Membakar dan Merobek al Quran

Marah. Kesal. Panas. Jengkel. Mungkin itu yang memenuhi hati kita saat mendengar rencana pembakaran al Quran. Segera saja muncul grup-grup penolakan di facebook. Langsung saja muncul posting-posting terkait masalah ini. Dengan cepat muncul demonstrasi di berbagai tempat untuk menunjukkan sikap mengenai rencana kontroversial ini. Mungkin tak ada yang pro. Semua kontra. Tapi cara menyampaikannya jelas berbeda. Ada yang keras dengan kata-kata kasar, ada pula yang menggunakan cara lebih elegan.

Rencana pembakaran dan perobekan al Quran ini diikuti oleh rencana pembakaran yang serupa di pihak yang bertentangan. Juga gerakan protes dalam bentuk lainnya yang saya yakin bisa ditemui di beberapa tempat. Tiba-tiba, semua orang seolah berubah jadi pembela besar Islam yang berusaha menyelamatkan aqidah kaumnya. Tiba-tiba saja, semua orang seolah berubah jadi mujahid yang siap membela kehormatan agamanya dari serbuan salibis. Mirip dengan perang ratusan tahun untuk memperebutkan Palestina itu, katanya.

Saya tersenyum geli melihat mereka. Walaupun dalam hati juga tersimpan rasa jengkel pada Terry Jones. Di sisi lain, saya jelas menghargai semangat tinggi untuk membela agamanya yang sedang dihinakan. Itu bukan sikap yang salah–malah cenderung baik dan perlu diapresiasi–dari umat beragama; agama apa pun itu. Tapi ada satu keanehan. Apa itu? Mari kita cari tahu bersama. Sebelumnya, ingin saya kisahkan pada kalian mengenai riwayat hidup salah satu muhaddits sekaligus imam madzhab besar kaum muslimin: Ahmad bin Hanbal.

Beliau adalah ulama yang terkenal atas usahanya mempertahankan aqidah umat dengan menyatakan bahwa al Quran adalah kalam Allah. Bukan makhluk. Al Quran adalah perkataan Allah. Bukan ciptaanNya. Pendapatnya ini bukannya tanpa harga. Punggung yang berdarah-darah hingga tubuh yang kian kurus dan lemah jadi sesuatu yang harus diterima sang imam. Ditambah lagi usianya saat itu yang sudah beranjak senja.

Saya ingin menyatakan posisi saya dulu. Saya sepenuhnya sependapat dengan apa yang diungkapkan Imam Ahmad dan Imam Syafi’i. Alasannya? Mungkin ini bukan forum yang tepat untuk membahasnya. Bisa kita bahas di lain kesempatan mungkin. Nah, sekarang, mari kita berandai-andai. Andai saja, asumsikan saja, kita sependapat dengan kedua ulama besar itu, bahwa al Quran bukanlah makhluk. Ini mengakibatkan timbulnya sebuah pemahaman bahwa apa yang kita baca setiap hari, secara fisik, bukanlah al Quran. Ia hanyalah kumpulan suhuf yang dibukukan, yang kebetulan isinya adalah kalam Allah.

Kalau begitu adanya, simpel saja saya kira. Kalau al Quran bukan makhluk, bisakah ia kita lihat? Bisakah ia kita pegang? Bahkan, bisakah ia kita bakar? Bukankah yang kita lihat adalah wujud tulisan dari kalam Allah dan bukan kalam Allah itu sendiri? Maka, sekali lagi, ia hanyalah sekumpulan suhuf. Bukan al Quran itu sendiri. Sementara itu, Allah tetap menjamin penjagaanNya pada al Quran. Ia telah menjamin adanya otentisitas al Quran. Tak akan berubah seiring dengan perubahan zaman. Sampai hari kiamat.

Nah, menanggapi masalah ini, saya menulis di akun facebook saya dengan tulisan ini:

Kenapa saya kurang reaktif pada rencana pembakaran al Quran 11 september ini? Karena saya berulangkali melihat penghinaan atau pelecehan simbol dan substansi Islam, serta reduksi atas ajaran yang mulia ini. Masif sekali. Ironisnya, pelakunya adalah mereka yang mengaku muslim, bukan orang yang secara tegas mengaku di luar Islam. Buat saya, ini jauh lebih menyakitkan. Meninggalkan luka seratus kali lebih dalam.

Dan memang, saya saksikan, masih banyak muslim yang tak akrab dengan ajaran agamanya sendiri. Malah cenderung menghina. Ini sebenarnya yang paling penting. Menyadarkan kaum muslimin terhadap ajaran agamanya sendiri. Karena buat saya, lucu sekali jadinya kalau seseorang mati-matian mempertahankan sebuah ajaran atau ideologi sementara dia sendiri tidak tahu apa yang dia pertahankan, apa yang dia bela.

Kita masuk ke contoh realnya saja. Buat kalian yang berjilbab lebar, berapa kali kalian menerima decak tak suka, lirik penuh dengki, prasangka yang mengada-ada, hingga kata, “ah, sok suci” atau “percuma berjilbab kalau hati tak berjilbab” atau celetuk murahan seperti, “eh, bau sorga nih”? Buat kalian yang melaksanakan sunnah rasul lainnya, memelihara jenggot misalnya, berapa kali kalian menerima ucap dan tindak melecehkan dari orang sekitar? Lebih dari sekali pasti.

Itu baru dua ajaran Allah yang mudah dilaksanakan. Dan sesungguhnya ada begitu banyak ajaran Allah lainnya yang masih harus dilakukan sebagai wujud ketaatan kita pada Allah. Entah kenapa saya punya keyakinan, sesuai dengan watak kebenaran dan kebatilan yang senatiasa bertentangan, akan ada lebih banyak lagi tantangan dalam menjalankan semuanya.

Saya masih bisa memahami kalau pelakunya adalah kaum kafir, yang belum menerima hidayah Allah. Seperti yang dilakukan rasul terhadap kaum di Tha’if, mungkin saya juga cuma bisa mendoakan. Tidak mengutuk. Sembari mengajarkan sedikit bagian dari al Quran pada mereka, bila mereka mau mendengar.

Tapi ini pelakunya muslim. Saya tak punya kata-kata untuk menggambarkan perasaan saya saat menyaksikan penghinaan yang dilakukan kaum muslimin itu. Tapi mungkin apa yang saya tulis di akun facebook saya itu sudah cukup mewakili. Seratus kali lebih sakit bila pelakunya adalah saudara sendiri. Seperti dikhianati teman seperjalanan. Ah, sudahlah. Saya yakin kalian lebih paham bagaimana mengungkapkannya.

Dan sebenarnya memang inilah yang terpenting. Kita mulai dengan pertanyaan sederhana. Apa tujuan diturunkannya al Quran? Allah menjawab,

Kitab ini tak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa. (QS al Baqarah 2)

Pertanyaan kedua, apa tujuan diutusnya para rasul? Ada beberapa, di antaranya,

Dan sungguh telah kami utus pada setiap umat seorang rasul supaya mereka menyembah Allah dan menjauhi thaghut. (QS an Nahl 36)

Wahai rabb kami, utuslah untuk mereka seorang rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayatMu dan mengajarkan pada mereka al kitab dan al hikmah serta menyucikan mereka. (QS al Baqarah 129)

Dan kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan untuk ditaati dengan izin Allah. (QS an Nisaa’ 64)

Barangsiapa yang menaati rasul, sesungguhnya ia telah menaati Allah (QS an Nisaa’ 80)

Sesungguhnya jawaban orang-orang yang beriman bila mereka diseru pada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka adalah ucapan, “sami’naa wa atho’na”; dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS an Nuur 51)

Secara singkat, dapat kita tarik kesimpulan bahwa tujuan utama turunnya al Quran adalah sebagai petunjuk pada umat manusia. Sementara itu, tujuan utama turunnya para rasul adalah untuk menjelaskan isi dari kitab yang turun dari Allah. Hanya itu.

Pertanyaan berikutnya, apakah pembakaran maupun perobekan al Quran mampu merusak tujuan-tujuan utama itu? Tidak. Sama sekali tidak, sedikit pun. Tapi yang jadi masalah adalah ketika mereka yang mengaku muslim, mengaku beriman, itu malah mencampakkan ajaran al Quran. Melempar jauh sunnah-sunnah nabawiyah. Atau meludahi mereka yang konsisten berpegang teguh pada keduanya.

Dan setelah datang pada mereka seorang rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Sebagian dari orang-orang yang diberi kitab melemparkan kitab Allah ke belakangnya seolah mereka tidak mengetahui. (QS al Baqarah 101)

Dan apabila mereka diseru pada Allah dan rasulNya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang. (QS an Nuur 48)

Respon manusia pada al Quran yang seperti inilah yang akhirnya merusak substansi diturunkannya al Quran dan para rasul itu. Padahal, perintah pada manusia itu sebenarnya hanya satu.

Dan tidaklah mereka diperintah kecuali untuk menyembah Allah dengan memurnikan padaNya diin dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan membayar zakat; dan itulah agama yang lurus. (QS al Bayyinah 5)

Maka membangkangnya manusia dari perintah Allah ini malah mengakibatkan efek yang lebih besar. Mengakibatkan rahmat atau murka. Mengakibatkan surga atau neraka. Bukan berarti saya bilang bahwa pembakaran atau perobekan al Quran itu tak berdampak apa-apa. Tapi dampaknya kecil sekali. Kontraproduktif kalau kita tanggapi secara serius. Buat saya, yang lebih bermanfaat untuk ditanggapi adalah menjelaskan al Quran ini pada mereka yang belum mendengarnya. Dan itu jelas jauh lebih sesuai dengan tujuan diturunkannya al Quran dan para rasul itu.

Apakah membakar atau merobek al Quran sebagai simbol tidak menimbulkan dosa? Ya jelas lah. Tapi biar kita serahkan saja pada Allah bagaimana balasannya. Kalau mereka berkehendak membakar al Quran, biar Allah yang membakarnya kelak di neraka. Kalau mereka ingin merobek al Quran, biar Allah yang merobek kehormatan mereka di akhirat nanti. Mari kita membenahi masalah umat ini, bukannya terjebak pada simbol dan formalitas saja.

Sekarang, waktunya menghidupkan al Quran dalam hati kita. Bukan sekedar simbol belaka. Hingga hati kita tergetar saat ayat-ayat suci itu dilantunkan di depan kita. Hingga ia mampu mempertebal keimanan saat kita membacanya. Agar ketaatan bisa bertambah saat kita memahami maknanya. Karena al Quran bukan sekedar buku bacaan biasa. Ia petunjuk buat mereka yang bertaqwa.

Lagipula, bicara tentang pembakaran lembaran bertuliskan al Quran, Usman bin Affan radhiyallahu ‘anhu dulu juga pernah melakukannya, tepatnya di bagian terakhir dari proses pembukuan al Quran. Setelah beberapa eksemplar mushaf standar untuk seluruh kaum muslimin selesai disusun. Memang tak bisa disamakan dengan Terry Jones atau yang lainnya. Sekedar untuk menegaskan bahwa lembaran-lembaran itu tak bernilai apa pun, kecuali apa yang tertulis di dalamnya.

-RSP-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: