al Qawa’idul Arba’: Muqaddimah

Sebelum memulai, saya ingin memberi beberapa catatan. Pertama, seluruh dalil yang saya tuliskan dalam artikel ini dan empat artikel berikutnya, insya Allah, akan dilandaskan pada al Qawa’idul Arba’ yang dituliskan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Saya menuliskannya karena saya anggap ada beberapa di antara yang beliau rahimahullah tulis yang perlu saya sampaikan pada pembaca sekalian.

Kedua, ada beberapa hal yang saya anggap membutuhkan penjelasan lebih lanjut. Dan saya akan langsung menambahkan dalil beserta penjelasannya tanpa menunjukkan teks asli dari al Qawa’idul Arba’. Selain, saya mengambil rujukan dari syarh buku ini yang ditulis oleh Syaikh al Utsaimin. Maka, untuk membandingkan dan mempelajari lebih lanjut, diharapkan pembaca juga mendampingi artikel ini dengan tulisan tersebut.

Ketiga, saya tak tahu persis apa yang ada dalam pikiran asy Syaikh saat menulis risalah singkat ini. Untuk itu, apabila ada kesalahan dalam interpretasi maupun penempatan dalil yang kurang pas, silakan ditanggapi melalui kolom comment.

Baik, segera kita mulai pembahasan kita dengan muqaddimah risalah tersebut.

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan untuk beribadah padaKu (QS adz Dzariyat 56)

Ayat ini cukup terkenal di kalangan kaum muslimin. Beliau rahimahullah juga berkata bahwa millah yang hanif adalah millah dari Nabi Ibrahim, yaitu manusia beribadah kepada Allah ta’ala dengan mengikhlaskan ibadah pada-Nya.

Mengomentari ayat di atas, beliau berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya al hanifiyah adalah agamanya Nabi Ibrahim, yaitu Anda beribadah pada Allah ta’ala dengan mengikhlaskan ibadah pada-Nya.”

Beliau melanjutkan, “Dan bila Anda telah mengetahui bahwa Allah ta’ala menciptakanmu untuk beribadah pada-Nya, maka ketahuilah, bahwa ibadah tidak dianggap kecuali bila disertai dengan tauhid. Perumpamaannya serupa shalat yang tidak sah kecuali jika disertai dengan bersuci. Bila ibadah itu tercampur dengan amal-amal syirik, maka rusaklah ibadah itu, sebagaimana rusaknya shalat bila disertai adanya hadas.”

Hal ini selaras dengan apa yang kerap kali tertulis dalam al Quran, bahwa ibadah yang diterima adalah ibadah yang lurus. Ibadah yang disertai keislaman dan keimanan seorang muslim, sebagaimana tertulis dalam ayat berikut.

Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari diinnya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalnya di dunia dan akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (QS al Baqarah 217)

Sungguh, bila kamu berbuat syirik, maka terhapuslah amalanmu, dan sungguh kamu tergolong orang yang merugi. (QS az Zumar 65)

Dalam ayat yang lain, Allah juga menyebutkan bahwa yang berhak atas balasan berupa jannah di akhirat kelak adalah mereka yang beriman.

Barangsiapa yang melakukan amal shalih baik laki-laki maupun perempuan sedang dia mu’min, maka Kami akan berikan padanya penghidupan yang baik serta Kami akan berikan padanya balasan dengan balasan yang lebih baik dari apa yang telah mereka amalkan. (QS an Nahl 97)

Singkatnya, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab menyatakan bahwa unsur utama diterimanya sebuah amal. Seperti yang telah saya ungkapkan di sini dan di sini, tauhid begitu penting dalam mewarnai ibadah kita. Sekali lagi, sedikit saja ia tercemar dari tauhid yang lurus, hanguslah ibadahnya. Tak akan sekalipun ia diterima oleh Allah ta’ala.

-RSP-

1 comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: