Tuduhan

Ada warna-warna tendensius saat tuduhan kita lontarkan. Dan ada corak kejengkelan serta kecenderungan menutup logika dengan kacamata kuda saat tudingan terhambur. Mahathir Muhammad, mantan perdana menteri Malaysia, dan pers setempat memaksa kita belajar mengumbar sekaligus menghadapi tuduhan. Menyampaikan dan menghadapi kritik, membangun atau tidak.

Menghadapi krisis, Mahathir adalah satu-satunya pemimpin Asia Tenggara yang menolak “uluran tangan penuh kasih” dari IMF. Pers lokal mencerca. Tapi Mahathir tetap pada pendiriannya. Hasilnya? Dibandingkan dengan Filipina dan Indonesia yang masih tergantung dan baru saja terlepas dari IMF, Malaysia dikenal sebagai salah satu negara dengan ekonomi lebih sehat dari keduanya.

Saya kutipkan kata terkenalnya yang sering muncul di media beberapa tahun lalu, “I did it on my way. And it works.”

Mari kita sejenak melirik ke belakang, ke abad ketujuh, saat sang utusan akhir zaman masih menarik nafas di muka bumi. Tuduh-menuduh juga terjadi di sini. Kali ini aktornya adalah para munafiqin, dan yang jadi korban adalah Aisyah binti Abi Bakr radhiyallahu ‘anha. Tertinggal dari rombongan, Aisyah akhirnya pulang dengan diantar oleh salah seorang sahabat yang berjaga di barisan belakang satuan itu. Diiringi kalimat istirja’ berulang-ulang dari lisannya, Shafwan, nama sahabat itu, segera menuntun onta yang dinaiki puteri Abi Bakr ini.

Penduduk Madinah jelas terkaget melihat isteri Rasul pulang dengan dituntun oleh seorang lelaki. Abdullah bin Ubay kegirangan. Segera saja ia menebar kasak-kusuk di kalangan kaum muslimin. Gosip perzinahan isteri nabi dengan Shafwan bin Mu’athal merebak. Sebulan penuh keraguan menggelayut di hati Rasulallah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Abu Bakr beserta isterinya.

Tapi kawan, seperti yang sering kita dengar dari lisan kawan kita yang bijak, kebenaran memiliki caranya sendiri untuk memenangkan pertandingan. Kali ini Allah sendiri yang turun tangan. Sebulan penuh rasa was-was itu, yang kerap disebut masa haditsul ifk, Allah hentikan dengan turunnya pembelaan melalui beberapa ayat dari surat cahaya yang berkisah mengenai Aisyah radhiyallahu ‘anha, dimulai dari ayat kesebelas.

Reaksi Abdullah bin Ubay? Saya tak tahu. Tapi kalau dia masih punya malu, harusnya–sekali lagi, harusnya–ia segera berhenti menebar kebencian pada nabi, kaum muslimin, dan da’wahnya.

Catatan saya tentang tuduh-menuduh terlewat selama beberapa abad. Baru beberapa tahun, atau beberapa puluh tahun, yang lalu, “budaya” tuduh-menuduh ini muncul lagi. Menandakan bahwa ia belum usai. Kali ini sekelompok kaum muslimin yang menisbahkan dirinya pada generasi terdahulu mengarahkan telunjuknya pada Abul A’la al Maududi, pendiri partai Jama’at Islami, sekaligus salah satu aktor intelektual berdirinya negara Pakistan.

Sekian dasawarsa yang lalu, Abul A’la al Maududi menulis buku terkenal yang, sayangnya, saat ini sudah sulit sekali dicari di pasar. Judulnya al Khilafah wal Mulk. Khilafah dan Kerajaan. Buku itu, salah satunya, mengkritik sikap beberapa sahabat yang mendukung manuver politik Mu’awiyah bin Abi Sufyan, termasuk Mu’awiyah sendiri, sejak masa peristiwa tahkim hingga anak-cucunya memegang tampuk kepemimpinan atas kebijakan pribadinya. Sebuah kebijakan yang menurut Abdurrahman bin Abi Bakr, seperti tertulis dalam Tarikh Khulafa’, sebagai “sunnah kaisar Romawi dan Persi!”

Tak tanggung-tanggung, al Maududi dituding sebagai “Syi’ah yang malu-malu”. Tuduhan yang cukup berat, mengingat Syi’ah, dalam pandangan aqidah Ahlus Sunnah, memiliki banyak cacat. Dan tentu tak perlu lagi saya jelaskan bahwa masalah aqidah, bagi siapa pun, merupakan masalah serius tanpa ruang bagi khilafiyah.

Tapi, seperti yang telah diungkapkan oleh putera Abu Bakr di atas, kebijakan Muawiyah itu sendiri bukan kebijakan yang baik. Tidak mencerminkan sunnah rasul, Abu Bakr, ataupun Umar. Tak cukup suara untuk disebut sebagai ijma’. Dan saya kira, argumen ini sudah cukup buat mereka yang mengaku menyandarkan pemahaman pada generasi awal untuk mempertanyakan keputusan Mu’awiyah itu. Kalau masih kurang, mungkin kita perlu bertanya banyak pada Abdullah bin Umar, Abdullah bin ‘Abbas, Imam asy Sya’bi, dan tak ketinggalan, Imam Suyuthi sendiri.

Tak lama berselang, di permulaan milenium ini, tuduh-menuduh berakibat masif dilontarkan oleh pemimpin polisi dunia: George Walker Bush. Tuduhan-tuduhan tanpa bukti membawa ratusan ribu serdadu AS menuju Afghanistan dan Iraq. Tak menemukan Usamah di sela goa di pegunungan dingin Tora Bora, dengan tabiat bak polisi sungguhan, tentara-tentara pongah itu, beserta mercenaries dari Blackwater, mengalihkan sasaran ke tempat-tempat persembunyian “senjata pemusnah massal”, setelah sebelumnya menaklukkan Kabul dan mengangkat Hamid Karzai sebagai presiden setempat.

Berbagai asumsi serampangan ini sebenarnya membuat saya kasihan pada warga Amerika sendiri. Mereka harus mengalami Islamophobia eksesif. Membakar al Quran, atau, yang paling parah, meremehkan ajarannya jadi hal yang tak aneh. Ya, memang segelintir orang tak melakukannya, dan saya tak hendak menggeneralisasinya. Tapi saya yakin ada lebih banyak yang berbuat seperti itu. Lagi, petugas sekuritinya harus bekerja ekstrakeras menginterogasi pria-pria berjenggot lebat dan bercelana cingkrang. Atau berusaha menyibak cadar seorang wanita hanya untuk memastikan bahwa mereka benar-benar kaum hawa atau malah jadi-jadian.

Yah, kasihan mereka. Kasihan petugas pabean Amerika yang harus selalu waspada. Tanyakan pada diri sendiri, haruskah mereka menyita sebilah peniti yang terselip dalam bagasi seorang penumpang pesawat yang nama depannya adalah Muhammad? Kasihan isteri Muhammad, yang telah bersusah payah menata bagasi suaminya. Diaduk-aduk koper itu demi menemukan gunting kuku yang tertangkap kamera X-ray. Ya, gunting kuku. Inilah barang berbahaya yang harus disita dari dunia Islam.

Menular ke Indonesia, kasihan benar petugas imigrasi Indonesia yang harus menahan paman saya lebih lama di airport hanya karena jenggot lebat dan tatap mata tajamnya yang memang sedikit tak ramah bagi orang asing. Kasihan benar mereka ketika bibi saya cuma menanggapinya sambil bercanda dan—buat saya—bernada meremehkan, “Untungnya aku nggak pake cadar.”

Dan hingga detik ini, hingga saya menuliskan coretan singkat ini, hingga tampuk kepemimpinan dua periode itu berganti, saya masih belum mendengar sebuah bukti bahwa di kedua negara tersebut Usamah memang benar-benar eksis dan terbukti bersalah atau sungguh benar ada senjata pemusnah massal tersembunyi di bunker-bunker itu. Meski saya adalah pemuda yang kuper terhadap televisi, tapi saya yakin tak perlu jadi penggila “kotak setan” itu untuk tahu kabar ini. Pemerintah Paman Sam tentu berkoar penuh bangga bila berhasil menamatkan putaran seru dari permainan yang mungkin tak pernah berakhir ini. Dan jelas, berita itu akan disiarkan di mana-mana.

“Either you’re with us,” kata Tuan Semak-semak, “or you are with the terrorrists.” Kata yang sama juga pernah diucapkan oleh Hillary Clinton dan Benito Mussollini, dalam kesempatan berbeda.

Ternyata resep ini dicontoh oleh mutarabbinya di Indonesia. Tahun 2002, kalau saya tidak salah, sosok tua berjenggot putih itu diseret dari RS PKU Muhammadiyah Solo. Tuduhannya? Dalang teroris. Sekaligus pendiri salah satu cabang strategis al Qaidah di Asia Tenggara. Sekaligus salah satu aktor ideologis dari NII.

Terbuktikah semua tuduhan itu? Seperti yang sudah-sudah: tidak. Malah, Loebby Loekman, profesor ilmu hukum yang cukup terkenal di era Orde Baru itu, harus mengakui lubang besar di pasal 29 yang juga meloloskan Abu Bakr Ba’asyir dari tuduhan terorisme. Karena satu masalah simpel yang luput dari pengamatan pembuat UUD ini: makna ibadah. Lantas untuk apa dia ditahan selama empat tahun? Karena pelanggaran peraturan keimigrasian ketika ia, bersama Abdullah Sungkar, melarikan diri dari Indonesia menuju Malaysia. Karena ketidaksetujuannya terhadap Pancasila sebagai asas tunggal. Seperti yang sudah Bush Junior katakan, kalau kalian tak sependapat dengan kami, kalian teroris!

Silakan pertimbangkan argumen negara demokrasi yang menjamin kebebasan berpendapat. Saya sudah mencoba mencerna, tapi tak saya dapati titik temunya.

Ah, kalian tinggal di Indonesia. Jadi jangan bandingkan hukuman pelanggar aturan keimigrasian dengan bupati kaya yang juga koruptor menyaru orang tua lumpuh itu, yang akhir-akhir ini tertangkap kamera sedang bermain golf di halaman belakang rumahnya. Jangan tanyakan juga mengapa pria gendut-pendek-berkumis yang sekarang menjabat sebagai Menkumham itu sampai meloloskan permohonan grasi ke presiden hanya dari pengamatan kasat mata. Bukan laporan medis memadai. Kalau Leonardo DiCaprio, dalam Blood Diamond, fasih berucap, “TIA. This is Africa,” dengan gembira saya bersedia berkata, “IIB. Ini Indonesia, Bung!”

***

Tadi, sekitar pukul sembilan pagi, bapak saya menelepon. Tujuan utamanya mengecek kesehatan saya yang akhir-akhir ini memburuk. Di sela pembicaraan, ia bercerita tentang kawan mengajarnya di kampus yang baru saja ditangkap oleh polisi dan warga setempat karena tuduhan terorisme. Coba tebak apa yang jadi barang bukti yang mereka temukan di rumah bapak ini. Buku serial Kafilah Syuhada’ dan beberapa rekaman jihad Afghan dan Palestina.

Dengan fakta temuan itu, ditambah dengan berbagai prasangka dan korelasi yang sangat memaksa, muncul celetukan di kalangan dosen Universitas Muhammadiyah Jember, tempat bapak saya mengajar. “Target berikutnya yang memenuhi standar ‘teroris’,” begitu kata mereka, seperti dikisahkan bapak saya, “adalah dosen Hukum Tata Negara bernama Djoko Purwanto.”

Kami—saya dan lelaki berjenggot lebat di seberang telepon sana—terbahak.

Dari situ, barangkali, kalian, para pembaca, sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan kita selanjutnya. Bahwa tuduh-menuduh yang berangkat dari asumsi serampangan–kalau tak mau disebut sebagai sebuah kesengajaan–seolah belum bisa dihilangkan dari masyarakat dunia, tak hanya Indonesia. Kata dosen Laboratorium Akuntansi Keuangan Menengah saya, bisa jadi karena hilangnya rasa aman; hal wajib yang harusnya diberikan dari negara pada rakyatnya setelah mereka membayar kewajibannya: pajak.

Saya sependapat. Sangat sependapat. Hal apa lagi yang mampu mengusik curiga dalam hati warga sekitar pada tetangganya yang tak lagi kerap menunjukkan batang hidungnya—padahal karena kesulitannya dalam menanggung hutang—selain hilangnya rasa aman? Ancaman apa yang membuat para tetangga menyemat waspada dalam dada pada orang dekatnya sendiri selain lenyapnya rasa dijaga dan dilindungi dari diri mereka?

Sedihnya, hilangnya rasa aman ini ternyata menggerus sisi keadilan dan kemanusiaan kita. Memang, seperti kata Goenawan Mohamad dalam salah satu Catatan Pinggir-nya, ada kesulitan yang hampir absolut bagi manusia untuk mendefinisikan kata “adil”. Juga, buat saya, selalu ada dua sisi berseberangan sebagai sudut pandang dalam memahami kemanusiaan. Tapi kata apa yang lebih tepat untuk mengungkapkan hilangnya rasa simpati manusia ketika manusia lainnya ambruk bersimbah darah di hadapan bedil salah satu pasukan khusus di Indonesia itu bahkan tanpa melalui proses pengadilan? Bahkan ketika ia dikubur dengan nisan tanpa nama? Bahkan ketika identitas terakhirnya adalah sekumpulan huruf dan angka yang menandai dirinya di kamar mayat rumah sakit?

Saya yakin kita semua masih punya nurani. Memandang mereka sebagai manusia. Bukan sebagai sekumpulan goyim yang tak lebih mulia dari kera, kambing, atau babi.

Tapi di sela kecurigaan-kecurigaan itu, di sisi tuduhan-tuduhan itu, ada aroma tebang pilih. Perhatikan, kalau memang misi utama AS adalah memberantas terorisme, mengapa masih saja ada dana yang mengalir buat okupasi tanah suci oleh teroris-Zionis di Syam, sementara otoritas AS telah membekukan aset milik keluarga milyuner asal Saudi itu: Usamah bin Ladin? Kalau memang target buruan anggota Detasemen Khusus 88 Antiteror itu adalah mantan atau anggota aktif Negara Islam Indonesia, mengapa mantan Menteri Luar Negeri-nya kini bisa menikmati kursi pimpinan tertinggi seumur hidup di salah satu partai politik yang terbuka? Ketika yang disebut teroris adalah penebar ketakutan akibat kekerasan yang banyak menelan korban, mengapa seratus persen tahanan dan korban tewas akibat serbuan Densus 88 seluruhnya berstatus sebagai aktivis Islam, sementara penebar teror di Indonesia—anggap saja Densus benar dalam segala hal—tak hanya mereka?

Mengapa seorang Abdullah bin Ubay sampai mampu menyulut perang Muraisi’ dengan lisan semanis madu pada orang Yahudi sementara menebar kebusukan terhadap isteri nabi sendiri? Mengapa tuduhan “Syi’ah” mudah terlontar pada orang tua dari Pakistan itu, sementara ada sebuah negara kaya namun—kata John Perkins dalam Confessions of an Economic Hit Man—memiliki gengsi tinggi dan pemalas di jazirah Arab yang rajanya kerap mengundang makan malam pemimpin Israel, padahal telah jelas salah satu perintah terakhir nabi sebelum wafatnya, “Keluarkan orang kafir dari jazirah Arab!”?

Puluhan tanya bisa kita tambahkan setelah tulisan ini berakhir. Tapi satu yang pasti: seperti yang diungkap Jason Burke, yang disebut Wikipedia sebagai jurnalis gerakan Islam radikal, ada banyak cara mendefinisikan “terorisme”, dan semuanya subjektif. Seringnya, kata “teror” dihubungkan dengan tindak kekerasan serius yang mengakibatkan korban dari pihak tak berdosa. Tapi, sekali lagi, semua subjektif. Saya bisa saja menyematkan kata “teroris” bersanding dengan kata “Zionis”. Bisa saja saya menganggap distributor tabung gas hijau sebagai teroris. Bisa saja saya menganggap produser sinetron di Indonesia sebagai teroris moral. Tapi adakah rujukan pasti mengenai hal ini? Ternyata tidak ada definisi yang cukup memuaskan.

Jadi, ketika belum ada definisi pasti mengenai terorisme, mengapa mudah telunjuk kita mengarah pada pihak yang bahkan belum kita kenal benar?

-RSP-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: