Arsip

Monthly Archives: Agustus 2010

Abdullah bin Salam dikenal sebagai salah satu ulama’ Yahudi yang langsung mengakui kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam begitu beliau tiba di Madinah. Ia, di Madinah, juga terkenal ‘alim, shalih, mulia, dan dihormati oleh kaumnya, orang Yahudi, baik dari Bani Qainuqa’, Bani Nadhir, maupun Bani Quraizhah. Kisahnya cukup unik, mengingat ia berasal dari kaum paling bebal sedunia.

Dalam ar Rahiqul Makhtum, Syaikh Shafiyyurrahman al Mubarakfury mengisahkan proses keislamannya. Saat Rasul baru saja sampai di Madinah, segera saja ia menemui Rasul dan mengajukan beberapa pertanyaan yang tidak bisa dipahami kecuali oleh seorang nabi. Mendengar jawaban dari Rasul, seketika itu pula ia menerima Islam sebagai diin-nya.

Riwayat lain menyebutkan secara spesifik hadis-hadis yang diungkapkan Rasul kepada Abdullah bin Salam saat ulama’ Yahudi ini menghampiri beliau. Berikut ini adalah beberapa hadis seperti dinukil dari kitab ar Rahiqul Makhtum.

Wahai seluruh manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makanan, sambunglah tali persaudaraan, shalatlah pada malam hari ketika semua orang sedang tidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan damai. (HR Tirmidzi, Ibnu Majah, ad Darimi)

Tidak masuk surga orang yang Read More

Katakanlah, “Siapa yang memberi rezeqi padamu dari langit dan bumi, atau siapa yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapa yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab, “Allah”. Maka katakanlah, “Mengapa kamu tidak bertaqwa?”. (QS Yunus 31)

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab memulai pembahasan ini dengan menuliskan sebuah ayat di atas. Kemudian beliau berkata, “Anda harus meyakini bahwa orang-orang kafir yang diperangi oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam meyakini bahwa Allah ta’ala adalah pencipta, pengatur segala urusan. Meski demikian, hal itu tidaklah lantas menyebabkan mereka masuk ke dalam Islam.”

Hal ini kemudian selaras dengan fakta sejarah di mana orang kafir saat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam hidup masih meyakini eksistensi Allah. Mereka masih mengakui bahwa Allah adalah pengatur dan pemelihara alam semesta beserta segenap isinya. Indikasinya terdapat dalam ayat berikut.

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah diin yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah (berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan diri kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang yang pendusta dan sangat ingkar. (QS az Zumar 3)

Di sini, sangat jelas perkataan orang-orang yang ingkar tersebut. Mereka menyembah Allah. Mereka tidak menyembah Read More

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh mereka, maka beliau menyuruh sesuai kemampuan mereka.” Mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami tidak seperti keadaanmu, yaa Rasulallah, karena Allah telah mengampunimu dari dosamu yang terdahulu dan kemudian.’ Lalu beliau marah hingga kemarahan itu tampak pada wajahnya. Kemudian beliau bersabda, ‘Sesungguhnya orang yang paling bertaqwa dan paling kenal dengan Allah dibandingkan kalian adalah aku’.” (HR Bukhari)

Pelajaran penting buat kita, kawan. Bahwa ibadah yang disyariatkan cukuplah yang telah Rasulullah contohkan. Tak lebih dan tak kurang. Saat ghirah untuk beribadah sedang tinggi, setelah melaksanakan yang wajib, ambillah yang sunnah. Jangan tambah dengan yang bid’ah. Rasulullah adalah sosok yang paling ‘alim, paling bertaqwa, sehingga kedekatan kita dengan Allah sesungguhnya dapat diukur dari seberapa dekat kita mengamalkan ajaran Rasul. Seberapa dekat kita dengan sunnah-sunnahnya.

Kalau masih memaksa menambah-nambahi yang di luar ketentuan, silakan tanyakan pada diri kalian sendiri, saat muhasabah harian kalian, “Sebenernya, yang lebih memiliki pengetahuan tentang agama ini siapa? Allah dan Rasulnya atau kita?”

Jauhi bid’ah, karena bid’ah hanya tampak indah di luar. Tapi sama sekali tak membawa maslahat bagi kita di hari pembalasan kelak. Bahkan, Rasul berkata, itu hanya akan menambah beban kita di akhirat.

Sesungguhnya ucapan yang paling benar adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk (yang disampaikan) Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Sedangkan seburuk-buruk urusan adalah urusan yang diada-adakan. Setiap yang diada-adakan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan ada di neraka. (HR Muslim)

Cukuplah syariat Allah dan RasulNya bagi kita. Mari tundukkan kepala kita di bawah payung ketaatan. Mari serahkan diri kita di dinding bernama ikhlas. Mari sandarkan ibadah kita di sebuah pegangan bertitel ittiba’.

bolehkah kunyatakan rindu padamu?

bahwa aku ingin mengunjungimu lagi,
hutan yang akrab dengan gerimis
yang kerap disambangi kabut yang turun dan mengembun
saat aku tertidur beratap langit
di bawah gemintang

sayangnya ukir kayu berulir debu di pohon itu begitu jauh
yang pernah cukup menggantikanmu mungkin hanya nama
dari sebuah kota yang mengingatkanku pada mereka berdua
dua; yang beberapa kali menggantikan rindang pepohonan,
curam tanjakan,
dan dingin air di sela kaki-kaki yang melangkah berat
di tepi lengan-lengan yang tergenggam erat

aku ingin merasakan lagi
hangat mentarimu yang tak bersinar terik
dingin fajarmu yang mengandung nafas petani singkong
yang menembus bibir mereka yang membiru
aroma tanahmu yang menyimpan sisa air hujan sore hari
atau basah daunmu menangkap larik-larik embun,
waktu subuh

atau akankah kujumpai ilalang yang bergerak seolah pandir itu?
yang menyapaku seolah melihat fatamorgana,
melambai seolah menjadi saksi lukisan tak nyata

yang harus kau ketahui, ini realita
bukan mimpi semata

*untuk kerinduan yang (mungkin) segera terbayar. semoga aku masih diizinkan untuk menjumpaimu lagi

-RSP-

bambu runcing kau asah, kau peluk erat
dengan gelora kemerdekaan yang membanjiri darahmu
itu kata guru-guruku di sekolah dasar dahulu

siasat kau genggam erat
menjadi komando baris-baris yang sekarat
namun bergerak karena gerilya yang tak lekas berkarat

sudirman, namamu kukenang karena ayat jihadmu
yang meluapkan semangat kemerdekaan pasukanmu

natsir, namamu kukenang karena visi terangmu
yang hingga kini abadi menggenangi samudera ilmu

tapi atas nama kemerdekaan, tuan-tuan sekalian,
kini anak-anakmu berpecah bertengkar tak tentu arah
saling sikut dan hujat mewarnai hari kami yang semula cerah
yang ironisnya, atas nama kemerdekaan

atau nasionalisme

saksikanlah, tuan-tuan sekalian,
kini anak-anakmu bahkan tak Read More

Medan Badar mengabadikan dialog dua sahabat cilik ini: Mu’adz bin Amr bin al Jumuh dan Mu’adz bin ‘Afra’ radhiyallahu ‘anhuma. Dikisahkan langsung oleh sahabat mulia nan kaya namun zuhud, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, namanya kini harum. Sebagai salah satu pejuang Badar termuda dari kalangan sahabat. Empat belas dan tiga belas masing-masing usianya. Dan kisahnya, kini, tertulis rapi dalam Shahih Bukhari.

“Aku,” kata Ibnu ‘Auf, “berada dalam sebuah barisan saat perang Badar. Aku menoleh kanan dan kiriku, terdapat dua pemuda yang masih belia. Dan aku khawatir akan keduanya.”

Beliau melanjutkan kisahnya. “Wahai paman,” kata salah seorang di antara dua Mu’adz itu, “tunjukkan padaku mana yang bernama Abu Jahl.”

Ibnu ‘Auf terkaget. “Apa yang ingin engkau perbuat padanya?” Jawaban Mu’adz bin Amr begitu dahsyat. “Aku dengar dia telah melukai Rasulallah shallallahu ‘alaihi wasallam. Wallahi! Jika aku melihatnya, tak kubiarkan hitam mataku dengan hitam matanya berpisah hingga salah satu dari kami mati!”

Singkat cerita, seperti mereka yang jujur pada kata-katanya sendiri, serupa seorang sahabat tak dikenal yang syahid karena anak panah di lehernya, atau semisal dr. Abdul Aziz al Rantisi yang diterjang roket Apache, Allah menggenapkan ucapan pemuda ini. Benteng tangguh berupa manusia-manusia tegap nan sigap pengawal Abu Jahl berhasil ditembus. Tak tanggung-tanggung, bocah ingusan ini berhasil Read More

kalau kamu mau berbicara dengan bahasa bintang, izinkan aku menjawabnya dengan kalimat bulan:
dengan isyarat tak terucap, atau malah tak tergambar oleh indra.

kalau kamu mau melompat melewati lekuk kepala mereka,
jadilah burung onta,
sebenar-benar burung onta
yang suka mengunyah ilalang
lantas lari berjumpa isyarat nyata, lintang pukang

itu seandainya lidahmu sudah enggan kaujaga.

*karena lisan tak sekedar mendecap rasa atau menghias raga

jurangmangu, 19082010

-RSP-