Menggurat Kata Memesona

Dulu Pram berkata, “Menulis adalah bekerja untuk keabadian”. Dan saya merenungi makna keabadian itu. Apa maksudnya? Bukankah seharusnya tidak ada yang abadi di dunia ini kecuali sang Pencipta?

Hasilnya, hari ini, saya dapati jawabannya. Bahwa menulis, yang dilakukan dengan kebesaran hati, kelurusan niat, dan kejujuran tujuan, mampu menggores dalam-dalam setiap qalbu pembacanya. Dan tak hanya sampai di situ, ia menggerakkan. Bukan hanya menjadi bunga bagi penulisnya. Bukan hanya menjadi penghias pendecak kagum insan di sekitarnya.

Uniknya, mereka yang bekerja untuk keabadian tidak pernah memaksudkan buah pikirnya menjadi sebuah mahakarya. Semata terdorong untuk menghasilkan buah bagi pembacanya. Dan itu dilanjutkan dengan amal nyata. Tak sekedar retorika.

Dahulu, an Nadhr bin al Harits berkehendak memesona manusia akan syair dan sirah raja-raja Persia, periwayatan Rustum dan Asfandiyar. Semata untuk mengikuti sang pembawa risalah untuk sebuah harga yang harus dibayar. Da’wah ilallah. Ke Hirah ia pergi. Mengumpulkan periwayatan seluruh kisah terdahulu itu. Dan sesampainya di tanah Quraisy, diikutinya cucu Abdul Muthallib, sang penemu zamzam, dan mengadakan tandingan terhadap isi dari al Quran.

“Dengan modal apa penuturan Muhammad bisa lebih baik daripada penuturanku?” ucapnya, pongah.

Dan lihatlah apa yang Allah katakan tentang dirinya,

Dan di antara manusia ada orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan dari jalan allah tanpa ilmu. (QS Luqman 6)

Sekarang kita beralih pada sosok rapi nan wangi. Pemuda Muhajirin pembuka jalan Madinah, Mush’ab bin Umair. Sosoknya tampan, gagah. Tutur katanya halus, rinci, dan tertata rapi. Adakah ia seorang penyair? Bukan. Sejarawan? Juga bukan. Tapi tutur yang didasarkan pada kalam ilahi begitu menghujam nurani masyarakat Yastrib. Hingga suatu saat, mereka menjadi salah satu penolong agama Allah beserta rasulNya yang mulia, kaum Anshor.

Kelurusan niat dan tekad untuk berda’wah meneguhkan kedudukan Mush’ab. Untuk harta-kah da’wahnya? Tidak. Dunia telah ditinggalkannya hingga yang disisakannya adalah jubah usang bertambal-tambal, setelah dulu, pernah ia nikmati berbagai pakaian, berupa wewangian, dan aneka hidangan. Untuk wanita-kah? Agar mereka terpesona padanya? Juga tidak. Sosok setampan Mush’ab jelas punya lebih banyak opsi dibanding kita, para pemuda bertampang prihatin ini. Sudah jelas, banyak wanita Makkah menaruh hati padanya. Atau untuk tahta dunia? Tidak. Apa sih yang bisa ditawarkan Rasul saat itu selain jannah yang mengalir sungai-sungai di bawahnya?

Adakah perkataan yang lebih mulia dibanding seruan lembut menuju agama Allah yang sempurna ini? Karena bukankah ia ditebar dengan bahasa yang halus, tertata, dan bermartabat? Maka apa yang menghalangi manusia untuk memperhalus bahasa, menata tutur kata, sekaligus menjaga izzah kita?

Apa yang membuat Abu Sufyan begitu panik saat berita tentang kedatangan al Aasyah, seorang penyair Arab, tersebar seantero Makkah? Semata karena kekhawatiran bahwa nantinya, kata-kata indah itu digunakan untuk menebar da’wah Islam. Di sini pula, Abu Sufyan telah menyadari betapa berbahayanya sebatang pena para pujangga, serta seonggok tenggorok pengukir kata. Dan dibawanya seratus ekor unta kepada al Aasyah. Dengan harapan sang penyair bisa segera pulang ke kampung halamannya.

Benar saja, sang penyair itu ternyata lebih memilih unta daripada sesuatu yang lebih baik dari dunia dan seisinya.

Maka perkataan yang indah, yang ditujukan untuk meraih simpati manusia tak akan bertahan lama. Boleh jadi, ada sebagian manusia dengan penyakit di hatinya terpesona. Tapi adakah yang bisa menandingi kalam dzat pencipta alam semesta ini? Adakah yang bisa menyamai produk pemikiran pengatur konstelasi galaksi ini?

Katakan saja apa yang ada dalam kitab kita. Kabarkan saja apa yang menjadi sunnah rasul kita. Itu cukup. Itu benar-benar cukup. Karena sungguh bukan tugas kita untuk membedah hati mereka. Karena apa yang perlu kita lakukan cukuplah menyampaikan. Cukup. Itu sudah cukup.

Dan barangkali ini yang dimaksud Pram sebagai kerja untuk keabadian. Lihatlah Mush’ab bin Umair! Sudah berapa tahun jasadnya berkalang tanah? Sudah berapa abad sejak kedua lengan dan kepalanya terpisah dari tubuh syahidnya? Sudah sepanjang apa perbukitan Uhud menjadi saksi bagi kepahlawanan sahabat mulia ini?

Lihatlah, kisahnya abadi! Karena tutur indahnya, dan karena amal nyatanya. Dari beliau kita belajar banyak hal. Bahwa kemuliaan Islam pertama kali, diperjuangkan melalui kelembutan hati. Ditegakkan melalui tauhid yang terpatri kuat dalam dada. Dan keindahan katanya pun mengikuti. Halus tutur bahasanya pun menyertai.

Dan lihatlah kisah an Nadhr! Riwayat hidupnya memang abadi. Tapi berujung surga-kah? Itulah yang akan didapatkan mereka, para pendusta. Tak akan lebih berharga nilainya dari secuil sayap nyamuk. Sebab kata yang indah, selain tak menggores makna dalam qalbu, juga akan berdampak pada akhiratmu. Tinggal manusia yang memilih. Akhir yang baik, atau akhir yang buruk?

Itu semua, sekali lagi, karena lurusnya niat.

Hari ini, sekali lagi saya harus berterima kasih pada mereka yang lagi-lagi mengingatkan saya. Bahwa menulis bukan sebuah langkah untuk mencari pujapuji manusia. Bukan cara untuk menggurat senyum mereka. Tapi merupakan sarana penggapai ridho Allah ta’ala. Berlimpah doa buat kalian, saudara-saudara tercinta.

Dan terkhusus untukmu, Ustadz Rahmat Abdullah..

4 comments
  1. ida said:

    like, tulisan sebagai maha karya paling indah tetaplah dari Sang pencipta, Al Qur’an. Ingin sekali bisa menulis berdasarkan jutaan hikmah yang terkandung di dalamnya. Menjadi penyambung lidah atau pencerita bagi yang belum sempat memahami alquran, bahkan yang belum bisa membacanya.

    Ck ck… ternyata Reza punya blog,,

    • muslimpeduli said:

      aamiin.. semoga keinginannya terkabul dan semoga keberkahan selalu mengiringi mbak ida.

      oh iya, ini mbak ida yg mana ya?

  2. semangaaat…
    para pejuang pena…

    Marhaban Ya Ramadhan..

    • muslimpeduli said:

      ya. terima kasih.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: