Julaibib

Hari ini saya belajar banyak. Mungkin satu ini yang cukup membekas bagi saya. Bahwa terkadang mereka yang dipandang rendah oleh rekan-rekan kita, oleh orang-orang di sekitar kita, sesungguhnya memiliki sesuatu dalam dirinya hingga ia pantas meraih posisi lebih terhormat dibandingkan apa yang didapatnya saat ini. Paling tidak, ia layak mendapat apresiasi dan penghormatan lebih. Semata karena ia memang layak mendapatkannya.

Tapi, karena beberapa hal yang tak dapat saya jelaskan di sini, saya memilih untuk memendamnya sendiri. Lantas, apa maksud saya menulis tulisan ini? Lebih karena saya teringat kisah Julaibib saat merenungkan apa yang saya dapat hari ini.

***

Namanya Julaibib. Saya tak tahu siapa nama aslinya. Atau kuniyahnya. Atau laqabnya. Karena beberapa hadis yang saya temui hanya menuliskan nama ini sebagai identitas sosok tersebut. Karena sejauh ini, saya cuma menemukan kisahnya tertulis dalam hadis yang ditakhrij oleh Imam Muslim dan Imam Ahmad. Atau mungkin karena nasabnya tak jelas. Tak jelas siapa orang tuanya. Siapa kabilahnya. Atau siapa sanak kerabatnya.

Julaibib sendiri lebih akrab dikenal dari sosoknya yang kerdil. Pendek. Hitam. Dekil. Faqir. Ya, inilah Julaibib yang tinggal di shuffah Masjid Nabawi. Suatu hari ketika kisah ini bermula, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyapa Julaibib dan bertanya padanya, “Ya Julaibib, tidakkah engkau menikah?” Dan dengan polosnya Julaibib menjawab, “Ya Rasulallah, siapakah orang yang akan menikahkan putrinya dengan diriku ini?” sambil tersenyum.

Nabi meninggalkannya. Tapi kemudian mengulang pertanyaan yang sama di kemudian hari. Dua atau tiga kali. Dan jawaban Julaibib tetap sama.

Di saat terakhir itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lantas menggamit lengan Julaibib, dan membawanya ke rumah sebuah keluarga Anshar. “Aku,” kata Nabi, “hendak menikahkan putri kalian.” Sang kepala keluarga menanggapinya dengan suka cita. Hey, siapa sih yang tak mau putrinya dilamar sosok seperti Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam?

Tapi rupanya sang nabi memahami maksud dari sahabat tersebut. Segera dijawabnya, “Tapi bukan untukku. Untuk Julaibib.”

Kegembiraan sahabat tersebut memudar. Julaibib? Yang benar saja! Lantas ia memohon izin pada nabi. Ia ingin mendiskusikannya terlebih dahulu dengan isterinya, katanya.

Tanggapan sang isteri pun senada. Bisa dipahami. Lamaran mereka yang lebih tampan, kaya, berkedudukan terhormat saja sudah jelas-jelas tertolak. Apalagi Julaibib! Terang saja tertolak. Tapi kemudian ada sebuah teladan bagi kita dari putri keluarga Anshar tersebut. Mendengar ribut-ribut tentang pernikahannya, sang gadis menanggapi.

“Apakah ayah dan ibu menolak melaksanakan perintah Rasulallah?” Kemudian, gadis tersebut membaca ayat berikut.

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. (QS Al Ahzab 36)

Singkat cerita, akhirnya sang ayah menemui Rasulullah dan menyatakan kesediaannya menjadikan Julaibib sebagai menantu.

Kisah teladan Julaibib tak terhenti sampai di sini. Sekian lama berselang sejak peristiwa di atas, panggilan jihad berkumandang. Ini kesempatan, pikir Julaibib. Maka ia segera mempersiapkan segala sarana yang dibutuhkan untuk berperang.

Perang berakhir, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengumpulkan sahabat untuk bertanya siapa saja sahabat yang telah menjemput syahidnya.

Sahabat berkata, “Fulan, fulan, dan fulan!”

Yang lain menyahut, “Aku juga! Aku juga!” Tapi sama sekali tak disebut nama yang dicari sang rasul. Akhirnya beliau bersabda, “Tapi aku kehilangan Julaibib. Carilah Julaibib!”

Segera saja para sahabat berpencar mencari sosok Julaibib. Sosok yang dulu mereka tinggalkan dan lupakan. Tak jauh beda sepertinya bahkan setelah Rasulullah begitu memperhatikan sahabat yang satu ini. Dan seorang sahabat akhirnya menemukan tubuh Julaibib. Bersimbah darah. Tercampur debu. Julaibib menjemput syahid dengan tujuh pasukan musyrikin tewas di sekitarnya.

Dan inilah Julaibib. Sosok yang di akhir hidupnya mendapat kehormatan menikmati syahid. Sekaligus dikuburkan oleh Rasulillah sendiri. Khusus. Tak seperti syuhada lainnya. Coba simak ucapan terakhir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang Julaibib.

“Dia telah membunuh tujuh orang lawannya, dan dia terbunuh (pula). Ia adalah bagian dariku, dan aku adalah bagian darinya..”

***

Masih berkaitan dengan kisah Julaibib. Ingatkah kalian sebuah ayat yang dikutip isteri Julaibib saat pinangan menghampiri dirinya? Oke, saya kutipkan sekali lagi.

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. (QS al Ahzab 36)

Asbabun nuzul ayat tersebut juga unik. Serupa kisah hidup Julaibib dan isterinya. Alkisah, perintah untuk menikah telah sampai pada Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu. Dijodohkannya ia dengan Zainab binti Jahsy, wanita yang kelak menjadi isteri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Zainab, yang berasal dari keluarga bangsawan, menolak terang-terangan permintaan Rasulullah tersebut. Pikirnya, tidaklah pantas ia yang berasal dari keluarga bangsawan menikah dengan bekas budak Rasulullah. Ya, saat itu, beliau radhiyallahu ‘anha masih memiliki rasa kesukuan yang cukup kuat. Peninggalan dari kebudayaan jahiliyah bangsa Arab.

Tapi, singkat cerita, turunlah ayat Allah mengenai hal ini. Ayat itu adalah al Ahzab 36. Sungguh jelas redaksinya. Bahwa tidak patut bagi laki-laki dan wanita mukmin mempertanyakan dan mencari alternatif lain dari perintah Allah dan rasul-Nya. Allah memerintahkan A, itulah yang dikerjakan. Tak ada pilihan lain kecuali Allah memang mengisyaratkan demikian.

Dan inilah keistimewaan generasi sahabat. Generasi yang disebut Rasulullah sebagai generasi terbaik dari umat ini. Generasi yang dibanggakan Allah melalui salah satu ayat di surat Ali Imron. Ketika datang ayat ini, tanpa banyak bertanya lagi, Zainab radhiyallahu ‘anha segera bersedia dinikahkan dengan Zaid bin Haritsah. Meski kemudian pernikahan ini tak bertahan lama, ada jejak-jejak ketaatan di sini. Dan mau tak mau, itulah yang mesti kita teladani.

Well, mempertanyakan perintah Allah dan rasul, serta mencari alternatif penggantinya saja sudah dinyatakan tidak pantas. Apalagi mereka yang secara terang-terangan menolak dan menyombongkan diri di hadapan syariat Allah?

Bukan berarti kita dilarang bertanya tentang segala sesuatu yang tidak kita ketahui. Bertanya, dalam rangka menimba ilmu, tentu sah-sah saja. Tak ada yang salah. Tapi ketika pertanyaan itu kemudian dimaksudkan untuk mencari celah dan menjatuhkan syariat Allah, bukankah ini nantinya jadi masalah?

Anyway, seperti yang telah saya katakan di permulaan tulisan ini, ada beberapa pelajaran yang dapat kita petik dari kedua kisah ini. Pertama, tentang kesetaraan derajat. Allah telah menyebutkan dalam surat al Hujurat 13, yang juga sering sekali kita kutip,

Wahai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan, dan kami menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa di antara kalian. (QS al Hujurat 13)

Ayat ini terimplementasi secara total di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau menghapus batas-batas kemuliaan berdasarkan nasab, meski beliau sendiri adalah seorang bangsawan Quraisy. Beliau menghapus ikatan kesukuan meski Bani Hasyim memiliki kedudukan tinggi di pemerintahan jahiliyah Makkah. Termasuk dalam memperlakukan sesama manusia.

Julaibib, Bilal, Abu Bakr, dan Anas bin Malik bisa kita jadikan contoh di sini. Mereka bukan berasal dari keluarga bangsawan. Kalau kita memakai standar kafir Quraisy, mereka tentulah orang-orang yang terpinggirkan. Beberapa malah sangat miskin dan berasal dari kabilah yang tidak jelas. Mereka tak punya posisi tawar di dunia kemasyarakatan jahiliyah. Tapi di sisi Allah, hanya ketaatan yang menjadi pembeda. Tak peduli bagaimana rupa fisiknya, hartanya di dunia, atau kedudukan nasabnya. Islam memandang setiap manusia sama.

Kedua, ada beberapa saat ketika cinta harus disandarkan pada dinding bernama ketaatan. Kita lihat kisah Zainab binti Jahsy. Menikah bukan perkara mudah, bukan perkara sepele. Itu barangkali adalah sebuah pilihan seumur hidup. Tapi mendengar ayat yang turun berkenaan dengan dirinya, beliau langsung sadar. Dan seketika pendiriannya diubah. Inilah, sekali lagi, keistimewaan generasi sahabat. Bahkan cinta mereka pun sudah tunduk di bawah payung wahyu.

Terkait kesetaraan derajat, saya kira kita sudah banyak setuju. Dan itu pula yang menyadarkan saya hari ini. Bahwa sama sekali tak pantas diri yang dhaif ini kemudian menghakimi terlalu keras tanpa dasar yang jelas, yang qath’i.

Yang mungkin agak sulit adalah ketika kita harus mendudukkan cinta dan benci kita karena Allah. Saya tidak mau berbicara banyak. Saya cuma meminta kalian, para pembaca, untuk merenungi kisah ketaatan para sahabat. Dan yang pertama saya tampilkan, seperti yang telah kita ketahui bersama, bernama Zainab binti Jahsy.

-RSP-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: