Mengapa Muslim Peduli?

“Pantaskah seorang Ahmad masuk surga, sementara yang lain masuk neraka?” — Imam Ahmad bin Hanbal

Saya tahu, seharusnya tulisan ini diletakkan di halaman tentang saya. Tapi tak apalah. Selain karena saya malas membuka dan mengedit halaman itu, ada beberapa hal yang perlu lebih banyak saya ceritakan di sini.

Ya, langsung saja. Kenapa blog ini bernama muslimpeduli? Alasannya sederhana. Sebelumnya, izinkan saya sedikit bercerita tentang masa lalu saya.

Dulu, kata bapak saya, saya termasuk orang yang cuek. Sangat tidak peduli dengan keadaan sekitar. Saat masih SMP, saya selalu bisa ditemui di tiga tempat saat jam istirahat: kantin, kelas, atau perpus. Saking cueknya, pernah suatu ketika ada kakak kelas saya di SMA yang terjatuh dan akhirnya meninggal tak lama kemudian, saya hanya berta’ziah, dan ya sudah, selesai. Begitu saja. Tanpa ada perasaan apa pun.

Di rumah? Lebih parah. Saya hanya bisa ditemui di satu tempat di rumah: kamar. Entah tidur, membaca buku, atau melakukan kegiatan-kegiatan yang sangat absurd, tak pernah saya habiskan waktu saya di luar rumah, di masa-masa itu.

Kehidupan sosial saya mencapai titik terendah. Saya tak pernah menghadiri undangan pernikahan yang diadakan tetangga saya, bahkan hanya untuk mengucapkan selamat atau sekedar membantu mempersiapkan makanan. Pengajian? Waktu itu bahkan saya menganggapnya sampah. Well, memang saya ditumbuhkan di keluarga besar kader Muhammadiyah. Tapi, pendidikan yang saya terima sangat jauh dari pendidikan Muhammadiyah sekalipun. Bayangkan saja, saya hanya sempat mengecap dua tahun duduk di bangku sekolah Muhammadiyah. Sisanya? Saya menimba ilmu di sekolah-sekolah sekuler. Dan, di sisi lain, untuk anak seusia saya saat itu, bisa dibilang saya sangat aneh. Saya malas bermain dengan kawan-kawan yang menurut saya, mereka adalah sosok-sosok yang kekanak-kanakan. Jalan-jalan? Lupakan. Saya sama sekali tak tertarik dengan hal seperti itu.

Sudah tak terhitung nasihat yang keluar dari lisan bapak dan ibu saya. Sampai-sampai, saya masih ingat salah satu di antaranya. Waktu itu, kalau tidak salah, saya masih duduk di bangku kelas 2 SMP. Di suatu malam, bapak mendudukkan saya di ruang tamu. Dengan nada suara serius, dia berkata, “Kesuksesanmu di masa yang akan datang delapan puluh persen akan ditentukan oleh kemampuan interpersonalmu. Pelajaran di sekolah? Itu cuma berpengaruh sebanyak dua puluh persen sisanya.”

Iming-iming kesuksesan ini jelas tidak berhasil. Semata karena saya beranggapan bahwa kemampuan teknis adalah segalanya. Dan kata-kata seperti yang diucapkan bapak saya itu akan berlalu begitu saja. Ia meninggalkan jejak hanya karena nasihat ini disampaikan di momen khusus yang tidak pernah saya alami sebelum maupun sesudahnya.

Kelas 3 SMP, saya baru belajar tentang Islam dengan cukup serius. Alhamdulillah, Allah mempertemukan saya dengan seorang ustadz muda di Jember. Namanya Ainur Rofiq bin Abdul Ghofur. Kuniyahnya Abu Shibghotillah. Banyak hal yang saya pelajari dari beliau. Masalah tauhid, ibadah, muamalah, berbagai macam fiqh, ilmu alat seperti ushul fiqh, dasar-dasar mushtholah hadis, hingga ulumul qur’an. Argumen-argumennya masuk akal dan dapat dipertanggungjawabkan. Landasan dalilnya pun kuat.

Sontak akal saya bergolak. Kehausan ilmu saya menjadi-jadi. Saya jadi semakin banyak mendengar daripada bicara. Lebih banyak diam dan berpikir daripada mengungkapkan pendapat yang asal-asalan. Semakin tenggelam dalam buku-buku daripada di depan televisi. Ya, saya rasa, saat-saat itu adalah puncak dari kegilaan saya pada buku. Dan pertemuan dengan ustadz inilah yang membuat saya jadi banyak mempelajari nash-nash yang ada dalam al Quran maupun al Hadis.

Kemudian, ada suatu hari yang sangat bersejarah buat saya. Hari itu, kalau tidak salah adalah saat-saat menjelang kenaikan kelas 1 ke kelas 2 SMA. Secara tak sengaja saya temukan hadis berikut.

Barangsiapa ditanya tentang satu ilmu dan dia menyembunyikannya, niscaya Allah akan mengikatkannya dengan tali kekang dari api neraka di hari kiamat. (HR Abu Dawud, Tirmidzi)

Seketika saya menanyakan pada ustadz saya itu. Benarkah hadis ini? Begitu keraskah siksa bagi mereka yang hanya diam dalam melihat kebodohan yang merajalela? Ustadz saya itu cuma mengangguk dan menjawab singkat, “Ya.” Saat itu saya benar-benar ketakutan.

Saya segera mencari jalan keluar untuk menghindari siksa ini. Segera saja, saya aktif di organisasi Remaja Masjid di SMA saya. Semacam rohis lah. Di sini ada perubahan besar. Sebelumnya, saya tidak begitu antusias aktif di sana. Walaupun sudah banyak ta’lim di bawah bimbingan Ustadz Rofiq, dulunya saya menganggap kegiatan-kegiatan di Remaja Masjid ini hanya membuang-buang waktu. Dan semua berubah. Meski belum begitu eksis, tapi keterlibatan saya sudah cukup dikenal oleh kawan-kawan seangkatan maupun kakak kelas. Ya, semata untuk menentramkan hati saja.

Di hari-hari berikutnya, saya jadi teringat kisah nabi Yunus ‘alaihissalam yang ditelan paus karena penghindarannya atas da’wah. Hanya karena kemarahannya terhadap kaumnya yang senatiasa menolak da’wahnya, Allah kemudian mengingatkannya dengan pengalaman hidup yang begitu sempit. Sempit dalam pengertian denotasi dan konotasi. Nabi Yunus benar-benar dalam kondisi terjepit sistem pencernaan paus, selain berada dalam kesempitan hati karena ujian yang diterimanya.

Hingga akhirnya, sang nabi bertaubat dengan doa yang terkenal ini,

Tiada ilah kecuali Engkau, Maha suci Engkau, sesungguhnya aku adalah bagian dari orang-orang yang dzalim. (QS al Anbiya’ 87)

Naik ke kelas tiga, saya diminta kawan-kawan seperjuangan untuk mengisi ta’lim pekanan. Kami bersepakat untuk berkumpul di setiap Sabtu pulang sekolah. Untuk menimba ilmu. Untuk saling berbagi kabar. Dari sini, saya jadi semakin memahami bahwa ada hal-hal yang harus diperbaiki dari diri masyarakat pada umumnya. Bahwa informasi yang mereka dapatkan tentang Islam ini sangat minim. Sangat sedikit. Bahwa harus ada sebagian dari umat ini yang senatiasa menyeru saudara-saudaranya untuk kembali pada millah yang hanif, pada manhaj yang lurus, pada aqidah yang kokoh.

Dan itulah Islam.

Sejak saat itu, apatisme saya hilang entah ke mana. Saya mulai memperhatikan apa yang jadi permasalahan kaum muslimin pada umumnya. Saya mulai memikirkan solusi. Saya mulai memikirkan aksi. Dan saya mulai berusaha menuliskan apa yang saya sampaikan saat ta’lim pekanan itu di catatan-catatan kecil saya. Semata untuk menjaganya agar tak hilang. Agar tak lenyap karena memori saya yang cukup lemah untuk membuatnya tetap terpelihara.

Pernahkah terpikir untuk mundur? Ya, pernah. Tapi ketika terpikir untuk mundur, saya berusaha mengingat saat-saat indah ta’lim bersama kawan-kawan saya itu. Saya berusaha mengingat pengalaman nabi Yunus di dalam perut paus itu. Dan saya berusaha mengingat kata-kata sosok tua bernama Ahmad bin Hanbal di suatu hari dalam siksaan penjara, “Pantaskah seorang Ahmad masuk surga, sementara yang lain masuk neraka?”

Seperti yang saya bilang sebelumnya, alasan saya menamai blog ini dengan nama muslimpeduli cukup sederhana. Hanya untuk mengingatkan diri saya sendiri bahwa ada kepedulian tinggi yang dibutuhkan untuk mengajak masyarakat kembali pada Islam. Dan bahwa Islam tak akan tegak, kecuali dengan kesadaran penuh dari seluruh muslim bahwa hanya Islamlah yang menjanjikan jalan keselamatan. Karena ia murni. Karena ia tak terkotori nafsu manusia yang sarat hasrat duniawi. Di situlah fungsi da’wah: mengajak manusia pada jalan keselamatan ini.

-RSP-

11 comments
  1. deady said:

    ente sekarang ikut ta’lim di mana?
    MBM kah?

    • muslimpeduli said:

      macem2. kadang di an nashr, di mbm, trus kalo ada undangan ta’lim gitu ya datang, kalo gak ada halangan.

      kalo mas deady gimana?

  2. deady said:

    di an-nashr aja euy. Alhamdulillah setiap Senin rajin….asal gak bentrok ama jadwal World Cup aja. Hehehe

  3. reza said:

    wahaha.. kalah sama piala dunia. besok2 bareng ya mas. kita ketemu di mana gitu.

    tinggal di PJMI? bareng koni berarti? dia temen sekelasku.😀

  4. faraziyya said:

    kalian ngobrol seru pisan keknya.

    hm . .titik terendah kehidupan sosialku justru pada waktu belakangan ini.
    kala aku sedang pergi berdua dengan ayah, saat diboncengnya, tiba-tiba dia bilang bahwa aku harus membenahi sikap tidakpedulian-ku. harus selalu memasang wajah tersenyum menyapa, bukan menunduk melengos.

    i’m enjoying my loneliness, untuk sebagian besar waktuku sejauh ini.

    semoga aku bisa segera dibantuNya, menyembuhkan sikap tidak baik ini.

    • muslimpeduli said:

      “tiba-tiba dia bilang bahwa aku harus membenahi sikap tidakpedulian-ku. harus selalu memasang wajah tersenyum menyapa, bukan menunduk melengos.” hehe.. yg ini aku juga masih nyisa mbak. gak sepenuhnya ilang juga.

      • faraziyya said:

        buat ayahku. aku harus sepertinya. friendly.

  5. ismi said:

    barakallahu fiik…

    salam kenal ^^

    • muslimpeduli said:

      semoga keberkahan juga selalu tercurah pada mbak ismi

      salam kenal juga..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: