Abu Quhafah

Nama lengkapnya adalah Usman bin Amr bin Ka’ab. Abu Quhafah adalah kuniyahnya. Salah satu putranya adalah khalifah pengganti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang juga mertua beliau. Ya, Usman bin Amr adalah ayah dari Abdullah bin Usman. Siapa Abdullah bin Usman? Kita lebih mengenal beliau dengan nama Abu Bakr ash Shiddiq.

Imam Ahmad pernah menuliskan sebuah hadis yang sangat memukul saya berkaitan dengan Abu Quhafah. Hadis tersebut mengisahkan pernyataan pembantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anha, yang berkisah di hari bai’at Abu Quhafah.

Tepat ketika Abu Quhafah menjulurkan tangannya pada Rasulillah untuk berbai’at, Abu Bakr menangis. Sesenggukan. Sahabat yang hadir tentu terheran. Bukankah sebuah kebaikan yang besar ketika salah seorang anggota keluarga yang kita cintai berkenan membuka hatinya demi hidayah? Bukankah di hari itu, Abu Bakr harusnya bergembira menyaksikan keislaman ayahnya?

Tapi sahabat yang mulia ini berkata pada Rasul, “Lebih kusukai jika tangan pamanmu menggantikan tangannya, lalu dia masuk Islam dan dengan begitu Allah membuat engkau rela.” Sebagai penjelas, paman yang dimaksud oleh Abu Bakr adalah Abu Thalib. Dan kita tahu, bahwa Rasulullah begitu mencintai paman yang telah memberikan jasa besar bagi perkembangan da’wah Islam di periode awal ini.

Ada dua hal yang membuat saya tertunduk mendengar kisah yang semalam diceritakan pada saya oleh Ustadz Ibnu Hasan Aththobari ini. Pertama, betapa sahabat sekaliber Abu Bakr begitu memperhatikan Rasul sebagai wujud cintanya pada sang nabi. Seperti yang pernah dikatakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada ‘Umar bin Khaththab, “Tidak sempurna iman seseorang hingga ia mencintaiku melebihi suatu apa pun,” Abu Bakr benar-benar merupakan teladan yang baik bagi mereka yang berusaha mencintai Rasulullah dengan sebaik-baik mahabbah.

Adakah di antara kalian, para pembaca, yang memiliki kerabat yang begitu peduli, penyayang, menjadi pelindung dan tempat mencurahkan isi hati kalian di saat bumi ini terasa sempit sekali? Di saat kesulitan menghimpit dan hati terasa sesak? Ketika bahkan kita kehilangan orientasi untuk menemukan tempat bersandar? Relakah kalian bila mereka di akhirat nanti diputuskan sebagai ahli neraka?

Maka Abu Thalib-lah yang mengasuh Rasulullah saat beliau masih kecil, saat ibu, ayah, dan kakek beliau telah meninggal. Abu Thalib-lah yang kemudian memberikan perlindungan bagi Rasulullah sejak meninggalnya Abdul Muthallib hingga wafatnya tokoh Quraisy ini. Dialah yang menjaga Rasulullah dari gangguan orang Yahudi di Syam bahkan ketika perjalanannya masih belum separuh jalan, saat rombongan dagang itu singgah di biara Bahira. Dialah yang menjaga da’wah ini tetap eksis di masa awal yang penuh ujian, cobaan, dan gangguan dari kafir Quraisy. Sayangnya, kalimat syahadat enggan terlontar dari lisannya meski ia telah mengakui kebenaran da’wah ini.

Tapi, manusia mana yang mau merelakan paman yang telah memberi perlindungan dan asuhan sejak kecil hingga masa nubuwah berlangsung menjadi ahli neraka?

Bayangkanlah perasaan Luth ‘alaihissalam, yang berhasil menda’wahi beberapa wanita di kaumnya, tapi kemudian isterinya sendiri, yang telah mendampingi hidupnya sekian lama, akhirnya harus terjun bebas kepada kekafiran. Bayangkanlah remuknya hati Nuh ‘alaihissalam, yang berhasil mengajak serombongan pemuda untuk naik ke atas bahtera dengan penuh ketundukan dan ketaatan pada Allah, tapi harus menyaksikan putranya sendiri tenggelam karena banjir yang melanda negeri penuh kekufuran itu. Dan bayangkanlah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang berhasil menda’wahkan risalah terakhir dari Allah kepada miliaran umat manusia di muka bumi sejak lebih dari 1400 tahun yang lalu, tapi harus menghadapi kenyataan bahwa beberapa kerabatnya, terutama yang memberi perlindungan terhadap da’wah beliau, adalah sosok yang tidak selamat dari siksa neraka.

Abu Bakr sadar bahwa ada kepedihan di situ. Cintanya pada Rasul membuatnya berempati. Apalagi bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang pernah melihat langsung siksa neraka. Karena beliau pernah menyaksikan balasan bagi mereka yang tak menutup aurat secara sempurna. Dan juga, karena beliau pernah melihat kondisi sebaliknya: balasan yang besar bagi para mujahidin di jalan Allah.

Dan naluri kemanusiaan kita pun akhirnya memaklumi doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang memohonkan ampun dan syafa’at bagi Abu Thalib, hingga Rasul berharap agar Abu Thalib hanya menerima siksa teringan dari neraka: diletakkan dua buah batu neraka di bawah telapak kaki, hingga mendidih otaknya karena panasnya api.

Kedua, well, saya sangat sayang pada ibu bapak saya. Saya tak punya kata yang lebih pas dan lebih indah untuk menjelaskannya. Tapi saya jelas tak mau mereka berdua menjadi senasib dengan Abu Thalib. Saya ingin menangis saat menuliskan tulisan ini. Bahwa betapa sedikit yang telah saya berikan pada keduanya. Sedikit sekali. Bahkan, untuk da’wah Islam ini yang seharusnya menjadi hak mereka terlebih dahulu. Untuk da’wah Islam yang seseorang dimuliakan dan diselamatkan karenanya.

Saya tak tahu kapan ajal mereka ditetapkan oleh Allah. Mungkin yang bisa saya harapkan adalah keadaan muslim mereka saat nyawa keduanya diambil oleh Allah. Mungkin yang bisa saya harapkan adalah husnul khatimah bagi mereka berdua. Dan mereka berdua meninggal dalam keadaan menggigit buhul Islam dengan ikatan yang kuat.

Benar kata seorang kawan. Doa ibu kita tiap malam mengalir. Mendoakan kebaikan buat kita. Terutama kalian yang sekarang berada jauh dari orang tua. Untuk mengejar cita-cita, mungkin. Itu sekarang.

Duh, betapa tak tahu terima kasihnya saya. Bahkan saya sudah lupa bagaimana mereka menyuapi saya saat segala hal belum mampu saya lakukan sendiri. Bahkan saya lupa bahwa di usia ini, masih seringkali saya membebani pikiran mereka. Bahkan saya sudah lupa bagaimana mereka mengajari saya membaca, hingga di usia tiga tahun saya sudah melahap majalah dan surat kabar yang ada di rumah. Sehingga, saat ini, ada banyak sekali ilmu yang bisa diambil karena peran mereka.

Saat ini, saya terpisah lebih dari seribu kilometer dari ibu dan bapak saya. Itu artinya sehari-semalam perjalanan darat. Ah, ingin  rasanya bertemu keduanya, saling menasihati dalam al haq dan kesabaran. Bersatu di bawah naungan tauhid. Ingin rasanya saya mengulanginya dari awal. Dari masa-masa ketika Islam ini baru saja saya terima, baru saja saya pahami.

Akhirnya, inilah pertanyaan yang menggelayuti benak saya malam ini: Adakah mereka serupa ‘Abdurrahman bin Abu Bakr, ataukah semisal semisal saudarinya, Aisyah? Adakah keduanya seperti Abu Quhafah, atau jadi Abu Thalib?

-RSP-

Iklan
2 comments
  1. deady said:

    hanya bisa nangis, gan
    tapi ya begitulah apa mau dikata ya, gan
    udah digariskan
    karena hanya Allahlah sang pembolak-balik hati manusia

    • muslimpeduli said:

      iya mas. dan mari berharap semoga Allah berkenan mencurahkan petunjuk dan benar2 menggiring kita, kerabat kita, temen kita ke arah yg lebih baik. yg sesuai dg apa yg ditetapkan Allah dlm al quran dan as sunnah. aamiin..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: