al Qawa’idul Arba’: Ubudiyah

Jauh sebelum Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam lahir dari rahim Aminah, jazirah Arab telah pekat terwarnai dengan cahaya spiritualitas masyarakat. Kebajikan dan shadaqah tertunaikan sempurna. Amal shalih masih menjadi nilai tambah bagi mereka yang memilikinya.

Tersebutlah nama Amr bin Luhay, seorang pemimpin Bani Khuza’ah yang tumbuh besar dan dikenal sebagai sosok yang suka berbuat kebajikan, memperhatikan urusan-urusan agamanya, serta rutin menunaikan shadaqah. Berbagai amal shalih ini otomatis membuatnya dicintai warga sekitar.

Suatu saat, terbetik kabar bahwa ia hendak melakukan perjalanan ke Syam. Dalam pandangan masyarakat Arab saat itu, wajar bila orang se-shalih Amr bin Luhay pergi ke Syam, mengingat Syam adalah daerah yang dikenal sebagai tempatnya para rasul dan kitab. Seperti kita ketahui, mayoritas nabi yang berasal dari Bani Israil tinggal di wilayah ini; karena memang pada mulanya mereka berasal dari daerah Syam.

Tak lama kemudian, Amr bin Luhay pulang sambil membawa patung berlapis emas bernama Hubal. Tak tanggung-tanggung, berhala ini diletakkannya di dalam bangunan peninggalan bapak para nabi, Ibrahim ‘alaihissalam: Ka’bah. Hubal menyusul berhala-berhala yang sebelumnya telah ada di jazirah Arab seperti Manat yang terletak di Musyallal, tepi Laut Merah; Lataa di Tha’if; atau Uzza di Wady Nakhlah.

Tak cukup sampai di situ, Amr bin Luhay rupanya masih getol mencari sarana peribadatan lain. Terjalinlah hubungan akrabnya dengan bangsa jin. Dari mereka pula, Amr bin Luhay mendapatkan info berhala kaum Nuh yang terkubur di Jeddah. Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr segera digali dan diangkat untuk kembali dijadikan sarana peribadatan. Musim haji berikutnya, berhala-berhala ini sudah berada di banyak kabilah sehingga, seperti yang disebutkan Syaikh Syafiyyurrahman al Mubarakfury dalam ar Rahiqul Makhtum, hampir selalu ada berhala di setiap rumah di masing-masing kabilah tersebut.

Jadi kesipulannya begini: mereka–atau lebih khusus, Amr bin Luhay–adalah orang-orang yang berakhlaq baik. Suka berbuat kebajikan dan memberikan shadaqah. Kehidupan keagamaannya pun tak dapat dianggap remeh. Ghirahnya untuk menyembah penguasa semesta alam sangat tinggi. Mungkin kita yang hidup di masa ini malah kalah bersemangat untuk menyembahNya dibanding mereka. Sayangnya, ada berhala yang menghalangi mereka dari penyembahan kepada Allah dengan penyembahan yang haq.

Pertanyaannya adalah, ketika mereka tidak menyembah Allah dengan penyembahan yang semestinya, apakah mereka tidak kenal Allah? Apakah Allah benar-benar mereka tinggalkan dari kehidupan mereka, sehingga mereka disebut sebagai kaum yang menyekutukan Allah dan berstatus jahil?

Uniknya, jawabannya tidak. Coba simak ayat berikut.

Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka, “Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami.” Maka sesajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan sesajian yang diperuntukkan bagi Allah, maka sesajian itu hanya sampai pada berhala-berhala mereka. Amatlah buruk ketetapan mereka itu. (QS al An’am 136)

Ayat ini, selain memperjelas status persembahan yang musyrikin berikan upacara penyembahan mereka itu, juga memberikan keterangan buat kita bahwa sesungguhnya, saat itu, mereka sudah mengenal siapa Allah. Asma Allah terpatri kuat dalam diri mereka. Mewarnai kehidupan spiritual mereka. Seperti yang sudah dijelaskan dalam tulisan sebelum ini, masyarakat Arab jahiliyah sudah tahu siapa Allah. Hanya saja, mereka menyembahNya dengan cara yang salah sehingga terjebak pada jurang-jurang kesyirikan.

Sebagai tambahan, mereka tidak melakukan amal-amal buruk yang Allah ingatkan di bawah ini.

Dan tiada yang lebih sesat daripada orang yang memohon pada sesembahan-sesembahan selain Allah yang tidak dapat mengabulkan permohonannya sampai hari kiamat dan sesembahan-sesembahan itu lalai dari permohonan mereka. Dan seandainya manusia itu dikumpulkan (di hari kiamat), maka sesembahan-sesembahan itu akan menjadi musuh mereka dan mengingkari penyembahan mereka. (QS al Ankabut 5-6)

Atau mungkin lebih tepat, mayoritas kaum musyrikin tidak melakukan bentuk peribadatan seperti tersebut di ayat ini.

Sementara itu, Allah, dengan gamblang, menyebut salah satu ciri kaum musyrikin dengan ayat di bawah ini.

Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain dari Allah (berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan diri kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih tentangnya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang mendustakan dan sangat ingkar. (QS az Zumar 3)

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata bahwa salah satu sikap orang-orang yang menyekutukan Allah adalah mereka menjadikan sesuatu sebagai washilah atau perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sesuatu itu, bermacam bentuknya. Tapi yang paling banyak ditemui, terutama di kalangan kafir Quraisy, adalah perwujudan dari orang-orang shalih terdahulu serta beberapa oknum yang berasal dari keyakinan yang tak diketahui asalnya.

Contoh konkret mengenai hal ini adalah dijadikannya Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr sebagai salah satu bentuk washilah untuk menyembah Allah. Keempatnya merupakan orang-orang shalih dari kaum Nabi Nuh. Kultus berlebih menyebabkan beralihnya perhatian masyarakat dari semula menyembah Allah, menjadi tetap menyembah Allah, tetapi diiringi dengan dijadikannya perantara-perantara yang batil bentuknya. Sekali lagi, mereka tetap menyembah Allah. Kesalahannya adalah adanya perantara di antara mereka dengan Allah yang menjadikan rusaknya ibadah mereka.

Begitu pentingnya masalah ini, hingga Allah pun menurunkan satu ayat yang benar-benar membicarakan kesesatan bentuk penyembahan ini.

Dan mereka (kaum Nabi Nuh) berkata, “Janganlah sekali-kali kamu meninggalkan ilah-ilahmu, dan janganlah sekali-kali kamu meninggalkan Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr. (QS Nuh 23)

Menjelaskan ayat ini, Ibnu Abbas berkata, “Ini adalah nama orang-orang shalih dari kaum Nabi Nuh, ketika mereka meninggal dunia, syaithan membisikkan kepada kaum mereka agar membuat patung-patung mereka yang telah meninggal di tempat di mana di situ pernah diadakan pertemuan-pertemuan mereka, dan mereka disuruh memberikan nama patung itu dengan nama orang-orang shalih itu. Kemudian, orang-orang tersebut menerima bisikan syaithan, dan saat itu patung yang mereka buat itu belum dijadikan sesembahan. Setelah para pembuat patung itu meninggal dan ilmu agama dilupakan, saat itulah patung-patung itu mulai disemmbah.”

Sementara itu, Ibnul Qoyyim al Jauziyah berkata, “banyak ulama’ salaf berkata, ‘setelah mereka itu meningal, banyak orang berbondong-bondong mendatangi kubur mereka, lalu orang-orang itu membuat patung orang-orang shalih itu, dan setelah waktu berjalan berapa lama, akhirnya patung tersebut dijadikan sesembahan.”

Menyikapi hal ini pun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan peringatannya.

Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku sebagaimana orang-orang Nashrani berlebihan memuji Isa bin Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah, “Abdullah dan Rasulullah” (Muttafaqun ‘alaih)

Maka, bisa kita simpulkan bahwa kesyirikan mereka, kaum musyrikin Arab sebelum datangnya Rasul, bukan berarti mereka sepenuhnya berpaling dari Allah. Mereka tetap berdoa pada Allah. Mereka tetap memohon rezeki, perlindungan, dan kesejahteraan dunia dan akhirat pada Allah. Hanya saja, ada washilah batil yang menyebabkan bentuk penyembahan mereka rusak.

Kondisi ini patut kita jadikan perhatian mengingat hal inilah yang kerap kita jumpai di masyarakat muslim sejak dahulu. Berapa banyak di antara kita, kaum yang mengaku muslim, yang pergi ke kubur orang-orang shalih untuk berdoa di sana? Berapa banyak di antara kita yang menyempatkan diri berziarah di kubur para auliya’ serta memohon pada Allah di sana? Well, kalau ada dalih-dalih bantahan, silakan tanyakan pada mereka yang hadir di tempat-tempat tersebut. Mengapa mereka harus bersusah payah datang jauh-jauh dari rumah mereka hanya untuk berdoa di situ?

Jawabannya, yakinlah, serupa dengan apa yang Allah bantah dalam surat az Zumar ayat 3 di atas. Tak percaya? Coba tanyakan saja sendiri.

-RSP-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: