Maaf

Malam Idul Fitri ini, ponsel murah saya dipenuhi hamburan SMS dari berbagai kenalan. Dari kampus, dari kawan bermain masa kecil, atau dari teman-teman di bangku sekolah dulu. Iseng saja, saya kemudian membuka akun facebook serta twitter saya. Semua sama. Mengucap syukur atas datangnya Idul Fitri, salah satu dari tiga hari raya Islam yang ditetapkan Rasulallah, diiringi kata-kata puitis ber-rima, dan tak ketinggalan pula ucapan maaf atas segala khilaf.

Well, saya selalu tertarik pada hal yang tak biasa. Dan saya pun tertarik pada tradisi minta maaf saat Idul Fitri ini. Karena memang ia sangat tak biasa. Atau luar biasa mungkin. Apa lagi kata yang lebih tepat untuk mengekspresikan ketertarikan atas perbuatan yang hanya ada di satu tempat dan di satu waktu? Unik? Ah, terserah lah kalian mau menyebutnya apa.

Mengucap kata maaf, bagi saya, seperti melambungkan ingatan saya belasan abad yang lalu, saat pembawa risalah untuk umat akhir zaman ini masih menarik nafasnya di dunia.

Kenangan pertama ditorehkan Bilal bin Rabbah serta Abu Dzar al Ghifari radhiyallahu ‘anhuma. Kedua muhajirin ini suatu ketika terlibat percekcokan yang sangat panas. Entah kenapa, Abu Dzar tiba-tiba melontarkan kata yang tak pantas. Tak layak diucapkan pada manusia mana pun, apalagi pada sahabat sekelas Bilal bin Rabbah. “Dasar anak orang hitam!” begitu katanya. Seketika itu pula, wajah Bilal berubah. Marah. Sedih.

Tak ingin berlarut, Bilal segera menemui sang nabi. Dikabarkannya tentang apa yang baru saja ia alami. Seperti biasa, Rasulullah segera memanggil pihak-pihak yang terlibat masalah ini. Abu Dzar pun menghadap Rasulallah. Dan perbincangan dengan Rasulillah itu membuatnya sadar. Masih ada warna jahiliyah dalam dirinya. Fragmen berikutnya menggambarkan alasan Allah dan Rasul-Nya menyebut generasi sahabat adalah generasi terbaik Islam. Lihat bagaimana reaksi Abu Dzar.

Singkat cerita, ditemuinya Bilal. Tepat di hadapan Bilal, seketika ia menyungkurkan sebelah pipinya ke tanah sembari berkata, “Wahai Bilal, injaklah pipiku bila kau mau.”

Di masa yang hampir sama, kita mengenang Ka’ab bin Malik, salah seorang desertir perang Tabuk. Di akhir perang tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya pada seluruh penduduk muslim Madinah yang absen dari perang tersebut, padahal seruan untuk memenuhi panggilan jihad Allah sudah berkumandang.

Seluruh munafiqin rupanya telah bersiap dengan alibi masing-masing. Menarilah lidah mereka di hadapan sang nabi. Mencari-cari alasan. Rasulullah, seperti manusia biasa lainnya yang hanya diperintah untuk menghakimi sesuatu berdasarkan apa yang tampak saja, menerima semua alasan dan mengamini seluruh doa serta permintaan maaf mereka, kaum munafiqin, itu.

Tapi nurani Ka’ab bin Malik berontak. Sebagian hatinya memang ingin mengucap dusta yang sama. Apalagi, ia memang dikenal pandai berdebat dan berdiplomasi. Berbohong bukan hal sulit baginya. Tapi inikah akhlaq seorang mu’min di hadapan nabi? Saat ini barangkali ia bisa mencari-cari alasan. Tapi di hari pembalasan besok? Bisakah ia berbuat demikian di hadapan pengadil yang paling adil?

Tidak. Ini salah, pikirnya. Lantas dengan jantan ia mengakui perbuatannya. Bahwa ia mangkir dari kewajiban berperang hanya karena pepohonan kurma yang mulai menampakkan buahnya. Dan mungkin, ditambah fakta bahwa ia nyaris tak pernah absen dari jihad bersama Rasulallah. Seperti yang dikatakan seseorang dari bani Salamah, yang langsung saja dibantah Mu’adz bin Jabal dengan prasangka baiknya.

Bersama dua orang shalih lainnya, Ka’ab menerima hukumannya: diasingkan dari kaum muslimin selama batas waktu yang belum ditentukan. Betapa sempit hukuman ini. Mungkin rasanya seperti tak ada tempat lain di dunia ini untuk hidup. Kawan, adakah sanksi seberat ini? Dikucilkan dari lingkungan keimanan kita, yang telah mewarnai hidup dengan cucuran hidayah dan genggam erat ukhuwah. Apalagi perintah pengucilan itu datang dari nabi. Dengan batas waktu yang belum diketahui.

Tahukah kalian apa reaksi mereka? Hilal bin Umayah, salah satu terpidana, hanya bisa menangisi dosanya selama empat puluh hari semenjak hukuman tersebut dijatuhkan! Ka’ab bin Malik? Ia memerintahkan isterinya untuk kembali ke rumah orang tuanya. Karena di hari ke-empat puluh itu, turun larangan dari nabi kepada isteri ketiga sahabat ini untuk mendekati ketiganya.

Ujian tak berhenti sampai di situ. Mengetahui potensi Ka’ab di bidang diplomasi dan kondisi sosialnya saat itu, raja Ghassan mengirim utusannya untuk mengirimkan surat tawaran tinggal di Ghassan pada Ka’ab. Disertai jabatan penuh kehormatan, tanpa ada satu pun yang mengabaikan. Membaca surat itu, Ka’ab berkata dingin, “Ini juga salah satu ujian,” dan memasukkan surat tersebut ke sebuah tungku yang masih menyala. Ia membakarnya.

Kisah ini berakhir bahagia, kawan. Di hari ke-lima puluh, datang sebuah wahyu dari Allah yang termaktub dalam surat kesembilan, ayat keseratus delapan belas. Pujian atas taubat Ia guyurkan pada ketiga sahabat mulia ini.

Mendengarnya, air mata Ka’ab menetes. Sebagai ungkapan syukur, tanpa berpikir panjang, dilepasnya bajunya, dan diberikan pada orang pertama yang ia temui. Ia lupa bahwa itu adalah baju terakhir yang ia miliki, hingga ia menghadap nabi dengan pakaian pinjaman dari tetangganya.

Teladan taubat dan meminta maaf juga datang dari sang utusan sendiri. Menjelang akhir masa kenabian, Rasulullah berdiri di hadapan umatnya dan berkata, lantang.

“Mungkin sebentar lagi Allah akan memanggilku. Aku tak ingin di padang Mahsyar nanti ada salah satu di antara kalian yang menuntut balas atas perbuatanku pada kalian. Bila ada di antara kalian yang keberatan atas perbuatanku itu, katakanlah!”

Hening tiba-tiba terpecah oleh ucap seorang sahabat yang tak dikenal. Ia menuntut balas atas tongkat yang Rasulullah gunakan untuk merapikan barisan saat sebuah perang sedang berlangsung. Mendengarnya, di hadapan segenap kaum muslimin di sana, Rasulullah menyingkap bajunya. Tampaklah perutnya. “Lakukanlah!” kata Rasul.

Sahabat ini tertegun sejenak. Detik berikutnya, ia menabrak Rasul, memeluk, dan menangis di bahunya. “Sungguh, wahai Rasulallah, maksudku hanyalah ingin memelukmu dan merasakan kulitku bersentuhan dengan kulitmu. Aku ikhlas atas segala perilakumu, wahai Rasul…”

Apa yang dapat kita pelajari dari tiga kronik sejarah ini? Satu kata: maaf. Bahwa ia memiliki arti yang begitu besar. Bahwa ia memiliki konsekuensi yang tak ringan. Tak sekedar rangkai SMS yang kita kirimkan. Bukan cuma seuntai tulisan kita di facebook atau twitter. Tak hanya ungkap “Maaf”, “Sorry”, atau “Afwan”. Lebih dari itu, permohonan maaf, atau taubat, selalu diikuti dengan amal shalih penuh keikhlasan di dalamnya. Dengan satu tujuan: menebus kesalahan. Agar tak ada lagi yang tersisa untuk ditagih kelak di padang Mahsyar.

Dua teladan kita itu, Rasulullah dan Abu Dzar, memperlihatkan keseriusannya dalam meminta maaf. Bahwa maaf yang mereka haturkan bukanlah maaf yang main-main. Dan memang seharusnya begitulah ungkapan maaf. Diungkapkan hingga mereka yang kita zhalimi merasa ridha atas apa yang kita lakukan.

Saya tak mengharapkan permintaan maaf kalian, para pembaca, dengan bentuk apa pun. Tidak. Karena saya sudah memaafkan kalian bahkan ketika saya meninggalkan kalian, ketika saya berwudhu, shalat, atau hendak beranjak tidur. Yang saya harapkan adalah ridha kalian. Bahwa kalian memaafkan apa yang telah saya lakukan. Saya akui, saya tak mampu seserius Ka’ab bin Malik, Hilal bin Umayah, Murarah bin Rabi’ah, Abu Dzar, atau Rasul sendiri. Tapi saya harap, dengan tulisan serius ini, kalian bisa memahami betapa ingin saya menerima permohonan maaf saya buat saya sendiri, kedua orang tua saya, sanak keluarga saya, dan seluruh kaum muslimin di dunia.

Siksa neraka terlalu pedih buat saya, kawan.

Di awal tulisan ini, saya menyebut sebuah keanehan meminta maaf yang bertepatan, dikhususkan, dengan momen Idul Fitri. Mungkin ada di antara kalian yang masih bertanya-tanya. Baik, saya jawab. Itu karena saya tak mampu menemukan ada teladan dari nabi, sahabat, sampai generasi penerusnya yang melakukannya. Yang mereka ucapkan hanyalah “Taqabbalallahu minna wa minka”. Itu pun dengan derajat keshahihan hadis yang masih diperdebatkan oleh sebagian ulama’. Dan barangkali, tradisi itu hanya ada di Indonesia, tidak di negeri muslim lain. Juga, karena minta maaf, seperti yang sudah saya lakukan di beberapa tulisan sebelumnya, harusnya memang dilakukan sesegera mungkin. Ya, sesegera mungkin, sebelum ajal menjemput kita, yang semakin dekat saja datangnya, seiring berkurangnya usia.

Sebagai penutup, saya sama sekali tak ingin mengecilkan arti permohonan maaf yang kalian kirimkan melalui media apa saja. Tidak. Hanya ingin memaknai lagi arti permohonan maaf itu. Jangan sampai, karena begitu royalnya kita mengucap maaf, kata ini kehilangan makna. Jangan sampai ia terhenti sampai formalitas belaka. Hingga tak berarti lagi bagi mereka yang mendengarnya. Lakukan itu sepenuh hati, penuh ikhlas, hingga benar-benar membekas dan menyelamatkan kita dari pertanggungjawaban di Mahsyar kelak.

-RSP-

2 comments
  1. faraziyya said:

    kamu tau ngga Za, kenapa 1 syawal jadi momentum yg disebut ‘kembali fitri’?
    tlg penjelasannya Za.

    • reza said:

      wah, kurang tau gimana pastinya mbak. dan juga sepertinya, anggapan itu cuma ada di indonesia. tapi menurutku (menurutku lho ya) itu krn ada hadis yg ini nih:

      “barangsiapa berpuasa ramadhan krn iman dan mengharap pahala, niscaya diampuni dosa2nya yg telah lalu”

      dlm hadis yg diriwayatkan oleh imam ahmad, ketambahan “dan yg kemudian”.

      kalo udah puasa ramadhan, orang menganggap sudah bersih dari dosa. ditambah maaf2an dg orang lain. jadinya ya “kembali fitri”.

      tapi sekali lagi, itu cuma pendapatku lho ya. krn belum ada literatur terpercaya yg kujumpai yg menjelaskan masalah ini dg mendalam.

      wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: