kembali, di antara masa jahiliyah

beruntunglah kita yang pernah mengenal ma’iz
tanpa ikut merasakan deritanya
tanpa pedih yg menghujam dada, punggung, dan telapak tangan kita
tapi mampu mengambil pelajaran darinya

dan celakalah kita yang pernah mengenal abdurrahman bin auf
tanpa sedikit pun rasa malu dalam diri kita
saat amanah-Nya terhambur tersia
hingga tak mampu lagi para mujahid memperpanjang kesempatannya di tanah harapan

hingga sampailah masa-masa penuh kebahagiaan
ketika kita mampu menghadirkan keadilan
bagi muslim, bagi kuffar, bagi sang kaya dan bagi si miskin
ketika kita mampu membumikan kalam-Nya
dan mengembalikan sejarah gemilang umar bin abdul aziz
saat otak kita merenda rencana, sembari menundukkan dirinya di bawah kisaran wahyu

tapi tak pernah kita raih dengan taburan mawar di sepanjang jalan kita
seperti kata seorang murabbi,
“dakwah itu bukanlah sebuah jalan bertabur mawar”
lantas?
“jalan dakwah selalu dilalui jalan panjang penuh duri,” lanjutnya

maka terlintas tanya yang mengejar cita
“bisakah kita membumikannya tanpa terlebih dahulu menjumpa ma’iz dalam diri kita?
bisakah kita menggapainya tanpa menanamkan semangat ibnu auf dalam dada?”
sampai akhirnya, sebuah pertanyaan final yg nyaris terlontar lebih dahulu
“mampukah kita menghadirkan ghirah umar bin abdul aziz dengan gembira?”

-RSP-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: