Guru Kehidupan

Begitu ustadz Rahmat Abdullah menyebut mereka, dalam Warisan Sang Murabbi: Pilar-pilar Asasi. Di dalamnya, sang ustadz sempat menuliskan pelajaran bermakna, yang berangkat dari fakta-fakta sejarah bani Israil. Bahwa begitu banyak kata “seharusnya” yang terlontar saat membacanya.

Seharusnya mereka berjuang penuh peluh, sekuat tenaga, dengan taruhan jiwa, raga, maupun harta. Bukannya berkata, “Wahai Musa, kami telah disakiti sebelum engkau datang dan engkau datang”. Karena janji Allah itu pasti datang! Lihat, dengar, simaklah kisah umat terdahulu. Adakah Allah melanggar perjanjianNya pada mereka? Yang ada, merekalah yang melanggar perjanjian mereka pada Allah. Serupa Tsamud yang menyembelih onta titipan Allah.

Lagi-lagi, seharusnya mereka tidak duduk, menyerah, diam, dan bertahan saja, seraya berkata, “Kami tak akan masuk ke sana (Palestina) selama mereka masih ada di sana. Maka pergilah engkau dan rabbmu, biar kami duduk-duduk di sini,” karena kemenangan Allah tentu akan datang bila mereka yakin bahwa Allah bersama mereka, serupa kata penghiburan rasul pada Abu Bakr ash Shiddiq, “laa tahzan, innallaaha ma’anaa”.

Dan yakinlah, bersama nabi Allah, mereka pasti dimenangkan! Mungkin dengan cara serupa Allah memenangkan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahwa Ia menanamkan rasa takut pada musuh-musuhNya bahkan sejak tiga bulan sebelum rasul bersama pasukannya tiba di medan jihad.

Ini bukan sekedar keyakinan tanpa sebab rasional. Keruntuhan tahta sang tiran seiring dengan tenggelamnya ia bersama pasukannya di Laut Merah jelas meruntuhkan semangat juang orang-orang Amalex di tanah suci itu. Tapi ya begitulah. Pasir pantai masih menempel di kaki mereka. Kecipak air laut masih terdengar, serta bau amis khas pesisir masih tercium di tubuh mereka. Dan yang mereka katakan hanyalah, “Wahai Musa, kami tidak akan beriman padamu sebelum kami melihat Allah dengan jahr (nyata).”

***

Di saat bersamaan, kita mampu menyaksikan ribuan guru kehidupan lainnya. Mungkin seperti Ayyub ‘alaihissalam yang ridha dan bersabar atas apa yang menimpanya. Atau serupa ucap tegar Hajar, isteri Ibrahim, “Kalau ini perintah Allah, maka sekali-sekali Ia tidak akan pernah menyia-nyiakan kami.” Atau teriak lantang Thalhah di medan Uhud, “Yaa Allah, ambil darahku hari ini sekehendakMu hingga Engkau ridha padaku!”. Ya, semua mewarna. Dan gabungan warna-warna itu nampaknya berubah jadi pelangi. Seperti kombinasi antara ilmu, amal, dan da’wah yang melahirkan generasi terbaik serupa para sahabat.

Tapi yang jelas, apa pun perannya, mereka, guru kehidupan kita itu, seringkali tak meninggalkan satu aspek akhlaq dalam dirinya: sabar. Adakah sifat lain yang melahirkan azam sekuat Sayyid Quthb, bahkan ketika ia hendak digantung di hadapan Gamal Abdul Nasser, selain sabar dan keyakinannya terhadap janji Allah di akhirat kelak? Adakah faktor lain yang mewarnai kata-kata penuh semangat Syaikh Ahmad Ismail Yassin untuk tetap berjuang, meski lumpuh menemani hidupnya sejak ia berusia enam belas tahun atau meski berbagai siksa dari kaum teroris memenuhi hari tuanya, selain sabar dan keyakinannya terhadap janji Allah itu? Adakah penguat Ibnu Taimiyah dalam menjalani hukuman penjaranya selain sabar dan ghirahnya pada agama ini? Adakah suntikan motivasi Ahmad bin Hanbal di sela ayun cambuk di punggungnya hanya karena menyatakan kebenaran selain sabar dan kepeduliannya pada dunia Islam?

Luar biasanya, saat dibacakan pendapat Thawus, tabiin terkenal di zamannya, mengenai tafsir ayat,

Hanya pada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku (QS Yusuf 86)

seketika itu pula Imam Ahmad menghentikan rintihan dan keluhannya hingga wafatnya. Ya, hingga beliau menghembuskan nafas terakhir karena penyakitnya itu.

***

Membaca sejarah peperangan rasul, akan kita temukan nama Abdullah bin Ummi Maktum radhiyallahu ‘anhu dengan mudah. Sangat mudah. Sahabat yang satu ini, selain telah Allah muliakan dengan keislaman dan janji surgaNya, mendapat kehormatan dari utusan akhir zaman. Ialah yang hampir selalu menjabat imam sekaligus khatib Masjid Nabawi serta masalah kepemimpinan Madinah saat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berangkat menuju medan jihad. Ia pula, bersama Bilal bin Rabbah, yang setia mengumandangkan adzan di masjid tersebut. Dan kita tentu bertanya, apa penyebab datangnya kehormatan sebesar ini?

Buat saya, sekali lagi, karena satu kata: sabar. Tak serupa dengan Abdullah bin Ubay bin Salul yang murka karena tahta Madinah Allah serahkan pada rasulNya, setelah sebelumnya ia bersiap menerima mahkota raja untuk menguasai Yatsrib, beliau radhiyallahu ‘anhu bersabar atas kebutaannya. Atas ujian yang Allah berikan padanya. Dan memang, seperti yang telah jamak dikisahkan oleh murabbi kita, ia buta sejak kecilnya.

Ya Allah, Engkau mengujiku dengan kebutaan. Apa yang dapat aku lakukan selain mengharap rahmatMu yang meliputi segala-galanya? –Abdullah bin Ummi Maktum-

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, suatu hari, duduklah ia bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Abdullah bin Ummi Maktum radhiyallahu ‘anhu. Dan di saat itu, turunlah Jibril. Lantas rasul bertanya pada Ibnu Ummi Maktum, “Sejak kapan engkau tidak dapat melihat?”

“Sejak kanak-kanak, wahai rasul,” jawabnya.

“Allah ta’ala berfirman,” kata rasul, “‘Apabila aku mengambil penglihatan hambaKu, tiada imbalan baginya selain surga’,” lanjutnya.

***

Para pengkaji sejarah tabiin tentu telah mendengar nama Urwah bin Zubair bin al Awwam. Tugas kekhalifahan mengharuskannya menemui khalifah al Walid di Damaskus, Syam. Perjalanan dari Madinah bukan perjalanan mudah. Beratnya medan mengakibatkan tumit Urwah terluka. Tapi, mengingat amanah yang diembannya, ia tetap berjalan. Hingga ia sampai di hadapan al Walid.

Namun malang, luka yang dideritanya itu sudah bernanah. Tak ingin mendapati salah satu tabiin yang mulia menderita, sang khalifah segera memanggil dokter untuk mengobati Urwah. Namun, setelah pemeriksaan, keputusan pahit harus diambil. Amputasi.

Menolak menggunakan obat bius, Urwah memilih melakukan proses amputasi ketika ia berada dalam kondisi shalat. Menakjubkan. Saat proses berlangsung, tak sedikit pun kata keluh terucap. Dan yang lebih mengagumkan, saat ditunjukkan bagian kakinya yang tadi diamputasi, beliau berkata,

Yaa Allah, segala puji hanya untukMu. Sebelum ini, aku memiliki dua kaki dan dua tangan. Kemudian Engkau mengambil satu. Alhamdulillah, Engkau masih menyisakan yang lain. Dan walaupun Engkau telah memberikan musibah padaku, namun masa sehatku masih lebih panjang daripada hari sakit ini. Segala puji hanya untukMu atas apa yang telah Engkau ambil, dan atas apa yang telah Engkau berikan padaku dari masa sehat.

Mendengarnya, khalifah al Walid hanya bisa berkata, “Belum pernah kujumpai seseorang yang memiliki kesabaran sepertinya.”

***

Ah, ya. Sekedar intermezzo, mungkin ada di antara kalian yang bertanya, mengapa artikel ini didahului dengan kisah umat Yahudi? Sederhana. Jelas bukan karena mereka serupa dengan para nabi dan teladan kita yang mulia itu. Tapi karena mereka juga guru kehidupan kita. Hanya, memang, minus sifat-sifat teladan yang dipertontonkan generasi pendahulu kita. Baik itu nabi, shiddiqin, syuhada’, maupun shalihin.

Dan nyatanya, dari mereka, kita bisa belajar tentang urgensi kerendahan hati, syukur, rasa hormat pada nabi, dan, tentu, sabar. Hingga, jangan sampai puluhan atau bahkan ratusan kata seharusnya menghiasi akhir hidup kita yang harusnya digunakan dengan penuh makna.

***

“Yang tak dapat mengambil ibrah dari orang lain,” lanjut ustadz Rahmat, masih dalam buku yang sama, “harus mengambilnya dari pengalaman sendiri,” sambungnya. “Dan untuk itu, ia harus membayar sangat mahal.”

Setelah seorang ustadz di Jember mengajarkan saya tentang keikhlasan, hari ini saya kembali dihujani pelajaran. Kali ini oleh seorang wanita yang berusia jauh lebih muda dari ustadz tersebut. Tapi punya kedewasaan dan kesabaran dosis tinggi. Paling tidak, itulah yang saya tangkap dari setahun yang berlalu ini.

Karena sebuah hal, sejak tahun ajaran ini, kakak saya itu harus meninggalkan kampus kami. Dan untuk itu, satu hal yang membuat saya terus terjaga malam ini: bahwa harus ada ucap-ucap syukur atas pertemuan selama setahun ini. Selain, tentu, kesempatan yang Allah berikan untuk mengecap pendidikan paling tidak untuk enam bulan ke depan. Intinya, saya bersyukur sempat mengenal beliau. Bahwa ada manfaat yang diraih dengan mengenalnya. Bahwa ada sesuatu yang dipetik bersama dengan buah-buah dalam ukhuwah. Serta, ini yang paling penting, bersyukur bisa menjadikannya guru. Menjadikannya teladan.

Saya jadi teringat setahun lalu, saat saya dinyatakan gagal dalam SNMPTN. Jurusan yang saya raih bukan jurusan utama yang jadi keinginan saya. Saya benar-benar ingat, waktu itu, setelah melihat pengumumannya, seketika saja pintu kamar yang terbuat kayu jati itu saya banting hingga menutup. Tepat di hadapan ibu saya. Ibu paham. Dan beliau meninggalkan saya sendiri malam itu.

Reaksi berbeda ditunjukkan oleh kakak kelas saya ini. Meski dulu ia pernah berkata untuk tidak menilai dirinya dari akun facebook-nya, saya melihat komentar yang ia tuliskan di sana sangat terkendali. Seperti tak ada sesuatu yang menimpa dirinya. Serupa Imam Ahmad atau Urwah bin Zubair bin al Awwam, tak satu pun keluhan tertulis di situ. Memang, saya tak mampu memastikannya. Namun, saya lebih memilih menilai apa yang tampak secara zhahir. Karena memang atas dasar sesuatu yang tampak itulah kita, manusia, menilai manusia lainnya.

Saya tak ingin mengajarkan kesabaran padanya. Sebab saya yakin dia punya cara sendiri untuk menyabarkan hatinya. Saya juga belum ingin mengatakan pada kalian, para pembaca, bahwa kalian harus jadi serupa para nabi dan sahabat yang tersebut di atas. Semata karena saya sendiri belum sesabar itu dalam menghadapi ujian Allah. Semata karena yang saya dapati dalam diri saya sendiri belum semulia mereka. Tapi itu harus ditulis. Harus dikabarkan. Sembari menggenggam erat jemari kita guna menjadikannya pengingat. Bahwa kewajiban saudara buat saudara lainnya adalah menjaganya dari kezhaliman. Baik zhalim bagi dirinya sendiri, atau juga zhalim pada insan yang lain.

Tak mudah menjadi sabar, kawan. Maka pantaslah bila Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu kesulitan memilih dua kendaraan untuk menuju surga. Antara sabar atau syukur.

Dan untuk itulah, sebagai khatimah, saya ingin mengucapkan terima kasih pada para guru kehidupan saya. Semoga petunjuk dan berkah Allah tercurah bagi mereka.

-RSP-

3 comments
  1. faraziyya said:

    kakakmu itu bilang:
    di penggal kisah hidupnya itu, yang kau maksud guru kehidupan bukanlah sesosok subjek. tetapi sikapnya. itupun sikap yang sebenarnya bisa diperangai oleh manusia lain. kebetulan, tangisnya sudah kering, jadi doanya tidak bisa lain melainkan berserah.
    dia tidak menuding salah hasil penilaianmu itu.
    apa yang nampak zahir (seperti yang kamu maksud), adalah relatif baginya.

    semua kita adalah cermin
    saling memantulkan,menyerap,dan mengkonstruksi bayangan

    baginya justru, cuma satu afiliasi formal dimana ia terlempar dari orbit.
    selebihnya?
    di afiliasi-afiliasinya yang lain, yang dia harap adalah masihnya keberadaan dia menjadi anggota tubuh. dia berharap tidak lepas sumber energi selama ini dari afiliasi-afiliasinya itu.
    seperti saat dia meminta untuk menjadi anggota luar biasa?🙂 atau saat dia belum ingin mencari lingkaran cahaya yang lain?

    dia meyakini diri bahwa ia sedang bertumbuh

    • muslimpeduli said:

      titip salam pada kakakku itu, mbak. dan semangati dia untuk menyemai manfaat dari afiliasi-afiliasinya itu. karena aku yakin akan ada banyak yg bisa dia lakukan dengan (kalau boleh kubilang) bakatnya itu.

      juga, entah kenapa, aku kok mikir, beberapa hari ini, bahwa ada semacam berkah di balik peristiwa ini. bukan, bukan dg alasan2 klise yg sering orang ucapkan. tapi berkaitan dg dua doaku yg nyaris selalu kuminta dlm tiap sujud (yg dua2nya belum diijabah oleh Allah), sekitar setahun yg lalu. berkaitan dg kemurnian tauhid, seperti yg dulu pertama kali ditanyakan oleh ust rahmat abdullah pada ust fathuddin ja’far dan beberapa temannya.

      kalau kakakku itu meminta penjelasan ttg berkah ini, mbak, bilang padanya, kalau gitu, aku berhutang penjelasan padanya. krn beberapa hal yg sulit dijelaskan secara singkat, aku menolak utk menjelaskannya sekarang. insya Allah, setelah lulus kuliah ini akan kujelaskan.

      • faraziyya said:

        ” ‘alaykassalam,’alaykarrohmah . .” katanya.
        aku lihat dia sedikit merasa dipenggal akibat penguatan bertubi-tubi dari banyak manusia. dia sedikit takut. .

        disana aku melihatnya menimbun semua yang dibutuhkannya untuk menyembuhkan diri. .

        oia,dia bilang dia senang melihat caramu menyikapi yang terjadi padanya dan ia memang meminta penjelasan. jelas, dia akan menagihnya padamu kelak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: