panduman,

bolehkah kunyatakan rindu padamu?

bahwa aku ingin mengunjungimu lagi,
hutan yang akrab dengan gerimis
yang kerap disambangi kabut yang turun dan mengembun
saat aku tertidur beratap langit
di bawah gemintang

sayangnya ukir kayu berulir debu di pohon itu begitu jauh
yang pernah cukup menggantikanmu mungkin hanya nama
dari sebuah kota yang mengingatkanku pada mereka berdua
dua; yang beberapa kali menggantikan rindang pepohonan,
curam tanjakan,
dan dingin air di sela kaki-kaki yang melangkah berat
di tepi lengan-lengan yang tergenggam erat

aku ingin merasakan lagi
hangat mentarimu yang tak bersinar terik
dingin fajarmu yang mengandung nafas petani singkong
yang menembus bibir mereka yang membiru
aroma tanahmu yang menyimpan sisa air hujan sore hari
atau basah daunmu menangkap larik-larik embun,
waktu subuh

atau akankah kujumpai ilalang yang bergerak seolah pandir itu?
yang menyapaku seolah melihat fatamorgana,
melambai seolah menjadi saksi lukisan tak nyata

yang harus kau ketahui, ini realita
bukan mimpi semata

*untuk kerinduan yang (mungkin) segera terbayar. semoga aku masih diizinkan untuk menjumpaimu lagi

-RSP-

3 comments
  1. hayah said:

    rumah?

  2. deady said:

    rindu surga?

  3. reza said:

    panduman itu nama desa di kaki gunung argopuro. dulu pertama kali ke sana bareng temen2 ta’lim di jember. tempatnya bagus. plus acara waktu di sana macem2. tadabbur quran, taushiyah dari ustad, dll. urusan ruhiyah, ilmiyah, n jasadiyah. mantep.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: