Baca Buku, Ubah Duniamu!*

Suatu ketika, Ziaul Haq, presiden Pakistan pada 1977-1989, pernah mengundang beberapa wartawan untuk makan siang sekaligus berdialog di kediamannya. Salah satu yang diundang adalah Nizami, pemimpin redaksi surat kabar The Nation terbitan Pakistan. Di sana, saya kemudian mengenang sebuah dialog yang cukup apik untuk membuka wawasan kita semua.

“Wahai Nizami, menurutmu, siapa yang mendirikan dan membangun suatu negara?”

Cukup lama Nizami berpikir, mencoba memahami logika Zia. Lantas ia menjawab, “Politisi.”

Mendengar jawaban itu, Ziaul Haq tersenyum. “Ternyata wartawan sekelas Anda masih berpikir sependek itu.” Para undangan saling pandang. Apakah presiden mereka ini hendak membanggakan dirinya sendiri?

Dan dengan sangat simpel, Zia menjelaskan pandangannya. “Sesungguhnya, pendiri dan pembangun bangsa itu adalah kaum intelektual.”

***

Pertama membaca kisah terkenal ini, terus terang saya terkejut. Sejak kapan intelektual menduduki posisi setinggi itu? Pembuka jalan mendapat kehormatan? Gimana ceritanya? Di tengah kultur negeri tempat saya berpijak ini, saya harap kalian, para pembaca, memaklumi kekagetan saya. Ya, saat ilmuwan hanya menikmati sedikit buah dari apa yang mereka usahakan, sedangkan politisi dengan nikmat menandatangani kenaikan gaji, bukankah wajar bila saya semula menganggap posisi politisi lebih tinggi? Tapi keterkejutan itu segera hilang seiring saya baca alasan di balik jawaban ini.

Meminjam kata-kata Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, Ziaul Haq berpikir induktif. Ia benar-benar membaca dan memahami kisah para pendahulunya, setidaknya di Pakistan sendiri. Dan saya akhirnya memahami, bahwa sesungguhnya Pakistan dibangun atas dasar pemikiran idealis para pendahulu bangsa ini. Tersebutlah nama Mohammad Iqbal, Sir Syed Ahmad Khan, serta tak ketinggalan, Abul A’la al Maududi. Terlepas dari pemahaman yang mereka bawa, mereka punya peranan dalam turut berpartisipasi membangun Pakistan merdeka, dengan argumen dan latar belakang masing-masing.

Oke, saya akui bahwa dari ketiga nama yang baru saja saya sebutkan tadi, saya hanya cukup akrab dengan tulisan Abul A’la al Maududi. Tapi, hey, siapa yang tak kenal kiprah Mohammad Iqbal beserta syair dan tulisan-tulisan tajamnya? Siapa yang tak kenal al Maududi dengan Jama’at Islami-nya?

Mari kita lihat secara lebih luas. Bisa jadi perkataan Ziaul Haq itu tak hanya didasarkan pada pengalaman sejarah Pakistan. Dan tidak hanya bisa kita gunakan untuk memahami berdirinya negara Pakistan. Lebih dari itu, saya kira, pengalaman sejarah ini juga terjadi di banyak negara lain, termasuk di Indonesia. Kita mencatat Haji Agus Salim memulai sebuah organisasi yang bersifat nasional tahun 1905 saat beliau mendirikan Sarekat Dagang Islam, yang kemudian berubah nama jadi Sarekat Islam. Dilanjutkan dengan pendirian Boedi Oetomo oleh dr. Sutomo pada 20 Mei 1908, yang, meski kental dengan nuansa Jawa-Madura dan kontroversi di sana-sini, mereka turut berperan dalam menggairahkan pergerakan pemuda.

Dua organisasi ini kemudian seolah mengilhami gerakan-gerakan yang lebih bersatu, lepas dari ikatan kultur dan kedaerahan yang selama ini melekat erat dalam benak rakyat Indonesia. Berturut-turut, diselenggarakan Kongres Pemuda, ikrar Sumpah Pemuda, hingga ia berujung pada proklamasi kemerdekaan.

Iqbal, Khan, maupun al Maududi sepertinya memang kurang pas disebut sebagai politisi. Dua yang saya sebut pertama malah hampir tidak pernah terlibat politik praktis. Sementara yang terakhir, meski terlibat dalam politik dengan partai Jama’at Islami-nya, ia jelas lebih dikenal sebagai ulama’ yang cukup produktif menulis buku, sebagai seorang intelektual. Dan satu buku karya al Maududi yang hingga kini masih cukup sering saya buka-buka adalah al Khilafah wal Mulk.

Begitu juga, mereka yang terlibat di Sarekat Islam, Boedi Oetomo, hingga mereka yang terlibat dalam Kongres Pemuda jelas tak bisa disebut sebagai politisi. Mereka adalah pembuka jalan. Perintis. Mereka memang bergerak di bidang politik. Tapi partisipasinya bukan dalam kapasitas politisi dalam struktur politik praktis. Mereka lebih banyak memberikan partisipasi di bidang-bidang ideologis, bukan praktis. Ini jelas peran para intelektual. Bukan politisi.

Namun, yang saya dapati saat ini adalah adanya kecenderungan masyarakat Indonesia untuk melupakan peran para intelektual ini. Memang, tidak secara eksplisit. Tapi cukuplah sikap antipati dan pesimis kita terhadap peranan buku menjadi awal dari kecenderungan ini.

Padahal, buku, atau tulisan apa pun itu, sepanjang sejarahnya mendapat perhatian serius dari mereka yang benar-benar memahami apa yang dapat dilakukan oleh beberapa lembar produk pemikiran seorang intelek. Benar-benar ditanggapi serius. Mau bukti? Ya, ini dia.

Izinkan saya tampilkan kembali sebuah kisah terkenal dari tahun 1897. Saat itu, di Basel, seorang jurnalis Yahudi berkata pada peserta kongres, “Lima puluh tahun lagi, negara Yahudi akan terbentuk!” Peserta kongres, yang telah menggenggam buku tipis berjudul Der Judenstaat, hanya terduduk kaku. Terperangah. Tak paham dengan apa yang dibicarakan wartawan berjenggot lebat ini.

Tapi benar saja. Pada 1948, tepat lima puluh tahun setelah “ikrar”nya itu, sebuah negara Yahudi bernama Israel berdiri. Dan buku kecil yang dibagikan secara cuma-cuma itu sekarang sudah jadi legenda. Dibuka dan dikaji ribuan, atau bahkan jutaan kali oleh para pengkaji masalah Zionisme. Sementara itu, sang penulis, Theodore Herzl, menjadi masyhur sebagai salah satu inisiator berdirinya negara Israel.

Ada satu hal yang bisa kita tangkap di sini. Bahwa para intelek ternyata memang merupakan pembuka jalan. Dan terkadang, mereka tak hanya berkutat pada teori belaka. Beberapa di antara mereka bahkan turun berjuang menegakkan apa yang mereka yakini. Oleh karena itu, bagi saya, para pemikir adalah penerang. Karena ilmu itu sendiri merupakan cahaya.  Dan dari rumusan-rumusan ideologis yang terstruktur itu, ada jalan yang jelas yang harus ditempuh demi mewujudkan tujuan-tujuan tertentu.

Salah satu dari mereka yang turut memperjuangkan teorinya dengan aksi nyata adalah Sayyid Quthb. Tanpa enggan, ia turun ke lapangan untuk berda’wah dan mempertaruhkan hidupnya sendiri hanya untuk sebuah gagasan yang ia yakini. Uniknya, ia dipenjara belasan tahun, dan harus mengakhiri hidupnya di tiang gantungan hanya karena ia menulis sebuah buku berjudul Ma’alim fit Thariq.

Tapi jangan kira Ma’alim fit Thariq adalah buku tebal berjilid-jilid yang harus dipahami secara mendalam untuk dapat diimplementasikan. Tidak. Bahkan Harry Potter and the Sorcerer’s Stone pun masih lebih tebal daripada buku ini. Yang membuatnya berbeda adalah ada gagasan besar di situ. Ada ide besar. Dan ada cerminan semangat juang yang tersirat di dalamnya. Inilah yang kemudian menimbulkan ketakutan luar biasa bagi penguasa Mesir saat itu, Gamal Abdul Nasser, yang kemudian memerintahkan eksekusi mati bagi Sayyid Quthb.

Jurnalis juga memberikan kekhawatiran tersendiri bagi Napoleon Bonaparte. Pernah dengar ketakutannya pada lima orang jurnalis daripada seribu orang pasukan bersenjata kan? Dan kekhawatiran ini sungguh dapat dipahami. Sebab ketika seorang jurnalis menggoreskan penanya, ada ribuan bahkan jutaan opini masyarakat yang dipertaruhkan di situ. Opini masyarakat jelas lebih berbahaya daripada tembakan bedil serdadu di medan perang. Sangat mudah menghentikan laju serdadu tersebut. Tinggal dihadapi saja dengan jumlah serdadu yang lebih besar dan strategi yang lebih baik. Tapi, bagaimana cara kita membungkam tulisan seorang jurnalis? Dan ketika opini tersebut telah tersebar luas, bukankah rakyat akhirnya akan meneriakkan penolakan terhadap apa yang salah dan sedang terjadi saat itu?

Nah, di sinilah letak kekuatan sebuah tulisan. Ia mampu menggerakkan. Memang, seperti yang dikatakan Muhammad Fauzil Adhim dalam Inspiring Words for a Writer, tulisan yang menggerakkan amal dan partisipasi yang postif dan universal membutuhkan kebulatan dan kebersihan jiwa. Mungkin itu yang sulit bagi kita, atau paling tidak, buat saya. Tapi kemudian kita terpaksa melihat fakta bahwa kebulatan tekad itulah yang menggerakkan manusia untuk mengimplementasikan ide-ide besar dan mendunia.

Seperti Victor Hugo yang mampu mewarnai ide-ide pergerakan dan revolusi Perancis dengan harga mahal yang harus dibayarnya: penjara, karena ide revolusioner yang dibawanya secara halus melalui novel-novel dan partisipasi politiknya, atau seperti Theodore Herzl yang, seperti sudah kita bahas sebelumnya, sanggup menginisiasi semangat perjuangan Yahudi dalam mendirikan sebuah negara, tulisan-tulisan mereka disusun dengan kebulatan tekad, dengan kejelasan tujuan. Dan sekecil apa pun tulisan itu, bila ditulis dengan kejelasan tujuan itu tadi, ia akan mewarnai ide dan paham dari pembacanya. Bahkan buku sekecil Ma’alim fit Thariq pun bisa menumbuhkan dan menyirami benih-benih pergerakan di seluruh dunia. Termasuk di Indonesia.

Maka ketika kita mulai mempertanyakan manfaat dari buku, atau peran yang dapat dilakukan oleh sebuah buku, atau kontribusi buku dalam melakukan perubahan di dunia, itu sungguh tidak relevan, menurut saya. Karena telah nyata kontribusi ide yang didapat dari buku. Karena telah tampak peranan gagasan yang diperas dari buku. Ide dan gagasan itu, mau tak mau, melahirkan gerak perubahan.

Dan di titik inilah saya hendak mengakhiri tulisan ini. Bahwa ternyata buku mampu menghadirkan perubahan, atau paling tidak, ia mampu menghadirkan kekhawatiran berlebih terhadap kekakuan berpikir, terhadap status quo yang seringkali membawa stagnasi dan pengaruh negatif dalam kehidupan kita.

Ah, saya jadi teringat perintah pertama Allah pada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melalui Jibril saat keduanya bertemu di gua Hira: Iqra’! Bacalah!

-RSP-

*Tulisan ini juga dimuat di website Lembaga Pers Mahasiswa Media Center STAN, dengan beberapa perubahan akibat proses editing dari pihak redaksi.

2 comments
  1. Daoz said:

    aslm. salam kenal Pak.. mengamankan pertamaxx dulu..^^

    • muslimpeduli said:

      wa’alaikumussalam. wah, jgn panggil pak. aku juga mungkin masih seumuran kamu.

      kalo gitu aku keduaxx..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: