Arsip

Monthly Archives: Juli 2010

Bukan, ini bukan akhir dari blog ini. Tapi entah kenapa, saya merasa harus banyak berterima kasih pada kalian, para pembaca, yang senatiasa memberikan dukungan kalian, hingga saya masih punya gairah untuk senatiasa menulis.

Well, memang, seperti yang saya sebutkan dahulu di sini, motivasi menulis saya adalah adanya kewajiban untuk berda’wah. Tapi saya jelas-jelas merasakan membanjirnya dukungan buat saya. Membanjirnya ungkapan-ungkapan menyemangati untuk terus menulis.

Dan itu, meski tidak kalian sadari, membuat saya berpikir dan berusaha memberikan yang terbaik buat kalian. Salah satunya adalah dengan terus menampilkan tulisan yang baik. Yang dapat dipertanggungjawabkan. Bukan tulisan yang ngawur ke mana-mana. Yang malah melahirkan keburukan, bukan kebaikan.

Saya juga ingin mengabarkan perkembangan blog ini pada kalian. Saya akui, bahwa blog ini baru diurus dengan serius sekitar tiga bulan lalu. Bulan Mei. Itu semata karena koneksi internet di tempat saya tinggal ini sudah pulih. Dan sejak saat itulah saya mulai banyak mem-post tulisan yang sebelumnya hanya terjebak di laptop saya. Read More

Suatu ketika, Ziaul Haq, presiden Pakistan pada 1977-1989, pernah mengundang beberapa wartawan untuk makan siang sekaligus berdialog di kediamannya. Salah satu yang diundang adalah Nizami, pemimpin redaksi surat kabar The Nation terbitan Pakistan. Di sana, saya kemudian mengenang sebuah dialog yang cukup apik untuk membuka wawasan kita semua.

“Wahai Nizami, menurutmu, siapa yang mendirikan dan membangun suatu negara?”

Cukup lama Nizami berpikir, mencoba memahami logika Zia. Lantas ia menjawab, “Politisi.”

Mendengar jawaban itu, Ziaul Haq tersenyum. “Ternyata wartawan sekelas Anda masih berpikir sependek itu.” Para undangan saling pandang. Apakah presiden mereka ini hendak membanggakan dirinya sendiri?

Dan dengan sangat simpel, Zia menjelaskan pandangannya. “Sesungguhnya, pendiri dan pembangun bangsa itu adalah kaum intelektual.” Read More

Untuk kedua kalinya, saya mengutip artikel yang ditulis oleh Hanibal Wijayanta, setelah yang saya post di sini.  Artikel ini saya ambil dari notesnya di Facebook. Kali ini ia berbicara mengenai sejarah kerja sama militer AS-Indonesia. Buat saya, ada banyak hal baru di sini, meski beberapa di antaranya pernah saya kaji, walaupun tidak secara mendalam. Dan mungkin, kalian yang kerap antipati dan memandang sebelah mata teori konspirasi yang berkaitan dengan kerja sama militer ini akan sedikit terkaget membaca tulisan ini.

Sebagai pengantar (atau lebih tepatnya, tambahan opini) dari saya, izinkan saya mengajak kalian untuk mengingat kembali apa yang telah negeri paman sam ini lakukan terhadap negara sahabatnya. Saya ingin kalian mengingat Soeharto, Syah Reza Pahlevi, Gamal Abdul Nasser, dan Saddam Hussein. Mereka adalah orang-orang yang terkenal dekat dengan AS. Dan lihatlah bagaimana mereka mengakhiri kekuasaannya.

Turunnya Soeharto tak lepas dari peranan Madelaine Albright, Menteri Luar Negeri AS di bawah kepemimpinan Presiden Clinton. Saya secara samar ingat beberapa file tentang hal ini. Lantas, saya mencarinya di google. Dan saya menemukannya di sini. Artikel tersebut jelas menyebutkan dorongan Albright pada Soeharto untuk “preserve his legacy by stepping down and permitting a transition of democracy”. Bahkan, Rizki Ridyasmara dalam Fakta dan Data Yahudi di Indonesia: Era Reformasi terang-terangan menyebut sebab turunnya Soeharto adalah telepon internasional dari Gedung Putih pada 20 Mei 1998 malam, tepat sehari sebelum Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya.

Bagaimana dengan Saddam Hussein? Well, saya yakin pembaca lebih memahaminya daripada saya. Dibantu persenjataan saat Perang Teluk melawan saudara serumpunnya, Iran, Saddam akhirnya harus menghadap tiang gantungan di negara yang berkuasa pemerintah boneka AS di atasnya.

Anyway, saya tak ingin membebani kalian, para pembaca, dengan opini random saya. Maka, langsung saja kita menuju tulisan yang telah saya janjikan di awal. Selamat membaca, Read More

Baru saja saya berwudhu. Di tengah wudhu itu, saya teringat sebuah kata dari seorang sahabat, “Bahkan seorang ‘Umar bin Khaththab pun adalah seorang mualaf!”

Saya kemudian jadi teringat kisah hidup Ustadzah Irena Handono. Beliau dulu adalah seorang biarawati. Ketua Legio Maria, malah. Bukan jabatan yang bisa dianggap remeh. Tapi setelah membaca satu surat dalam bagian akhir al Quran, yaitu surat al Ikhlas, berkat petunjuk dari Allah, beliau mengikrarkan Islam sebagai diin-nya.

Saya juga baru saja membaca perjalanan hidup Ustadz Insan Mokoginta. Betapa dulu aqidahnya terombang-ambing hingga ia sempat memilih Kristen sebagai pilihan hidup. Hingga ia sempat memilih untuk mengabarkan injil pada ‘domba-domba tersesat’ di kalangan umat manusia.

Beberapa hari yang lalu, Allah mengenalkan saya dengan seorang saudara baru. Namanya Stephanus Iqbal. Beliau mengajak saya untuk menimba ilmu dari seorang ustadz–yang secara kebetulan saya menjumpai banyak tulisannya di website ini–di daerah Blok M. Mmm.. sebenernya saya juga tidak tahu itu daerah mana. Tapi kalau dari tempat tinggal saya sekarang, di daerah Bintaro, untuk menuju rumah ustadz itu, saya harus lewat Blok M. Dari sana, tempat tinggalnya sudah tak jauh lagi.

Nah, akh Iqbal ini sempat nyeletuk, Read More

Artikel di bawah ini mungkin akan sedikit menyegarkan semangat kita dalam ber-Islam, meneladani jejak generasi terdahulu yang shalih itu. Mungkin bagi kalian, para pembaca, tidak banyak yang bisa didapat dari sini. Tapi bagi saya, apa yang ditampilkan dalam artikel ini cukup menampar wajah saya. Untuk itu, saya merasa perlu membaginya pada para pembaca blog ini.

Artikel ini ditulis oleh Ustadz Ibnu Hasan Aththobari, yang saya ambil dari salah satu notesnya di Facebook. Selamat membaca.

***

Sejarah da’wah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperlihatkan pada kita bahwa setiap orang yang mengucapkan kalimat tauhid di Makkah dihadapkan pada berbagai macam siksaan dan intimidasi dari kaum Quraisy. Tak ada seorang pun yang selamat, tak terkecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, padahal beliau adalah manusia terhormat dari kalangan Bani Hasyim yang mulia, hingga malam berlalu sementara tidak ada sesuatu yang bisa mengisi perut beliau yang lapar. Hari demi hari berlalu dalam keadaan menahan lapar..

Tabiat da’wah makkiyah tidak memungkinkan munculnya kemunafikan dan orang-orang munafik satu pun juga. Berbeda dengan tabiat madaniyah, setiap orang yang terlibat da’wah di Makkah telah lebur dengan Read More

Kali ini saya tidak akan bercerita banyak. Tidak akan menulis banyak. Saya cuma ingin menumpahkan apa yang saya pikirkan saat ini. Dan kalian akan menjumpai betapa random-nya pikiran saya saat ini ketika mulai membaca tulisan di bawah ini. Efek terlalu banyak beban tugas, barangkali. Dan ini juga yang menjelaskan kenapa posting-an kali ini berjudul untitled. Karena pikiran tidak terstruktur rapi, dan karena saya bingung posting-an yang ini harus diberi judul apa.

Mungkin tidak banyak yang akan kalian, para pembaca, dapatkan. Tapi, perasaan yang hari ini saya rasakan ini mungkin perlu diluapkan. Perlu dibagi. Agar saya tak menanggungnya sendiri. Dan lagipula, bukankah itu tujuan kita berbagi? Agar beban tak ditanggung sendiri. Atau agar rezeki tak dinikmati seorang diri. Iya, kan?

Yap, kita mulai.

Saya sering heran pada mereka yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah!” tapi tidak memahami maknanya. Ya, heran. Bukankah masalah ketuhanan, masalah peribadatan, masalah penyembahan, dan segala hal yang berkaitan dengan masalah agama adalah masalah substansial dalam hidup? Adalah masalah yang menentukan nasib kita kelak di hari pembalasan? Lantas, apa sih susahnya mempelajari, atau paling tidak, mencari tahu apa yang sedang ia ucapkan, apa yang sedang ia yakini, atau apa yang sedang ia lakukan?

Saya sangat percaya bahwa setiap perbuatan haruslah disertai dengan Read More

Aku berwasiat pada kalian agar bertaqwa pada Allah subhanahu wata’ala, mendengarkan perintah dan taat meskipun yang memerintah kalian adalah seorang budak. Siapa pun di antara kalian yang masih hidup, niscaya akan menyaksikan banyak perselisihan. Karena itu, berpegangteguhlah pada sunnahku dan sunnah para khulafaur rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gigi geraham. Dan hindarilah hal-hal yang baru, karena semua yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.

(HR Abu Dawud, Tirmidzi, hadis hasan shahih. Dinukil dari Kitab Arbain Nawawiyah karya Imam Nawawi, hadis ke-28)