Berkah atau Istidraj?

Sekian waktu berselang setelah wafatnya pembesar Quraisy yang juga pernah mengasuh Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam itu. Abu Thalib, nama sosok tersebut, dikenal sebagai simpatisan da’wah Islam di awal kemunculannya. Meski akhirnya, hidupnya harus diakhiri tunduk sedih sang Nabi. Karena hidayah sudah cukup dekat dengannya, karena hatinya telah mengakui kebenaran Islam, tapi lisannya enggan bergerak guna mewujudkan kesaksiannya.

Suatu hari, sahabat Nabi ini, Abu Sa’id al Khudri rahimahullah, duduk bersama Nabi dan mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda saat sekelompok sahabat lainnya sedang memperbincangkan Abu Thalib, ayah dari khalifah keempat pengganti Rasulullah dalam memimpin kaum muslimin. Beliau bersabda,

Mudah-mudahan syafa’atku dapat memberinya manfaat di hari kiamat, hingga ia ditempatkan di neraka yang paling ringan yang apinya membakar kedua mata kakinya sampai mendidihkan otaknya. (HR Muslim)

***

Seringkali manusia, termasuk saya barangkali, lupa akan status kenikmatan yang Allah berikan. Kerap kali manusia menganggap itu sebagai nikmat atas kerja kerasnya selama ini. Atau, ia menduga bahwa nikmat tersebut adalah ganjaran atas amal sholih yang ia lakukan di dunia.

Mungkin, kita bisa mulai dari ayat berikut ini,

Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman (QS Ali Imron 171)

Ayat  tersebut merupakan bagian dari rangkaian ayat yang turun kepada kaum muslimin berkaitan dengan perang di perbukitan Uhud. Ya, di tengah kesedihan yang menimpa karena gugurnya tujuh puluh sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia, turunlah rangkaian ayat penghiburan; yang menjanjikan mereka yang telah gugur akan ganjaran besar yang menanti mereka di jannah-Nya. Di tengah kegetiran kekalahan perang yang diakibatkan tindakan indisipliner sebagian dari pasukan perang, turunlah serangkaian ayat yang menggetarkan hati.

Ayat ini sebenarnya sangat banyak kita jumpai dalam al Quran. Salah satu yang sering kita baca di shalat kita barangkali adalah ayat berikut.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi rabbnya adalah jannah ‘Adn yang mengalir sungai-sungai di bawahnya selama-lamanya. Allah ridha pada mereka dan mereka ridha pada-Nya. Itu adalah (balasan) bagi mereka yang takut pada rabbnya. (QS al Bayyinah 7-8)

Sebaliknya, bila manusia melakukan tindak tercela, mengingkari ayat-ayat Allah misalnya, akan ada hukuman yang tak main-main dahsyatnya.

Peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang kafir. (QS al Baqarah 24)

Sebagai catatan, seperti yang sudah pernah saya singgung sebelumnya dalam kisah Abu Thalib di atas, siksa neraka jelas bukan senda gurau belaka. Hadis yang dikisahkan oleh Nu’man bin Basyir berikut ini mungkin bisa sedikit menegaskannya.

Ahli neraka yang paling ringan siksanya pada hari kiamat adalah seseorang yang pada lekukan telapak kakinya diberi dua batu bara yang menyebabkan otaknya mendidih. (HR Muslim)

Nah, ayat-ayat ini sifatnya umum. Dan masuk akal tanpa perlu dicerna berpanjang-panjang dengan puluhan kitab tafsir terhampar di meja. Intinya satu, kalau saya boleh menyederhanakannya: akan ada balasan yang jauh lebih baik daripada dunia bagi mereka yang beramal shalih dengan sebenar-benarnya.

Tapi kadang kita terheran melihat mereka yang rajin berbuat ma’shiyat, tanpa malu, tanpa ragu, seolah mereka hidup selamanya di dunia, mendapatkan apa yang mereka inginkan di dunia. Padahal, menurut rangkaian ayat di atas, setiap makhluk akan mendapatkan apa yang diamalkannya. Orang baik mendapat balasan yang baik. Begitu juga sebaliknya.

Mengenai hal tersebut, Allah memberi peringatan keras pada kita.

Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. (QS al An’am 44)

Ibnu Katsir, dalam Tafsir al Quran al Adzim, menukil sebuah hadis yang cukup jelas redaksinya mengenai hal ini.

Jika kamu melihat Allah memberikan kesenangan dunia kepada seorang hamba yang berma’shiyat sesuai kesenangannya maka itu merupakan istidraj. (HR Ahmad)

Apa itu istidraj? Intinya, istidraj adalah penundaan siksa Allah bagi kaum yang tetap saja berada dalam kema’shiyatan setelah berulang kali ia diingatkan atas perbuatan buruknya itu dengan terbukanya pintu-pintu kenikmatan dunia. Memang, di awal, tampak tak terjadi apa-apa. Tapi sesungguhnya Allah menunda pembalasan-Nya dengan balasan yang lebih berat sembari memberi kesempatan bagi manusia untuk bertaubat dari apa yang ia kerjakan.

Sedangkan Sayyid Quthb, dalam Fi Zhilalil Qur’an, memberikan penjelasan panjang lebar mengenai hal ini. Penjelasannya dimulai dari kisah Fir’aun dalam al Quran.

Dan sesungguhnya Kami telah menghukum (Fir’aun dan) kaumnya dengan musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka  mengambil pelajaran. Kemudian apabila datang pada mereka kemakmuran, mereka berkata, “Ini adalah karena (usaha) kami.” Dan bila mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu pada Musa dan orang-orang yang bersamanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. Mereka berkata, “Bagaimanapun kamu mendatangkan keterangan pada kami untuk menyihir kami dengan keterangan itu, maka kami sekali-kali tidak akan beriman padamu.” Maka, Kami kirimkan pada mereka topan, belalang, kutu, katak, dan darah sebagai bukti yang jelas. Tetapi, mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa. (QS al A’raaf 130-133)

Untuk memudahkan dalam memahaminya, mari kita melihatnya dalam bentuk narasi.

Awalnya, Allah mengingatkan Fir’aun dan kaumnya dengan kemarau panjang dan krisis pangan di negeri tersebut. Tujuannya? Agar mereka tersadar dan mengambil pelajaran. Tapi kemudian Allah mengampuni mereka dan menguji mereka dengan kemakmuran. Tetap saja mereka ingkar terhadap nikmat Allah dengan berkata, “Ini adalah karena (usaha) kami”. Silih berganti kesusahan dan kemakmuran datang. Dan ketika yang pertama datang, mereka melemparkan kesalahan pada Musa ‘alaihissalam dan pengikutnya. Sementara ketika yang kedua datang, mereka mendongakkan kepala dan menyombongkan diri.

Hasil akhirnya? Datanglah topan, belalang, kutu, katak, dan darah sebagai bukti pembalasan dari Allah.

Baik. Mari kita kembalikan pembahasan kita pada ayat pokok dalam pembahasan ini: surat al An’aam 44. Surat tersebut menggambarkan proses turunnya istidraj hingga pembalasannya atas manusia. Semula, Allah berfirman, “Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka”, yang menggambarkan rezeki, kenikmatan, harta, dan kekuasaan yang mengalir, tanpa halangan ataupun batasan. Semua datang tanpa kesulitan, tanpa usaha.

Tapi kesenangan dunia tersebut semakin melupakan mereka dari mengingat Allah. Semakin melalaikan mereka dari melaksanakan apa yang menjadi tugasnya di dunia.

Sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan pada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, seketika itu mereka terdiam berputus asa. (QS al An’aam 44)

Dan inilah ujian Allah pada kita. Kesusahan. Kesenangan dunia. Perhiasan-perhiasannya.

Al Quran mencatat, tak hanya Fir’aun yang menerima ujian ini. Kaum Nabi Nuh, Nabi Shalih, dan Nabi Luth juga menerima ujian dan akhir yang serupa. Kita ambil satu contoh lagi. Masih ingatkah pembaca pada kisah Nabi Luth? Mereka menerima ujian dari Allah berupa kesejahteraan hidup. Berupa paras menawan. Hingga akhirnya, ma’shiyat tak terperi terjadi di negeri itu. Kaum homoseksual memenuhi kota tersebut.

Perjanjian Lama menyebut kota tersebut dengan nama Sodom. Dan al Quran mencatat, dalam surat al Ankabut dan adz Dzariyat, kota ini akhirnya terbenam setelah malaikat membolak-balikkan tanah dan bebatuan di sekeliling mereka.

Yang lain? Ada sebuah kisah terkenal yang tertulis dalam al Quran tentang kaum Tsamud. Ya, ia terkenal karena tertulis berulang kali dalam al Quran. Apa bentuk ujian berupa kenikmatan dan terbukanya pintu dunia pada kaum ini? Mereka dianugerahi otak cerdas. Madain Shalih menjadi saksi keterampilan tangan-tangan mereka. Pahatan mereka di bukit-bukit berbatu membentuk istana-istana megah tempat tinggal mereka.

Tapi, bersyukurkah mereka dengan nikmat-nikmat tersebut? Tidak. Satu perintah kecil untuk menguji keimanan mereka dari Nabi Shalih saja tak mampu mereka taati. Unta betina yang harusnya mereka jaga disembelih hanya demi menantang Nabi Shalih untuk menunjukkan eksistensi Rabb-nya.

Kaum Tsamud berkata: “Hai Shalih, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan, apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami? dan sesungguhnya kami betul-betul dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap agama yang kamu serukan kepada kami.” Shalih berkata: “Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan diberi-Nya aku rahmat (kenabian) dari-Nya, maka siapakah yang akan menolong aku dari (adzab) Allah jika aku mendurhakai-Nya. Sebab itu kamu tidak menambah apa pun kepadaku selain daripada kerugian. Hai kaumku, inilah unta betina dari Allah, sebagai mukjizat untukmu, sebab itu biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apa pun yang akan menyebabkan kamu ditimpa adzab yang dekat.” (QS Huud 61-63)

Pengingkaran kaum Tsamud membuat Shalih ‘alaihissalam terpaksa menunjukkan mukjizat dari Allah. Seperti yang telah tersebut dalam ayat tersebut, ujian itu mereka langgar.

Lantas di mana letak istidraj-nya? Perhatikan ayat di bawah ini.

Mereka membunuh unta itu, maka berkata shaleh, “Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari, itu adalah janji yang tidak dapat didustakan.” (QS Huud 65)

Allah, melalui Nabi Shalih, memberikan waktu tiga hari untuk menggenapkan kesenangan dunia mereka. Tapi, seperti kata Nabi Shalih, “itu adalah janji yang tidak dapat didustakan.” Dan adzab pun turun pada mereka.

***

Semakin beratkah siksa Allah saat istidraj ini turun pada kita? Untuk menjawab pertanyaan ini, saya tampilkan ayat yang sangat sering dikutip dan dibacakan ini.

Sesungguhnya Allah tidak berbuat zhalim kepada manusia sedikit pun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zhalim kepada diri mereka sendiri. (QS Yunus 44)

Manusia dibalas berdasarkan apa yang ia kerjakan di dunia. Amal shalih berujung surga, sedangkan amal kufur berakibat neraka. Dan Allah tidak pernah berbuat zhalim pada umat-Nya. Perbuatan buruk akan dibalas sesuai dengan kadarnya. Tak berlebihan.

Tapi, sekali lagi. Izinkan saya mengingatkan Anda, para pembaca, untuk kembali merenungi hadis pertama yang saya kutip dalam tulisan ini. Bahwa siksa teringan di neraka adalah mendidihnya otak manusia saat bongkahan bara menyala diletakkan di mata kaki kita.

Nah, kalau begitu siksa dunia mana yang bisa menandingi kedahsyatan siksa Allah? Maka, seolah hukuman dunia jauh lebih ringan daripada siksa neraka. Tapi, tentu, kita berharap ampunan-Nya. Kita berharap kemurahan hati-Nya dengan menutupi aib kita dan mengampuni dosa yang terhambur selama hidup kita. Yang tampak, maupun yang tersembunyi.

Dengan tulisan ini pula saya ingin meminta kawan-kawan yang menjumpai kekhilafan dan keburukan dalam perangai maupun tulisan saya untuk segera mengingatkan. Karena saya jelas tak sempurna. Karena saya tak ingin menjadi Tsamud berikutnya. Dan karena saya tak mau menjadi Fir’aun berikutnya.

Semoga Allah menjadi saksi dan mencurahkan barakah serta petunjuk-Nya pada kita.

-RSP-

Iklan
6 comments
  1. deady said:

    jadi intinya
    walaupun ditunda
    siksa dunia itu nyata ya bagi ia yang sering bermaksiat gitu?

    • muslimpeduli said:

      yap. dan janji Allah di surat al Zalzalah 7-8a itu pasti terjadi, cepat atau lambat.

      oya, ada lagi.

      Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar. (QS an Nisaa’ 40)

  2. saenaknya said:

    tulisan yang bagus 😀

    • muslimpeduli said:

      makasih kunjungan balasannya ya. mahasiswa stan juga ya? salam kenal n ukhuwah.

  3. Rifki said:

    Tulisan yang padat dan berbobot dari reza seperti biasanya.
    Ditunggu tulisan-tulisan menarik lainnya za.

    *butuh saran dalam hal usaha menegakan sunnah di lingkungan orang-orang yang sedikit awam za.

    • reza said:

      sarannya: dekati pelan2, jadikan cara da’wah rasul sbg acuan, dan berikan teladan yang baik.

      serulah pada jalan rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yg baik; dan bantahlah mereka dengan cara yg baik. (QS an Nahl 125)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: