Bangkitlah, Para Pemuda!

Medan Badar mengabadikan dialog dua sahabat cilik ini: Mu’adz bin Amr bin al Jumuh dan Mu’adz bin ‘Afra’ radhiyallahu ‘anhuma. Dikisahkan langsung oleh sahabat mulia nan kaya namun zuhud, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, namanya kini harum. Sebagai salah satu pejuang Badar termuda dari kalangan sahabat. Empat belas dan tiga belas masing-masing usianya. Dan kisahnya, kini, tertulis rapi dalam Shahih Bukhari.

“Aku,” kata Ibnu ‘Auf, “berada dalam sebuah barisan saat perang Badar. Aku menoleh kanan dan kiriku, terdapat dua pemuda yang masih belia. Dan aku khawatir akan keduanya.”

Beliau melanjutkan kisahnya. “Wahai paman,” kata salah seorang di antara dua Mu’adz itu, “tunjukkan padaku mana yang bernama Abu Jahl.”

Ibnu ‘Auf terkaget. “Apa yang ingin engkau perbuat padanya?” Jawaban Mu’adz bin Amr begitu dahsyat. “Aku dengar dia telah melukai Rasulallah shallallahu ‘alaihi wasallam. Wallahi! Jika aku melihatnya, tak kubiarkan hitam mataku dengan hitam matanya berpisah hingga salah satu dari kami mati!”

Singkat cerita, seperti mereka yang jujur pada kata-katanya sendiri, serupa seorang sahabat tak dikenal yang syahid karena anak panah di lehernya, atau semisal dr. Abdul Aziz al Rantisi yang diterjang roket Apache, Allah menggenapkan ucapan pemuda ini. Benteng tangguh berupa manusia-manusia tegap nan sigap pengawal Abu Jahl berhasil ditembus. Tak tanggung-tanggung, bocah ingusan ini berhasil menembus pertahanan yang dibangun Abu Jahl untuk dirinya sendiri. Tinggallah mereka berhadapan. Dengan pedang terhunus.

Dan disabetkanlah pedang Mu’adz bin Amr ke betis Abu Jahl. Saat perang ini berakhir, beliau mengisahkan pengalamannya, “Mendengar kalimat bahwa Abu Jahl tak bisa dijangkau, aku lebih tergugah. Aku pun meluncur, melesat ke arahnya. Ketika keadaan memungkinkan, aku sabetkan pedangku dan berhasil menebas pertengahan betisnya. Ya! Aku berhasil membabat pertengahan betisnya.”

Kemudian, datang sahabatnya, Mu’adz bin Afra. Tujuannya? Masih sama. Membunuh Abu Jahl. Dan ia tercapai. Abu Jahl akhirnya mencium tanah setelah tebasan Mu’adz bin Afra tepat mengenai sasarannya. Sebelum akhirnya, Abdullah bin Mas’ud yang memastikan kematian Abu Jahl.

***

Kalut dan muram menyelimuti wajah mulia itu. Selepas perang Muraisi’, fitnah menerpa keluarganya. Ya, sekalipun ia adalah seorang nabi, ternyata berita dusta tetap beredar. Terutama, berita-berita yang telah dikompori dan dikipasi para munafiqin. Isterinya, Aisyah radhiyallahu ‘anha, harus rela menerima fitnah dengan salah seorang sahabat. Menjadi masalah karena beliau adalah isteri dari pemimpin umat sepanjang masa.

Repotnya, wahyu dari Allah tak kunjung turun. Tercatat, sekitar satu bulan setelah peristiwa tersebut tersebar tak satu pun petunjuk dari Allah datang untuk menyelesaikan masalah ini. Terjepit dalam situasi yang sulit, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lantas mengambil keputusan. Beliau membentuk tim pertimbangan dari beberapa sahabatnya, agar masalah ini dapat segera terselesaikan.

Pertanyaannya, siapakah sahabat yang menerima tugas kehormatan ini? Salah satu sahabat yang diamanahi dalam tugas ini menyita perhatian saya: Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu.

Kenapa? Tak lebih karena usianya saat itu masih dua belas tahun!

Pesonanya tak berhenti sampai di situ. Empat tahun kemudian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan mengutus beliau untuk mengomandani sebuah pasukan perang dalam sebuah misi menuju wilayah kekuasaan Romawi di Syam. Yap, di usia enam belas tahun, ia memimpin serombongan sahabat mulia semacam Abu Ubaidah bin al Jarrah, Zubair bin Awwam, Khalid bin Walid, Qa’qa’ bin Amr, dan Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhum.

***

Perjalanan kita menekuni jejak para sahabat belia sejenak singgah pada sosok bernama Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu.  Tak lama setelah pernyataan khidmatnya pada Islam melalui ibunya dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di usia tiga belas tahun dengan bermodalkan hafalan tujuh belas surat al Quran, Zaid mendapat sebuah kehormatan dari Rasulillah.

“Yaa Zaid, ajarilah aku tulisan Yahudi, karena aku tidak bisa membuat mereka percaya atas apa yang aku katakan.” Well, berapa banyak sih orang yang diminta mengajar seorang murabbi terbesar sepanjang masa?

Limpahan amanat Rasulullah tak berhenti di sini. Tak lama setelah itu, Rasulullah bahkan mempercayakan penulisan al Quran salah satunya pada pemuda ini, hingga di kemudian hari, namanya tercantum sebagai salah satu dari deretan penulis wahyu.

Mengikuti jejak Rasulullah, Abu Bakr ash Shiddiq turut mempercayakan sebuah tugas besar pada beliau. Di usia dua puluh satu tahun, Zaid didaulat sebagai koordinator standarisasi al Quran yang hasilnya saat ini bisa kita baca setiap hari. Dan coba perhatikan pengakuannya saat tugas ini dibebankan di pundaknya. “Wallahi, bila mereka menyuruhku untuk memindahkan gunung dari satu tempat ke tempat lain, sesungguhnya itu lebih mudah daripada mengumpulkan ayat al Quran.”

Tolong dicatat: Usia Zaid saat tugas standarisasi al Quran turun padanya adalah dua puluh satu tahun. Dan silakan bayangkan berapa usia beliau saat Rasulullah memintanya untuk mengajar Rasul mempelajari tulisan Yahudi dan bahasa Suryani. Silakan bayangkan berapa usia beliau saat ia ditugaskan untuk menjadi salah satu pencatat al Quran.

***

Setiap muslim yang mempelajari sirah nabawiyah di masa awal da’wah Rasul tentu mengenal nama al Arqam bin Abil Arqam al Makhzumi. Kalau dilihat dari nasabnya, dia adalah seorang bangsawan, semarga dengan Abu Jahl. Seperti diketahui, kabilah ini memiliki tempat tersendiri dalam pemerintahan Quraisy karena kekuatan militernya yang sangat tangguh. Tapi sungguh, perilakunya tak seperti bangsawan Quraisy kala itu yang begitu menyombongkan dirinya dan berusaha mempertahankan kekuasaannya di jazirah Arab.

Di usia enam belas tahun, ia membuka pintu rumahnya lebar-lebar tapi diam-diam untuk digunakan sebagai sarana da’wah Rasul. Beliau berani mengambil resiko bernasib serupa keluarga Yasir, Bilal bin Rabbah, Abdullah bin Mas’ud, atau Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhum. Terlebih, bani Makhzumi adalah salah satu kabilah dengan rasa permusuhan paling kuat terhadap da’wah Rasulullah.

Singkatnya, beliau  menghadapi dua resiko: tertangkap dan disiksa, serta dikucilkan dari keluarga sendiri. Dan silakan tanyakan pada diri kita masing-masing. Berapa banyak di antara kita yang bersedia mengambil resiko ini demi da’wah yang begitu dikucilkan, ditekan, dan dijauhi setiap orang ini?

***

Kisah-kisah tersebut, insya Allah, mengandung sebuah ibrah mendalam bagi diri kita. Bahwa usia sebenarnya bukan penghalang bagi seorang muslim untuk turut berpartisipasi dalam usaha penegakan kalimat Allah di muka bumi. Bahwa alasan seperti “masa muda adalah masa hura-hura” atau segala alasan berkaitan dengan kepemudaan yang berkonotasi negatif sama sekali tak dapat diterima.

Memang sulit. Saat membaca kisah-kisah ini pertama kali, sempat saya merutuki diri sendiri. Akhir Ramadhan ini, usia saya, menurut kalender hijriyah, genap dua puluh tahun. Tapi saya harus bisa menerima kenyataan bahwa hafalan Quran saya masih sangat miskin. Hafalan hadis pun serupa. Aksi nyata yang bisa dilakukan untuk Islam? Boleh dibilang nihil.

Saya iri pada Abdullah bin Abbas yang telah mampu dan dipercaya meriwayatkan hadis bahkan sejak usianya baru menginjak sebelas atau dua belas tahun. Atau Ali bin Abi Thalib yang memilih Islam sejak usia sepuluh tahun. Atau pada Syaikh Nashiruddin al Albani yang memutuskan serius mempelajari hadis saat usianya genap dua puluh tahun. Saya iri pada Hasan al Banna yang di usia 23 tahun telah mampu mendirikan gerakan ideologis yang sisa-sisanya masih bertahan hingga kini. Masih eksis. Saya jadi iri pada mereka yang punya visi progresif dan jelas. Seperti Ahmad Yassin yang telah cacat sejak usia enam belas tahun karena sebuah perlombaan yang, sekali lagi, memiliki maksud dan cita-cita jelas. Saya jadi iri pada para syuyukh dan asatidz yang terbina sejak dini untuk menghafal al Quran, memahami maknanya, dan mengamalkan hingga mereka serupa Rasulullah, yang memiliki akhlaq qurani dalam kehidupan sehari-hari.

Tidak beranjak kaki anak Adam dari hadapan Allah hingga ditanya tentang lima hal: tentang usianya, untuk apa dihabiskan; tentang masa mudanya, untuk apa dihabiskan; tentang hartanya, dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia gunakan; dan tentang apa yang ia amalkan dari ilmunya. (HR Tirmidzi)

Ini peran pemuda. Karena dalam Islam, pemuda sama sekali bukan gambaran urakan dan ugal-ugalan. Bukan gambaran manusia yang ngebut di jalan dan mencorat-coret bajunya hanya karena dinyatakan lulus ujian yang bahkan saat ujian ia tak belajar sama sekali, mengandalkan usaha teman-temannya, mengandalkan SMS penuh cinta dari bapak-ibu guru. Ini bukan gambaran manusia labil yang masih mencari identitas diri. Karena keimanan dan celupan warna Allah telah menghiasi hatinya. Karena tauhid telah tertancap kuat dalam dirinya.

Rangkaian kisah plus hadis yang diceritakan oleh Abdullah bin Mas’ud di atas sebenarnya menunjukkan satu hal yang sangat jelas bagi kita, para pemuda. Bahwa sesungguhnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengharapkan banyak hal muncul dari tubuh enerjik kita, dari pikiran segar kita. Karena jelas bukan tanpa alasan Rasulullah melimpahkan berbagai amanah besar pada pundak para pemuda itu.

Jadi, bukan kelalaian yang Rasul kehendaki dari diri kita. Bukan hari penuh hura-hura yang Rasul harapkan dari kita. Bukan pernyataan penuh tanda tanya dan penantian yang beliau ingin. Toh, kita tak pernah tahu kapan akhir dari hidup kita. Kita tak pernah tahu apakah kita sampai pada usia tua, seperti manusia pada umumnya, dan baru beriltizam pada Islam saat usia telah mencapai empat puluh tahun.

Masalah besarnya bukan pada sebagai apa kita saat ini. Tapi kontribusi apa yang mampu kita berikan pada Islam, tentu, yang sesuai dengan al Quran dan as Sunnah. Karena hidup kita ini bukannya tanpa maksud. Ada tujuan jelas, seperti yang telah kita ketahui bersama, mengapa Allah menciptakan kita. Dan manusia, sepanjang hidupnya, memang selalu dituntut untuk menyelesaikan amanah besar itu.

Seperti yang Allah katakan dulu pada Rasul, “Qum, fa andzir! Bangun, dan berilah peringatan!”, maka sepertinya juga ada seruan serupa bagi kita, para pemuda, untuk segera bangkit, tersadar dari tidur panjang kita.

Qumuu, yaa syabaab!

-RSP-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: