannya. Tujuh ratus tahun lamanya nubuat Rasulullah telah menggerakkan para mujahid tangguh, tapi belum seorang pun diizinkan Allah untuk memenuhinya. Kukatakan pada kalian sekarang, yang pernah meningalkan shalat fardhu sejak balighnya, silakan duduk!”

Tak ada seorang pun bergerak.

“Yang pernah meninggalkan puasa Ramadhan, silakan duduk!”

Masih tak ada yang bergerak.

“Yang pernah mengkhatamkan al Quran melebihi sebulan, silakan duduk!”

Beberapa sosok dengan bahu terguncang-guncang menahan air mata berlutut, terduduk.

“Yang pernah kehilangan hafalan al Quran-nya, silakan duduk!”

Kekhawatiran tak turut serta dalam jihad ini merayap dengan cepat. Lebih banyak lagi yang jatuh terduduk.

“Yang pernah meninggalkan shalat malam sejak balighnya, silakan duduk!”

Tinggal sedikit yang masih berdiri, dengan wajah tegang dan dada berdegub kencang.

“Yang pernah meninggalkan puasa ayyaamul bidh, silakan duduk!”

Dan tinggallah seorang yang masih berdiri. Dia, sang sultan itu, bernama Muhammad Tsaniy. Kita lebih mengenalnya dengan nama Muhammad al Fatih, sang pembebas Konstantinopel.

***

Ibnu Dahlan, dalam al Futuhat al Islamiyah, seperti dikisahkan pada saya oleh ustadz Ibnu Hasan ath Thobari, menceritakan sebuah pengepungan terhadap benteng kaum musyrikin di wilayah Turki. Tak kunjung kemenangan datang, dan ini jelas meresahkan sang panglima. Alhasil, dikumpulkannya seluruh pasukan untuk mengoreksi kesalahan-kesalahan yang dilakukan di medan perang.

Pertama, ia menanyakan hal-hal wajib yang ditinggalkan. Namun, seperti telah diduga, tak ada perkara fardhu yang terlewatkan. Kesalahan baru tampak saat ia mengecek kesiapan pasukannya terhadap masalah sunnah. Ternyata, pasukan ini lupa tak membawa kayu siwak untuk membersihkan gigi mereka. Jadilah mereka memetik ranting-ranting pohon, membersihkannya, dan menjadikannya alat untuk menyikat gigi mereka.

Tak dinyana, seorang mata-mata musuh yang diutus untuk melihat aktivitas kaum muslimin menyaksikan peristiwa ini. Terbirit-birit, ia berlari dan mengabarkan pada pasukannya untuk menceritakan peristiwa yang baru dilihatnya. Dengan penuh ketakutan, ia berkata, “Sesungguhnya kaum muslimin sedang mengasah gigi mereka untuk menyantap kita!”

Di sinilah letak pembuka jalan sekaligus pertolongan Allah. Ia menanamkan rasa takut pada hati kaum musyrikin untuk memudahkan perjuangan kaum muslimin. Dan faktanya, kabar ini segera menggegerkan pasukan musyrikin dan menjatuhkan semangat mereka. Dengan mudah, kisah peperangan yang tak bertanggal ini berakhir dengan kemenangan kaum muslimin.

***

Tiga kisah ini mengajarkan kita dua hal: pentingnya menjaga diri dari kema’shiyatan dan melestarikan sunnah dalam setiap perjuangan yang kita lakukan. Jangan dikira, kemenangan da’wah atau apa pun itu didapat ketika kita berpeluh-peluh berjuang siang dan malam. Jangan dikira, kemenangan da’wah atau apa pun itu diraih karena kita mengorbankan apa yang kita miliki untuk berjuang di jalan Allah. Sekali-kali tidak! Itu hanya sarana, dan penentu akhirnya tetaplah Allah.

Perhatikan kisah terakhir yang kita baca dalam tulisan di atas. Hanya karena masalah yang tak wajib, yang hukumnya sunnah, Allah menunda kemenangan kaum muslimin. Lantas bagaimana kalau yang ditinggalkan adalah perkara yang wajib? Apa yang terjadi kalau kita malah kerap berma’shiyat pada Allah? Apa yang terjadi bila syirik, bid’ah, dan perilaku ma’shiyat tetap kita lestarikan, sembari kita berkata bahwa kita berjuang di jalan Allah?

Mari kita perhatikan seuntai wahyu yang turun setelah perang Uhud,

Ketika musibah itu menimpa kamu, sebetulnya kamu telah menimpakan dua kali kekalahan kepada musuhmu, kamu masih bertanya, “Dari mana musibah itu?” Katakanlah, “Musibah itu datang dari dirimu sendiri.” Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS Ali Imron: 165)

Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepadamu, ketika kalian membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kalian terdesak dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakainya setelah melihat apa yang kamu sukai. (QS Ali Imron 152)

Sungguh, ma’shiyat ternyata memang menghalangi diri kita dari kemenangan sesungguhnya. Seperti dalam kisah perang Hunain, kata-kata sederhana tapi bernada congkak rupanya turut menghalangi kemenangan kaum muslimin, meski diriwayatkan mereka mengalami kemenangan telak.

Syaikh Shafiyyurrahman al Mubarakfury dalam ar Rahiqul Makhtum, menceritakan perilaku seorang prajurit di kalangan kaum muslimin yang melihat jumlah pasukan dan berkata, “Kali ini kita tidak mungkin bisa dikalahkan.” Peringatan Allah datang begitu cepat. Subuh, setelah pasukan itu berkata demikian, serangan mendadak dilakukan tentara Hawazin. Begitu cepat dan dahsyat, hingga Abu Sufyan bin Harb yang baru saja masuk Islam berkata, “Kekalahan mereka tidak berujung hingga ke laut..”

Dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kalian menjadi congkak karena banyaknya jumlah kalian. Maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat pada kalian sedikit pun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit oleh kalian. Kemudian kalian lari ke belakang dengan tercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan ektenangan pada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kalian tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana pada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir. (QS at Taubah 25-26)

Selanjutnya, Salim A. Fillah, dalam Jalan Cinta Para Pejuang, mengutip Syaikh ’Abdullah Nashih ’Ulwan, berkisah tentang da’wah dusta pada kita. Inti kisah ini adalah sepasang pemuda dan pemudi yang bertemu menyendiri di sebuah tempat, di mana sang pemuda shalih ini memberikan taushiyah pada sang gadis jelita. Apakah salah? Syaikh Abdullah berkata, “Ya!”. “Kesalahan itu,” lanjutnya, “telah terjadi sejak awal.” Apa itu? “Mereka berkhalwat! Mereka tak mengindahkan pesan dan peringatan Nabi mengenai hal ini.”

Memang, yang dikatakan sang pemuda adalah nasihat-nasihat indah. Tapi, terdapat satu kesalahan: mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan. Maka, sebesar apa pun klaim kita pada amal shalih yang hendak dilakukan, tapi ia tercampur dengan sesuatu yang tak sesuai dengan sunnah, bahkan ma’shiyat, inilah sebuah kesalahan. Inilah sebuah kekalahan.

Setelah menghindar dari ma’shiyat, teladan dan kedekatan kita pada sunnah pun ikut ambil bagian. Lihat, saksikanlah! Betapa mujahidin agung di zaman Muawiyah bin Abu Sufyan hingga tujuh ratus tahun kemudian gagal menggenapkan nubuat Rasulullah saw untuk menaklukkan Konstantinopel, dan meraih gelar sebagai panglima dan pasukan terbaik. Apakah selama tujuh ratus tahun itu tak ada yang berjuang hingga memperoleh syahid? Apa selama tujuh ratus tahun generasi pendahulu kita yang shalih itu tak pernah mengorbankan harta bahkan jiwanya di jalan ini? Tentu ada, bahkan banyak!

Tapi kemudian kita menyaksikan seleksi dan tarbiyah luar biasa yang diterapkan panglima muda itu, Muhammad al Fatih. Ia dikenal sebagai pemimpin yang begitu memperhatikan kesucian hatinya maupun pasukannya. Ia memperhatikan hal-hal detil yang mungkin kita anggap remeh. Meski sunnah sebenarnya bukanlah masalah sepele. Tak terhitung pemuda yang sang sultan bina dan dididik dengan ilmu dalam diin ini. Hingga, saat di medan perang, tak ada lagi motivasi selain meninggikan kalimat Allah dan memberantas kema’shiyatan hingga akar-akarnya.

Saya kemudian teringat tadzkirah dari Syaikh Abdullah Azzam dalam Washiyatul Musthafa li Ahli ad Da’wah. Di sana, ia menekankan arti penting qiyamul lail bagi setiap muslimin, terutama para pengemban da’wah ini. “Ini amanah yang berat, beban yang sulit, dan perintah-perintah yang membutuhkan ‘azam yang kuat dan himmah yang tinggi,” katanya. “Sungguh, kaum muslimin benar-benar tidak akan dapat mengalahkan musuh-musuh mereka dengan hanya berbekalkan jumlah pasukan dan kekuatan logistik. Hanya dengan diin inilah kemenangan akan tercapai. Sebenarnya, kunci kemenangan itu ada pada kekhusyu’an dan ketundukan pada Allah, Rabbul ‘alamiin,” lanjutnya.

Sekali lagi, tolong perhatikan. Sang Syaikh berpendapat bahwa ini adalah kunci kemenangan kaum muslimin. Padahal, shalat malam itu tidaklah wajib! Tapi ia menjadi bekal para pengusung amanah da’wah untuk mengisi hari-harinya dengan perjuangan.

Maka di sinilah sebenarnya letak kemenangan kita. Bukan pada jumlah manusia yang mendukung kita. Bukan pada besarnya amunisi material yang kita punya. Bukan pula pada strategi muluk yang kita rancang seksama. Kemenangan itu terletak pada seberapa besar kedekatan kita pada al Quran dan as Sunnah. Pada kedekatan kita pada jalan Nabi dan generasi salafus shalih. Memang, rencana itu penting. Tapi, jelas rencana harus kita sesuaikan dengan firman-Nya maupun teladan dari Rasul-Nya.

Lihatlah kisah ketiga kita. Dalam perang, jelas kesiapan adalah segalanya. Rencana memegang peran utama. Tapi, nyatanya, kemenangan tak kunjung datang. Apa sebabnya? Karena meninggalkan sunnah! Begitu juga kita. Saat sunnah jauh dari kita, saat jalan para nabi kita tinggalkan begitu saja, bagaimana mungkin kemenangan datang pada kita?

Uraian ini lantas membawa saya pada kisah perjuangan saudara-saudara kita di Gaza. Oh, saya tak hendak mengkritisi proses tarbiyah mereka. Karena telah jamak kita dengar kesungguhan mereka dalam belajar al Quran. Bahkan, dua tahun lalu, Ismail Haniyah mewisuda tiga ribu lima ratus hafidz Quran berusia sembilan hingga sebelas tahun. Anak-anak yang kemudian menjadi sasaran tembak serdadu teroris beberapa bulan kemudian.

Yang jadi perhatian saya adalah kita yang hingga kini belum mampu berpartisipasi dalam usaha membela saudara-saudara kita yang tengah ditindas oleh kaum yang ironisnya, meyakini sebagian dari ajaran ummat yang diperangi. Tidak berpartisipasi bukan berarti berhenti mempersiapkan diri. Persiapan itu perlu, mengingat sudah dekatnya tanda-tanda nubuwah mengenai kiamat yang telah Rasulullah ingatkan pada kita. Siapa tahu, panggilan untuk membela saudara-saudara kita dan menegakkan kalimat-Nya sebentar lagi berkumandang.

Maka, sudahkah kita menjauhi, atau paling tidak berusaha menjauhi ma’shiyat? Sudahkah kita mempelajari sunnah dan jejak para pendahulu kita, untuk kemudian kita jadikan teladan? Jika belum, mari bersama memulainya, saudaraku. Jika sudah, selamat. Dan istiqomahlah di jalan itu. Sungguh, kesabaran atas kehidupan yang sementara ini akan berakibat kenikmatan yang abadi di kehidupan nanti.

Mari sucikan diri. Mari murnikan lagi aqidah kita. Bersihkan ia dari segala bentuk kesyirikan. Mari benahi ibadah kita. Jauhkan ia dari segala bentuk perbuatan bid’ah. Mari pelajari sunnah Rasul dan jejak para pendahulu kita yang shalih itu. Jadikan mereka qudwah, jadikan mereka teladan. Mari koreksi hati kita, luruskan niatnya, dan saksikan bahwa kemenangan akan kita raih, selama kita berada di atas jalan ini!

-RSP-

Iklan
1 comment
  1. perang perang lagi….semakin menjadi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: