al Qawa’idul Arba’: Penyembahan Batil

Menjelaskan qaidah ketiga, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab banyak memberikan penekanan terhadap dalil-dalil yang berkaitan dengan penyembahan batil manusia kepada selain Allah. Karena sesungguhnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menerangkan pada manusia tentang macam-macam sistem peribadatan yang dilakukan oleh manusia. Ada yang menyembah matahari, bulan, hingga batu dan pepohonan besar. Tak ketinggalan pula nabi dan rasul juga turut menjadi korban penyembahan batil mereka, seperti yang sudah sepintas kita baca dalam pembahasan sebelumnya.

Mereka semua, kata asy Syaikh rahimahullah, diperangi oleh Rasulillah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau berusaha menegakkan firman Allah ta’ala berikut ini.

Dan perangilah mereka sehingga tak ada lagi fitnah, dan diin ini menjadi milik Allah semuanya. (QS al Baqarah 193)

Allah menyatakan bahwa penyembahan pada matahari atau bulan adalah penyembahan yang batil, seperti yang diungkapkan dalam ayat berikut.

Janganlah bersujud pada matahari dan jangan bersujud pada bulan. Tetapi bersujudlah pada Allah yang menciptakannya, jika hanya kepadaNya kamu menyembah. (QS Fushshilat 37)

Sementara itu, beberapa kaum lainnya menjadikan orang-orang shalih sebagai tandingan sesembahan selain dari Allah.

Katakanlah, “Panggillah mereka yang kamu anggap selain Allah, maka mereka tidak akan memiliki kekuasaan untuk menghilangkan bahaya darimu dan tidak pula memindahkannya.” Orang-orang yang mereka seru itu sendiri mencari jalan kepada rabb mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat dan mengharapkan rahmatNya dan takut adzabNya. Sesungguhnya adzab rabbmu adalah sesuatu yang ditakuti. (QS al Isra’ 56-57)

Dalam kesempatan yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bentuk kesyirikan terhadap orang-orang shalih ini dari perilaku orang Nashrani. Dikisahkan dalam Tafsir al Quran al Adzim dan Fi Zhilalil Quran, Adi bin Hatim, saat baru saja masuk Islam, menemui Rasulallah dengan salib perak masih tergantung di lehernya. Melihat salib tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membacakan ayat berikut,

Mereka menjadikan rahib-rahib dan orang-orang alim di antara mereka sebagai rabb-rabb selain dari Allah (QS at Taubah 31)

Kontan saja Adi bin Hatim membantah. “Yaa Rasulallah, sesungguhnya mereka tidak bersujud pada rahib dan orang alim mereka,” kata Adi bin Hatim. Saat itu pula dijawab oleh Rasulillah, “Benar. Tapi mereka mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah, dan menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah.”

Maka salah satu bentuk kesyirikan lain yang menjadikan orang-orang alim sebagai tandingan Allah adalah pemberlakuan syariat yang dibuat oleh para orang alim itu yang berbeda dengan apa yang Allah syariatkan, sementara mereka, para pengikutnya, mengamini apa yang orang-orang alim itu lakukan.

Kemudian, di antara umat-umat terdahulu, ada yang menjadikan malaikat sebagai sesembahan. Mengenai hal ini, Allah berfirman,

Dan (ingatlah) hari (ketika) Allah mengumpulkan mereka semuanya, kemudian Allah berfirman pada malaikat, “Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?” Malaikat-malaikat itu menjawab, “Subhaanaka, Engkaulah pelindung kami, bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah jin. Kebanyakan mereka beriman pada jin itu.” Maka pada hari ini sebagian dari kamu tidak berkuasa (memberi) kemanfaatan dan tidak pula kemudharatan pada sebagian yang lain. Dan Kami katakan pada orang-orang yang zalim, “Rasakanlah olehmu adzab neraka yang dahulunya kamu dustakan itu.” (QS Sabaa’ 40-42)

Di antara kesesatan lain dari kaum Nashrani adalah penyembahan mereka pada nabi mereka. Seperti yang telah kita ketahui, sebagian besar dari mereka, orang-orang Nashrani itu, menjadikan Isa bin Maryam ‘alaihissalam sebagai sesembahan. Mengenai hal ini, Allah berkata,

Hai Isa bin Maryam, adakah kamu mengatakan pada manusia, “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang ilah selain Allah”? Isa menjawab, “Subhaanaka, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya, maka tentulah Engkau telah mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diriMu. Sesungguhnya Engkau maha mengetahui perkara yang ghaib. Aku tidak pernah mengatakan pada mereka kecuali apa yan gEngkau perintahkan padaku, yaitu, ‘Sembahlah Allah, Rabbku dan Rabbmu’. Dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkau maha menyaksikan atas segala sesuatu. Jika engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya adalah hamba-hambaMu. Dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah yang maha perkasa lagi al haakim (QS al Maidah 116-118)

Mengenai penyembahan terhadap pepohonan  maupun bebatuan, Abi Waqid al Laitsi berkata,

Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menuju Hunain. Kami adalah pemuda yang telah mengenal bentuk-bentuk kesyirikan. Orang-orang musyrikin memiliki tempat duduk untuk beristirahat dan menggantungkan senjata. Tempat itu dikenal dengan nama Dzatu Anwath. Lalu kami melalui pohon bidara, dan sebagian dari kami berkata, “Wahai Rasulallah, buatlah bagi kami Dzatu Anwath seperti yang mereka (musyrikin) miliki. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Allahu Akbar! Itu adalah as sunan (jalan), kalian telah mengatakan sebagaimana yang telah dikatakan oleh Bani Israil kepada Musa, ‘Yaa Musa, buatlah untuk kami sebuah ilah sebagaimana mereka memiliki beberapa ilah.’ Musa berkata, ‘Sesungguhnya kalian ini adalah kaum yang bodoh.’ (QS al A’raf 138)

-RSP-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: