Mencari Teladan yang Hilang

Artikel di bawah ini mungkin akan sedikit menyegarkan semangat kita dalam ber-Islam, meneladani jejak generasi terdahulu yang shalih itu. Mungkin bagi kalian, para pembaca, tidak banyak yang bisa didapat dari sini. Tapi bagi saya, apa yang ditampilkan dalam artikel ini cukup menampar wajah saya. Untuk itu, saya merasa perlu membaginya pada para pembaca blog ini.

Artikel ini ditulis oleh Ustadz Ibnu Hasan Aththobari, yang saya ambil dari salah satu notesnya di Facebook. Selamat membaca.

***

Sejarah da’wah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperlihatkan pada kita bahwa setiap orang yang mengucapkan kalimat tauhid di Makkah dihadapkan pada berbagai macam siksaan dan intimidasi dari kaum Quraisy. Tak ada seorang pun yang selamat, tak terkecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, padahal beliau adalah manusia terhormat dari kalangan Bani Hasyim yang mulia, hingga malam berlalu sementara tidak ada sesuatu yang bisa mengisi perut beliau yang lapar. Hari demi hari berlalu dalam keadaan menahan lapar..

Tabiat da’wah makkiyah tidak memungkinkan munculnya kemunafikan dan orang-orang munafik satu pun juga. Berbeda dengan tabiat madaniyah, setiap orang yang terlibat da’wah di Makkah telah lebur dengan berbagai bentuk ujian dan masuk dalam tempat-tempat pembakaran di mana segala macam bentuk tipu daya dan ashobiyah telah hilang. Sehingga, jiwa benar-benar menjadi ikhlas karena Allah.

Kita lihat sahabat mulia Bilal bin Rabbah radhiyallahu ‘anhu ketika disiksa dengan tindihan batu besar di atas padang pasir, yang panasnya sama dengan logam yang sedang dibakar. Beliau terus disiksa dengan harapan mau kembali menyembah Latta, Uzza, tapi beliau tetap mengatakan, “Ahad.. Ahad.. Ahad..”.

Dalam sebuah riwayat disebutkan sebagian manusia ada yang bertanya kepada Bilal mengapa beliau mengucapkan kata “Ahad.. Ahad.. Ahad..”. Bilal menjawab, “Sekiranya aku mengetahui ada kalimat lain yang menyebabkan Umayyah bin Khalaf marah, tentu aku akan mengucapkannya.” Subhanallah..

Malik bin Nabi, seorang ulama’ dari Aljazair, mengatakan, “Ini bukan suara akal. Tapi ini adalah suara ruh, karena akal akan berkata pada Bilal, ‘Tipulah Umayyah dan katakana padanya, ‘saya bersamamu,’ dan jika malam tiba datanglah menghadap Rasulullah dan ikrarkan di hadapan beliau kalimat tauhid lalu katakana pada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Saya tertawa dan telah menipu Umayyah!’.

Akan tetapi, da’wah tidak akan menang dengan uslub atau cara-cara tersembunyi dan trik-trik tipuan alias kibul yaqin. Da’wah tidak akan menang kecuali dengan hujjah yang terang di hadapan jahiliyyah, sebagaimana pernyataan penghulu para da’i dan imam orang-orang yang bertaqwa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

“Demi Allah, sekiranya mereka dapat meletakkan matahari di tangan kananku, dan rembulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan ini, pasti tidak akan pernah aku tinggalkan sampai Allah memenangkannya atau aku binasa karenanya.”

Dengan keteladanan seperti itulah, da’wah akan mendapatkan kemenangan. Seorang da’i tidak akan memiliki pengaruh di tengah manusia hanya dengan membuka dan membaca kitab tapi harus dengan contoh keteladanan, harus dengan pengorbanan, darah yang mengalir karena luka, jiwa-jiwa yang hilang dan cobaan yang bertubi. Bukan dengan tipuan dan siasat jahiliyah.

Syaikh Abdullah Azzam, sosok da’i sekaligus mujahid agung abad ini menceritakan pada kita dalam ceramah yang kemudian dijadikan buku berjudul Fii Dzilali Suurati at Taubah seperti berikut ini.

Ustadz Sayyid Quthb, ketika ditanya oleh mahkamah tentang hakim yang berhukum kepada hukum selain Allah, beliau menjawab, “Dia kufur.” Sebagian muridnya bertanya, “Mengapa ustadz berterus terang dalam masalah ini di hadapan mahkamah padahal lehermu ada di antara para algojo?” Beliau menjawab, “Ada dua sebab. Pertama, karena aku berbicara masalah aqidah, maka dalam konteks ini aku tidak boleh menggunakan bahasa tauriyah (diplomatis). Kedua, tidak boleh menyatakan kalimat kekufuran bagi orang yang diikuti oleh banyak orang.”

Oleh karena itu terdapat perbedaan yang sangat jauh antara sikap Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, dengan ulama’ selain beliau, ketika beliau ditanya tentang al Quran. Makhluk atau bukan? Dengan tegas beliau menjawab bahwa al Quran bukan makhluk. Ia adalah kalamullah. Sedangkan ‘alim yang lain memberikan jawaban diplomatis dengan mengetakan, “Zabur, Taurat, Injil, dan al Quran, keempatnya (sambil mengacungkan empat jarinya) adalah makhluk.” Ini bentuk tauriyah.

Maka Ustadz Sayyid Quthb menyatakan tidak boleh ada tauriyah dalam berbicara masalah aqidah dan dia berada pada posisi sebagai orang yang diikuti oleh banyak manusia seperti halnya Imam Ahmad bin Hanbal.

Di sisi lain, Allah berfirman,

Kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman.. (QS an Nahl 106)

Kondisi itu hanya diperuntukkan bagi mereka yang berstatus pengikut, dan tidak boleh bagi mereka yang berstatus pemimpin yang diikuti. Seperti kasus sahabat mulia Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhu, beliau adalah seorang pengikut, bukan pemimpin yang diikuti. Lantas, apakah boleh bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbuat seperti Ammar?

Para pemuda yang menjadi perintis dan teladan umat, maka tidak boleh baginya menyatakan kalimat kekufuran dan bersikap tauriyah dan tidak boleh baginya mengambil landasannya dengan ayat tersebut.

Selanjutnya, Syaikh Abdullah Azzam bercerita,

Ketika orang-orang dekatnya mengatakan pada Ustadz Sayyid Quthb, “Wahai Sayyid, seandainya engkau mengambil grasi..” Beliau menjawab, “Sesungguhnya jari yang menyaksikan tauhidullah dalam shalat akan menolak menuliskan satu huruf pun yang mengakui hukum jahiliyah. Mengapa aku harus mengajukan grasi? Jika aku diadili dengan al haq, aku akan ridha dengannya. Dan jika aku diadili dengan kebatilan, maka aku merasa lebih besar daripada mengajukan grasi yang batil.”

Dengan keteladanan seperti inilah umat akan terpengaruh, generasi setelahnya mendapatkan keteladanan dan para pemuda mendapatkan cahaya petunjuk serta akan ikut di belakangnya. Akan tetapi orang yang tidak mengetahui kedudukan kepala atas kaki, kedudukan punggung atas perut, tidak mengetahui ke mana ia menyeru manusia, bagaimana mungkin ia akan diteladani? Setiap hari pergaulannya dengan penguasa, hidup bermegah-megahan, bagaimana mungkin manusia akan meneladani dan mencontohnya? Meski ia memiliki ilmu segudang, hafal banyak hasyiyah dan matan, syarah dan musnad.

fa’tabiruu Yaa Ulil Abshaar..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: