mau larang shalat? lihat dulu yang ini

barusan, secara tak sengaja, saya menjumpai sebuah link yang dikirimkan seorang kawan melalui facebook. di link tersebut, diberitakan bahwa Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, yang kemarin diciduk oleh anggota Detasemen Khusus 88 Antiteror dengan tuduhan mendanai dan memerintahkan tindakan terorisme, dilarang mendirikan shalat berjama’ah di sel kecil, lembab, dan pengap yang dihuninya.

mengapa? well, tak jelas apa yang menjadi alasan pihak kepolisian melarang Ustadz Ba’asyir mendirikan shalat berjama’ah. tapi, yang jelas, saya jadi teringat sebuah surat yang diwajibkan ustadz saya di Jember dulu untuk dihafal oleh seluruh santrinya ketika hendak mengikuti pelajarannya: surat al ‘Alaq. dan satu bagian dari surat tersebut kiranya dapat menjadi perhatian pihak-pihak terkait untuk meninjau kebijakan tersebut.

Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang seorang hamba ketika dia mengerjakan shalat? bagaimana pendapatmu jika orang yang dilarang itu berada di atas kebenaran, atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)? Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling? Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya? Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka. Maka biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya), kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah, sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Allah). (QS al Alaq 9-19)

saya kira tak perlu berjilid-jilid kitab tafsir dibuka untuk memahami rangkaian ayat ini. sudah sangat jelas. apalagi dikaitkan dengan kasus yang dialami oleh Ustadz Ba’asyir. beberapa pertanyaan retoris Allah lontarkan di situ. bagaimana kalau yang dilarang mendirikan shalat itu berada di atas jalan kebenaran? bagaimana kalau dia adalah penyeru pada ketaqwaan? bagaimana bila yang melarang itu adalah mereka yang selama ini mendustakan ayat Allah dan berpaling dari peringatanNya? apa dia tak sadar bahwa Allah senatiasa melihat perbuatannya?

memang sih, yang dilarang hanya shalat berjama’ahnya saja. bukan shalat secara keseluruhan. tapi bukankah shalat berjama’ah adalah perintah Allah juga? bukankah ia merupakan syariat Allah yang statusnya sama dengan perintah Allah yang lain, yang harus dipatuhi?

rangkaian ayat tersebut dilanjutkan dengan dua buah ancaman. pertama, bila mereka tetap dalam kondisi seperti itu, maka para pelarang dan pendusta itu akan ditarik ubun-ubunnya seperti ditariknya ubun-ubun orang yang durhaka. bisa bayangkan?

kedua, sekalipun sekian banyak serdadu dikerahkan untuk melawan para penyeru tauhid, Allah sendiri yang akan membela para penyeru tauhid itu. ya, Allah sendiri. dan Allah akan memanggil malaikat zabaniyah untuk membereskan para pendusta ayat-ayatNya itu

di sini, saya jadi teringat kisah Abdullah bin Zubair radhiyallahu ‘anhu, sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang pernah didoakan secara khusus oleh sang nabi. ingatkah kalian bagaimana beliau wafat? ya, beliau wafat di tangan al Hajjaj bin Yusuf. Kepalanya dipenggal serta dikirimkan pada Abdul Malik raja dari Bani Umayyah, dan tubuhnya disalib. mengapa beliau dibunuh? semata karena kerakusan akan kekuasaan yang dialami petinggi Bani Umayyah. berturut-turut sejak Yazid hingga Abdul Malik.

imam Ahmad bin Hanbal pun harus merelakan punggungnya untuk disiksa bertahun-tahun hanya demi mempertahankan pendapatnya bahwa al Quran adalah kalamullah, bukan makhluk. jadilah Mu’tashim, penguasa saat itu, memenjarakan dan menyiksa beliau. tidak tanggung-tanggung. padahal, saat itu usia imam ahmad sudah terhitung senja.

hal serupa dialami Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, yang menghabiskan akhir hidupnya di sel pengap dan gelap.

Hasan al Banna dan Sayyid Quthb bernasib serupa. Hasan al Banna, yang sukses menggerakkan lima ratus ribu pemuda Mesir untuk berjihad ke Palestina dan berhasil memukul mundur tentara teroris dari beberapa titik di Palestina, menyerah pada tujuh butir peluru yang bersarang di tubuhnya. rumah sakit enggan menerima tubuhnya yang telah bersimbah darah. mengapa? well, kita hanya bisa menebak-nebak. tapi kemungkinan terbesar ada pada tekanan pemerintahan Mesir saat itu pada pendiri gerakan al ikhwan al muslimun ini.

sementara Sayyid Quthb, karena sebuah buku kecil berjudul Ma’alim fit Thariq, merasakan pengapnya dinding penjara Mesir. tentu, ditambah pula dengan siksaan-siksaan khas penjara setempat. dan setelah beberapa tahun, akhirnya Jamal Abdul Nasser memerintahkan eksekusi matinya. dan tubuh tak berdaya itu akhirnya menggelayut di tiang gantungan, dan mungkin akan dikenang sampai akhir zaman.

dan yang dialami oleh Ahmad Ismail Yassin mungkin lebih mengingatkan kita akan sosok ustadz yang tinggal di Solo itu. sejak usia belasan tahun, Ahmad Yassin sudah menderita kelumpuhan. ya, ia tak bisa menggunakan kakinya lagi sejak saat itu. tapi inilah orang yang kerap keluar-masuk penjara Israel karena penentangannya terhadap rezim teroris yang berkuasa di bumi tempat ia berpijak. tak terhitung zat kimia yang dimasukkan dalam tubuhnya. dan sebagai “bonus”, tingginya frekuensi kunjungannya ke penjara Israel meninggalkan cacat permanen pada matanya. ia buta.

sebagai akhirnya, ia syahid, insya Allah, dihujani tembakan roket helikopter-helikopter teroris tersebut. hingga, para anak didiknya harus mengumpulkan serpihan jenazahnya ke dalam kantong plastik sebelum akhirnya beliau dishalatkan. ya, beliau dishalatkan tidak dalam kondisi tertutup kain kafan. tapi tertampung dalam kantong plastik.

terakhir, dalam ayat tersebut Allah berpesan pada kaum muslimin untuk tidak taat pada mereka, para pendusta itu, dan senatiasa bertaqarrub pada Allah.

dari sini insya Allah bisa kita ambil sebuah pelajaran. bahwa sejarah yang tertulis dalam al Quran akan senatiasa terulang. apa pun itu. siapa bilang kisah 315 pasukan nabi Dawud melawan Jalut tidak terulang? ia terulang saat perang Badar. siapa bilang kata-kata fir’aun, “ana rabbukumul a’laa” tidak akan terulang? ia terulang. dan menurut saya, karakternya sesuai dengan karakter negeri paman sam. siapa bilang kisah pemenggalan kepala nabi Yahya tidak terulang? masih ingat cerita sahabat nabi yang mulia, Abdullah bin Zubair, itu kan?

nah, kesadaran akan berulangnya sejarah ini harusnya membuat kita semakin belajar dari sejarah. dan saksikanlah al Quran! ribuan ayatnya bercerita tentang hikayat umat terdahulu. maka, dari situ, masih bebalkah otak kita untuk tidak mengambil ibrah darinya?

-RSP-

2 comments
  1. saenaknya said:

    Tulisan yang bermanfaat . . .🙂

    • muslimpeduli said:

      alhamdulillah, segala puji bagi Allah. kalo ada kritik, saran, atau tambahan, jangan sungkan utk langsung bilang ya. jazakallahu khairan katsiir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: