untitled

Kali ini saya tidak akan bercerita banyak. Tidak akan menulis banyak. Saya cuma ingin menumpahkan apa yang saya pikirkan saat ini. Dan kalian akan menjumpai betapa random-nya pikiran saya saat ini ketika mulai membaca tulisan di bawah ini. Efek terlalu banyak beban tugas, barangkali. Dan ini juga yang menjelaskan kenapa posting-an kali ini berjudul untitled. Karena pikiran tidak terstruktur rapi, dan karena saya bingung posting-an yang ini harus diberi judul apa.

Mungkin tidak banyak yang akan kalian, para pembaca, dapatkan. Tapi, perasaan yang hari ini saya rasakan ini mungkin perlu diluapkan. Perlu dibagi. Agar saya tak menanggungnya sendiri. Dan lagipula, bukankah itu tujuan kita berbagi? Agar beban tak ditanggung sendiri. Atau agar rezeki tak dinikmati seorang diri. Iya, kan?

Yap, kita mulai.

Saya sering heran pada mereka yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah!” tapi tidak memahami maknanya. Ya, heran. Bukankah masalah ketuhanan, masalah peribadatan, masalah penyembahan, dan segala hal yang berkaitan dengan masalah agama adalah masalah substansial dalam hidup? Adalah masalah yang menentukan nasib kita kelak di hari pembalasan? Lantas, apa sih susahnya mempelajari, atau paling tidak, mencari tahu apa yang sedang ia ucapkan, apa yang sedang ia yakini, atau apa yang sedang ia lakukan?

Saya sangat percaya bahwa setiap perbuatan haruslah disertai dengan keyakinan. Dan keyakinan itu tak akan hadir begitu saja. Harus ada pandangan logis di setiap keyakinan supaya ia berwujud nyata. Harus dengan ilmu. Harus dengan pengetahuan. Keyakinan tanpa ilmu? Nonsense. Mungkin ia adalah hasil dari indoktrinasi.

Tapi yang lebih mengherankan lagi adalah mereka yang menyadari bahwa ia menyembah Allah, bahwa Allah adalah pengatur segenap alam semesta, bahwa Allah adalah pemelihara bumi, langit, dan seisinya, bahwa Allah adalah perancang segala kegiatan kosmis di jagat raya ini, tapi kemudian menolak untuk taat pada-Nya.

For some reasons, like, “syariat Islam adalah agenda masa lalu”, “Islam sudah ketinggalan jaman, kuno”, “baju Islam sudah terlalu sempit buat saya” atau alasan lain yang sangat mudah kalian jumpai.

Dan percaya atau tidak, mereka yang berkata seperti itu adalah mereka yang dikenal sebagai aktivis da’wah di masyarakatnya. Nah, kalau aktivis da’wahnya saja sudah seperti ini, bagaimana dengan mereka yang berada di bawah binaannya?

Sebelum melanjutkan, mungkin pembahasan ini bisa ditarik ke garis awal pertanyaan-pertanyaan yang berkelebat dalam benak kita. Buat saya, pertanyaan itu seperti ini, “Kalau Allah mampu mengatur segenap konstelasi alam semesta dengan perhitungan yang tidak se-sentimeter pun meleset, apakah Allah tak sanggup mengatur kehidupan manusia yang hanya beberapa milyar orang ini?” atau “Kalau Allah mampu merancang sistem kerja otak dan tubuh yang saling berkombinasi mengirimkan impuls dan respon dengan tingkat kecepatan, akurasi, dan efisiensi tinggi seperti yang ada dalam tubuh manusia, apa masuk akal kalau Allah tak mampu merancang sistem hidup bagi makhluk yang diciptakan-Nya sendiri?”

Kita, yang mengaku beragama, beragama apa pun, pasti menjawab, “tentu sanggup!”.

Oke, kita lanjutkan. Misalnya seseorang yang masih asing bagi kita tiba-tiba datang ke hadapan kita, dan bertanya, “Siapakah dzat paling tinggi di jagat raya ini?” Mungkin kita seketika menjawab, “Allah!”. Itu karena hati kita masih terikat pada-Nya. Masih sering mengingat asma-Nya.

Di waktu yang berbeda, ketika seseorang yang tak kita kenal tiba-tiba menepuk pundak kita dan bertanya, “Siapa yang paling berkuasa di alam semesta ini?” Dan saya yakin jawabannya masih sama. Respon kita masih serupa.

Nah, masalahnya, kita terlalu sering mengingkari ucapan kita sendiri itu. Allah memerintahkan kita untuk shalat, zakat, puasa, berhaji, menutup aurat, atau perintah-perintah lainnya. Tapi yang ada dalam otak kita adalah pemikiran-pemikiran pragmatis seperti, “Apa untungnya aku melakukan perintah itu?” atau “Apa manfaatnya buatku?” sehingga para aktivis da’wah terpaksa mencarikan dalil-dalil ilmiah yang bersumber dari penelitian saintifik untuk memberikan penjelasannya pada kita.

Kita ambil satu contoh: perintah berhijab. Dari pengalaman kawan-kawan saya yang bergiat di dunia da’wah, saya mendapati bahwa rata-rata, mereka harus menjelaskan berbagai manfaat yang didasarkan dari penelitian ilmiah tersebut untuk meyakinkan manfaat menutup aurat bagi para wanita. Tak cukup bagi mereka ayat-ayat Allah dan teladan para salafus shalih dalam hal ini. Ah, mungkin saya terlalu picik. Mungkin saya yang tak mengerti perasaan mereka. Tapi, hey, coba lihat apa yang mereka katakan tentang hal ini.

“Duh, aku belum siap. Masak aku berjilbab tapi hatiku belum berjilbab.”

“Ih, pake jilbab kan panas. Gak modis lagi..”

“Nanti rambutku lepek. Enggak dulu ah.”

Atau yang lebih parah, “Ah, basi lo. Bilang aja jelek trus mau pake jilbab biar gak keliatan makin jelek. Gitu kan?”

Sekali lagi, mungkin saya picik, yang hanya mengambil argumen-argumen negatif tanpa mempertimbangkan perasaan para wanita. Tapi tidak. Ini hanya contoh. Dan kebetulan, contoh inilah yang sering saya jumpai di lingkungan pergaulan saya. Alasan-alasan inilah yang sering meluncur dari mereka yang belum berjilbab hingga kini.

Itu alasan yang tidak canggih.

Alasan yang lebih canggih biasanya muncul ketika kita berusaha mengkaji apa yang ada di balik sebuah wahyu atau perintah, dan kita menolak melaksanakan perintah tersebut dengan berbagai dalih yang didapat dari menekuk-nekuk dalil dan melipat serampangan sejarah hidup sang nabi. Ah, saya malas memberi contoh. Saya yakin kalian, para pembaca, lebih paham daripada saya dan lebih jeli dalam melihat kesalahan.

Untuk yang ini, saya cuma bisa menjawabnya dengan simpel. Saya mencintai Allah. Saya mencintai Rasulullah. Untuk mewujudkan cinta itu — karena saya yakin cinta harus diwujudkan — saya melakukan apa yang keduanya perintahkan dan contohkan. Karena ketundukan saya pada keduanya, saya melakukan apa yang keduanya perintahkan dan contohkan.

Ketika Allah memerintahkan untuk shalat, saya shalat. Ketika Rasulullah mencontohkan shalat yang baik dan benar, saya mengikutinya. Dan saya, muslim yang berserah diri pada keputusan Allah pada semua makhluk-Nya, memandang perkataan dan contoh dari keduanya adalah sesuatu yang benar, adalah sesuatu yang tak mungkin salah. Semata karena saya ingin menundukkan diri di hadapan Allah.

Terdengar fanatis? Mungkin.

Tapi bukankah fanatisme diperlukan ketika kita berhadapan dengan sesuatu yang real, tapi ia berada di luar jangkauan nalar kita? Pernahkah kita menyadari betapa besar kuasa Allah? Ia membolak-balikkan hati. Ia memutar bumi dan semua kawan-kawannya, benda langit yang berpijar ramah saat kulihat.  Pernahkah kalian berpikir bagaimana Ia melakukan itu semua?

Sungguh, tak terbayangkan, kawan. Di situlah nantinya, letak iman. Atau, kalau boleh saya secara serampangan mengatakan fanatisme, seperti yang tertulis di paragraf sebelumnya.

Saya tak mau terjebak dialektika Nietzche atau Marx. Well, memang benar mereka berhasil mengurai simpul-simpul keimanan yang tak terjangkau nalar itu. Tapi kemudian, apakah mereka berhasil merumuskan suatu solusi keyakinan yang digunakan untuk berpijak dan bersandar bagi manusia? Tidak.

Ini bukan apologi yang berusaha berusaha bahwa karena mereka, para filsuf itu, tak mampu merumuskan sebuah solusi meskipun mampu mengurai pertanyaan yang tak terjawab itu, saya lantas beralih pada sesuatu yang sudah para filsuf itu anggap rusak ini. Tidak. Tapi saya, sekali lagi, meyakini bahwa ada sesuatu yang tak terjawab nalar kita ketika kita mempertanyakan sesuatu. Apalagi, sesuatu itu berkaitan dengan masalah ketuhanan. Berkaitan dengan pola pikir Tuhan yang jelas berbeda dengan pola pikir manusia.

Demikian pula halnya berbagai perintah yang Allah titahkan tersebut. Okay, saat ini sains sudah memberi fasilitas memadai bagi kita untuk mengungkap manfaat ilmiah dari melaksanakan perintah Allah, atau, seperti yang telah tertulis sebelumnya, mengenakan jilbab. Tapi coba bayangkan ketika kalian berada di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hidup. Coba pikirkan ketika kalian berada di zaman para salafus shalih berkarya. Adakah dalil-dalil saintifik itu ditampilkan di hadapan mereka? Saya kira tidak.

Tapi kenapa mereka lebih produktif dibanding kita yang hidup di zaman yang serba terbuka dan modern ini? Kenapa keimanan mereka jauh lebih tebal dibanding kita yang bergelimang fasilitas ini? Menurut saya, jawabannya terletak pada iman. Mereka paham bahwa penggerak dari alam semesta ini adalah Allah. Sumber dari segala sumber energi adalah Allah, dengan artian, Allah adalah pencipta seluruh makhluk. Mereka tahu dan benar-benar paham bahwa mereka sedang berpegang teguh pada kitab yang terjamin otentisitasnya hingga akhir zaman. Dan uniknya, informasi itu sudah cukup bagi mereka. Segera saja mereka berkarya menda’wahkan apa yang mereka yakini dengan penuh energi. Bicara tentang energi, mungkin ini yang kurang dari saya *yangkalimatterakhirinicurcol

Maka kita beranjak pada pertanyaan berikutnya. Benarkah Islam adalah aturan yang everlasting? Abadi hingga akhir zaman? Kawan, jawabannya kembali pada sebuah kesadaran bahwa pola pikir Allah berbeda dengan pola pikir manusia. Begitu pula produk pemikirannya. Produk pemikiran Allah terlalu tinggi untuk kita jabarkan. Hasilnya, ada sesuatu yang seperti kubilang tadi, tidak dapat terungkap oleh nalar manusia, tapi ia merupakan sebuah kebenaran yang pasti terjadi.

Bisa jadi kita, hari ini, menganggap bahwa apa yang diperintahkan-Nya tak masuk akal, tapi di masa depan akan terungkap rasionalitasnya. Bisa jadi kita, hari ini, menganggap bahwa ada sesuatu yang perlu diperturutkan dibandingkan perintah Allah yang absurd, yaitu pikiran kita. Ya, boleh-boleh saja. Tapi jangan kaget kalau di masa depan kalian akan menyesali keputusan itu. Jangan kaget kalau di masa depan kalian meminta dikembalikan ke usia muda, atau di usia produktif, untuk memperbaiki segenap kesalahan yang telah diperbuat.

Bagi saya, alangkah sombong dan bodohnya manusia yang sadar, benar-benar sadar, bahwa ia adalah makhluk yang tidak sempurna, tempatnya salah, tapi kemudian dengan pongah berkata “syariat Allah adalah agenda masa lalu” atau “perintah Allah tak perlu dituruti, kuno” atau mempertanyakan keputusan Allah yang Mahatahu, kemudian ia berjalan di muka bumi dengan tanpa perasaan bersalah sedikit pun. Tanpa beban sedikit pun.

Terakhir, kakak kelas saya, Fauziyyah Arimi, beberapa hari yang lalu berkata, “Setiap opini harus memiliki solusi di akhir tulisannya” ketika rapat redaksi sebuah lembaga pers mahasiswa di kampus saya. Dan rupanya saya harus meminta maaf padanya karena tak bisa melaksanakan ‘titah’nya ini. Yeah, saya tak punya solusi praktis. Karena, seperti yang saya katakan di awal tadi, tulisan ini hanya luapan pikiran saya yang sedang kacau. Tidak terstruktur. Tapi insya Allah, mencerminkan seratus persen apa yang saya rasakan, apa yang saya pikirkan, saat ini.

-RSP-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: