duh, rabbi..

berjalan dengan gamang,
bisakah ia disebut sebuah pertimbangan?
atau (mungkin) sebuah strategi?

di mana aku untuk sementara berjalan tertunduk
sembari terus menentramkan hati yang teraduk

rabbi, masalahnya, gamang ini membuatku berjalan di tempat
tak membawaku ke mana pun
ke arah jannahMu maupun nerakaMu

tapi aku khawatir, yaa rabbi
aku tak mampu memberikan hujjah di hadapanMu

karena apa yang harus kukatakan padaMu kelak di Mahsyar,
sementara aku belum mampu beriltizam padaMu
belum sanggup mengingkari yang Kau ingkari
masih menautkan hati pada zat yang tak hakiki
atau mengikat cinta pada mereka yang Kau benci?

habislah sudah perkara di tanganMu, yaa Allah
sebab Engkau-lah al haakim
kuserahkan diri berpasrah tertunduk di hadapMu
serupa ketundukan al Aaziz padaMu dengan Yusuf sebagai saksi
seperti ikrar ahli nujum Fir’aun di hadapan Musa
atau semisal syahadat Salman di sisi Muhammad Musthafa

yang kumohon saat ini adalah ketetapan hati

karena saat ini, izinkan aduanku merayapi diri
untuk sebuah pengakuan bahwa aku tak setegar bilal, sahabat rasulMu yang mulia
bahwa aku tak sekuat ammar, yang karenanya turun sebuah ayat penuh makna
bahwa aku tak semisal sa’ad, yang untukMu, darahnya tertumpah kali pertama

dan kenapa dunia masih melingkupi hatiku, ya rabb?
padahal rasulMu telah berkata bahwa ia tak sebanding dengan harga secuil sayap nyamuk
sedang ia telah bersabda bahwa setetes air di laut adalah amsal yang selaras

aku ingin seperti ka’ab
ia tak mengaduk kata demi desersi tabuk
sama sepertiku yang tak ingin memilin lidah
demi alasan yang tentu mudah Kau bantah

ampuni, yaa rabb

diri ini belum terlalu percaya pada kekuatanMu,
pada kuasaMu
padahal semesta senatiasa bertasbih menyucikan namaMu
padahal galaksi berputar patuh pada perintahMu

aku iri menjadi saksi ketundukan ahli nujum Fir’aun itu, yaa rabb
semata karena melihat mu’jizatMu,
seketika mereka menyandarkan diri mereka padaMu
dan berbicara pada sang tiran dengan tekad penuh
dengan keberanian setara sahabat Isa bin Maryam

lantas aku?

sekali lagi, ampuni, yaa rabb

diri ini belum terlalu takut pada kebesaranMu
belum terlalu cinta pada asmaMu
belum terlalu berharap pada rahmatMu

Allahumma, masih setipis kertaskah harga keimananku?

-RSP-

*untuk sebuah pilihan yang harusnya bisa diputuskan dengan mudah. tapi dunia, yang dulu tak kupercaya godaannya, yang dulu kutertawakan pengaruhnya, ternyata mulai menghadirkan sayapnya. sayap yang mengerikan, kupikir. dan faktanya, ketakutan atasnya memiliki pengaruh nyata!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: