Syarat Diterimanya Amal

Oke, langsung saja. Dalam beramal, tentu ada beberapa rambu yang harus dipatuhi setiap muslim. Jika ia tidak terpenuhi, ibadah tersebut batal, atau tak diterima. Dan yang lebih buruk lagi, bisa berakibat pada dosa dan berujung neraka. Untuk menghindarinya, mari kita kaji beberapa hal yang berkaitan dengan syarat diterimanya amal seorang muslim.

Pertama, ia tidak melakukan amal syirik apa pun. Ia tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun. Bahkan, nabi dan orang-orang shalih sekalipun.

Sungguh, bila kamu berbuat syirik, maka hapuslah amalanmu, dan sungguh kamu tergolong orang-orang yang merugi. (QS az Zumar 65)

Dan bila mereka berbuat syirik, maka lenyaplah dari mereka apa yang pernah mereka amalkan. (QS al An’am 88)

Amalan mereka adalah bagaikan debu yang diterpa oleh angin kencang di hari yang penuh badai. (QS Ibrahim 18)

Selain memberi perumpamaan debu yang diterpa angin kencang, Allah juga menyodorkan fatamorgana sebagai amsal dari amal orang kafir ini.

Dan amal orang-orang kafir  itu bagaikan fatamorgana di tanah lapang, yang dikira air oleh orang yang haus. Sehingga ketika dia mendatanginya, ternyata dia tidak mendapati apa-apa, justru dia mendapati Allah di sana kemudian Dia menyempurnakan penghisaban-Nya. (QS an Nuur 39)

Intinya begini. Sekalipun ia menegakkan shalat, menunaikan zakat, shaum di bulan Ramadhan, berhaji, dan melakukan amal shalih lainnya tapi masih melakukan bentuk-bentuk kesyirikan, terhapuslah amalnya. Sia-sia saja.

Kedua, ikhlas. Pembahasan ini berkaitan erat dengan apa yang kita sebut dengan riya’. Sekali saja dihinggapi riya’, rusaklah amal-amal kita itu. Ada sebuah kisah terkenal saat peristiwa hijrah sedang berlangsung. Saat itu, diriwayatkan ada seorang pemuda yang berhijrah untuk mengejar gadis yang dicintainya. Sang gadis berencana untuk pergi berhijrah bersama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Saat ditanyakan tentang hal ini, Rasulullah hanya menjawab,

Sesungguhnya amal itu hanyalah dengan niat. Dan setiap perbuatan itu sesuai dengan apa yang diniatkan. (HR Bukhari)

Seperti yang sudah saya ceritakan cukup panjang dalam artikel berjudul Mengukur Keikhlasan, singkatnya, amal, apa pun itu, sebaik apa pun itu, sebesar apa pun pengorbanannya, bila ada serpih-serpih riya’ di sana, saat ada ketidakikhlasan saat menjalaninya, tertolaklah amal tersebut.

Yang ketiga, ittiba’. Artinya, ibadah yang diterima adalah ibadah yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Meski unsur keikhlasan telah terpenuhi, saat amal tersebut bertolak belakang dengan apa yang diajarkan nabi, sama saja. Sia-sialah amal tersebut.

Siapa yang melakukan amal yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amal itu tertolak. (HR Muslim)

Jauhilah hal-hal yang diada-adakan, karena setiap yang diada-adakan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat. (HR Tirmidzi)

Selain itu, salah satu qaidah fiqh yang disepakati jumhur ulama’ menegaskan hal ini.

Hukum asal dari ibadah adalah batil sampai berdiri dalil yang menunjukkan atas perintahnya.

Dalil-dalil ini sebenarnya sudah menceritakan secara singkat pada kita untuk selalu memperhatikan dalil atau dasar dari setiap amal kita. Pertanyaan, “Apakah amal ini diperintahkan oleh Rasulillah? Apakah amal ini benar-benar sesuai dengan teladan Rasulullah?” harus selalu ditanamkan dalam hati. Hingga, ibadah kita nantinya semata karena pengetahuan kita bahwa Rasulullah telah memerintahkan dan mencontohkan ibadah tersebut. Bukan karena taqlid. Bukan karena ikut-ikutan.

Dan janganlah kalian mengikuti apa yang tidak kalian ketahui ilmunya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, masing-masing di antaranya ada pertanggungjawabannya. (QS al Israa’ 36)

Tiga hal ini merupakan inti dari diterimanya amal kita. Bila ketiganya terpenuhi, insya Allah, diterimalah amal kita. Namun, bila salah satu saja di antaranya tidak terpenuhi, rusaklah amal itu. Hal-hal lain seperti waktu beribadah, maupun fadhilah lainnya statusnya adalah sunnah. Tidak wajib. Dan tidak mempengaruhi apakah ibadah itu diterima atau tidak.

Maka, sudah waktunya kita membersihkan aqidah kita. Setelah itu, giliran hati kita bersihkan. Hindarkan ia dari segala noda yang dapat merusak amal kita. Dan tak lupa, kita mempelajari fiqh mengenai permasalahan terkait. Semata agar kita mendapat kepastian bahwa ibadah itu adalah ibadah yang benar, adalah ibadah yang benar-benar diperintahkan dan dicontohkan oleh Rasulillah.

Wallahu a’lam.

-RSP-

Iklan
1 comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: