Mempertanyakan Da’wah

Prihatin mewarnai hati saya malam ini. Juga khawatir. Bukan, bukan karena kekhawatiran saya pada mentee-mentee saya akan orientasi kampus hari pertama yang dimulai esok hari. Tapi lebih pada kaum muslimin, beserta jama’ah-jama’ah yang ada di dalamnya. Tak ingin menggeneralisasi, saya masih meyakini tak semua di antara mereka berperilaku negatif layaknya yang sebentar lagi saya bicarakan. Tapi, percayalah, saya sudah kerap menjumpanya. Bukan cuma satu atau dua kali.

Diawali dari teman se-liqo’ saya yang bercerita tentang sebuah website “tandingan” dari media online kaum muslimin yang selama ini saya kira dapat diterima oleh banyak orang, oleh banyak golongan, dan mendasarkan argumen pada al Quran dan as Sunnah. Yang posting-postingnya tentang tauhid begitu saya nikmati untuk dibaca. Tapi karena friksi yang berangkat dari ketidaksediaan untuk menerima kritik, dua pihak ini berseberangan. Buat saya selama ini, berbeda gerbong tak masalah. Asal masih berada di rel yang sama, rel tauhid. Masih menggunakan lokomotif yang sama, da’wah ilallaah. Bukan kepada hizb, ashobiyah, atau lainnya. Dan yang tak kalah penting, mengejar kemanfaatan yang mensyaratkan energi, kesabaran, tawakkal, dan ‘azam luar biasa besar.

Tapi berita ini, selain juga berita lain yang saya dapat dari “orang dalam”, yang kemudian meruntuhkan keyakinan saya itu. Sebelumnya, untuk memperjelas, saya berikan inti dari berita itu. Supaya fokus.

Pertama, ada beberapa orang yang membagi-bagikan kupon atau voucher sembako gratis di empat pasar berbeda. Masalahnya, ketua panitia mengaku tak pernah membagikan voucher tersebut. Kalau ini dimaknai sebagai kritik atau ajakan pada Komunitas Eramuslim untuk memperhatikan kaum mustadh’afin, jelas tak masuk akal. Mengingat, nama baik lah yang dipertaruhkan di sini. Dan saya kira, mengingatkan dengan cara seperti itu jelas akan merusak tujuan dari kritik itu sendiri.

Sedikit melebar, kita bicara mengenai kritik. Dalam buku Tazkiyatun Nafs bab Ghibah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan kepada siapa saja ghibah boleh dilakukan. Pertama, kepada orang yang zhalim. Seperti ucap Hindun tentang Abi Sufyan.

“Yaa Rasulallah, sesungguhnya Aba Sufyan adalah orang yang bakhil, sungguh ia tidak memberiku nafkah yang mencukupiku dan anak-anakku.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ambillah yang dapat mencukupimu dan anak-anakmu dengan baik.” (HR Bukhari Muslim)

Kedua, untuk menasihati sesama muslim, baik dalam masalah diin maupun dunia mereka, seperti ketika Muawiyah dan Abu Jahm melamar Fathimah binti Qais. Menyikapinya, Fathimah bertanya pada Rasulillah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau menjawab,

Adapun Muawiyah adalah orang yang susah kehidupannya, tidak ada hartanya. Sedangkan Abu Jaham adalah orang yang suka memukul perempuan. (HR Muslim, Abu Dawud)

Imam Nawawi, dalam Riyadhus Shalihin, memberikan beberapa penjelasan tambahan, namun bersumber dari hadis yang sama. Bila menginginkan penjelasan selengkapnya, silakan me-refer ke buku tersebut.

Saya teringat hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, nomor 956, kalau saya tak salah, yang menceritakan tentang khutbah Idul Fitri yang dilakukan oleh Muawiyah. Di sana, karena melakukan beberapa kesalahan yang tampak secara umum, peringatan pun diberikan di muka umum. Ditariklah lengan jubah Muawiyah oleh salah seorang jama’ah yang menjadi makmum dalam shalat Id tersebut.

Yang perlu dicatat dari penjelasan ini adalah kritik tersebut hanya ditujukan pada orang-orang tertentu dan dengan kondisi tertentu. Sekarang saya tanya, adakah bukti otentik bahwa ustadz Mashadi atau ustadz Sigit Pranowo adalah orang-orang tercela atau zhalim sehingga layak menerima kritik dalam bentuk seperti itu? Saya tak mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang bebas dari kesalahan, bebas dari kritik. Yang perlu diluruskan adalah cara untuk melakukan kritik tersebut. Apa sudah memenuhi persyaratan syar’i?

Sementara, kalau itu merupakan kritik, saya tak melihat sisi membangunnya sama sekali. Di mana kata-kata kritiknya? Bukannya itu lebih berupa jebakan daripada argumentasi yang bersifat membangun? Silakan bayangkan, andai kalian berada di posisi kedua ustadz tersebut, dan saya menebar berita bohong terkait acara yang kalian selenggarakan.

Tanyakan pada diri kalian sendiri. Apa itu masih berupa kritik?

Selanjutnya, page Komunitas Eramuslim di facebook mengaitkan kejadian ini dengan situs gadungan yang juga mengatasnamakan eramuslim*. Kebetulan? Mengingat friksi yang terjadi antara keduanya, juga kesengajaan menampilkan nama serupa tapi tak sama itu, saya kira bukan.

Nah, kawan, inilah sesungguhnya yang jadi sumber kekhawatiran kita. Bahwa da’wah ini, terutama yang dilakukan oleh sekelompok muslim, nampaknya sudah bukan pada Allah lagi. Tapi sudah berubah jadi seruan pada partai, golongan, organisasi, atau ikatan-ikatan lainnya. Bila tak sejalan dengan kelompok kami, kalian selalu salah! Dan harus kami cegah kalian ketika kalian berusaha untuk menda’wahkan apa yang kalian yakini! Celakanya, inilah yang disebut rasul sebagai gejala ta’ashub. Bahwa kita membela golongan, partai, atau organisasi tanpa melakukan penilaian mengenai benar-salah atau jauh-dekatnya mereka dari al Quran dan as Sunnah.

Yang lebih parah, dari penelusuran saya, kader dari organisasi tersebut masih kesulitan membedakan antara Islam dengan partai atau golongannya itu. Sehingga, mereka menganggap bergabungnya massa pada partai atau golongannya itu berarti bergabungnya massa itu pada Islam. Ini jelas pemahaman yang ngawur. Silakan berikan argumen berupa dalil untuk membantah opini saya ini.

Buat saya, sekali lagi, da’wah kepada Allah merupakan da’wah yang bersumber dari al Quran, as Sunnah, serta didasari dengan ijma’ sahabat plus pemahaman para generasi pendahulu ummat ini. Seruannya jelas: pada tauhid. Bukan yang lain.

Yang membuat hati saya teriris-iris adalah cara yang digunakan untuk menghentikan acara tersebut. Menggunakan senjata fuqara’ dan masakin. Saya tak tega membayangkan tubuh-tubuh dekil dan legam itu mengacung-acungkan voucher sembako gratis, setelah sekian lama mereka menempuh perjalanan hanya untuk mendapat beberapa kilogram makanan pokok. Saya tak tega mendengar teriakan-teriakan marah sekaligus putus asa mereka di depan masjid, di depan rumah Allah, hanya untuk mendapat sarana penyambung hidup untuk beberapa hari ke depan.

Dan sayangnya, kemiskinan mereka dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang tak suka pada da’wah. Tidak dilakukan dengan melawan argumentasi yang dikembangkan dengan memberikan dalil-dalil yang shahih, tapi dengan cara memfitnah. Kalau sudah begini, kebenaran model apa yang mau dicari? Bukankah kebenaran itu bersumber dari al Quran dan as Sunnah? Sekarang lihat, apa al Quran dan as Sunnah membenarkan da’wah model tipu-tipu seperti ini?

Kalau ada yang memiliki hujjah yang bersumber dari dalil-dalil yang shahih, silakan tuliskan di kolom comment. Saya jamin tak akan melakukan moderasi selama dalil-dalil yang ditampilkan kuat dan bersumber dari kedua sumber hukum tersebut. Silakan lakukan screenshot bila kalian meragukan kredibilitas saya.

Apa mereka tak lagi punya nurani, sementara yang mereka hadapi adalah kaum yang tertindas, yang teraniaya? Apa hanya demi jumlah jama’ah yang hadir di pengajian, kita tega melakukan tindak-tindak tak terpuji ini? Apa ridho manusia yang dicari? Supaya banyak orang mengikuti kita? Tak sadarkah kita bahwa begitu banyak nabi dan rasul yang didustakan oleh kaumnya sendiri? Yang menyiratkan bahwa kebenaran tak selalu diukur dari berapa jumlah orang yang mengikuti seruan kita?

Kalau kita benar, kenapa harus risih? Kalau kita benar, kenapa takut menyuarakan kebenaran, meski itu pahit? Kalau berada di atas jalan yang haq, kenapa ragu menyatakan yang haq adalah haq dan yang batil adalah batil?

Saya sudah capek menghadapi perseteruan ini. Ada ummat di luar sana yang menunggu garapan da’wah kita. Mereka tak peduli dengan gesekan-gesekan ini. Tak akan pernah peduli. Dan satu lagi yang saya khawatirkan, seperti yang sudah-sudah, mereka yang merasa dipermainkan dan terlibat dalam friksi ini akhirnya meninggalkan da’wah. Mereka menolak seruan Islam. Juga, mereka menolak terlibat dalam misi mulia ini.

Nah, kalau sudah begini, siapa yang untung?

-RSP-

*saya masih memiliki bukti berupa screenshot yang saya ambil tak lama setelah admin page tersebut mem-post tulisan tersebut. bukan bermaksud apa-apa, tapi pengalaman yang terjadi di lembaga pers mahasiswa tempat saya aktif di kampus mengajarkan saya untuk selalu mendapatkan bukti-bukti yang kuat saat melakukan reportase. saya belum pantas disebut sebagai wartawan. tapi insya Allah, cara ini cukup kuat untuk membentuk sebuah bukti, di mana terkadang, pernyataan narasumber seringkali diubah atau dipelintir oleh, ironisnya, narasumber itu sendiri.

2 comments
  1. Rifki Arifin said:

    Afwan, klo boleh tanya, oknum yg menyebarkan kupon palsu itu, sudah ketahuan siapa orang2 nya? Atau diorganisir oleh siapa gitu?..

    • muslimpeduli said:

      belum diketahui secara pasti, krn belum ada bukti otentik utk itu. mengingat, ketua panitia sendiri terkaget2 thd datangnya mustadh’afin tsb di masjid.

      saya memuat kecurigaan admin page Komunitas Eramuslim di facebook, seperti tertulis di paragraf ini:

      Selanjutnya, page Komunitas Eramuslim di facebook mengaitkan kejadian ini dengan situs gadungan yang juga mengatasnamakan eramuslim*. Kebetulan? Mengingat friksi yang terjadi antara keduanya, juga kesengajaan menampilkan nama serupa tapi tak sama itu, saya kira bukan.

      mengingat sejarah KEM, organisasi kecil ini ternyata tak memiliki afiliasi apa pun dg organisasi mana pun di indonesia. artinya, boleh dibilang masih kecil. masih muda. akibatnya, friksi hanya bisa terjadi dg organisasi lain yg memiliki ikatan sejarah dengannya. dan dari penelusuran saya kepada beberapa “orang dalam” yg meminta disimpan namanya, saya menangkap sesuatu yg cukup potensial menjadi benturan antara kedua pihak tsb. maka, buat saya, sudah cukup masuk akal bila admin page tsb mengaitkannya dg masalah situs eramuslim gadungan itu.

      kalo mau tau, silakan buka eramuslimonline.wordpress.com atau eramuslim.nr.

      bila punya argumen lebih baik, silakan.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: